
“Aku tidak tahu kau akan mengumumkan keberadaan Rendra secepat ini.”
“Lebih cepat bukankah lebih baik?”
“Aku hanya tak menyangka kau seberani itu.”
“Memangnya apa yang harus ditakutkan? Rendra jelas anak kandungku, test DNA bahkan menbuktikan
hal itu.”
“Maksudku, kau berani menghadapi kenyatan bahwa kau sudah mempunyai seorang anak, apalagi
usianya sudah cukup besar untuk tiba-tiba kau akui sebagai anakmu.” Ucap Elena.
“Lalu dimana letak masalahnya?”
“Kau tak takut orang-orang mengatakan Rendra anak haram.” Ucap Elena yang tercekat
ketika mengatakan apa yang akan orang katakan kepada anaknya.
“Tak akan ada yang berani mengatakan pada anakku.”
“Memangnya kau tahu apa tentang apa yang akan dikatakan orang-orang.”
“Dan mengapa mereka menyimpulkan hal seperti itu?”
Mendengar jawaban yang luar biasa, membuat Elena ingin sekali memasukkan Malviano dalam
karung lalu membuangnya ditempat yang tak ada satupun yang dapat menemukannya.
Elena tak habis pikir dimana letak pikiran Malviano tentang masa depan anak
mereka, hingga sampai nekat mengumumkan kepada orang-orang bahwa ia sudah memiliki
seorang anak.
“Mereka hanya mengetahui bahwa kau belum menikah bukan?”
“Tentu saja.”
“Apakah menurutmu wajar jika seseorang yang tidak memiliki ikatan pernikahan memiliki
seorang anak?” ucap Elena kini meragukan apakah Rendra mendapakan kepintarannya
dari pria didepannya kini.
“Untuk apa terlalu peduli apa yang mereka katakan, dan aku tak akan membiarkan siapapun
melukai anakku.” Jawaban Malviano terdengar begitu yakin dengan apa yang diucapkannya.
“Mom….” Ucap Rendra yang kini berlari mendekati Elena yang sejak tadi berbicara dengan
Malviano ditempat yang tidak terlalu banyak orang-orang.
“Sayang.” Ucap Elena yang kini memangku Rendra, yang kini berada didepannya.
“Mom bisakah kita pulang.” Ucap Rendra yang semakin memeluk leher Elena dengan kuat.
“Rendra sudah mengantuk?.” Ucap Malviano yang kini menghampiri Elena agar ia dapat melihat
keadaan Rendra.
“Dad orang-orang itu terus bertanya pada Rendra.” Adu Rendra dengan mulut kecilnya,
kini Elena bisa melihat kembali anaknya yang terlihat seperti anak seusianya,
walaupun dengan pakaian jas formal yang masih melekat dibadan kecilnya.
“Itu karena kerennya anak Daddy ini.” Ucap Malviano sambil mengelus rambut Rendra
yang berwarna persis seperti Elena.
“Tapi lihat mereka mencubit pipi Rendra.” Ucapnya yang kini memperlihatkan wajahnya
yang sejak tadi tersembunyi dibahu Elena.
Baik Malviano maupun Elena kini dapat menlihat pipi Rendra yang berubah menjadi
merah, sepertinya orang-orang didalam gedung sana terlalu banyak memenggang
wajah anak mereka yang memang terlihat sangat lucu hingga membuat semua orang
melakukan hal itu.
“Dad akan memberi mereka pelajaran karena telah membuat anak kesayangan Dad ini
kesakitan.” Ucap Malviano menjadi marah melihat apa yang dilakukan orang-orang
pada pipi anaknya itu.
“Kau tak perlu sampai menghukum mereka, cukup kau peringgati saja jangan sampai hal ini
__ADS_1
terulang kembali.” Ucap Elena meskipun tak mengerti apa yang dimaksud dari
hukuman yang diucapkan Malviano, tapi melihat amarah yang terpancar dari kedua
matanya Elena yakin hukuman itu akan sangat berat.
“Dad janji ini yang terakhir kali mereka berbuat seperti itu.” Ucap Malviano meyakinkan
anaknya dan langsung diangguki oleh Rendra.
“Bisakah sekarang Dad saja yang menggendong Rendra?” ucap Malviano sambil mengulurkan
kedua tangannya.
Sebenarnya Rendra masih nyaman berada dipelukan ibunya, tapi melihat uluran tangan ayahnya
yang dulu tak pernah didapatkannya ia pu langsung menyambut dan kini tubuhnya
sudah berada digendongan Malviano yang kokoh. Tentu saja kokoh tubuh Elena yang
tak terlalu tinggi seperti Malviano dan jangan lupakan perbedaan tenaga yang dimiliki
sangat berbeda jauh.
“Lagi-lagi kau.” Ucap seorang yang Elena ketahui adalah wanita yang juga menggunakan nada
yang sama ketika berada disebuah Restorant.
Wanita itu bahkan mendorong Elena dengan cukup keras hingga membuatnya terjatuh,
untung saja Rendra sudah berada digendongan Malviano. Jika Rendra masih berada
digendongannya Elena akan membuat wanita didepannya merasakan hal yang lebih
kejam tidak peduli jika Malviano akan membalasnya karena telah melukai kekasihnya.
“Mom.” Teriak Rendra melihat ibunya didorong sampai terjatuh, ia berontak turun paksa
dari gendongan ayahnya.
“Itu adalah hal kecil yang akan didapatnya dari apa yang telah dia perbuat padaku.”
