
Kini sudah beberapa hari sejak
hari dimana Sandra terakhir berkunjung dan menanyakan apakah Malviano mempunyai
saudara atau sepupu. Elena melihat walaupun Malviano terlihat hangat seperti biasa
akan tetapi ada sesuatu yang menahannya diri sendiri.
“Dad bukankah si bintang lucu,
bagaiamana mungkin melupakan nama sikotak jika mereka adalah sahabat sejati,”
ucap Rendra sambil menertawakan sebuah kartun yang sedang mereka tonton dihari itu.
Mereka kini sedang berkumpul didepan
televisi menonton sebuah kartun anak yang tak pernah untuk Rendra lewatkan. Kemarin-kemari
Malviano dan Rendra selalu tertawa jika ada sebuah adegan yang benar-benar lucu
bagi mereka, membuat Elena sedang mereka mempunyai kegiatan positif
bersama-sama.
Tapi sejak hari itu Malviano
selalu terlihat muram walaupun didepan Rendra ia sepertinya membuat wajahnya
tak terlalu kentara. Akan tetapi Elena yang sudah tahu apa yang terjadi pada
masa lalu Malviano yang ia dapatkan dari obrolannya dengan Kenzo pada sebuah
panggilan telepon. Ia jadi tahu apa yang saat ini ada dipikiran Malviano.
Kenzo berpesan padanya jika
keadaan Malviano tidak segera lebih baik, maka Elena harus bisa menyakinkan
Rendra untuk kembali pulang meninggalkan negara ini. Nantinya Kenzo yang akan
menenangkan sahabatnya itu disana, karena jika Kenzo tiba-tiba datang yang
terjadi adalah Malviano akan kehilangan keperyaan pada semua orang.
“Rendra sayang, bolehkah Dad istirahat
hari ini?” tanya Malviano yang terlihat lesu.
“Dad kenapa?” tanya Rendra yang
menjadi khawatir pada ayahnya yang tak biasa meminta istirahat lebih awal seperti
hari ini.
“Dad hanya merasa lelah hari ini,
Bolehkah?” tanya Malviano yang ijin pada anaknya karena mungkin ia merasa
Rendra akan menganggapnya tak lagi sayang jika ia meninggalkan pergi begitu
saja.
“Kau sakit?” tanya Elena yang
juga khawatir dan mengecek suhu tubuh Malviano dengan cara menempelkan
tangannya pada kening suaminya itu.
“Kurasa lebih baik aku tidur lebih
awal,” jawab Malviano yang melepas tangan Elena pelan lalu menggenggamnya.
“MMmm kurasa ia hanya perlu tidur
saja,” ucap Hanz yang mengawali perkataannya dengan sebuah dehaman yang dibuat-buat.
“Jangan tidur terlalu malam,”
ucap Malviano pergi setelah mencium kepala Rendra.
“Mom… Dad…” ucap Rendra yang binggung
__ADS_1
mengatakan kekhawatiran akan ayahnya pada Elena.
“Rendra bersama Om Hanz ya, Mom
akan memberikan obat pada ayahmu,” ucap Elena yang mengerti maksud yang akan diucapkan
oleh anaknya dan langsung mendapat persetujuan dari Rendra dan juga Hanz.
Elena kedapur membawa segelas air
putih dan mengambil kotak P3K yang isinya sudah ia isi dengan segala macam
obat-obat yang mampu meredakkan penyakit-penyakit ringan. Ia mengetuk kamar
Malviano sebelum memasuki kamar itu karena Malviano langsung meyuruhnya masuk.
Ketika masuk ternyata Malviano
sudah terbaring ditempat tidurnya sambil memejamkan matanya dengan rapat. Sepertinya
Malviano bukan sedang membuat alasan menghindari semua orang, akan tetapi
sepertinya laki-laki yang merupakan suami sekaligus ayah dari anaknya ini
benar-benar sedang sakit.
“Apa yang kau rasakan,” ucap Elena
meletakkan apa yang dibawanya disebuah meja kecil didekat tempat tidur Malviano
sementara ia mendudukkan diri disamping ranjang.
“Kepalaku rasa berputar-putar,”
keluh Malviano yang juga membuka kedua matanya.
“Aku membawakanmu obat sakit
kepala, kau minum dulu ya sebelum tidur!” pinta Elena yang kini membawakan obat
yang dimaksud dan juga segelas air sebelum menyodorkan pada Malvino.
