
“Berapakah… ukuran.. ****** *****
Elena?” tanya Hanz sambil tersenyum senang merasa ia akan menang kali ini.
“Ehhh..” pekik Elena yang tak
menyangka pertanya Hanz pada Malviano.
“Ku pikir aku tak tahu ukuran istriku
sendiri,” balas Malviano yang seketika membuat senyuman Hanz hilang dariwajahnya.
“Kau tahu bagaimana?” ucap Elena tak
rela sebenarnya Malviano sampai mengetahui hal yang sangat sensitive bagai kaum
perempuan, lalu jika ia tahu dan Hanz ingin mengetahuinya apakah Malviano akan
mengatakan hal itu?
“Rahasia,” ucap Malviano sambil
mengedipkan sebelah matanya pada Elena yang entah mengapa membuat pipi wanita itu
memerah.
“Kau bisa saja mengarangkan,”
ucap Hanz yang mengerti perkataan Elena bahwa wanita itu tak pernah memberitahukan
hal tersebut.
“Biar ku bisikan pada Elena dan ia
yang akan mengkonfirmasi apakah aku benar atau tidak,”
“Mengapa kau tak mengatakannya
saja?” ucap Hanz yang tak terima ucapan Malviano yang bertindak seperti akan
mencuranginya.
“Aku tak ingin laki-laki lain
mengetahuinya okay,” ucap Malviano yang kini berbisik pada Elena.
Elena merasa sangat dihargai
sebagai seorang istri bahkan sebagai seorang wanita mendengar perkataan Malviano.
Karena secara tidak langsung laki-laki itu sangat menghargai apa yang sangat
penting bagi seorang wanita. Ketika Malviano mengatakan ukurannya pun, Elena
sangat malu mendengar memang benar ukuran itulah yang ia gunakan.
“Sial,” ucap Hanz yang kini
berlalu pergi meninggalkan ruang makan, karena melihat Elena yang mengiyakan
jawaban Malviano.
Laki-laki itu pergi dengan sangat
kesal karena kekalahannya, dan juga pemandangan antara Elena dan Malviano yang
kini terlihat sangat malu-malu kucing. Karena bahkan setelah kepergian Hanz pun
baik Elena dan Malviano kini tak sedikit pun bergerak ataupun berbicara,
keduanya begitu sibuk meredakan debaran jantung mereka.
“Jadi hanz yang memasak ini?”
ucap Malviano setelah beberapa lamanya mereka diam.
“Ya,” balas Elena.
“Lalu mengapa tadi kau mengusirku?”
ucap Malviano terdengar lagi-lagi tak terima.
“Ow..ow.. sepertinya aku salah
lagi, haruskah ia memulai perkelahian lagi? Rasanya Elena sangat cape menghadapi
para pria dirumah ini,” batin Elena menjerit sedih.
“Elena,” tegur Malviano karena Elena
hanya terdiam dan hanya menatap tanpa ada niat untuk menjawab.
__ADS_1
“Vian,”
“Siapa Vian?”
“Namamu terlalu panjang,” ucap
Elena yang tak sadar menggunakan nada ketusnya.
“Jadi sekarang kau sudah mulai
memberiku nama sayang ya,” ucap Malviano yang tiba-tiba menyalah artikan maksud
Elena.
“Bolehkah aku melanjutkan memakan
makanan ini?” tanya Elena dengan suara yang terdengar seperti merayu seorang
anak yang tak mau makan.
Dan kini Malvianolah yang balik
terdiam menatapnya, sepertinya sangat aneh ya penyampaian yang Elena katakan.
Elena yang tak ingin ditatap dengan begitu menakutkan oleh Malviano seperti
saat ini langsung memakan makannya dengan secepat yang bisa ia lakukan. Hingga nasi
goreng dipiringnya ludes habis Malviano tak sedikitpun mengalihkan
pandangannya.
“Kalo kau sudah selesai kau simpan
saja piringnya ditempat cuci piring, biar ku cuci sekalian,” ucap Elena berdiri
sambil membawa piring kotor miliknya.
“Kau mau kemana?” tersadar bahwa
Elena akan meninggalkannya sendiri.
“Aku harus segera menjemput
Sandra,” ucap Elena yang memang sudah berjanji akan menjemput wanita itu yang
menyusulnya tadi malam setelah kemarin Elena menghubunginya.
“Sandra?”
yang tak mungkin menjelaskan bagaimana hubungan mereka yang sedikit rumit.
