Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 14 Pernikahan


__ADS_3

Baik Elena maupun Malviano tak ada yang bersuara ataupun merespon perkataaan Kenzo, Keduanya hanya tak ingin bertanya ataupun menanggapi apa maksud perkataan Malviano, Elena dan Rendra


adalah sebuah keluarga.


Memang benar Elena dan Rendra adalah keluarga, Kenzo dan Rendra pun juga adalah sebuah


keluarga karena walau bagaimana pun baik Elena dan Malviano mereka bedua memang


menurunkan darah mereka pada Rendra. Tapi meskipun demikian hal itu tak bisa


langsung membuat Elena dan Malviano juga menjadi sebuah keluarga bukan?.


“Ayolah kalian berdua sudah terlalu tua untuk bisa mengerti apa maksud dari


perkataanku.” Ucap Kenzo yang merasa kesal dengan keterdiaman kedua orang


dewasa yang berada didepannya.


“Maaf, jika aku tak begitu mengerti maksud perkataanmu.” Ucap Elena.


“Dan jangan bilang kau juga.” Ucap Kenzo menuduh Malviano yang juga terdiam.


“Enak saja.” Ucap Malviano yang menyembunyikan ketidak tahuan maksud ucapan Kenzo.


“Akanku jelaskan secara singkat pada kalian.” Ucap Kenzo menjeda kalimatnya untuk


memperbaiki posisi ia berada.


Sejak tadi ia memang sudah pegal karena berada diposisi yang sama, berbeda dengan Elena


yang sudah terbiasa berada ditempat dan posisi yang sama selama berjam-jam dan


tak pernah keberatan akan hal tersebut.


“Semua ini tak harus terjadi secepat ini jika kau menunggu waktu yang lebih tepat.” Ucap


Kenzo dengan tatapan sinis pada Malviano.


“Aku? Mengapa? Dan mengapa dengan waktu yang tepat” ucap Malviano.


“Kau membuat segalanya tak berjalan seperti yang sudah kupikirkan sebelumnya.”


“Memangnya semua salahku?”


“Sudahlah berbicara dengamu membuatku cape, lebih baik aku berbicara dengan Rendra yang


jauh lebih cerdas dari padamu.” Ucap Kenzo yang sepertinya semakin kesal pada


Malviano.


“Kau..”


“Jika kau tidak dengan sembrono mengumumkan Rendra adalah anakmu pada seluruh orang


yang kau undang dalam perayaan kemenangan perusahaanmu kemarin, posisi Rendra tidak


akan semenakutkan seperti saat ini.” Ucap Kenzo yang mengeluarkan kekesalannya.


“Rendra?” ucap Malviano yang sepertinya tidak mengerti mengapa nama anaknya disebut-sebut.


“Semua orang tahu kau belum menikah bahkan seorang pacarpun tak pernah ada.” Jelas Kenzo


sambil mengepalkan kedua tangannya “Sekarang kau telah mengakui pada


orang-orang bahkan disana ada beberapa wartawan yang akan menyebarkan berita


pada orang yang lebih luas bahwa Rendra adalah seorang anak haram.”


“Mengapa kau berkata seperti itu.”


“Aku tahu kau memang terbiasa dengan hidup sendirian, tapi kau tak berhak melakukan


hal yang sama pada anakmu.” Ucap Kenzo yang semakin emosi dalam setiap


perkataannya.

__ADS_1


“Semua orang menyukainya.” Tantang Malviano.


“Mereka seperti itu ketika ada maunya, jika dibelakang mereka akan merendahkan Rendra


karena terlahir hanya dari sebuah kesalahan.” Ucap Kenzo mulai malas menjelaskan


pada sahabatnya yang bodoh ini.


“Kau tidak mengatakan bahwa mereka akan melakukan hal yang sama pada Rendra seperti


yang dahulu kau rasakan?”


“Tentu saja itu maksud perkataanku.”


“Tapi kasus Rendra berbeda, ia tidak seperti kau yang…”


“Ya Rendra tak akan pernah sepertiku, karena jika saja ia bernasib sepertiku. Aku akan


pastikan kau akan mati ditanganku saat itu juga.” Ucap Kenzo yang kembali berapi-api.


Elena hanya bisa terdiam mendengarkan perdebatkan antara kedua orang sahabat yang


sepertinya memang sedang mendiskusikan masa depan Rendra, tak ada yang bisa Elena


katakana saat ini. Tapi Elena akan pastikan apapun keputusan dua orang dihadapannya,


apapun akan Elena lakukan untuk kebaikan masa depan Rendra.


“Lalu apa yang harus kulakukan kini.” Ucap Malviano yang sepertinya sudah mengerti


maksud perkataan Kenzo.