“Elena aku…” tolak Malviano yang
“Kau minumlah sebelum aku
membawamu kerumah sakit,” ancam Elena, ia kini menginggat kalau anaknya pun
akan bersikap sama seperti Malviano jika sedang dalam keadaan seperti ini.
Ternyata bukan hanya Elena yang
takut rumah sakit, tapi Malvianopun akan bersikap seperti ini juga. Dan dengan
penampilan Malviano yang persis seperti Rendra akan tetapi Malviano adalah versi
dewasanya, Elena jadi membayangkan bagaimana Rendra jika sudah besar pastilah ia
akan bertindak seperti ini juga jika sedang sakit.
“Obat apa yang kau bawa?” tanya
Malviano yang mengecek apa yang diberikan Elena padanya.
“Obat perangsang,” jawab Elena yang
entah mengapa merasa kesal akan pertanyaan Malviano.
“Benarkah!” ucap Malviano yang
terlihat semakin menunjukan rawut wajah yang aneh.
“Kenapa kau tidak mau?”
“Elena sebenarnya jika kau sedang
ingin, katakan saja padaku” ucap Malviano yang kini terlihat bersengguh-sungguh
membuat Elena memerah karena malu karena ucapan pria itu.
“Ingin apa maksudmu?” tanya Elena
__ADS_1
mencoba bertanya dengan pura-pura tak mengerti ucapan Malviano padanya.
“Bukankah kau memberi obat perangsang
agar kita dapat melakukan hal itu, kau ingin memberikan adik pada Rendrakan,”
jelas Malviano tapi kini ia terdengar begitu muram.
Muramnya Malviano membuat Elena
merasa sesuatu yang membuat hatinya tiba-tiba merasakan sakit, mungkinkah hatinya
langsung sakit karena merasa Malviano muram karena ia tidak suka akan ide yang
diucapkan olehnya tadi. Meskipun Elena tak benar-benar mengharapkan hubungan
mereka ke arah sana tadi ditolak dengan cara seperti ini rasanya sangat menyakitkan.
“Tenang saja ini bukan obat
perangsang, ini hanya obat sakit kepala bisa,” jelas Elena yang tak ingin Malviano
merasa terbebani disaat ia sedang sakit seperti saat ini.
“Elena aku tak bermaksud menolak
untuk lebih bergairah dengan meminum obat itu seperti malam terjadinya Rendra,
tapi aku tak suka efek yang ditimbulkan obat sialan itu karena nantinya aku tak
terlalu ingat apa saja yang sudah kulakukan padamu,” jelas Malviano dengan
ucapan yang terlihat sungguh-sungguh.
Elena yang bodohpun mencerna sedikit
demi sedikit penjelasan Malviano yang terdengar bagai angin ditelingganya. Hatinya
yang sakit tadi entah mengapa terasa jauh lebih ringan bahkan mungkin akan
terbang tanpa bisa ia tahan. Elena langsung memberikan obat yang dimaksud pada
Malviano sebelum pria itu melihatnya melakukan sesuatu yang konyol hanya karena
ia merasa malu saat ini.
“Rasanya pahit,” ucap Malviano
yang menelan obat itu sambil memejamkan mata.
“Mengapa kau meminum obatnya
seperti itu,” ucap Elana yang keheranan dengan kelakuan pria dewasa didepannya ini,
karena kelakuannya mirip sekali dengan anaknya yang ketika dipaksa meminum obat
ia akan menutup rapat-rapat kedua matanya.
“Maaf itu sudah kebiasaanku, padahal
Kenzo dan ibu sudah sering memperingatkanku untuk tidak melakukan hal seperti itu
lagi. karena itulah kebiasaan jelekku itulah yang membuatku tak sengaja meminum
obat yang sudah ditukar dengan obat perangsang malam itu,” jawab Malviano sambil
menjelaskan masa lalu.
“Apa?” tanya Elena yang kaget
dengan alasan yang diberikan Malviano yang tanpa sengaja terjebak dalam malam itu
hanya karena ia mempunyai kebiasaan yang jelek dalam meminum obat.
“Sekali lagi aku benar-benar minta
maaf, tapi yang harus kau tahu!” ucap Malviano yang lagi-lagi terlihat begitu
sungguh-sungguh.
“Ya.”
__ADS_1
“Aku tak pernah menyesali telah
meminum obat sialan itu,” ucap Malviano.