
“Kalian… Bagiku…” ucap Malviano terpotong-potong.
“Kami bagimu.” Desak Elena.
“Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya dengan benar.” Ucap Malviano dengan
tatapan menghadap kekedua tangannya yang berada diatas meja makan. “Aku sangat
ingin mengetahui kebenaran yang terjadi dimasa lalu.. Tapi ketika aku sadar
kalian juga menghilang meninggalkanku, rasanya…” lagi-lagi Malviano berhenti
mengatakan apa yang sedang dirasakannya saat ini.
Mendengar itu Elena mulai menanyakan pada diri sendiri, apakah hal ini adalah hal yang tepat untuk
dilakukannya. Lihatlah kini Malviano terlihat sangat tertekan dengan apa yang
diinginkannya. Haruskah Elena melanjutkan untuk mendesak Malviano untuk
berbicara lebih terbuka padanya?.
“Rasanya aku tak sangup lagi untuk menjalani kehidupanku lagi.” Ucap Malviano tiba-tiba berkata dengan
melihat kedua bola mata Elena.
“Bukankah sebelumnya kau bisa menjalani kehidupanmu itu, bahkan selama bersama kamipun bukankah kau lebih mencintai perusahaanmu?.” Tanya Elena yang sebenarnya tak ingin lebih menyakiti Malviano lebih jauh.
“Tadinya ku pikir Kenzo akan
kecewa melihat nasib perusahaan yang merosot jatuh. Tapi ketika aku meminta
tolong padanya ketika kalian menghilang dia malah terlihat sangat kecewa
padaku.” Ucap Malviano yang bergidik ketika mengucapkannya.
“Jadi kau mencari kami karena
Kenzo.?”
“Tidak Elena, maksudku adalah…
aku sangat takut membuat Kenzo kecewa terhadapku jadi aku lebih mengutamakan
menghindari kemungkinan yang nantinya berakibat akan membuatnya kecewa.” Ucap
Malviano mencoba menjelaskan pada Elena maksud dari ucapannya sebelumnya.
“Mengapa kau berbuat demikian?.”
Elena mencoba mengorek jenis hubungan apa yang dimiliki oleh Malviano dan
Kenzo.
Karena Elena merasa sangat aneh,
Malviano dan Kenzo hanyalah seorang teman biasanya. Keduanya tak terikat oleh
hubungan darah, akan tetapi baik Kenzo maupun Malviano sepertinya sangat menghargai
satu sama lain lebih dari kepentingan dirinya sendiri.
Lihatlah bahkan dulu Kenzolah
orang yang pertama kali mencari tahu keberadaan Elena dan Rendra hingga melindungi
tanpa sekalipun mengusik kehidupan pribadi mereka kala itu. Dan kini Elena mendengar
dari mulut Malviano sendiri bahwa ia akan bertindak sesuai dengan apa yang
mungkin Kenzo inginkan, menyampingkan keinginnan diposisi paling akhir.
“Jika ku katakan
yang sejujurnya apakah kau akan mendengarkan ceritaku?” tanya Malviano yang
sepertinya terlihat sangat ragu.
“Tentu, aku lebih suka kau tak
menutupi apapun lagi padaku.” Jelas Elena.
“Akulah
yang membuat Kenzo tak mempunyai seorang ayah.”
“Maksudmu? Kau membunuh ayah
Kenzo?.” Tanya Elena.
__ADS_1
“Laki-laki itu masih hidup entah
dimana ia berada sekrang.” Jawab Malviano yang tak terima tuduhan Elena padanya.
“Lalu apa maksudmu kau membuat Kenzo
menjadi tak mempunyai seorang ayah?”
“Karena aku Kenzo dan ibunya kehilangan
sosok seorang ayah…. Akulah yang mengatakan bahwa laki-laki itu berbuat sesuatu
hal….. dengan orang lain pada ibu Kenzo…. Hal itulah yang membuat orang tua
Kenzo memutuskan untuk berpisah.” Jelas Malviano begitu dan menjeda perkataannya
dibeberapa kalimat sebelum melanjutkan pada kalimat yang lainnya.
“Memangnya apa yang kau katakan?.”
Tanya Elena yang terlanjur penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Malviano
pada ibu Kenzo sehingga membuat sebuah pasangan yang sudah mempunyai seorang
putra bisa berpisah begitu saja.
“Saat itu usiaku masih sepuluh
tahun.. aku tak cukup tahu apa yang kukatakan akan berakibat fatal dalam
hubungan sebuah rumah tangga.” Ucap Malviano begitu frustasi ketika
mengatakannya.
“Kalian sudah kenal dari kecil?.”
Tanya Elena yang kembali penasaran akan informasi baru yang didengarnya.
