Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 41


__ADS_3

“Berapakah… ukuran.. ****** *****


Elena?” tanya Hanz sambil tersenyum senang merasa ia akan menang kali ini.


“Ehhh..” pekik Elena yang tak


menyangka pertanya Hanz pada Malviano.


“Ku pikir aku tak tahu ukuran istriku


sendiri,” balas Malviano yang seketika membuat senyuman Hanz hilang dariwajahnya.


“Kau tahu bagaimana?” ucap Elena tak


rela sebenarnya Malviano sampai mengetahui hal yang sangat sensitive bagai kaum


perempuan, lalu jika ia tahu dan Hanz ingin mengetahuinya apakah Malviano akan


mengatakan hal itu?


“Rahasia,” ucap Malviano sambil


mengedipkan sebelah matanya pada Elena yang entah mengapa membuat pipi wanita itu


memerah.


“Kau bisa saja mengarangkan,”


ucap Hanz yang mengerti perkataan Elena bahwa wanita itu tak pernah memberitahukan


hal tersebut.


“Biar ku bisikan pada Elena dan ia


yang akan mengkonfirmasi apakah aku benar atau tidak,”


“Mengapa kau tak mengatakannya


saja?” ucap Hanz yang tak terima ucapan Malviano yang bertindak seperti akan


mencuranginya.


“Aku tak ingin laki-laki lain


mengetahuinya okay,” ucap Malviano yang kini berbisik pada Elena.


Elena merasa sangat dihargai


sebagai seorang istri bahkan sebagai seorang wanita mendengar perkataan Malviano.


Karena secara tidak langsung laki-laki itu sangat menghargai apa yang sangat


penting bagi seorang wanita. Ketika Malviano mengatakan ukurannya pun, Elena


sangat malu mendengar memang benar ukuran itulah yang ia gunakan.


“Sial,” ucap Hanz yang kini


berlalu pergi meninggalkan ruang makan, karena melihat Elena yang mengiyakan


jawaban Malviano.


Laki-laki itu pergi dengan sangat


kesal karena kekalahannya, dan juga pemandangan antara Elena dan Malviano yang


kini terlihat sangat malu-malu kucing. Karena bahkan setelah kepergian Hanz pun


baik Elena dan Malviano kini tak sedikit pun bergerak ataupun berbicara,


keduanya begitu sibuk meredakan debaran jantung mereka.


“Jadi hanz yang memasak ini?”


ucap Malviano setelah beberapa lamanya mereka diam.


“Ya,” balas Elena.


“Lalu mengapa tadi kau mengusirku?”


ucap Malviano terdengar lagi-lagi tak terima.


“Ow..ow.. sepertinya aku salah


lagi, haruskah ia memulai perkelahian lagi? Rasanya Elena sangat cape menghadapi


para pria dirumah ini,” batin Elena menjerit sedih.


“Elena,” tegur Malviano karena Elena


hanya terdiam dan hanya menatap tanpa ada niat untuk menjawab.

__ADS_1


“Vian,”


“Siapa Vian?”


“Namamu terlalu panjang,” ucap


Elena yang tak sadar menggunakan nada ketusnya.


“Jadi sekarang kau sudah mulai


memberiku nama sayang ya,” ucap Malviano yang tiba-tiba menyalah artikan maksud


Elena.


“Bolehkah aku melanjutkan memakan


makanan ini?” tanya Elena dengan suara yang terdengar seperti merayu seorang


anak yang tak mau makan.


Dan kini Malvianolah yang balik


terdiam menatapnya, sepertinya sangat aneh ya penyampaian yang Elena katakan.


Elena yang tak ingin ditatap dengan begitu menakutkan oleh Malviano seperti


saat ini langsung memakan makannya dengan secepat yang bisa ia lakukan. Hingga nasi


goreng dipiringnya ludes habis Malviano tak sedikitpun mengalihkan


pandangannya.


“Kalo kau sudah selesai kau simpan


saja piringnya ditempat cuci piring, biar ku cuci sekalian,” ucap Elena berdiri


sambil membawa piring kotor miliknya.


“Kau mau kemana?” tersadar bahwa


Elena akan meninggalkannya sendiri.


“Aku harus segera menjemput


Sandra,” ucap Elena yang memang sudah berjanji akan menjemput wanita itu yang


menyusulnya tadi malam setelah kemarin Elena menghubunginya.


“Sandra?”


yang tak mungkin menjelaskan bagaimana hubungan mereka yang sedikit rumit.


