
Elena memasuki rumahnya dengan
gelisah, meskipun sejak diperjalanan tadi ia sempat merangkai beberapa kata
yang tepat untuk dikatakan pada Rendra.
“Duduklah dulu disana.” Ucap
Elena pada Malviano sambil menujuk kearah sofa yang terletak diruang tamu rumah
ini.
“Kau mau kemana.” Ucap Malviano
menahan tangan Hanz yang malah berjalan mengikuti Elena.
“Kamar.” Ucap Hanz singkat.
“Untuk apa kau kesana?.” Tanya
Malviano dengan penuh penekanan ketika mengucapkannya.
“Tentu saja untuk istirahat.” Lagi-lagi
Hanz hanya menjawab dengan santai berbeda dengan Malviano yang siap akan
meledak kapan saja.
“Akan kujelaskan nanti, bisakah
kau menunggu dengan tenang disini?.” Ucap Elena yang tak ingin Rendra melihat
pekelahian antara ayahnya dan Hanz, ketika Elena sekarang tak tahu apa yang
akan dilakukan anak itu pada ayahnya ini.
Mendengar Elena berjanji akan
menjelaskan, Malviano hanya bisa mengangguk setuju. Sepertinya ia juga tersadar
bagaimana posisinya saat ini, meledak karena menuntut penjelasan bukanlah waktu
yang tepat saat ini. Ia membiarkan Elena masuk kedalam untuk menemui Rendra
seorang diri.
Elena memasuki kedalam kamar dan
menemukan Rendra yang sedang terbaring lemah diatas tempat tidurnya. Terlihat
wajahnya begitu pucat, dan kepalanya yang mengeluarkan keringat. Melihat itu
sontak membuat Elena berlari mendengkat kepada Rendra.
“Sayang, kau baik-baik saja.”
Ucap Elena sambil memeriksa tubuh Rendra.
“Mom, sepertinya bukan hanya
perutku yang sakit. Sekrang kepalaku juga mulai berputar-putar.” Ucap Rendra
yang sedikitnya membuat Elena lega karena ia masih bisa diajak berkomunikasi.
“Kita kerumah sakit ya.” Bujuk
Elena yang sangat tahu bahwa rumah sakit masih menjadi tempat yang paling
menakutkan bagi Rendra.
“Haruskah?.” Ucap Rendra yang masih
bisa menawar dalam situasi yang seperti ini.
“Kalau ditunda lebih lama lagi,
Rendra akan menginap lebih lama dirumah sakit.” Ancam Elena.
Elena mengeluarkan kekesalannya
karena ia sudah menawarkan pada Rendra sejak tadi pagi untuk pergi kerumah sakit
ketika mendengar keluhan Rendra tentang perutnya. Sekarang lihatlah kondisi
Rendra terlihat lebih parah dari tadi pagi, anak itu tadi pagi malah berseri
keras menyuruhnya pergi berbelanja bahan makanan sebagai alasan agar tak
mendengarnya untuk membujuknya pergi kerumah sakit.
Elena langsung mengendong tubuh
Rendra yang sudah lemah untuk melawannya, sebenarnya Elena cukup kesulitan saat
__ADS_1
ini untuk mengendong Rendra. Bagaimana tidak dalam jarak beberapa bulan ini
tubuh Rendra tumbuh begitu pesat, entah karena ia adalah seorang laki-laki atau
mungkin anak itu menuruni DNA dari ayahnya.
Malviano langsung berlari Kearah
Elena dan langsung mengambil alih Rendra kedalam gendongannya tanpa banyak
bertanya. Rendra sepertinya tak menyadari siapa yang saat ini telah mengedongnya
karena kedua matanya tertutup rapat, melihat hal itu membuat Elena langsung
menyuruh Malviano membawanya kedalam sebuah mobil.
“Kau mau kemana?.” Ucap Malviano
setelah menutup pintu mobil setelah memasukkan Rendra dengan hati-hati.
“Memanggil Hanz.” Jelas Elena
yang hendak berjalan melakukan apa yang dimaksud dengan apa yang diucapkannya.
“Mengapa kau harus memanggilnya
segala?.” Tannya Malviano tak mengerti.
“Tentu saja untuk membawa mobil ini
kerumah sakit.” Jelas Elena yang sebenarnya sudah kesal Malviano menunda-nunda
waktu.
“Kau masih tidak bisa mengendari?.”
Tanya Malviano.
“Kalau sudah bisa untuk apa kita
masih berada disini sementara Rendra harus cepat-cepat menuju kerumah sakit.”
Jelas Elena yang sebenarnya sangat kesal pada Malviano.
