Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 26


__ADS_3

Elena memasuki rumahnya dengan


gelisah, meskipun sejak diperjalanan tadi ia sempat merangkai beberapa kata


yang tepat untuk dikatakan pada Rendra.


“Duduklah dulu disana.” Ucap


Elena pada Malviano sambil menujuk kearah sofa yang terletak diruang tamu rumah


ini.


“Kau mau kemana.” Ucap Malviano


menahan tangan Hanz yang malah berjalan mengikuti Elena.


“Kamar.” Ucap Hanz singkat.


“Untuk apa kau kesana?.” Tanya


Malviano dengan penuh penekanan ketika mengucapkannya.


“Tentu saja untuk istirahat.” Lagi-lagi


Hanz hanya menjawab dengan santai berbeda dengan Malviano yang siap akan


meledak kapan saja.


“Akan kujelaskan nanti, bisakah


kau menunggu dengan tenang disini?.” Ucap Elena yang tak ingin Rendra melihat


pekelahian antara ayahnya dan Hanz, ketika Elena sekarang tak tahu apa yang


akan dilakukan anak itu pada ayahnya ini.


Mendengar Elena berjanji akan


menjelaskan, Malviano hanya bisa mengangguk setuju. Sepertinya ia juga tersadar


bagaimana posisinya saat ini, meledak karena menuntut penjelasan bukanlah waktu


yang tepat saat ini. Ia membiarkan Elena masuk kedalam untuk menemui Rendra


seorang diri.


Elena memasuki kedalam kamar dan


menemukan Rendra yang sedang terbaring lemah diatas tempat tidurnya. Terlihat


wajahnya begitu pucat, dan kepalanya yang mengeluarkan keringat. Melihat itu


sontak membuat Elena berlari mendengkat kepada Rendra.


“Sayang, kau baik-baik saja.”


Ucap Elena sambil memeriksa tubuh Rendra.


“Mom, sepertinya bukan hanya


perutku yang sakit. Sekrang kepalaku juga mulai berputar-putar.” Ucap Rendra


yang sedikitnya membuat Elena lega karena ia masih bisa diajak berkomunikasi.


“Kita kerumah sakit ya.” Bujuk


Elena yang sangat tahu bahwa rumah sakit masih menjadi tempat yang paling


menakutkan bagi Rendra.


“Haruskah?.” Ucap Rendra yang masih


bisa menawar dalam situasi yang seperti ini.


“Kalau ditunda lebih lama lagi,


Rendra akan menginap lebih lama dirumah sakit.” Ancam Elena.


Elena mengeluarkan kekesalannya


karena ia sudah menawarkan pada Rendra sejak tadi pagi untuk pergi kerumah sakit


ketika mendengar keluhan Rendra tentang perutnya. Sekarang lihatlah kondisi


Rendra terlihat lebih parah dari tadi pagi, anak itu tadi pagi malah berseri


keras menyuruhnya pergi berbelanja bahan makanan sebagai alasan agar tak


mendengarnya untuk membujuknya pergi kerumah sakit.


Elena langsung mengendong tubuh


Rendra yang sudah lemah untuk melawannya, sebenarnya Elena cukup kesulitan saat

__ADS_1


ini untuk mengendong Rendra. Bagaimana tidak dalam jarak beberapa bulan ini


tubuh Rendra tumbuh begitu pesat, entah karena ia adalah seorang laki-laki atau


mungkin anak itu menuruni DNA dari ayahnya.


Malviano langsung berlari Kearah


Elena dan langsung mengambil alih Rendra kedalam gendongannya tanpa banyak


bertanya. Rendra sepertinya tak menyadari siapa yang saat ini telah mengedongnya


karena kedua matanya tertutup rapat, melihat hal itu membuat Elena langsung


menyuruh Malviano membawanya kedalam sebuah mobil.


“Kau mau kemana?.” Ucap Malviano


setelah menutup pintu mobil setelah memasukkan Rendra dengan hati-hati.


“Memanggil Hanz.” Jelas Elena


yang hendak berjalan melakukan apa yang dimaksud dengan apa yang diucapkannya.


“Mengapa kau harus memanggilnya


segala?.” Tannya Malviano tak mengerti.


“Tentu saja untuk membawa mobil ini


kerumah sakit.” Jelas Elena yang sebenarnya sudah kesal Malviano menunda-nunda


waktu.


“Kau masih tidak bisa mengendari?.”


Tanya Malviano.


“Kalau sudah bisa untuk apa kita


masih berada disini sementara Rendra harus cepat-cepat menuju kerumah sakit.”


Jelas Elena yang sebenarnya sangat kesal pada Malviano.


