Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 12 penjelasan


__ADS_3

Pagi hari adalah waktu yang tepat


untuk Elena menyiram tanaman yang terletak didepan rumahnya, ia keluar rumah


membawa peralatan untuk menyiram akan tetapi pagi ini ia dikagetkan oleh sosok


pria yang sepertinya sudah lama berada didepan rumahnya.


“Selamat


pagi.” Sapa seorang pria yang ketika Elena lihat dari dekat adalah Malviano.


“Pagi.”


Elena menjawab singkat, bukan karena alasan apapun tapi ia terlalu kaget dengan


kedatangan pria itu dipagi hari.


“Begini…”


ucap Malviano yang seperti sangat ragu untuk menyampaikan kata yang tepat.


“Rendra


masih tidur, sebenarnya aku juga ingin berbicara denganmu.” Ucap Elena yang


mengatakan apa yang sudah semalam ia pikirkan.


“Kita


bisa pergi ketempat lain.”


“Rendra?”


“Sebentar.”


Ucap Malviano yang mengeluarkan telepon genggamnya dan langsung menghubungi


seseorang, dan tak begitu lama ia langsung berbicara“Kau bisa kemari lebih


cepat?” ia diam beberapa saat lalu melanjutkan  “Dia masih tidur.” Lalu sebelum ia menutup


teleponnya ia berbicara “Terimakasih.”


“Kita


akan kemana dipagi hari?” ucap Elena yang sudah tahu akan ada seseorang yang


akan menjaga Rendra selama mereka berbicara.


“Kerumahku.”


Ucap Malviano yang langsung diangguki oleh Elena.


Tempat


yang dipilih oleh Malviano mungkin adalah tempat yang paling baik bagi mereka


untuk membicarakan persoalan yang cukup pribadi dan juga tempat yang tersedia dipagi


hari.


Liam


datang tepat ketika Elena selesai menyiram semua tanaman yang berada didepan


rumah, Maliano langsung mengajak Elena pergi kerumahnya menggunakan sebuah mobil


miliknya yang sebelumnya tak pernah Elena naiki. Mobil yang sekarang mereka


pakai adalah jenis sebuah mobil yang hanya muat dua orang saja.


Jika


saja situasi tidak sedang sangat canggung dan juga hubungan mereka sedikit lebih


dekat setidaknya hubungan pertemanan. Elena pasti sudah bertanya pada Malviano


berapa banyak mobil yang dimilikinya sehingga Elena merasa ia selalu menaiki


mobil yang selalu berbeda-beda.


“Kau


ingin minum sesuatu?” ucap Malviano yang kini sudah duduk disofa yang terletak


didalam rumahnya.


Mereka


sudah tiba didalam rumah Malviano lebih tepatnya diruang yang sama ketika Elena


berada dirumah ini. Perjalanan yang ditemput menuju rumah ini terbilang cukup


cepat karena lalu lintas yang masih sepi karena memang waktu masih terlalu pagi


untuk beraktifitas.


“Air


putih.”


“Kau


yakin?” ucap Malviano yang aneh dengan jawaban Elena.


“Tentu.”


Ucap Elena sangat menyakini apa yang ia mau.


“Sebentar.”


Ucap Malviano yang mengambil sediri apa yang ditawarkannya.

__ADS_1


Setahu


Elena dirumah sebesar ini bukankah ada seseorang yang membantu pekerjaan rumah


tangga? Elena bahkan masih ingat sosok yang menyambutnya ketika pertama kali


masuk kerumah ini. Tapi ketika melihat Malviano yang kini membawa segelas air


untuknya dan juga Segelas sesuatu yang beruap untuknya, pertanyaan itu seolah


menguap karena ada hal penting yang harus dikatakannya.


“Kau


pasti ingin tahu tentang Harsha?” ucap Malviano berbicara langsung pada topik


yang akan mereka diskusikan.


“Ya,


aku perlu tahu… tentu saja itu semua tentang masa depan Rendra.” Ucap Elena


yang langsung menjelaskan maksud dari keingin tahuannya.


“Tentu


saja semua tentang masa depan Rendra.” Ucap Malviano mengulang perkataan Elena


tapi dengan nada yang berbeda sepertinya ia mengucapkan hal itu secara tidak


sadar.


“Aku


penasaran apakah ia calon istrimu?”


“Bukan.”


Ucap Malviano dengan ragu.


“Apakah


kau yakin?”


“Sebenarnya


kami tak punya hubungan apapun.”


“Lalu


mengapa ia mengamuk ketika melihat kami?” Elena masih sangat ingat wajah Harsha


yang menunjukkan kemarahannya padanya.