“Berikan kuncinya.” Ucap Malviano
sambil mengulurkan tangannya.
Mendengar itu sontak membuat
yang sedang beristirahat sementara ayah dari anaknya berada didepannya. Setelah
menerima kunci mobil, baik Malviano ataupun Elena langsung memasuki depan mobil.
“Sebenarnya ia sakit apa.” Ucap
Malviano yang kini sudah mengendong Rendra ketika sudah sampai didepan rumah
sakit.
“Tadi pagi ia mengeluh mulas.”
Jelas Elena yang mengikuti langkah Malviano yang lebar menuju kedalam rumah sakit.
“Help me Please.” Ucap Malviano
pada salah satu perawat yang berada disana.
Perawat tersebut langsung sigap
mengambil tubuh Rendra dan melakukan beberapa pemeriksaan setelah Malviano
menjelaskan sesuatu dalam bahasa asing. Disaat seperti ini Elena merasa dirinya
harus semakin berusaha semaksimal mungkin untuk mempelajari bahasa yang digunakan
dinegara ini.
“Keadaanya sudah jauh lebih baik
sekarang, ia sedang tertidur setelah tadi diberi obat suntik.” Jelas Malviano
setelah beberapa saat yang lalu baik perawat maupun dokter sudah pergi, dokter
di rumah sakit ini sepertinya sangat siaga karena langsung tiba diruangan Rendra setelah mendapat
laporan dari perawat yang pertama mengecek kondisi anak Rendra.
“Apa yang dikatakan dokter?.”
Ucap Elena yang masih penasaran apa yang diderita oleh putranya.
“Kerang.” Ucap Malviano dengan singkat.
__ADS_1
“Kerang?.” Tanya Elena.
“Alergi.” Jelas singkat Malviano.
“Sejak kapan ia alergi makanan.”
Ucap Elena yang sebelumnya tak pernah menghadapi situasi seperti ini.
Dari dulu mereka memang sangat
jarang memakan makanan laut karena daerahnya yang jauh dari area laut sehingga
harga makanan laut cukup mahal bagi mereka. Hingga malam tadi mereka sempat
memakan beberapa jenis hidangan laut karena ada tetangga sebelah yang dengan baik
hati berbagi makanan tersebut.
“Kau sebagai ibunya mengapa tak
mengetahui hal penting seperti ini.” Ucap Malviano yang tiba-tiba terlihat
sangat marah dan langsung menyalahkan hal ini pada Elena.
“Karena sebelumnya kami bahkan
tak pernah mengalami hal ini.” Jawab Elena dengan tenang.
“Maaf, sepertinya ia mendapatkan
hal itu karena diriku.” Ucap Malviano yang sepertinya menyadari bahwa Elena tak
bersalah dalam hal ini, dan Rendra pun malah mewarisi kelemahannya terhadap
makanan laut itu.
“Memangnya kau alergi Kerang?.”
Tanya Elena yang memang belum mengetahui segala hal tentang suaminya ini.
Pernikahan mereka begitu cepat
terjadi, bahkan selama mereka komunikasi yang jarang terjadi membuat mereka sepertinya
tak mengetahui banyak tentang mmasing-masing. Baik Elena dan Malviano sepertinya
harus banyak-banyak berkomunikasi untuk mengurangi salah paham seperti hari ini.
“Ya hampir sebagian binatang
laut.” Aku Malviano yang kini mendudukkan diri disebelah Elena yang sejak tadi
memang sudah duduk nyaman disebuah sofa yang berada didalam ruangan inap rumah
sakit tempat Rendra berada.
“Itu bagus.” Ucap Elena yang
malah senang mendengarnya.
“Mengapa kau malah terlihat
senang?.” Tanya Malviano yang sepertinya sekarang teralihkan dari rasa
bersalahnya tentang memarahi Elena tadi.
“Karena akupun tak tahu bagaimana
caranya untuk memasak hidangan laut.” Aku Elena dengan sejujur-jujurnya.
“Tapi masakanmu selalu enak.”
Ucap Malviano yang sepertinya seddang membayangkan masakan buatan Elena saat ini.
“Benarkah.” Ucap Elena yang entah
mengapa begitu malu mendengar ucapan Malviano yang mengomentari masakannya.
“Bahkan Liam bertanya padaku dimanakah
tempat aku membeli makan siangku dulu.” Jelas Malviano.
“Kalian bisa saja.” Ucap Elena
yang kini memalingkan wajahnya yang semakin memanas rasanya.
“Elana?.” Ucap Malviano pelan.
“Ya.” Balas Elena yang masih tak ingin
memandang wajah Malviano.
“Bisakah kini kita membicarakan
__ADS_1
masalah kita?.”