Karena bagi Elena Sandra adalah
segalanya, ia bisa menjadi atasan, teman, kakak, ibu, bahkan wanita gila itu
bersedia melamar menjadi calon menantu setelah Rendra cukup umur. Hal gila itu
tak akan Elena setujui karena selain perbedaan umur mereka yang cukup jauh tapi
juga karena Rendra belum tentu mau dengannya.
“Aku antar,” ucap Malviano yang
tak meminta Elena persetujuan.
“Tidak usah, lagi pula Rendra kutinggal
sendirian dirumah dan aku hanya akan menjemputnya untuk membawanya kerumah ini,”
jelas Elena yang keberatan Malviano akan mengekorinya disaat ia akan meminta
saran Sandra dulu selama diperjalanan nanti.
“Bukankah dirumah ada Hanz?”
“Lalu apakah harus ku katakan,
bukankah Hanz bisa mengantikan posisi seorang ayah Rendra?” balas Elena yang
sebal suaminya ini tak membiarkan ia keluar walaupun sebentar tanpa dirinya.
“Mengapa kau mengatakan akan
mengantikan posisiku sebagai ayah Rendra?” ucap Malviano yang tak terima akan
perkataan Elena.
“Sebagai seorang ibu dan ayah bukankah
tugas mereka menjaga anaknya, saat ini aku yang merupakan seorang ibu harus
__ADS_1
pergi sebentar dan tak mungkin membawa anaknya yang baru saja sembuh itu, jadi
sebagai seorang ayah adalah menjaga anak mereka,” jelas Elena yang sepertinya
membuat alasan yang logis.
“Memangnya dimana ia sekarang? Apa
kau yakin bisa sampai sana sendirian?” tanya Malviano.
“Aku bisa,” jawab Elena tak yakin.
“Rendra sudah menceritakan semua
tentang kau yang sangat kesulitan hidup dinegara ini,”jelas Malviano yang kini
terlihat membujuk Elena agar mau ia antar “walau alasan mu, benar aku harusnya
menjaga Rendra disaat kau taka da, akan tetapi membiarkan istriku pergi sendirian
akan tetapi tak terlalu mengenal negara bahkan bahasa negara ini aku akan
sangat khawatir, “jelas Malviano panjang lebar.
“Aku sudah memesan taxi yang
langsung menuju tempat Sandra saat ini,” jelas Elena yang sebenarnya terharu
akan ucapan Malviano yang sangat mengkhawatirkan dirinya, bahkan membuat Elena
melayang karena pria didepannya ini mengatakan dengan jelas bahwa ia adalah istrinya.
Apakah ini jawaban Malviano atas
pertanyaannya waktu itu, jadi apakah Malviano memutuskan akan memperbaiki
hubungan mereka yang memang masih berstatus pasangan suami istri? Mungkinkah kini
Rendra akan mendapatkan sebuah keluarga yang benar-benar utuh karena mereka kini
semakin lebih dekat?
“Kau yakin?”
“Ya setengah jam saja aku pergi,”
ucap Elena yang lagi-lagi tetap pada pendiriannya.
“Aku mengerti, kalau begitu kemarikan
telepon genggammu,” ucap Malviano sambil mengulurkan tangannya untuk meminta
benda yang dikatakannya.
“Untuk apa?” ucap Elena akan
tetapi ia menurut untuk memberikan telepon genggamnya.
Malviano menerima telepon genggam
Elena dan langsung mengotak-atik benda itu cukup lama. Elena bertanya-tanya
dalam hati apakah pria itu tak mempercayai ucapannya sehingga harus memeriksa isi
dari telepon genggamnya. Elena sebenaranya ingin mengatakan hal itu
sekencang-kencangnya akan tetapi entah mengapa ia hanya diam menunggu Malviano
selesai melakukan apapun pada telepon genggamnya.
“Ini,” ucap Malviano yang
menyerahkan telepon genggam Elena yang langsung diterimanya.
“Kau takut aku akan kabur sendirian?”
ucap Elena.
“Kau tak akan tega meninggal
Rendra hanya untuk menjauh dariku,” balas Malviano.
“Lalu tadi itu apa?”
“Aku memasang pelacak diponselmu,”
“Apa bedanya?”
“Bedanya adalah aku memasang hal itu
bukan untuk mengetahui keberadaanmu yang kabur, akan tetapi aku memasang hanya
__ADS_1
untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu padamu aku adalah orang pertama yang
mengetahui keberadaanmu,” ucap Malviano sambil memperlihatkan telepon genggam miliknya.