Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 16 Rendra..


__ADS_3

“Apa Maksudmu?” ucap Elena.


“Iya seharusnya menyelesaikan membuat sistem yang ku minta sebelum pulang.” Ucap


Malviano yang kini berdiri dari sofa dan mulai membelakangi Elena.


“Kau tidak bermaksud mengatakan Rendra harus bekerja bukan?” tanya Elena yang begitu


kaget maksud perkataan Malviano.


Apakah selama ini Rendra selalu pergi bersama Malviano untuk bekerja diperusahaan


Ayahnya itu? Bukan seperti apa yang selama ini Elena pikirkan? Ruangan yang


dibuat Malviano untuk Rendra didalam perusahaanya yang terlihat lengkap penuh


dengan mainan dan alat-alat bermain itu bukan dibuat Malviano agar ia nyaman


bermain disana?.


Apakah Malviano sengaja membuat semua hal untuk Rendra diperusahaan agar anaknya yang


masih berusia lima tahun itu untuk bekerja? Jika benar Malviano sungguh


kelewatan, bagaimana mungkin serang ayah tega membuat ananknya sendiri yang


masih terlalu kecil mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan oleh orang


dewasa.


Meskipun memang kepintaran yang dimiliki Rendra jauh diatas orang-orang dewasa, tapi


semua itu tidak ada hubungannya karena walau bagaimanapun Rendra masih dalam


usia yang seharusnya masih harus bermain bahkan kalau perlu anak itu seharusnya


lebih sering diajak jalan-jalan.


“Tentu saja ia harus menyelesaikan game yang sudah ia buat, aku mempertaruhkan semua


yang kupunya hanya agar game itu segera liris.” Ucap Malviano yang tidak


membantah tuduhan Elena.


“Anakku masih terlalu kecil untuk bekerja.” Ucapa Elena yang kini menjadi emosi, tak


ada yang berhak membuat anaknya kehilangan masa kecilnya yang malah diharuskan


untuk bekerja keras.


“Dia juga anakku kalau kau lupa.” Tantang Malviano.


“Kau tidak berhak melakukan hal itu padanya, dia masih terlalu kecil untuk bekerja.”


Ucap Elena yang tak mau kalah untuk memperjuangkan kebebasan apa yang


seharusnya Rendra lakukan, apalagi usia Rendra yang masih terlalu kecil untuk


dunia orang dewasa.


“Tentu saja aku berhak dia anakku juga.” Ucap Malviano yang tetap tak mau kalah.


“Karena dia anakmu juga, apa kau tega melakukan hal itu padanya?” ucap Elena yang kini


memelas, ia melakukan hal itu agar Malviano sadar atas apa yang dilakukan pada


anak mereka.


“Baiklah untuk hari ini biarkan ia tidur, tapi besok ia harus ikut besamaku seperti


biasa.” Ucap Malviano yang langsung meninggalkan Elena sendiran dan pergi dari


rumah.

__ADS_1


Elena hanya bisa diam ditempatnya, ia begitu menyesali apa yang sekarang sedang


terjadi apa anaknya. Seharusnya dahulu Elena lebih memerhatikan apa yang Rendra


lakukan ketika bersama Malviano, ia belum kenal dekat dengan pria itu. Walaupun


pria itu ayah kandung anaknya tapi taka da yang tahu apa yang akan dilakukannya


bukan?.


***


Elena semakin meradang dengan kelakuan Malviano yang terlalu menekan


Rendra untuk perusahaannya, mengakibatkan Rendra jatuh sakit. Malviano sepertinya


terlalu membebankan tugas orang dewasa terhadap Rendra yang terlalu kecil untuk


diberi tekanan perusahaan sebesar itu.


Sekarang Elena menemani Rendra didalam kamar Rumah sakit, anaknya baru saja tertidur


setelah tadi dokter memeriksanya. Elena harus berkata dengan lebih tegas pada


Malviano tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan Rendra, cukup satu kali ini Elena


mengalah membiarkan Malviano melakukan kehendaknya pada Rendra.


“Hallo, bisakah aku berbicara dengan Malviano.” Ucap Elena pada telepon genggam untuk


menghubungi Liam.


Ia memutuskan untuk membicarakan hal ini secepatnya, Tadi pagi Elena memang tak


sempat bertemu dengan suaminya itu bahkan dengan Liampun ia tak pernah sekaliapun


bertemu. Sepertinya memang sedang ada keadaan genting pada perusahaan Malviano


yang masih kecil?.