“Tepatnya keluarga Kenzolah yang
telah merawatku ketika Ayah dan ibuku mengalami kecelakaan lalu lintas tunggal
yang langsung menewaskan mereka. Tapi yang kulakukan adalah memecah belah
keluarga tersebut.” Lagi-lagi malviano terlihat begitu frustasi ketika
mengatakannya, sepertinya ini adalah kala pertama ia mengucapkan pada orang lain.
kala itu?.”
“Aku…. Ak… ku katakan Paman Hiro sedang
memeluk tante yang tak pernah kulihat sebelumnya... Aku hanya ingin menanyakan
nama tante itu…. Karena dulu… aku… ingin mengembalikan sebuah benda yang dijatuhkan
tante itu..” ucap Malviano yang kini sepertinya cukup terguncang dengan ingatannya
tentang hari itu.
“Tepatnya benda apakah itu?.” Tanya
Elena sambil mendekat pada Malviano untuk membuatnya lebih jelas mendengar apa
yang diucapkan oleh suaminya tersebut.
“Kala itu kukira adalah sebuah mainan…
tahu kah kau jika aku melihatnya saat ini… aku mungkin akan berbicara dulu
langsung Paman bahwa aku menemukan benda itu.” Ucap Malviano.
“A..apa…”
“Sebuah tespek dengan hasil garis
dua.” Ucap Malviano memotong apa yang akan ditanyakan oleh Elena.
“Astaga, Jadi menurutmu kau telah
berbuat salah pada ibu Kenzo karena telah membeberkan kebusukan suaminya?.”
tanya Elena yang tiba-tiba menjadi marah atas penyesalan Malviano yang tidak
pada tempatnya.
“Elena… Bagaiman… Bagaimana jika
hasil dari testek tersebut bukan mengarah pada Paman?.” Tanya Malviano yang
__ADS_1
mencoba membenarkan logikanya.
“Kau ingin ku peluk?.” Tanya Elena
sambil merentangkan kedua tangannya.
Meskipun Malviano keheranan
dengan permintaan Elena yang tiba-tiba, tapi pria itu malah mendekat untuk masuk
dalam pelukan hangat Elena. Cukup lama Malviano berada dalam pelukan Elena,
sebenarnya kalau situasi tidak sedang seperti ini sepertinya nanti Elena tak
akan berani untuk menawarkan hal ini duluan.
“Jika aku dalam posisi ibu Kenzo
kala itu, aku tak mungkin langsung mendengarkan apa yang diucapkan oleh anak
kecil terlebih itu adalah tentang suamiku sendiri.” Ucap Elena sambil mengusap
punggung Malviano.
“Tapi aku punya bukti..”
“Seperti logikamu sebelumnya, aku
sebagai seorang istri tidak mungkin langsung memakan infomasi apapun yang berkaitan
dengan suamiku bahkan jika ada bukti langsung. Aku tetap akan mencari kebenarannya
sendiri.” Ucap Elena dengan tegas pada Malviano yang kini telah melepaskan
pelukan mereka.
“Kau…”
“Seperti kasus yang terjadi
padamu dan juga Harsha.” Ucap Elena yang memberi contoh.
“Lalu mengapa kau pergi membawa
Rendra?.” Tuntut Malviano.
“Kami memberikanmu kebebasan kala
itu.”
“Kebebasan?.”
“Ya sebuah kebebasan.”
“Elena ku akui aku memang sangat
pintar, tapi untuk menebak hal yang seperti ini aku akan mengakuinya bahwa aku
benar-benar orang terbodoh yang pernah ada.” Aku Malviano.
“Aku memberikanmu pilihan untuk
tetap bersama kami atau melanjutkan kehidupanmmu seperti sebelum kau mengenal
kami… kau tahu kan kedatangan kami dikehidupanmu terlalu tergesa-gesa… kami
takut kau merasa bahwa kau diharuskan menerima kami tanpa ada pilihan selain itu.”
Jelas Elena secara lebih menyeluruh.
“Bagaimana kau bisa memutuskan
seperti itu?.”
“Keadaan kitalah yang membuatku
berfikir seperti itu, bahkan Rendra yang masih kecil merasa kau tak pernah
menganggapnya seorang anak. Ia merasa kau memperlakukannya sebagai anak hanya
untuk kelangsunggan hidup perusahaanmu itu saja.” Jelas Elena.
“Aku..”
“Ya.. kami kini sedang memberimu
waktu untuk memikirkan apa yang sebenarnya kau inginkan saat ini, baik aku dan
Rendra tak akan keberatan jika kau memutuskan nantinya memang tak ingin bersama
__ADS_1
kami lagi.” Jelas Elena memberi pilihan pada Malviano untuk memilih.