
Pagi hari adalah waktu yang tepat
untuk Elena menyiram tanaman yang terletak didepan rumahnya, ia keluar rumah
membawa peralatan untuk menyiram akan tetapi pagi ini ia dikagetkan oleh sosok
pria yang sepertinya sudah lama berada didepan rumahnya.
“Selamat
pagi.” Sapa seorang pria yang ketika Elena lihat dari dekat adalah Malviano.
“Pagi.”
Elena menjawab singkat, bukan karena alasan apapun tapi ia terlalu kaget dengan
kedatangan pria itu dipagi hari.
“Begini…”
ucap Malviano yang seperti sangat ragu untuk menyampaikan kata yang tepat.
“Rendra
masih tidur, sebenarnya aku juga ingin berbicara denganmu.” Ucap Elena yang
mengatakan apa yang sudah semalam ia pikirkan.
“Kita
bisa pergi ketempat lain.”
“Rendra?”
“Sebentar.”
Ucap Malviano yang mengeluarkan telepon genggamnya dan langsung menghubungi
seseorang, dan tak begitu lama ia langsung berbicara“Kau bisa kemari lebih
cepat?” ia diam beberapa saat lalu melanjutkan “Dia masih tidur.” Lalu sebelum ia menutup
teleponnya ia berbicara “Terimakasih.”
“Kita
akan kemana dipagi hari?” ucap Elena yang sudah tahu akan ada seseorang yang
akan menjaga Rendra selama mereka berbicara.
“Kerumahku.”
Ucap Malviano yang langsung diangguki oleh Elena.
Tempat
yang dipilih oleh Malviano mungkin adalah tempat yang paling baik bagi mereka
untuk membicarakan persoalan yang cukup pribadi dan juga tempat yang tersedia dipagi
hari.
Liam
datang tepat ketika Elena selesai menyiram semua tanaman yang berada didepan
rumah, Maliano langsung mengajak Elena pergi kerumahnya menggunakan sebuah mobil
miliknya yang sebelumnya tak pernah Elena naiki. Mobil yang sekarang mereka
pakai adalah jenis sebuah mobil yang hanya muat dua orang saja.
Jika
saja situasi tidak sedang sangat canggung dan juga hubungan mereka sedikit lebih
dekat setidaknya hubungan pertemanan. Elena pasti sudah bertanya pada Malviano
berapa banyak mobil yang dimilikinya sehingga Elena merasa ia selalu menaiki
mobil yang selalu berbeda-beda.
“Kau
ingin minum sesuatu?” ucap Malviano yang kini sudah duduk disofa yang terletak
didalam rumahnya.
Mereka
sudah tiba didalam rumah Malviano lebih tepatnya diruang yang sama ketika Elena
berada dirumah ini. Perjalanan yang ditemput menuju rumah ini terbilang cukup
cepat karena lalu lintas yang masih sepi karena memang waktu masih terlalu pagi
untuk beraktifitas.
“Air
putih.”
“Kau
yakin?” ucap Malviano yang aneh dengan jawaban Elena.
“Tentu.”
Ucap Elena sangat menyakini apa yang ia mau.
“Sebentar.”
Ucap Malviano yang mengambil sediri apa yang ditawarkannya.
__ADS_1
Setahu
Elena dirumah sebesar ini bukankah ada seseorang yang membantu pekerjaan rumah
tangga? Elena bahkan masih ingat sosok yang menyambutnya ketika pertama kali
masuk kerumah ini. Tapi ketika melihat Malviano yang kini membawa segelas air
untuknya dan juga Segelas sesuatu yang beruap untuknya, pertanyaan itu seolah
menguap karena ada hal penting yang harus dikatakannya.
“Kau
pasti ingin tahu tentang Harsha?” ucap Malviano berbicara langsung pada topik
yang akan mereka diskusikan.
“Ya,
aku perlu tahu… tentu saja itu semua tentang masa depan Rendra.” Ucap Elena
yang langsung menjelaskan maksud dari keingin tahuannya.
“Tentu
saja semua tentang masa depan Rendra.” Ucap Malviano mengulang perkataan Elena
tapi dengan nada yang berbeda sepertinya ia mengucapkan hal itu secara tidak
sadar.
“Aku
penasaran apakah ia calon istrimu?”
“Bukan.”
Ucap Malviano dengan ragu.
“Apakah
kau yakin?”
“Sebenarnya
kami tak punya hubungan apapun.”
“Lalu
mengapa ia mengamuk ketika melihat kami?” Elena masih sangat ingat wajah Harsha
yang menunjukkan kemarahannya padanya.
“Sebenarnya
hanya ia yang beranggapan seperti itu.” Ucap Malviano sambil mengangkat kedua
bahunya, seolah itu bukan urusannya.
seseorang tak akan berpendapat sesuatu jika seseorang tak pernah ada sebuah
respon padanya?”