“Nyonya, maaf Tuan seadng tak bersama saya.” Terdengar jawaban Liam yang begitu menyesal


tak bisa mengabulkan permintaan istri atasannya.


“Bisakah aku berbicara denganmu sebagai gantinya?” ucap Elena yang ingin mengetahui segenting


apa keadaan diperusahaan itu.


“Entahlah saya sedang berada dipabrik cabang dua saat ini.” Sesal Liam.


“Rendra sedang berada dirumah sakit.” Elena mencoba menarik perhatian asisten suaminya itu.


“Rendra sakit? Astaga…” ucap pria itu.


“Saya akan datang setengah jam dari sekarang nyonya.” Ucap pria itu sambil memutuskan


sambungan telepon mereka.


Mendengar hal itu Elena begitu miris dengan apa yang mungkin dihadapi oleh anaknya. Haruskah


anaknya mengalami seperti ini, mungkinkah Malviano menerima mereka dengan


tangan terbuka dulu karena hanya ingin memanfaatkan Rendra untuk kebutuhan


perusahaannya saja?.


Begitu banyak yang Elena pikirkan dan mencari solusi apa saja jika memang benar apa


yang dipikirkannya adalah sesuatu yang sedang terjadi pada mereka. Hingga tak


terasa Liam kini sedang berlari menghampiri Elena, meskipun ia heran kedatangan


pria itu yang sebenarnya tak sempat ia beritahukan dimana letak Rendra sedang dirawat

__ADS_1


saat ini.


“Rendra..” ucap Liam yang terdengar kehabisan oksigen karena ia mungkin berlari sekencang


yang bisa dilakukannya.


“Iya sedang istirahat, sepertinya ia kelelahaan.” Ucap Elena yang langsung keluar


ruangan rawat inap.


Elena sengaja keluar agar pembicaraan mereka tak mengusik istirahat Rendra, dan tak baik juga


bila ia terbangun ketika ia membahas masalah bersama Liam. Liam sepertinya


cukup mengerti maksud Elena karena ia langung mengikuti keluar setelah memastikan


kondisi Rendra dengan kedua matanya sendiri.


“Kau sendirian?” ucap Elena sekedar basa-basi tak ingin menanyakan langsung kemana ayah dari


anaknya itu.


“Aku langsung berangkat kesini.” Jawab Liam yang langsung mengerti maksud dari perkataannya “Bos


juga sedang melihat langsung masalah yang sedang dihadapi digudang satu.”


“Apa yang sedang terjadi?”


“Aku tak tahu apakah harus menjelaskannya pada anda?” ucap Liam segan membeberkan masalah


perusahaan yang tak ada sangkut pahutnya dengan istri dari Bosnya ini.


“Ia melibatkan Rendra hingga sakit seperti ini, apakah ada alasan lain aku tak boleh mengetahui


hal ini?.”


“Bos melibatkan Bos kecil?” tanya Liam ragu mendengar penyataan Elena barusan.


“Kau tidak bermaksud aku mengatakan kebohongankan.” Ucap Elena tertawa hambar.


“Bukan maksudku... Begini…” ucap Liam masih ragu apa yang sebaiknya harus ia beritahukan.


“Semua yang kau ketahui.” Tuntut Elena.


“Kau masih ingat pria yang berada dipesta?” ucap Liam.


“Tentu.” Elena tak akan pernah melupakan apa yang didengarnya jika itu berkaitan dengan


Rendra.


“Mereka melakukan serangan fatal.” Akui Liam.


“Jelaskan..”


“Bukan hanya pada server, ia juga melakukan serangan pada bahan baku dan beberapa karyawan


kami. Ia melakukan serangan yang kuat hingga kami kini kekurangan segala hal hingga


membuat perusahaan sangat kacau saat ini.”


“Separah apa hal itu?”


“Aku hanya bisa mengatakan, perusahaan kami mungkin akan mengalami kemorosotan dalam segala hal


jika situasi tetap seperti ini.” Akui Liam sambil menghela nafas lelah.


“Jadi sekarang aku bahkan tak bisa membicarakan hal ini pada Malviano?.” Ucap Elena yang


sepertinya sangat kecewa bahwa ia tak mungkin mendapat kesempatan untuk membicarakan


hal ini dengan kepala dingin.


“Sebentar aku akan mencoba menghubunginya.” Ucap Liam yang langsung menghubungi orang yang dimaksud Elena.

__ADS_1


__ADS_2