Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 29


__ADS_3

“Kalian… Bagiku…” ucap Malviano terpotong-potong.


“Kami bagimu.” Desak Elena.


“Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya dengan benar.” Ucap Malviano dengan


tatapan menghadap kekedua tangannya yang berada diatas meja makan. “Aku sangat


ingin mengetahui kebenaran yang terjadi dimasa lalu.. Tapi ketika aku sadar


kalian juga menghilang meninggalkanku, rasanya…” lagi-lagi Malviano berhenti


mengatakan apa yang sedang dirasakannya saat ini.


Mendengar itu Elena mulai menanyakan pada diri sendiri, apakah hal ini adalah hal yang tepat untuk


dilakukannya. Lihatlah kini Malviano terlihat sangat tertekan dengan apa yang


diinginkannya. Haruskah Elena melanjutkan untuk mendesak Malviano untuk


berbicara lebih terbuka padanya?.


“Rasanya aku tak sangup lagi untuk menjalani kehidupanku lagi.” Ucap Malviano tiba-tiba berkata dengan


melihat kedua bola mata Elena.


“Bukankah sebelumnya kau bisa menjalani kehidupanmu itu, bahkan selama bersama kamipun bukankah kau lebih mencintai perusahaanmu?.” Tanya Elena yang sebenarnya tak ingin lebih menyakiti Malviano lebih jauh.


“Tadinya ku pikir Kenzo akan


kecewa melihat nasib perusahaan yang merosot jatuh. Tapi ketika aku meminta


tolong padanya ketika kalian menghilang dia malah terlihat sangat kecewa


padaku.” Ucap Malviano yang bergidik ketika mengucapkannya.


“Jadi kau mencari kami karena


Kenzo.?”


“Tidak Elena, maksudku adalah…


aku sangat takut membuat Kenzo kecewa terhadapku jadi aku lebih mengutamakan


menghindari kemungkinan yang nantinya berakibat akan membuatnya kecewa.” Ucap


Malviano mencoba menjelaskan pada Elena maksud dari ucapannya sebelumnya.


“Mengapa kau berbuat demikian?.”


Elena mencoba mengorek jenis hubungan apa yang dimiliki oleh Malviano dan


Kenzo.


Karena Elena merasa sangat aneh,


Malviano dan Kenzo hanyalah seorang teman biasanya. Keduanya tak terikat oleh


hubungan darah, akan tetapi baik Kenzo maupun Malviano sepertinya sangat menghargai


satu sama lain lebih dari kepentingan dirinya sendiri.


Lihatlah bahkan dulu Kenzolah


orang yang pertama kali mencari tahu keberadaan Elena dan Rendra hingga melindungi


tanpa sekalipun mengusik kehidupan pribadi mereka kala itu. Dan kini Elena mendengar


dari mulut Malviano sendiri bahwa ia akan bertindak sesuai dengan apa yang


mungkin Kenzo inginkan, menyampingkan keinginnan diposisi paling akhir.


“Jika ku katakan


yang sejujurnya apakah kau akan mendengarkan ceritaku?” tanya Malviano yang


sepertinya terlihat sangat ragu.


“Tentu, aku lebih suka kau tak


menutupi apapun lagi padaku.” Jelas Elena.


“Akulah


yang membuat Kenzo tak mempunyai seorang ayah.”


“Maksudmu? Kau membunuh ayah


Kenzo?.” Tanya Elena.

__ADS_1


“Laki-laki itu masih hidup entah


dimana ia berada sekrang.” Jawab Malviano yang tak terima tuduhan Elena padanya.


“Lalu apa maksudmu kau membuat Kenzo


menjadi tak mempunyai seorang ayah?”


“Karena aku Kenzo dan ibunya kehilangan


sosok seorang ayah…. Akulah yang mengatakan bahwa laki-laki itu berbuat sesuatu


hal….. dengan orang lain pada ibu Kenzo…. Hal itulah yang membuat orang tua


Kenzo memutuskan untuk berpisah.” Jelas Malviano begitu dan menjeda perkataannya


dibeberapa kalimat sebelum melanjutkan pada kalimat yang lainnya.


“Memangnya apa yang kau katakan?.”


Tanya Elena yang terlanjur penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Malviano


pada ibu Kenzo sehingga membuat sebuah pasangan yang sudah mempunyai seorang


putra bisa berpisah begitu saja.


“Saat itu usiaku masih sepuluh


tahun.. aku tak cukup tahu apa yang kukatakan akan berakibat fatal dalam


hubungan sebuah rumah tangga.” Ucap Malviano begitu frustasi ketika


mengatakannya.


“Kalian sudah kenal dari kecil?.”


Tanya Elena yang kembali penasaran akan informasi baru yang didengarnya.


