Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 45


__ADS_3

Kini sudah beberapa hari sejak


hari dimana Sandra terakhir berkunjung dan menanyakan apakah Malviano mempunyai


saudara atau sepupu. Elena melihat walaupun Malviano terlihat hangat seperti biasa


akan tetapi ada sesuatu yang menahannya diri sendiri.


“Dad bukankah si bintang lucu,


bagaiamana mungkin melupakan nama sikotak jika mereka adalah sahabat sejati,”


ucap Rendra sambil menertawakan sebuah kartun yang sedang mereka tonton dihari itu.


Mereka kini sedang berkumpul didepan


televisi menonton sebuah kartun anak yang tak pernah untuk Rendra lewatkan. Kemarin-kemari


Malviano dan Rendra selalu tertawa jika ada sebuah adegan yang benar-benar lucu


bagi mereka, membuat Elena sedang mereka mempunyai kegiatan positif


bersama-sama.


Tapi sejak hari itu Malviano


selalu terlihat muram walaupun didepan Rendra ia sepertinya membuat wajahnya


tak terlalu kentara. Akan tetapi Elena yang sudah tahu apa yang terjadi pada


masa lalu Malviano yang ia dapatkan dari obrolannya dengan Kenzo pada sebuah


panggilan telepon. Ia jadi tahu apa yang saat ini ada dipikiran Malviano.


Kenzo berpesan padanya jika


keadaan Malviano tidak segera lebih baik, maka Elena harus bisa menyakinkan


Rendra untuk kembali pulang meninggalkan negara ini. Nantinya Kenzo yang akan


menenangkan sahabatnya itu disana, karena jika Kenzo tiba-tiba datang yang


terjadi adalah Malviano akan kehilangan keperyaan pada semua orang.


“Rendra sayang, bolehkah Dad istirahat


hari ini?” tanya Malviano yang terlihat lesu.


“Dad kenapa?” tanya Rendra yang


menjadi khawatir pada ayahnya yang tak biasa meminta istirahat lebih awal seperti


hari ini.


“Dad hanya merasa lelah hari ini,


Bolehkah?” tanya Malviano yang ijin pada anaknya karena mungkin ia merasa


Rendra akan menganggapnya tak lagi sayang jika ia meninggalkan pergi begitu


saja.


“Kau sakit?” tanya Elena yang


juga khawatir dan mengecek suhu tubuh Malviano dengan cara menempelkan


tangannya pada kening suaminya itu.


“Kurasa lebih baik aku tidur lebih


awal,” jawab Malviano yang melepas tangan Elena pelan lalu menggenggamnya.


“MMmm kurasa ia hanya perlu tidur


saja,” ucap Hanz yang mengawali perkataannya dengan sebuah dehaman yang dibuat-buat.


“Jangan tidur terlalu malam,”


ucap Malviano pergi setelah mencium kepala Rendra.


“Mom… Dad…” ucap Rendra yang binggung

__ADS_1


mengatakan kekhawatiran akan ayahnya pada Elena.


“Rendra bersama Om Hanz ya, Mom


akan memberikan obat pada ayahmu,” ucap Elena yang mengerti maksud yang akan diucapkan


oleh anaknya dan langsung mendapat persetujuan dari Rendra dan juga Hanz.


Elena kedapur membawa segelas air


putih dan mengambil kotak P3K yang isinya sudah ia isi dengan segala macam


obat-obat yang mampu meredakkan penyakit-penyakit ringan. Ia mengetuk kamar


Malviano sebelum memasuki kamar itu karena Malviano langsung meyuruhnya masuk.


Ketika masuk ternyata Malviano


sudah terbaring ditempat tidurnya sambil memejamkan matanya dengan rapat. Sepertinya


Malviano bukan sedang membuat alasan menghindari semua orang, akan tetapi


sepertinya laki-laki yang merupakan suami sekaligus ayah dari anaknya ini


benar-benar sedang sakit.


“Apa yang kau rasakan,” ucap Elena


meletakkan apa yang dibawanya disebuah meja kecil didekat tempat tidur Malviano


sementara ia mendudukkan diri disamping ranjang.


“Kepalaku rasa berputar-putar,”


keluh Malviano yang juga membuka kedua matanya.


“Aku membawakanmu obat sakit


kepala, kau minum dulu ya sebelum tidur!” pinta Elena yang kini membawakan obat


yang dimaksud dan juga segelas air sebelum menyodorkan pada Malvino.


