
Setelah menempuh perjalanan singkat menggunakan sebuah taksi, Elena berjalan untuk memasuki sebuah perusahaan terbesar yang berada dilingkungan sekitarnya. Ia memasuki gedung tersebut sambil
menundukkan kepalanya karena tak ingin menatap orang-orang memperhatikan penampilannya
yang berbeda.
“Permisi.” Ucap Elena pada seorang wanita yang berada didepan meja yang bertuliskan front
office.
“Ada yang bisa saya bantu?” balasnya ramah.
“Bisakah kau mengantarkanku.. maksudku bisakah aku bertemu dengan Liam.” Ucap Elena yang
sebenarnya ingin mengatakan bisakah kau mengantarkanku pada Rendra.
“Pak Liam, Apakah anda sudah ada janji sebelumnya?” tanyanya.
“Ya, katakan padanya Elena sudah datang.” Ucap Elena yang memilih mengatakan ingin
bertemu Liam.
Tadinya ia sangat ingin menelpon langsung pada Rendra ataupun pada Liam, tapi sejak tadi
kedua telepon genggam milik kedua orang itu tak dapat dihubungi kembali. Jadi disinilah
Elena memberanikan diri bertanya. Ia tak ingin Rendra semakin kelaparan karena
terlalu lama menunggu dirinya.
“Mari Nyonya, ikut saya.” Ucap wanita itu setelah sebelumnya ia menutup telepon pada
seseorang yang kemungkinan besar adalah Liam.
Wanita itu membawa Elena menuju sebuah lift menuju lantai delapan belas terlihat dari
angka yang ditekan wanita itu. Selama didalam lift baik wanita itu maupun Elena
tak ada satupun yang membuka pembicarakan yang membuat perjalanan itu terasa
semakin lama.
Dan untung saja lift yang ditumpangi mereka tak berhenti dilantai lain yang menjadi
tujuan mereka, padahal lift yang terletak tak jauh dari lift yang mereka
tumpangi terlihat begitu banyak yang menunggu giliran untuk menaiki. Mungkinkah
lift yang dinaiki Elena adalah lift khusus? Elena harus menanyakan hal ini pad
Rendra jika mereka bertemu nanti.
“Mom.” Teriak Rendra ketika pintu lift yang Elena gunakan terbuka, menandakan mereka
telah sampai pada lantai tujuan mereka.
“Saya permisi nyonya.” Ucap wanita yang mengantarkan Elena, ia tak keluar dari lift
sepertinya ia kembali ketempat ia berada sebelumnya.
“Terimakasih” ucap Elena sebelum pintu lift tertutup sempurna, ia bisa melihat sekilas wanita
itu menganggukan kepalanya.
“Mom benar-benar datang, Rendra kira Mom sangat sibuk hari ini.”
“Sesibuk apapun Mom, Rendra tetap yang paling utama bagi Mom.” Ucap Elena sambil membawa
Rendra pada pelukannya, ia jadi menyesal tadi pagi ia hanya sebentar memeluk
anaknya.
“Mom harus lihat kamar Rendra, yang khusus Dad buat untuk Rendra diperusahaan ini.” Ucap
Rendra sambil menarik tangan Elena menuju ruangan yang dimaksudnya.
Elena merasa takjub dengan ruangan yang ditunjukkan oleh Rendra, bagaimana bisa
adalah sebuah kamar lebih tepatnya tempat beristirahat dan juga tempat bermain
didalam sebuah perusahaan besar yang jika tadi Elena perhatikan dilantai bawah
semua pekerja terlihat sangat sibuk dengan pekerjaan mereka.
__ADS_1
Dan jangan lupakan fakta bahwa Rendra bertemu dengan Malviano hanya dalam hitungan
hari. Tapi ruangan Rendra terasa Malviano menyiapkan segala yang dibutuhkan
oleh Rendra dengan lengkap walaupun dalam waktu yang singkat. Hal itu semakin
membuat Elena merasa perbedaan yang sangat besar antara mereka.
“Rendra, Liam mengatakan bahwa kau tadi melupakan membawa bekal…” terdengar suara
seorang pria yang langsung berhenti berbicara, ketika menyadari keberadaan Elena
disana.
“Hallo.” Ucap Elena yang tak tahu apa yang seharusnya diucapkan diantara mereka bertemu
kembali.
“Kau jauh-jauh kesini untuk mengantarkan makan siang?” ucap Malviano, pria yang
sebenarnya ingin dihindari bertatap muka dengannya.
“Ya, aku..”
“Padahal itu tidak perlu, aku sudah memesan tempat disebuah restoran.” Ucap pria itu
yang masih berbicara didepan pintu masuk ruang Rendra.
“…” mendengar itu membuat Elena semakin tak dapat berkata apa-apa lagi, tentu saja
Malviano cukup mampu untuk memberikan pada Rendra makanan terbaik.
“Dia jauh-jauh mengantarkan makanan kemari karena Rendra mengatakan akan memakan hamburger.”
Ucap Liam yang sejak tadi berada dibelakang Malviano, tapi tak ada satupun yang
menyadari keberadaannya.
“Bolehkah Mom ikut bersama kita?” ucap Rendra tiba-tiba.
“Rendra sayang Mom harus cepat-cepat pulang.” Ucap Elena yang merasa ia melakukan hal
konyol dengan jauh-jauh datang kemari hanya untuk mengantarkan bekal makan siang.