Karena bagi Elena Sandra adalah


segalanya, ia bisa menjadi atasan, teman, kakak, ibu, bahkan wanita gila itu


bersedia melamar menjadi calon menantu setelah Rendra cukup umur. Hal gila itu


tak akan Elena setujui karena selain perbedaan umur mereka yang cukup jauh tapi


juga karena Rendra belum tentu mau dengannya.


“Aku antar,” ucap Malviano yang


tak meminta Elena persetujuan.


“Tidak usah, lagi pula Rendra kutinggal


sendirian dirumah dan aku hanya akan menjemputnya untuk membawanya kerumah ini,”


jelas Elena yang keberatan Malviano akan mengekorinya disaat ia akan meminta


saran Sandra dulu selama diperjalanan nanti.


“Bukankah dirumah ada Hanz?”


“Lalu apakah harus ku katakan,


bukankah Hanz bisa mengantikan posisi seorang ayah Rendra?” balas Elena yang


sebal suaminya ini tak membiarkan ia keluar walaupun sebentar tanpa dirinya.


“Mengapa kau mengatakan akan


mengantikan posisiku sebagai ayah Rendra?” ucap Malviano yang tak terima akan


perkataan Elena.


“Sebagai seorang ibu dan ayah bukankah


tugas mereka menjaga anaknya, saat ini aku yang merupakan seorang ibu harus

__ADS_1


pergi sebentar dan tak mungkin membawa anaknya yang baru saja sembuh itu, jadi


sebagai seorang ayah adalah menjaga anak mereka,” jelas Elena yang sepertinya


membuat alasan yang logis.


“Memangnya dimana ia sekarang? Apa


kau yakin bisa sampai sana sendirian?” tanya Malviano.


“Aku bisa,” jawab Elena tak yakin.


“Rendra sudah menceritakan semua


tentang kau yang sangat kesulitan hidup dinegara ini,”jelas Malviano yang kini


terlihat membujuk Elena agar mau ia antar “walau alasan mu, benar aku harusnya


menjaga Rendra disaat kau taka da, akan tetapi membiarkan istriku pergi sendirian


akan tetapi tak terlalu mengenal negara bahkan bahasa negara ini aku akan


sangat khawatir, “jelas Malviano panjang lebar.


“Aku sudah memesan taxi yang


langsung menuju tempat Sandra saat ini,” jelas Elena yang sebenarnya terharu


akan ucapan Malviano yang sangat mengkhawatirkan dirinya, bahkan membuat Elena


melayang karena pria didepannya ini mengatakan dengan jelas bahwa ia adalah istrinya.


Apakah ini jawaban Malviano atas


pertanyaannya waktu itu, jadi apakah Malviano memutuskan akan memperbaiki


hubungan mereka yang memang masih berstatus pasangan suami istri? Mungkinkah kini


Rendra akan mendapatkan sebuah keluarga yang benar-benar utuh karena mereka kini


semakin lebih dekat?


“Kau yakin?”


“Ya setengah jam saja aku pergi,”


ucap Elena yang lagi-lagi tetap pada pendiriannya.


“Aku mengerti, kalau begitu kemarikan


telepon genggammu,” ucap Malviano sambil mengulurkan tangannya untuk meminta


benda yang dikatakannya.


“Untuk apa?” ucap Elena akan


tetapi ia menurut untuk memberikan telepon genggamnya.


Malviano menerima telepon genggam


Elena dan langsung mengotak-atik benda itu cukup lama. Elena bertanya-tanya


dalam hati apakah pria itu tak mempercayai ucapannya sehingga harus memeriksa isi


dari telepon genggamnya. Elena sebenaranya ingin mengatakan hal itu


sekencang-kencangnya akan tetapi entah mengapa ia hanya diam menunggu Malviano


selesai melakukan apapun pada telepon genggamnya.


“Ini,” ucap Malviano yang


menyerahkan telepon genggam Elena yang langsung diterimanya.


“Kau takut aku akan kabur sendirian?”


ucap Elena.


“Kau tak akan tega meninggal


Rendra hanya untuk menjauh dariku,” balas Malviano.


“Lalu tadi itu apa?”


“Aku memasang pelacak diponselmu,”


“Apa bedanya?”


“Bedanya adalah aku memasang hal itu


bukan untuk mengetahui keberadaanmu yang kabur, akan tetapi aku memasang hanya

__ADS_1


untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu padamu aku adalah orang pertama yang


mengetahui keberadaanmu,” ucap Malviano sambil memperlihatkan telepon genggam miliknya.


__ADS_2