“Sebenarnya


hanya ia yang beranggapan seperti itu.” Ucap Malviano sambil mengangkat kedua


bahunya, seolah itu bukan urusannya.


seseorang tak akan berpendapat sesuatu jika seseorang tak pernah ada sebuah


respon padanya?”


“Dan


mengapa juga aku peduli dengan pendapat orang itu?”


“Karena


ini tentang masa depan Rendra.” Ucap Elena mengulang lagi perkataannya.


Malviano


yang tak terbiasa mennjelaskan tentang kehidupannya akhirnya terpaksa menghubungi


sahabatnya untuk membawa bukti-bukti bahwa tak ada yang harus dikhawatirkan


dengan keberadaan Harsha.


Kenzo datang


kerumah Malviano kurang dari setengah jam, ia adalah seorang pengacara sekaligus


sahabat karib Malviano. Ia sudah biasa membereskan bahkan segala persoalan


tentang Malviano, dan kini tugasnya adalah menjelaskan pada Elena dan juga nantinya


pada Rendra, ia bahkan datang beserta bukti kuat akan kebenaran dari ucapannya


tenang Malviano.


“Aku tak


tahu apakah memang perlu melibatkan seorang pengacara dalam situasi seperti ini.”


Ucap Elena yang kaget dipertemukan seorang pengacara.


“Jawabannya


hanya satu.” Ucap Kenzo riang.


“Bolehkah


saya mengetahuinya?” Ucap Elena yang entah mengapa bertanya secara formal,


mungkin ia berbicara seperti itu karena ia mengetahui jenis pekerjaan apa yang


dijalani oleh Kenzo.


“Haha..”


tiba-tiba Kenzo tertawa.

__ADS_1


“Kau


sehat.” Ucap Malviano yang juga keanehan denagn tawa Kenzo yang tertawa atas


apa yang diucapkan oleh Elena.


“Bicaralah


dengan santai, aku berada disini sebagai teman bukan sebagai pengacara.” Ucap Kenzo


pada Elena setelah ia berakhir dengan tawanya.


“Apa


jawabannya?” ucap Elena yang masih penasaran.


“Karena


hanya akulah yang tahu semua kehidupan tentang dia.” Ucap KEnzo sambil menunjuk


Malviano dengan dagunya.


“Sok


tahu.” Tiba-tiba Malviano berkata.


“Memang


benarkan? Coba kau katakan satu orang selain aku atau Liam yang merupakan


antek-antekmu.” Tantang Kenzo.


Seketika itu


Malviano langsung diam tak bisa membantah apapun tentang kenyataan apa yang dikatan


Kenzo, sepertinya memang benar adanya melihat Malviano berubah menjadi diam dan


tak menjadi murajuk terlihat pada bibirnya yang ditekuk persis seperti Rendra


ketika sedang merajuk pada Elena.


“Jadi kau


yang bernama Elena?”


“Ya.” Ucap


Elena yang lupa bahwa mereka bahkan belum berkenalan dengan benar.


“Aku


sangat berterimakasih padamu.” Ucap Kenzo tiba-tiba menggenggam tangan Elena


untuk menjabat kedua tangannya.


“Mengapa?”


ucap Malviano yang keanehan dengan ucapan sahabatnya yang berlebihan.


“Seharusnya


kau bahkan menyembah dikakinya.” Ucap Kenzo yang tiba-tiba sangat menunjukkan


wajah garang pada Malviano.


“Mengapa?”


ucap Malviano yang masih tidak mengerti.


“Dasar pria


bodoh.” Ucap Kenzo.


“Enak


saja, IQ ku jauh diatasmu.” Ucap Malviano yang tak terima dikatakan bodoh mana


ada orang bodoh yang menjadi seorang CEO diperusahaan yang menjadi perusahaan


kesepuluh tersukses tanpa bantuan pihak manapun.


“Lalu


kalau tidak bodoh apa namanya, bukannya berterimakasih atau memohon ampun pada


Elena yang sudah rela melahirkan dan merawat anakmu sampai sebesar itu. Apa namanya


kalau bukan bodoh oh atau mau kuubah katanya menjadi dunggu?” ucap Kenzo


panjang lebar.


“Itu


bukan salahku mengapa ia menghilang bahkan seperti tak pernah ada sampai saat ini.”


Ucap Malviano yang langsung mengatakan kenyataannya.


“Bukankah


waktu itu kau sadar telah menodai seorang gadis?” Teriak Kenzo


“Manaku


tahu kalau ia adalah Elena.” Malviano balas berteriak pada Kenzo.


“Ngakunya


pintar tapi cari seorang wanita saja tidak becus.” Ucap Kenzo ketus.


“Kalau bukan karena kau…” ucap Malviano yang


tak bisa melanjutkan perkataannya dan langsung pergi meninggalkan Elena yang binggung

__ADS_1


dengan situasi saat ini.


__ADS_2