Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 7 Peluang?


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan singkat menggunakan sebuah taksi, Elena berjalan untuk memasuki sebuah perusahaan terbesar yang berada dilingkungan sekitarnya. Ia memasuki gedung tersebut sambil


menundukkan kepalanya karena tak ingin menatap orang-orang memperhatikan penampilannya


yang berbeda.


“Permisi.” Ucap Elena pada seorang wanita yang berada didepan meja yang bertuliskan front


office.


“Ada yang bisa saya bantu?” balasnya ramah.


“Bisakah kau mengantarkanku.. maksudku bisakah aku bertemu dengan Liam.” Ucap Elena yang


sebenarnya ingin mengatakan bisakah kau mengantarkanku pada Rendra.


“Pak Liam, Apakah anda sudah ada janji sebelumnya?” tanyanya.


“Ya, katakan padanya Elena sudah datang.” Ucap Elena yang memilih mengatakan ingin


bertemu Liam.


Tadinya ia sangat ingin menelpon langsung pada Rendra ataupun pada Liam, tapi sejak tadi


kedua telepon genggam milik kedua orang itu tak dapat dihubungi kembali. Jadi disinilah


Elena memberanikan diri bertanya. Ia tak ingin Rendra semakin kelaparan karena


terlalu lama menunggu dirinya.


“Mari Nyonya, ikut saya.” Ucap wanita itu setelah sebelumnya ia menutup telepon pada


seseorang yang kemungkinan besar adalah Liam.


Wanita itu membawa Elena menuju sebuah lift menuju lantai delapan belas terlihat dari


angka yang ditekan wanita itu. Selama didalam lift baik wanita itu maupun Elena


tak ada satupun yang membuka pembicarakan yang membuat perjalanan itu terasa


semakin lama.


Dan untung saja lift yang ditumpangi mereka tak berhenti dilantai lain yang menjadi


tujuan mereka, padahal lift yang terletak tak jauh dari lift yang mereka


tumpangi terlihat begitu banyak yang menunggu giliran untuk menaiki. Mungkinkah


lift yang dinaiki Elena adalah lift khusus? Elena harus menanyakan hal ini pad


Rendra jika mereka bertemu nanti.


“Mom.” Teriak Rendra ketika pintu lift yang Elena gunakan terbuka, menandakan mereka


telah sampai pada lantai tujuan mereka.


“Saya permisi nyonya.” Ucap wanita yang mengantarkan Elena, ia tak keluar dari lift


sepertinya ia kembali ketempat ia berada sebelumnya.


“Terimakasih” ucap Elena sebelum pintu lift tertutup sempurna, ia bisa melihat sekilas wanita


itu menganggukan kepalanya.


“Mom benar-benar datang, Rendra kira Mom sangat sibuk hari ini.”


“Sesibuk apapun Mom, Rendra tetap yang paling utama bagi Mom.” Ucap Elena sambil membawa


Rendra pada pelukannya, ia jadi menyesal tadi pagi ia hanya sebentar memeluk


anaknya.


“Mom harus lihat kamar Rendra, yang khusus Dad buat untuk Rendra diperusahaan ini.” Ucap


Rendra sambil menarik tangan Elena menuju ruangan yang dimaksudnya.


Elena merasa takjub dengan ruangan yang ditunjukkan oleh Rendra, bagaimana bisa


adalah sebuah kamar lebih tepatnya tempat beristirahat dan juga tempat bermain


didalam sebuah perusahaan besar yang jika tadi Elena perhatikan dilantai bawah


semua pekerja terlihat sangat sibuk dengan pekerjaan mereka.

__ADS_1


Dan jangan lupakan fakta bahwa Rendra bertemu dengan Malviano hanya dalam hitungan


hari. Tapi ruangan Rendra terasa Malviano menyiapkan segala yang dibutuhkan


oleh Rendra dengan lengkap walaupun dalam waktu yang singkat. Hal itu semakin


membuat Elena merasa perbedaan yang sangat besar antara mereka.


“Rendra, Liam mengatakan bahwa kau tadi melupakan membawa bekal…” terdengar suara


seorang pria yang langsung berhenti berbicara, ketika menyadari keberadaan Elena


disana.


“Hallo.” Ucap Elena yang tak tahu apa yang seharusnya diucapkan diantara mereka bertemu


kembali.


“Kau jauh-jauh kesini untuk mengantarkan makan siang?” ucap Malviano, pria yang


sebenarnya ingin dihindari bertatap muka dengannya.


“Ya, aku..”


“Padahal itu tidak perlu, aku sudah memesan tempat disebuah restoran.” Ucap pria itu


yang masih berbicara didepan pintu masuk ruang Rendra.


“…” mendengar itu membuat Elena semakin tak dapat berkata apa-apa lagi, tentu saja


Malviano cukup mampu untuk memberikan pada Rendra makanan terbaik.


“Dia jauh-jauh mengantarkan makanan kemari karena Rendra mengatakan akan memakan hamburger.”


Ucap Liam yang sejak tadi berada dibelakang Malviano, tapi tak ada satupun yang


menyadari keberadaannya.


“Bolehkah Mom ikut bersama kita?” ucap Rendra tiba-tiba.


“Rendra sayang Mom harus cepat-cepat pulang.” Ucap Elena yang merasa ia melakukan hal


konyol dengan jauh-jauh datang kemari hanya untuk mengantarkan bekal makan siang.