“Kalian berdua akan menikah secepatnya, aku akan palsukan tanggalnya agar yang


masyarakat ketahui adalah kalian sudah lama menikah bahkan sebelum Rendra


terlahir.”


“Haruskah?” ucap Elena yang entah mengapa ia sangat ingin mengatakan.


bertanya dengan kejam.


“Aku mengerti.” Ucap Elena pelan.


Setelah itu mereka langsung mendiskusikan sebuah pernikahan yang akan segera mereka


lakukan secepatnya. Baik Elena maupun Malviano hanya menurut apa saja yang


sudah Kenzo susun untuk mereka, Kenzo bahkan memberikan mereka sebuah cerita-cerita


yang nantinya akan mereka yakini bahwa itulah kenyataan yang terjadi pada


mereka.


Malviano nantinya harus memberitahukan pada beberapa wartawan agar mereka bisa langsung


menyebarkan pada masayarakat luas bahwa sebenarnya Malviano sudah lama menikah


dengan Elena. Malviano terpaksa menyembunyikan keberadaan Rendra dan Elena karena


tak ingin membuat kedua orang yang disayanginya menjalani kehidupan yang normal


seperti masyarakat pada umumnya.


Dan hal itulah yang terjadi beberapa hari berikutnya, kini bahkan Elena dan Rendra


sudah menetap dirumah Malviano sebagai sebuah keluarga yang utuh. Pernikahan


Elena dan Malviano terjadi begitu singkat dan tertutup karena mereka memang


akan memalsukan waktu tanggal pernikahan mereka.


***


Kehidupan Elena yang tadinya hanya disibukkan oleh pekerjaannya yang hanyalah sebuah editor

__ADS_1


kini sudah berubah menjadi seorang ibu rumah tangga dan juga seborang istri dari


seorang pria yang sangat kaya raya.


Ketika Elena sudah sah menjadi istri dari seorang Malviano, Malviano langsung melarang


Elena untuk melakukan pekerjaan selain melayani keperluan Rendra saja. Elena


berpendapat Malviano adalah tipe seorang suami yang sangat diimpikan oleh


seorang gadis manapun.


Sosoknya yang rupawan, keuangannya yang melimpah bahkan Maliviano bisa dikatakan suami yang


sangat pengertian dengan apa yang istrinya inginkan baik dan tutur kata maupun


dari segi materi. Wanita mana yang tak ingin dimanjakan oleh dua hal tersebut,


tapi hanya satu kekurang keluarga ini.


Elena dan Malviano memang sudah resmi menikah, akan tetapi baik Elena maupun Malviano


tidak pernah melakukan hal apapun yang seharusnya terjadi anatara seorang suami


dan istri selain Elena yang bertugas membuat perut kenyanga dan Malviano


bertugas untuk menafkahi segala keperluan Elena dan juga Rendra.


Seperti yang terjadi pagi ini sebelum Malviano berangkat kerja ia tak pernah lupa


memberikan uang kas untuk keperluan dapur mereka, karena sebelumnya Elena menolak


dengan keras Kartu ATM yang diberikan oleh Malviano padanya. Elena tak pernah ingin


terbiasa untuk mengesekkan kartu yang mungkin membuatnya menjadi seorang yang


boros karena terlalu keenakkan memakai kartu tersebut.


“Wortel atau Bayam ya..” ucap Elena yang berbicara sendiri sambil membandingkan dua


benda yang disebutkannya.


“Mengapa kau tak membawa keduanya saja.” Ucap seorang ibu-ibu yang sepertinya sedang


berbelanja juga.


“Begitukah?”


“Ya, akan baik jika kelurga kita makan-makan yang sehat setiap hari.” Ucapnya sambil


pergi sebelum melihat belanjaan Elena yang dipenuhi oleh makan cepat saji.


Sepertinya ibu-ibu itu salah paham dengan belanjaan yang dimilikinya, Elena memang baru


saja memenuhi troli belajaannya dengan makanan cepat saji karena ia adalah


bahan-bahan yang cepat tersaji jika Rendra dan Malviano tiba-tiba terbangun ditengah


malam karena mereka kelaparan, entahlah dua pria yang kini menjadi prioritasnya


akhir-akhir ini selalu kelaparan dijam-jam malam.


“Elena..” ucap seorang wanita dibelakang Elena, suara seseorang yang selalu ingin dihidarinya


jika ia terlahir kembali.


Elena berbalik dan berdoa semoga dugaannya salah, tapi setelah ia berbalik dugaannya


memang benar sosok itu memang benar ia. Ia adalah Rosa sepupu yang menyebalkan,


sepertinya ia akan menuduhnya telah menelantarkan ibu kandungnya sendiri untuk


hidup enak bersama Malviano dan juga mungkin akan mengancaman memberitahukan


pada ibunya akan kelakuan anak tak tahu diri.

__ADS_1


__ADS_2