Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 37


__ADS_3

“Elena.” Ucap Malviano yang


ternyata kini sedang berdiri tak jauh dari mereka.


Mendengar namanya disebut Elena


langsung melepaskan kedua tangan Hanz yang masih berada dibahunya, sementara


Hanz tersenyum seperti sedang mengajak perang pada pria yang kini terlihat


menggepalkan tangganya. Melihat itu Elena langsung mendekati suaminya itu.


“Rendra sudah tidur?.” Tanya Elena


yang kini sudah berada didepan malviano menanyakan seolah-olah ia tadi tak mengintip


keadaan mereka dikamar Rendra.


“Ya ia sudah tertidur nyenyak ketika


aku meninggalkannya.” Balas Malviano dengan suara yang lembut berbeda dengan


kedua matanya yang menatap Hanz dengan tajam.


“Sebaiknya aku juga tidur,


selamat tidur Elena.” Ucap Hanz yang kini berjalan menempati kamarnya meninggalkan


Elena dan Malviano dengan keadaan yang sangat canggung.


Kini baik Elena dan Malviano tak


ada satupun yang berbicara, mereka hanya diam melihat langit malam yang kini


telah dihiasi oleh banyaknya bintang dilangit malam. Jika saja keadaan mereka tidak


seperti sekarang mungkin malam ini akan menjadi malam yang romantis karena mendapatkan


momen yang seperti sekarang.


“Langit itu indah ya.” Ucap Elena


berbasa-basi untuk mencairkan suasana.


“Sebenarnya aku tak terlalu suka


bulan dan bintang, mereka hanya mengganggu waktu kerjaku karena semua karyawan


sudah terlalu lelah membuka mata mereka ketika bekerja.” Jawaban yang dikeluarkan


oleh Manusia begitu luar biasa ditelinga Elena.


Jika Elena bekerja pada Malviano


lalu pria itu mengatakan hal seperti ini, ia bisa pastikan bahwa pria itu akan


langsung mendapatkan obat tidur didalam minumannya. Elena akan membuat bosnya tidur


agar tak membuatnya bekerja dua puluh jam penuh, gila apakah Malviano seorang


manusia?.


“Jika kau ingin bergadang,


kerjakanlah semuanya sendiri jangan menyeret karyawanmu yang lain. Kau tak tahu


mungkin saja keluarga mereka sedang menunggu ayah atau ibunya pulang kerumah.” Ucap


Elena yang prihatin akan karyawan atau karyawati diperusahaan Malviano.


“Aku membayar mereka lebih untuk


kerja keras mereka, dan apabila pekerjaan mereka selesai aku bahkan memberikan


cuti dan bonus.” Ucap Malviano yang membela dirinya sendiri.


“Benarkah?.” Ucap Elena yang


tertarik ketika mendengar dua kata itu, bagi sebagai mantan karyawan dua kata itu


adalah sebuah kata ajaib yang akan membuatmu untuk giat dalam menjalankan


pekerjaan yang sedang dikerjakan.


“Tentu, kalau kau tak percaya kau


bisa menanyakan seluruh karyawan.” Ucap Malviano dengan begitu enteng, sepertinya


ia sangat percaya diri dengan apa yang dikatakannya.

__ADS_1


“Kau gila, apakah aku kelihatan


kurang kerjaan sehingga bertanya pada karyawanmu yang entah sebanyak apa.” Ucap


Elena mengelengkan kepalanya.


“Kalau kau ingin tahu dengan pasti


jumlah mereka sebaiknya ku hubungi Liam karena terakhir kali aku berada disana,


aku memecat hampir ratusan orang.” Ucap Malviano yang kini mencari telepon


genggamnya yang mungkin berada disaku celananya.


“Kau memecat hampir ratusan


orang?.” Tanya Elena yang kaget mendengar perkataan Malviano.


Apakah perusahaan pria itu begitu


mengalami kesulitan yang cukup parah sehingga harus mengurangi banyaknya


karyawan yang bekerja diperusahaan itu? Jika demikian bagaiman nasib perusahaan


itu jika memang benar seperti ucapan Malviano yang melimpahkan tanggung jawab


pada Liam?


“Ya semua orang yang ternyata


adalah tikus. Seharusnya aku sudah curiga Khafi selalu menang selama ini.” Ucap


Malviano yang begitu lancar mengatakan segala sesuatu pada Elena.


“Khafi?.”


“Ya ia jugalah salah satu dalang


dari masalah yang terjadi dalam perusahaan.”


“Salah satu.”