Ucapan Rendra sekali lagi membuat Elena berharap bahwa anaknya yang masih berusia lima
tahun ini mempunyai kecerdasaan seperti anak pada usia lima tahun pada umumnya.
“Tentu saja Mom akan ikut bersama kita.” Ucap Malviano yang sepertinya tak keberatan
dengan keikutan sertaan Elena bersama mereka.
“Ayo Mom.” Rendra langsung menarik tangan Elena yang lainnya sementara tangan lainnya
masih memegang tas berisi bekal makan siang untuknya.
“Kau akan membawa itu.” Ucap Malviano yang mengikuti ibu dan anak didepannya.
“Mom keberatan jika bekal makan siang Rendra berikan pada Om Liam.”
“Tentu saja tidak masalah.” Ucap Elena yang sebenarnya merasa binggung denagn apa yang
diucapkannya.
“Terimakasih, masakanmu sangat lezat.” Ucap Liam yang kini sudah menerima tas berisi bekal
makan siang Rendra.
“Aku tahu Om pasti sangat menunggu bekal makan siang Rendra.”
“Tentu saja.”
“Om ingin mendapatkan bekal tiap hari?”
“Tentu saja, apakah Rendra akan memberikan pada Om.”
“Minta saja pada Ibu Om sendiri untuk menyiapkannya.” Ucap Rendra sambil berlari
menjauh dari Liam yang terbenggong mendengar ucapan anak berusia lima tahun
yang sepertinya sedang mengejek dirinya.
“Kalau tidak kau bisa meminta pada istrimu untuk menyiapkannya.” Ucap Malviano sebelum
__ADS_1
menyusul anaknya.
Sementara Elena hanya bisa tersenyum meminta pengertian pada Liam atas perkataan anaknya
yang menurutnya sangat tidak sopan.
“Kau tidak perlu meminta maaf, ayahnya jauh lebih kejam, aku sudah terbiasa.” Ucap Liam
menjelaskan bagaimana perasaannya pada Elena.
“Sekali lagi aku minta maaf atas nama anakku.”
“Sudahlah, Cepat kau pergi mereka akan sangat kejam jika mereka kelaparan.”
Mendengar hal itu membuat Elena langsung menyusul Rendra dan Malviano. Elena sangat
mengerti jika anaknya sedang kelaparan, sifat kekanakan yang biasanya terjadi
pada usia terbut langsung muncul pada anaknya, dan akan cukup merepotkan untuk
menenangkannya walau makanan sudah tersedia didepan matanya.
Malviano membawa Elena dan juga Rendra ke sebuah restoran yang tak pernah Elena datangi sebelumnya karena keuangan yang tak memadai.
“Selamat datang tuan, mari saya antar kemeja yang sudah anda pesan ditelepon tadi.” Ucap
salah satu pelayan yang langsung menghampiri mereka.
Pelayan tersebut langsung mengantarkan mereka ke sebuah meja yang pemandangannya sangat
indah, padahal seingat Elena mereka bahkan tak mengatakan sepatah kata apapun. Pelayan
tersebut langsung undur diri dan beberapa saat kemudian ia datang kembali
lengkap dengan makanan yang membuat air liur menetes tanpa bisa dicegah.
“Aku tak merasa sudah memesan sesuatu.” Ucap Elena ketika pelayan sudah undur diri
ketika selesai meletakkan dengan rapi makanan yang dibawanya.
“Mereka tahu kesukaanku.” Ucap Malviano singkat sambil meletakan beberapa makanan dipiring
kosong Rendra dan langsung disantapnya dengan lahap.
“Benarkah.” Gumam Elena.
Sepertinya Malviano sudah terbiasa makan direstoran yang cukup mahal terlihat dari
macam-macam makanan yang jarang dijumpai oleh orang-orang sepertinya, bahkan
suasana didalam restoran pun cukup membuatmu bisa mengira-ngira biaya yang dikeluarkan
untuk satu gelas air putih.
“Makanlah.” Ucap Malviano yang kini telah memenuhi piring kosong yang berada didepan Elena.
Hal itu membuat Elena semakin terpesona akan perlakukan Malviano yang semakin akan
membuat semua wanita iri, ingin berada diposisinya.
Suasana berubah menjadi lebih hangat bahkan setiap orang yang memandang kearah mereka. Apakah
orang-orang melihat mereka kini seperti melihat sebuah satu keluarga utuh? Hal itu
membuat Elena berharap Rendra bisa mendapatkan hal itu jika saja kedua orang
tuanya mempunyai sebuah perasaan satu sama lain.
Memikirkan hal tersebut membuat Elena mempunyai sedikit harapan untuk anaknya, jika Malviano
tak keberatan untuk bersamanya ia mungkin akan berjuang untuk kemungkinan
tersebut untuk anaknya. Walaupun jika Malviano tak terlalu mengingginkan dirinya
ia akan berusaha untuk mewujudkan sebuah keluarga utuh untuk anaknya.
“Brak” suara yang meja yang dipukul cukup keras.
Suara itu datang bersamaan dengan datangnya seorang wanita yang bisa dibilang sangat cantik,
akan tetapi kecantikan itu tertutupi dengan wajahnya yang dipenuhi oleh amarah
yang sangat siap untuk mengamuk kepada Malviano dan sepertinya sangat siap
__ADS_1
melabrak Elena jika tak dihentikan oleh Malviano.