“Tepatnya keluarga Kenzolah yang


telah merawatku ketika Ayah dan ibuku mengalami kecelakaan lalu lintas tunggal


yang langsung menewaskan mereka. Tapi yang kulakukan adalah memecah belah


keluarga tersebut.” Lagi-lagi malviano terlihat begitu frustasi ketika


mengatakannya, sepertinya ini adalah kala pertama ia mengucapkan pada orang lain.


kala itu?.”


“Aku…. Ak… ku katakan Paman Hiro sedang


memeluk tante yang tak pernah kulihat sebelumnya... Aku hanya ingin menanyakan


nama tante itu…. Karena dulu… aku… ingin mengembalikan sebuah benda yang dijatuhkan


tante itu..” ucap Malviano yang kini sepertinya cukup terguncang dengan ingatannya


tentang hari itu.


“Tepatnya benda apakah itu?.” Tanya


Elena sambil mendekat pada Malviano untuk membuatnya lebih jelas mendengar apa


yang diucapkan oleh suaminya tersebut.


“Kala itu kukira adalah sebuah mainan…


tahu kah kau jika aku melihatnya saat ini… aku mungkin akan berbicara dulu


langsung Paman bahwa aku menemukan benda itu.” Ucap Malviano.


“A..apa…”


“Sebuah tespek dengan hasil garis


dua.” Ucap Malviano memotong apa yang akan ditanyakan oleh Elena.


“Astaga, Jadi menurutmu kau telah


berbuat salah pada ibu Kenzo karena telah membeberkan kebusukan suaminya?.”


tanya Elena yang tiba-tiba menjadi marah atas penyesalan Malviano yang tidak


pada tempatnya.


“Elena… Bagaiman… Bagaimana jika


hasil dari testek tersebut bukan mengarah pada Paman?.” Tanya Malviano yang

__ADS_1


mencoba membenarkan logikanya.


“Kau ingin ku peluk?.” Tanya Elena


sambil merentangkan kedua tangannya.


Meskipun Malviano keheranan


dengan permintaan Elena yang tiba-tiba, tapi pria itu malah mendekat untuk masuk


dalam pelukan hangat Elena. Cukup lama Malviano berada dalam pelukan Elena,


sebenarnya kalau situasi tidak sedang seperti ini sepertinya nanti Elena tak


akan berani untuk menawarkan hal ini duluan.


“Jika aku dalam posisi ibu Kenzo


kala itu, aku tak mungkin langsung mendengarkan apa yang diucapkan oleh anak


kecil terlebih itu adalah tentang suamiku sendiri.” Ucap Elena sambil mengusap


punggung Malviano.


“Tapi aku punya bukti..”


“Seperti logikamu sebelumnya, aku


sebagai seorang istri tidak mungkin langsung memakan infomasi apapun yang berkaitan


dengan suamiku bahkan jika ada bukti langsung. Aku tetap akan mencari kebenarannya


sendiri.” Ucap Elena dengan tegas pada Malviano yang kini telah melepaskan


pelukan mereka.


“Kau…”


“Seperti kasus yang terjadi


padamu dan juga Harsha.” Ucap Elena yang memberi contoh.


“Lalu mengapa kau pergi membawa


Rendra?.” Tuntut Malviano.


“Kami memberikanmu kebebasan kala


itu.”


“Kebebasan?.”


“Ya sebuah kebebasan.”


“Elena ku akui aku memang sangat


pintar, tapi untuk menebak hal yang seperti ini aku akan mengakuinya bahwa aku


benar-benar orang terbodoh yang pernah ada.” Aku Malviano.


“Aku memberikanmu pilihan untuk


tetap bersama kami atau melanjutkan kehidupanmmu seperti sebelum kau mengenal


kami… kau tahu kan kedatangan kami dikehidupanmu terlalu tergesa-gesa… kami


takut kau merasa bahwa kau diharuskan menerima kami tanpa ada pilihan selain itu.”


Jelas Elena secara lebih menyeluruh.


“Bagaimana kau bisa memutuskan


seperti itu?.”


“Keadaan kitalah yang membuatku


berfikir seperti itu, bahkan Rendra yang masih kecil merasa kau tak pernah


menganggapnya seorang anak. Ia merasa kau memperlakukannya sebagai anak hanya


untuk kelangsunggan hidup perusahaanmu itu saja.” Jelas Elena.


“Aku..”


“Ya.. kami kini sedang memberimu


waktu untuk memikirkan apa yang sebenarnya kau inginkan saat ini, baik aku dan


Rendra tak akan keberatan jika kau memutuskan nantinya memang tak ingin bersama

__ADS_1


kami lagi.” Jelas Elena memberi pilihan pada Malviano untuk memilih.


__ADS_2