Ucapan Rendra sekali lagi membuat Elena berharap bahwa anaknya yang masih berusia lima


tahun ini mempunyai kecerdasaan seperti anak pada usia lima tahun pada umumnya.


“Tentu saja Mom akan ikut bersama kita.” Ucap Malviano yang sepertinya tak keberatan


dengan keikutan sertaan Elena bersama mereka.


“Ayo Mom.” Rendra langsung menarik tangan Elena yang lainnya sementara tangan lainnya


masih memegang tas berisi bekal makan siang untuknya.


“Kau akan membawa itu.” Ucap Malviano yang mengikuti ibu dan anak didepannya.


“Mom keberatan jika bekal makan siang Rendra berikan pada Om Liam.”


“Tentu saja tidak masalah.” Ucap Elena yang sebenarnya merasa binggung denagn apa yang


diucapkannya.


“Terimakasih, masakanmu sangat lezat.” Ucap Liam yang kini sudah menerima tas berisi bekal


makan siang Rendra.


“Aku tahu Om pasti sangat menunggu bekal makan siang Rendra.”


“Tentu saja.”


“Om ingin mendapatkan bekal tiap hari?”


“Tentu saja, apakah Rendra akan memberikan pada Om.”


“Minta saja pada Ibu Om sendiri untuk menyiapkannya.” Ucap Rendra sambil berlari


menjauh dari Liam yang terbenggong mendengar ucapan anak berusia lima tahun


yang sepertinya sedang mengejek dirinya.


“Kalau tidak kau bisa meminta pada istrimu untuk menyiapkannya.” Ucap Malviano sebelum

__ADS_1


menyusul anaknya.


Sementara Elena hanya bisa tersenyum meminta pengertian pada Liam atas perkataan anaknya


yang menurutnya sangat tidak sopan.


“Kau tidak perlu meminta maaf, ayahnya jauh lebih kejam, aku sudah terbiasa.” Ucap Liam


menjelaskan bagaimana perasaannya pada Elena.


“Sekali lagi aku minta maaf atas nama anakku.”


“Sudahlah, Cepat kau pergi mereka akan sangat kejam jika mereka kelaparan.”


Mendengar hal itu membuat Elena langsung menyusul Rendra dan Malviano. Elena sangat


mengerti jika anaknya sedang kelaparan, sifat kekanakan yang biasanya terjadi


pada usia terbut langsung muncul pada anaknya, dan akan cukup merepotkan untuk


menenangkannya walau makanan sudah tersedia didepan matanya.


Malviano membawa Elena dan juga Rendra ke sebuah restoran yang tak pernah Elena datangi sebelumnya karena keuangan yang tak memadai.


“Selamat datang tuan, mari saya antar kemeja yang sudah anda pesan ditelepon tadi.” Ucap


salah satu pelayan yang langsung menghampiri mereka.


Pelayan tersebut langsung mengantarkan mereka ke sebuah meja yang pemandangannya sangat


indah, padahal seingat Elena mereka bahkan tak mengatakan sepatah kata apapun. Pelayan


tersebut langsung undur diri dan beberapa saat kemudian ia datang kembali


lengkap dengan makanan yang membuat air liur menetes tanpa bisa dicegah.


“Aku tak merasa sudah memesan sesuatu.” Ucap Elena ketika pelayan sudah undur diri


ketika selesai meletakkan dengan rapi makanan yang dibawanya.


“Mereka tahu kesukaanku.” Ucap Malviano singkat sambil meletakan beberapa makanan dipiring


kosong Rendra dan langsung disantapnya dengan lahap.


“Benarkah.” Gumam Elena.


Sepertinya Malviano sudah terbiasa makan direstoran yang cukup mahal terlihat dari


macam-macam makanan yang jarang dijumpai oleh orang-orang sepertinya, bahkan


suasana didalam restoran pun cukup membuatmu bisa mengira-ngira biaya yang dikeluarkan


untuk satu gelas air putih.


“Makanlah.” Ucap Malviano yang kini telah memenuhi piring kosong yang berada didepan Elena.


Hal itu membuat Elena semakin terpesona akan perlakukan Malviano yang semakin akan


membuat semua wanita iri, ingin berada diposisinya.


Suasana berubah menjadi lebih hangat bahkan setiap orang yang memandang kearah mereka. Apakah


orang-orang melihat mereka kini seperti melihat sebuah satu keluarga utuh? Hal itu


membuat Elena berharap Rendra bisa mendapatkan hal itu jika saja kedua orang


tuanya mempunyai sebuah perasaan satu sama lain.


Memikirkan hal tersebut membuat Elena mempunyai sedikit harapan untuk anaknya, jika Malviano


tak keberatan untuk bersamanya ia mungkin akan berjuang untuk kemungkinan


tersebut untuk anaknya. Walaupun jika Malviano tak terlalu mengingginkan dirinya


ia akan berusaha untuk mewujudkan sebuah keluarga utuh untuk anaknya.


“Brak” suara yang meja yang dipukul cukup keras.


Suara itu datang bersamaan dengan datangnya seorang wanita yang bisa dibilang sangat cantik,


akan tetapi kecantikan itu tertutupi dengan wajahnya yang dipenuhi oleh amarah


yang sangat siap untuk mengamuk kepada Malviano dan sepertinya sangat siap

__ADS_1


melabrak Elena jika tak dihentikan oleh Malviano.


__ADS_2