Ucap Wanita itu yang menjelaskan tiba-tiba pada Malvian yang kini menatapnya
garang.
“Harsha sudah ku katakan…”
bernama Harsa, sepertinya ia sangat pada Malviano ketika mendengar pria itu
sudah mempunyai seorang anak.
Wanita kini menanggis begitu pilu hingga membuat Elena merasa bersalah padanya.
Elena berada disituasi yang salah disini, ia merasa telah merusak hubungan
Malviano dan wanita yang bernama Harsha ini. Tanpa sepatah kata apapun Elena
mengajak pergi Rendra untuk memberi ruang agar kedua pasang kekasih itu.
***
“Mom..” ucap Rendra yang sejak perjalanan pulang tak mengucapkan sepatah kata apapun.
“Rendra sayang.” Ucap Elena yang kini telah duduk disofa yang berada dirumahnya, sambil
memangku Rendra yang sepertinya kaget dengan apa yang terjadi tadi.
“Mom Rendra bisa duduk sendiri, bukankah kaki Mom tadi masih sakit?” ucap anaknya
yang menginggatkan rasa sakit yang didapat atas perlakuan Harsha kekasih Malviano
padanya.
Meskipun Elena merasa sakit tapi Elena kini mengerti perasaan Harsha, perempuan mana
yang tidak akan marah jika kekasihnya telah mempunyai seorang anak dengan wanita
lainnya. Masih beruntung Elena rasanya karena Harsha hanya mendorong dan tidak
melakukan hal yang lebih kejam dari hal ini.
“Mom tidak apa-apa sayang.” Ucap Elena menenangkan anaknya yang terlihat sangat
khawatir pada dirinya.
“Tapi..”
“Sayang, Mom perlu menyampaikan sesuatu yang mungkin akan terjadi dimasa depan.” Ucap
Elena serius.
__ADS_1
“Apa itu Mom?”
“Rendra berjanji akan mendengarkan apa yang Mom ucapkan tanpa harus merasa bahwa Mom
jahat pada Rendra?”
“Rendra akan coba dengarkan dulu mengapa Mom berbuat demikian.”
“Anak pintar.” Ucap Elena yang sebenarnya merasa bersalah mengatakan hal ini pada
anak berusia sekecil ini, tapi jika Rendra tak memiliki kepintaran yang luar biasa
masalah sebesar ini mungkin akan Elena hadapi nanti mungkin sekitar Sepuluh
tahun lagi.
“Kau tahu bukan Mom dan Dad tak bisa bersama.” Ucap Elena mencoba mengatakan hal
yang sudah ia katakana sebelumnya.
“Itu…”
“Karena bisa Rendra lihat tadi, Dad sudah mempunyai seseorang yang akan bersamanya dan
mungkin akan menjadi Mom Rendra juga.” Ucap Elena.
“Maksud Mom Rendra akan mempunyai dua Mom?”
“Bukankah itu hebat Rendra mempunyai dua berbeda dengan teman-teman Rendra yang lainnya.”
“Rendra hanya ingin Mom seorang.”
“Apakah Rendra tak ingin melihat Dad bahagia?”
“Apa hubungannya dengan kebahagian Dad?”
“Dad akan bahagia jika Dad bersama dengan Tante tadi yang nantinya akan menjadi Mom
Rendra juga.”
“Tante jahat yang mendorong Mom? Rendra tidak suka.”
“Sayang Tante tadi tidak jahat, hanya saja ia marah karena Tante tadi berpendapat Mom
sudah merebut Dad darinya.”
“Mom merebut Dad?”
“Bukankah Rendra akan marah jika Mom lebih sayang pada teman-teman Rendra melebihi sayang
pada Rendra?” ucap Elena memberikan perbandingan agar anaknya lebih mengerti apa yang sedang ia ucapkan.
“Tentu saja Rendra akan tendang pantatnya kalau perlu.” Ucapnya begitu mengebu-gebu.
“Itulah yang tante tadi juga lakukan pada Mom.”
“Jadi Tante tadi tidak jahat?”
“Tidak sayang, tapi jika nanti tante tadi tak ingin punya Rendra sebagai anaknya juga
apakah Rendra bersedia hanya bersama Mom saja?”
“Maksud Mom, Rendra tak akan lagi bertemu Dad?”
“Ya mungkin saja, Rendra tak inginkan tante tadi berbuat hal pada kita karena
merasa Mom telah mengambil Dad darinya?”
“Rendra akan selalu menjaga dan bersama Mom jika tante itu tak berbuat hal lainnya,
maka nanti Rendra akan balas.”
“Maksud Mom mungkin saja nanti kita yang harus pergi jauh dari Dad.”
“Mengapa?”
“Bukankah Rendra tak akan suka jika Mom lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman
Rendra dari pada bersama Rendra?”
“Jadi kita harus pergi?”
“Ya jika Tante tadi tak ingin menjadi Mom Rendra.” Ucap Elena yang merasa bersyukur
tak terlalu sulit membuat Rendra mengerti.
“Baiklah jika Dad bahagia dengan tante tadi, dan Tante tadi tak ingin menjadi Mom Rendra
lalu nantinya ia akan menyakiti Mom. Rendra janji nanti Rendra akan terus
bersama Mom, kita akan pergi jauh dari Dad kalau perlu.” Ucap anaknya yang
__ADS_1
terlalu dewasa untuk ukuran anak yang berusia lima tahun.