“Berikan kuncinya.” Ucap Malviano


sambil mengulurkan tangannya.


Mendengar itu sontak membuat


yang sedang beristirahat sementara ayah dari anaknya berada didepannya. Setelah


menerima kunci mobil, baik Malviano ataupun Elena langsung memasuki depan mobil.


“Sebenarnya ia sakit apa.” Ucap


Malviano yang kini sudah mengendong Rendra ketika sudah sampai didepan rumah


sakit.


“Tadi pagi ia mengeluh mulas.”


Jelas Elena yang mengikuti langkah Malviano yang lebar menuju kedalam rumah sakit.


“Help me Please.” Ucap Malviano


pada salah satu perawat yang berada disana.


Perawat tersebut langsung sigap


mengambil tubuh Rendra dan melakukan beberapa pemeriksaan setelah Malviano


menjelaskan sesuatu dalam bahasa asing. Disaat seperti ini Elena merasa dirinya


harus semakin berusaha semaksimal mungkin untuk mempelajari bahasa yang digunakan


dinegara ini.


“Keadaanya sudah jauh lebih baik


sekarang, ia sedang tertidur setelah tadi diberi obat suntik.” Jelas Malviano


setelah beberapa saat yang lalu baik perawat maupun dokter sudah pergi, dokter


di rumah sakit ini sepertinya sangat siaga karena langsung  tiba diruangan Rendra setelah mendapat


laporan dari perawat yang pertama mengecek kondisi anak Rendra.


“Apa yang dikatakan dokter?.”


Ucap Elena yang masih penasaran apa yang diderita oleh putranya.


“Kerang.” Ucap Malviano dengan singkat.

__ADS_1


“Kerang?.” Tanya Elena.


“Alergi.” Jelas singkat Malviano.


“Sejak kapan ia alergi makanan.”


Ucap Elena yang sebelumnya tak pernah menghadapi situasi seperti ini.


Dari dulu mereka memang sangat


jarang memakan makanan laut karena daerahnya yang jauh dari area laut sehingga


harga makanan laut cukup mahal bagi mereka. Hingga malam tadi mereka sempat


memakan beberapa jenis hidangan laut karena ada tetangga sebelah yang dengan baik


hati berbagi makanan tersebut.


“Kau sebagai ibunya mengapa tak


mengetahui hal penting seperti ini.” Ucap Malviano yang tiba-tiba terlihat


sangat marah dan langsung menyalahkan hal ini pada Elena.


“Karena sebelumnya kami bahkan


tak pernah mengalami hal ini.” Jawab Elena dengan tenang.


“Maaf, sepertinya ia mendapatkan


hal itu karena diriku.” Ucap Malviano yang sepertinya menyadari bahwa Elena tak


bersalah dalam hal ini, dan Rendra pun malah mewarisi kelemahannya terhadap


makanan laut itu.


“Memangnya kau alergi Kerang?.”


Tanya Elena yang memang belum mengetahui segala hal tentang suaminya ini.


Pernikahan mereka begitu cepat


terjadi, bahkan selama mereka komunikasi yang jarang terjadi membuat mereka sepertinya


tak mengetahui banyak tentang mmasing-masing. Baik Elena dan Malviano sepertinya


harus banyak-banyak berkomunikasi untuk mengurangi salah paham seperti hari ini.


“Ya hampir sebagian binatang


laut.” Aku Malviano yang kini mendudukkan diri disebelah Elena yang sejak tadi


memang sudah duduk nyaman disebuah sofa yang berada didalam ruangan inap rumah


sakit tempat Rendra berada.


“Itu bagus.” Ucap Elena yang


malah senang mendengarnya.


“Mengapa kau malah terlihat


senang?.” Tanya Malviano yang sepertinya sekarang teralihkan dari rasa


bersalahnya tentang memarahi Elena tadi.


“Karena akupun tak tahu bagaimana


caranya untuk memasak hidangan laut.” Aku Elena dengan sejujur-jujurnya.


“Tapi masakanmu selalu enak.”


Ucap Malviano yang sepertinya seddang membayangkan masakan buatan Elena saat ini.


“Benarkah.” Ucap Elena yang entah


mengapa begitu malu mendengar ucapan Malviano yang mengomentari masakannya.


“Bahkan Liam bertanya padaku dimanakah


tempat aku membeli makan siangku dulu.” Jelas Malviano.


“Kalian bisa saja.” Ucap Elena


yang kini memalingkan wajahnya yang semakin memanas rasanya.


“Elana?.” Ucap Malviano pelan.


“Ya.” Balas Elena yang masih tak ingin


memandang wajah Malviano.


“Bisakah kini kita membicarakan

__ADS_1


masalah kita?.”


__ADS_2