“Elena aku…” tolak Malviano yang


“Kau minumlah sebelum aku


membawamu kerumah sakit,” ancam Elena, ia kini menginggat kalau anaknya pun


akan bersikap sama seperti Malviano jika sedang dalam keadaan seperti ini.


Ternyata bukan hanya Elena yang


takut rumah sakit, tapi Malvianopun akan bersikap seperti ini juga. Dan dengan


penampilan Malviano yang persis seperti Rendra akan tetapi Malviano adalah versi


dewasanya, Elena jadi membayangkan bagaimana Rendra jika sudah besar pastilah ia


akan bertindak seperti ini juga jika sedang sakit.


“Obat apa yang kau bawa?” tanya


Malviano yang mengecek apa yang diberikan Elena padanya.


“Obat perangsang,” jawab Elena yang


entah mengapa merasa kesal akan pertanyaan Malviano.


“Benarkah!” ucap Malviano yang


terlihat semakin menunjukan rawut wajah yang aneh.


“Kenapa kau tidak mau?”


“Elena sebenarnya jika kau sedang


ingin, katakan saja padaku” ucap Malviano yang kini terlihat bersengguh-sungguh


membuat Elena memerah karena malu karena ucapan pria itu.


“Ingin apa maksudmu?” tanya Elena

__ADS_1


mencoba bertanya dengan pura-pura tak mengerti ucapan Malviano padanya.


“Bukankah kau memberi obat perangsang


agar kita dapat melakukan hal itu, kau ingin memberikan adik pada Rendrakan,”


jelas Malviano tapi kini ia terdengar begitu muram.


Muramnya Malviano membuat Elena


merasa sesuatu yang membuat hatinya tiba-tiba merasakan sakit, mungkinkah hatinya


langsung sakit karena merasa Malviano muram karena ia tidak suka akan ide yang


diucapkan olehnya tadi. Meskipun Elena tak benar-benar mengharapkan hubungan


mereka ke arah sana tadi ditolak dengan cara seperti ini rasanya sangat menyakitkan.


“Tenang saja ini bukan obat


perangsang, ini hanya obat sakit kepala bisa,” jelas Elena yang tak ingin Malviano


merasa terbebani disaat ia sedang sakit seperti saat ini.


“Elena aku tak bermaksud menolak


untuk lebih bergairah dengan meminum obat itu seperti malam terjadinya Rendra,


tapi aku tak suka efek yang ditimbulkan obat sialan itu karena nantinya aku tak


terlalu ingat apa saja yang sudah kulakukan padamu,” jelas Malviano dengan


ucapan yang terlihat sungguh-sungguh.


Elena yang bodohpun mencerna sedikit


demi sedikit penjelasan Malviano yang terdengar bagai angin ditelingganya. Hatinya


yang sakit tadi entah mengapa terasa jauh lebih ringan bahkan mungkin akan


terbang tanpa bisa ia tahan. Elena langsung memberikan obat yang dimaksud pada


Malviano sebelum pria itu melihatnya melakukan sesuatu yang konyol hanya karena


ia merasa malu saat ini.


“Rasanya pahit,” ucap Malviano


yang menelan obat itu sambil memejamkan mata.


“Mengapa kau meminum obatnya


seperti itu,” ucap Elana yang keheranan dengan kelakuan pria dewasa didepannya ini,


karena kelakuannya mirip sekali dengan anaknya yang ketika dipaksa meminum obat


ia akan menutup rapat-rapat kedua matanya.


“Maaf itu sudah kebiasaanku, padahal


Kenzo dan ibu sudah sering memperingatkanku untuk tidak melakukan hal seperti itu


lagi. karena itulah kebiasaan jelekku itulah yang membuatku tak sengaja meminum


obat yang sudah ditukar dengan obat perangsang malam itu,” jawab Malviano sambil


menjelaskan masa lalu.


“Apa?” tanya Elena yang kaget


dengan alasan yang diberikan Malviano yang tanpa sengaja terjebak dalam malam itu


hanya karena ia mempunyai kebiasaan yang jelek dalam meminum obat.


“Sekali lagi aku benar-benar minta


maaf, tapi yang harus kau tahu!” ucap Malviano yang lagi-lagi terlihat begitu


sungguh-sungguh.


“Ya.”

__ADS_1


“Aku tak pernah menyesali telah


meminum obat sialan itu,” ucap Malviano.


__ADS_2