“Oh Elena… sepertinya aku masih


belum bisa mengatakan semua yang terjadi padaku.” Ucap Malviano yang kini terlihat


frustasi.


mencobanya.” Ucap Elena dengan tulus.


“Kau tidak marah?.” Ucap Malviano


yang melihat Elena dengan lekat seolah sedang menganalisa rawut wajahnya.


“Mengapa aku marah?.” Tanya balik


Elena.


“Karena aku tak menjawab semua


tentangku juga perusahaanku.”


“Sebenarnya kau tidak perlu


memberitahuku dengan detail, aku hanya kau membagikan beban yang kau pikul


padaku. Itu pun jika kau menganggapku sebagai keluarga.” Ucap Elena yang kini


mengatakan apa yang sejak tadi ia pikirkan ketika kedatangan Malviano padanya


kemarin malam.


“Tentu saja kau keluargaku. Kau


tetap istriku.” Jawaban Malviano dengan begitu lantang.


Elena yang mendengarnya seketika


hanya terdiam memandang Malviano yang kini mendekat kearahnya. Kedua tangan Malviano


kini berada dipundak Elena, posisi mereka kini hampir sama ketika ia tadi


bersama Hanz. Bedanya Elena ingin sekali kabur setelah menendang aset dari seorang


pria ketika ia bersama Hanz sedangkan bersama Malviano, kini ia tak dapat memikirkan


apapun.


“Elena, bisakah aku bertanya?.” Ucap

__ADS_1


Malviano setelah cukup lama saling berpandangan.


“Ya.” Hanya satu kata itu saja


yang keluar dari mulut Elena, Malviano membuatnya semakin gugup dengan


perkataannya yang lembut seperti yang baru saja diucapkanya tadi.


“Kau dan Hanz ada hubungan apa?”


tanya Malviano.


Elena tak langsung menjawab


pertanyaan yang Malviano lontarkan karena ia sendiri pun tak tahu harus


menjawab bagaimana, Hanz sebenarnya hanya orang asing yang tiba-tiba salah


paham dengan menganggapnya sebagai Rendra persis seperti pria didepannya ini.


Hanz hanya memerlukan tempat tinggal


selama ia bekerja sama dengan Rendra dinegara ini dan juga sebuah alasan yang


konyol, dikarenakan Robert yang tak bisa menemainya dinegara ini karena harus


mengurus perusahaannya dinegara asal mereka. Haruskah Elena menceritakan


semuanya?.


“Kami..” ucap Elena.


“Apakah dia kekasih barumu? Apakah


Kau memutuskan akan bercerai?.” Ucap Malviano yang kini bertanya sambil


mencengkram bahu Elena sehingga membuatnya meringis karena kekuatan pria itu.


“Kenapa kau berbicara seperti itu?.”


Ucap Elena masih meringis ketika mengatakannya, karena sepertinya Malviano tak


sadar telah menyakiti dirinya.


“Maaf.” Ucap Malviano yang kini


melepaskan Elena yang langsung mengelus tubuhnya yang berdenyut-denyut.


“Ya.”


“Ku akui, Hanz mungkin pria yang


lebih baik daripadaku.” Ucap Malviano yang kini terlihat suram.


“Kau bicara apa sih.” Ucap Elena


yang sebenarnya tak melihat perbedaan yang jauh antara Hanz dan Malviano.


Bagaimana tidak baik Hanz dan


Malviano dua orang itu masih terlalu asing padanya, Malviano yang terlalu cuek


padanya sehingga Elena merasa bahwa pria itu tak peduli padanya. Sedangkan


Hanz, pria itu ketika bersamanya hanya akan membuat mereka berdebat untuk segala


sesuatu.


Akantetapi kesamaan kedua pria itu


yang membuat Elena merasa memerlukan keberadaan kedua pria itu adalah baik Malviano


dan Hanz adalah mereka sama-sama menyayangi Rendra. Malviano yang merupakan


ayah kandung tentu saja akan kembali menyayangi anaknya.


Sedangkan Hanz jika penilaian


Elena tidak salah, pria itu sepertinya juga sangat menyayangi anaknya itu. Baik


sebagai teman, rekan kerja bahkan ketika Rendra memerlukan sosok seorang ayah,


Hanz akan datang pada Rendra dengan tangan terbuka dan melakukan apapun yang dibutuhkan


anak itu.


“Kalian berdua cocok bersama.” Ucap


Malviano yang terdengar dingin dipendengaran Elena yang mungkin kini memang kedinginan

__ADS_1


akibat terlalu lama berada diluar pada malam hari seperti ini.


__ADS_2