
“Apa Maksudmu?” ucap Elena.
“Iya seharusnya menyelesaikan membuat sistem yang ku minta sebelum pulang.” Ucap
Malviano yang kini berdiri dari sofa dan mulai membelakangi Elena.
“Kau tidak bermaksud mengatakan Rendra harus bekerja bukan?” tanya Elena yang begitu
kaget maksud perkataan Malviano.
Apakah selama ini Rendra selalu pergi bersama Malviano untuk bekerja diperusahaan
Ayahnya itu? Bukan seperti apa yang selama ini Elena pikirkan? Ruangan yang
dibuat Malviano untuk Rendra didalam perusahaanya yang terlihat lengkap penuh
dengan mainan dan alat-alat bermain itu bukan dibuat Malviano agar ia nyaman
bermain disana?.
Apakah Malviano sengaja membuat semua hal untuk Rendra diperusahaan agar anaknya yang
masih berusia lima tahun itu untuk bekerja? Jika benar Malviano sungguh
kelewatan, bagaimana mungkin serang ayah tega membuat ananknya sendiri yang
masih terlalu kecil mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan oleh orang
dewasa.
Meskipun memang kepintaran yang dimiliki Rendra jauh diatas orang-orang dewasa, tapi
semua itu tidak ada hubungannya karena walau bagaimanapun Rendra masih dalam
usia yang seharusnya masih harus bermain bahkan kalau perlu anak itu seharusnya
lebih sering diajak jalan-jalan.
“Tentu saja ia harus menyelesaikan game yang sudah ia buat, aku mempertaruhkan semua
yang kupunya hanya agar game itu segera liris.” Ucap Malviano yang tidak
membantah tuduhan Elena.
“Anakku masih terlalu kecil untuk bekerja.” Ucapa Elena yang kini menjadi emosi, tak
ada yang berhak membuat anaknya kehilangan masa kecilnya yang malah diharuskan
untuk bekerja keras.
“Dia juga anakku kalau kau lupa.” Tantang Malviano.
“Kau tidak berhak melakukan hal itu padanya, dia masih terlalu kecil untuk bekerja.”
Ucap Elena yang tak mau kalah untuk memperjuangkan kebebasan apa yang
seharusnya Rendra lakukan, apalagi usia Rendra yang masih terlalu kecil untuk
dunia orang dewasa.
“Tentu saja aku berhak dia anakku juga.” Ucap Malviano yang tetap tak mau kalah.
“Karena dia anakmu juga, apa kau tega melakukan hal itu padanya?” ucap Elena yang kini
memelas, ia melakukan hal itu agar Malviano sadar atas apa yang dilakukan pada
anak mereka.
“Baiklah untuk hari ini biarkan ia tidur, tapi besok ia harus ikut besamaku seperti
biasa.” Ucap Malviano yang langsung meninggalkan Elena sendiran dan pergi dari
rumah.
__ADS_1
Elena hanya bisa diam ditempatnya, ia begitu menyesali apa yang sekarang sedang
terjadi apa anaknya. Seharusnya dahulu Elena lebih memerhatikan apa yang Rendra
lakukan ketika bersama Malviano, ia belum kenal dekat dengan pria itu. Walaupun
pria itu ayah kandung anaknya tapi taka da yang tahu apa yang akan dilakukannya
bukan?.
***
Elena semakin meradang dengan kelakuan Malviano yang terlalu menekan
Rendra untuk perusahaannya, mengakibatkan Rendra jatuh sakit. Malviano sepertinya
terlalu membebankan tugas orang dewasa terhadap Rendra yang terlalu kecil untuk
diberi tekanan perusahaan sebesar itu.
Sekarang Elena menemani Rendra didalam kamar Rumah sakit, anaknya baru saja tertidur
setelah tadi dokter memeriksanya. Elena harus berkata dengan lebih tegas pada
Malviano tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan Rendra, cukup satu kali ini Elena
mengalah membiarkan Malviano melakukan kehendaknya pada Rendra.
“Hallo, bisakah aku berbicara dengan Malviano.” Ucap Elena pada telepon genggam untuk
menghubungi Liam.
Ia memutuskan untuk membicarakan hal ini secepatnya, Tadi pagi Elena memang tak
sempat bertemu dengan suaminya itu bahkan dengan Liampun ia tak pernah sekaliapun
bertemu. Sepertinya memang sedang ada keadaan genting pada perusahaan Malviano
yang masih kecil?.