“Dan
mengapa juga aku peduli dengan pendapat orang itu?”
“Karena
ini tentang masa depan Rendra.” Ucap Elena mengulang lagi perkataannya.
Malviano
yang tak terbiasa mennjelaskan tentang kehidupannya akhirnya terpaksa menghubungi
sahabatnya untuk membawa bukti-bukti bahwa tak ada yang harus dikhawatirkan
dengan keberadaan Harsha.
Kenzo datang
kerumah Malviano kurang dari setengah jam, ia adalah seorang pengacara sekaligus
sahabat karib Malviano. Ia sudah biasa membereskan bahkan segala persoalan
tentang Malviano, dan kini tugasnya adalah menjelaskan pada Elena dan juga nantinya
pada Rendra, ia bahkan datang beserta bukti kuat akan kebenaran dari ucapannya
tenang Malviano.
“Aku tak
tahu apakah memang perlu melibatkan seorang pengacara dalam situasi seperti ini.”
Ucap Elena yang kaget dipertemukan seorang pengacara.
“Jawabannya
hanya satu.” Ucap Kenzo riang.
“Bolehkah
saya mengetahuinya?” Ucap Elena yang entah mengapa bertanya secara formal,
mungkin ia berbicara seperti itu karena ia mengetahui jenis pekerjaan apa yang
dijalani oleh Kenzo.
“Haha..”
tiba-tiba Kenzo tertawa.
__ADS_1
“Kau
sehat.” Ucap Malviano yang juga keanehan denagn tawa Kenzo yang tertawa atas
apa yang diucapkan oleh Elena.
“Bicaralah
dengan santai, aku berada disini sebagai teman bukan sebagai pengacara.” Ucap Kenzo
pada Elena setelah ia berakhir dengan tawanya.
“Apa
jawabannya?” ucap Elena yang masih penasaran.
“Karena
hanya akulah yang tahu semua kehidupan tentang dia.” Ucap KEnzo sambil menunjuk
Malviano dengan dagunya.
“Sok
tahu.” Tiba-tiba Malviano berkata.
“Memang
benarkan? Coba kau katakan satu orang selain aku atau Liam yang merupakan
antek-antekmu.” Tantang Kenzo.
Seketika itu
Malviano langsung diam tak bisa membantah apapun tentang kenyataan apa yang dikatan
Kenzo, sepertinya memang benar adanya melihat Malviano berubah menjadi diam dan
tak menjadi murajuk terlihat pada bibirnya yang ditekuk persis seperti Rendra
ketika sedang merajuk pada Elena.
“Jadi kau
yang bernama Elena?”
“Ya.” Ucap
Elena yang lupa bahwa mereka bahkan belum berkenalan dengan benar.
“Aku
sangat berterimakasih padamu.” Ucap Kenzo tiba-tiba menggenggam tangan Elena
untuk menjabat kedua tangannya.
“Mengapa?”
ucap Malviano yang keanehan dengan ucapan sahabatnya yang berlebihan.
“Seharusnya
kau bahkan menyembah dikakinya.” Ucap Kenzo yang tiba-tiba sangat menunjukkan
wajah garang pada Malviano.
“Mengapa?”
ucap Malviano yang masih tidak mengerti.
“Dasar pria
bodoh.” Ucap Kenzo.
“Enak
saja, IQ ku jauh diatasmu.” Ucap Malviano yang tak terima dikatakan bodoh mana
ada orang bodoh yang menjadi seorang CEO diperusahaan yang menjadi perusahaan
kesepuluh tersukses tanpa bantuan pihak manapun.
“Lalu
kalau tidak bodoh apa namanya, bukannya berterimakasih atau memohon ampun pada
Elena yang sudah rela melahirkan dan merawat anakmu sampai sebesar itu. Apa namanya
kalau bukan bodoh oh atau mau kuubah katanya menjadi dunggu?” ucap Kenzo
panjang lebar.
“Itu
bukan salahku mengapa ia menghilang bahkan seperti tak pernah ada sampai saat ini.”
Ucap Malviano yang langsung mengatakan kenyataannya.
“Bukankah
waktu itu kau sadar telah menodai seorang gadis?” Teriak Kenzo
“Manaku
tahu kalau ia adalah Elena.” Malviano balas berteriak pada Kenzo.
“Ngakunya
pintar tapi cari seorang wanita saja tidak becus.” Ucap Kenzo ketus.
“Kalau bukan karena kau…” ucap Malviano yang
tak bisa melanjutkan perkataannya dan langsung pergi meninggalkan Elena yang binggung
__ADS_1
dengan situasi saat ini.