“Nyonya, maaf Tuan seadng tak bersama saya.” Terdengar jawaban Liam yang begitu menyesal
tak bisa mengabulkan permintaan istri atasannya.
“Bisakah aku berbicara denganmu sebagai gantinya?” ucap Elena yang ingin mengetahui segenting
apa keadaan diperusahaan itu.
“Entahlah saya sedang berada dipabrik cabang dua saat ini.” Sesal Liam.
“Rendra sedang berada dirumah sakit.” Elena mencoba menarik perhatian asisten suaminya itu.
“Rendra sakit? Astaga…” ucap pria itu.
“Saya akan datang setengah jam dari sekarang nyonya.” Ucap pria itu sambil memutuskan
sambungan telepon mereka.
Mendengar hal itu Elena begitu miris dengan apa yang mungkin dihadapi oleh anaknya. Haruskah
anaknya mengalami seperti ini, mungkinkah Malviano menerima mereka dengan
tangan terbuka dulu karena hanya ingin memanfaatkan Rendra untuk kebutuhan
perusahaannya saja?.
Begitu banyak yang Elena pikirkan dan mencari solusi apa saja jika memang benar apa
yang dipikirkannya adalah sesuatu yang sedang terjadi pada mereka. Hingga tak
terasa Liam kini sedang berlari menghampiri Elena, meskipun ia heran kedatangan
pria itu yang sebenarnya tak sempat ia beritahukan dimana letak Rendra sedang dirawat
__ADS_1
saat ini.
“Rendra..” ucap Liam yang terdengar kehabisan oksigen karena ia mungkin berlari sekencang
yang bisa dilakukannya.
“Iya sedang istirahat, sepertinya ia kelelahaan.” Ucap Elena yang langsung keluar
ruangan rawat inap.
Elena sengaja keluar agar pembicaraan mereka tak mengusik istirahat Rendra, dan tak baik juga
bila ia terbangun ketika ia membahas masalah bersama Liam. Liam sepertinya
cukup mengerti maksud Elena karena ia langung mengikuti keluar setelah memastikan
kondisi Rendra dengan kedua matanya sendiri.
“Kau sendirian?” ucap Elena sekedar basa-basi tak ingin menanyakan langsung kemana ayah dari
anaknya itu.
“Aku langsung berangkat kesini.” Jawab Liam yang langsung mengerti maksud dari perkataannya “Bos
juga sedang melihat langsung masalah yang sedang dihadapi digudang satu.”
“Apa yang sedang terjadi?”
“Aku tak tahu apakah harus menjelaskannya pada anda?” ucap Liam segan membeberkan masalah
perusahaan yang tak ada sangkut pahutnya dengan istri dari Bosnya ini.
“Ia melibatkan Rendra hingga sakit seperti ini, apakah ada alasan lain aku tak boleh mengetahui
hal ini?.”
“Bos melibatkan Bos kecil?” tanya Liam ragu mendengar penyataan Elena barusan.
“Kau tidak bermaksud aku mengatakan kebohongankan.” Ucap Elena tertawa hambar.
“Bukan maksudku... Begini…” ucap Liam masih ragu apa yang sebaiknya harus ia beritahukan.
“Semua yang kau ketahui.” Tuntut Elena.
“Kau masih ingat pria yang berada dipesta?” ucap Liam.
“Tentu.” Elena tak akan pernah melupakan apa yang didengarnya jika itu berkaitan dengan
Rendra.
“Mereka melakukan serangan fatal.” Akui Liam.
“Jelaskan..”
“Bukan hanya pada server, ia juga melakukan serangan pada bahan baku dan beberapa karyawan
kami. Ia melakukan serangan yang kuat hingga kami kini kekurangan segala hal hingga
membuat perusahaan sangat kacau saat ini.”
“Separah apa hal itu?”
“Aku hanya bisa mengatakan, perusahaan kami mungkin akan mengalami kemorosotan dalam segala hal
jika situasi tetap seperti ini.” Akui Liam sambil menghela nafas lelah.
“Jadi sekarang aku bahkan tak bisa membicarakan hal ini pada Malviano?.” Ucap Elena yang
sepertinya sangat kecewa bahwa ia tak mungkin mendapat kesempatan untuk membicarakan
hal ini dengan kepala dingin.
“Sebentar aku akan mencoba menghubunginya.” Ucap Liam yang langsung menghubungi orang yang dimaksud Elena.
__ADS_1