Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 30


__ADS_3

“Ya.. kami kini sedang memberimu


waktu untuk memikirkan apa yang sebenarnya kau inginkan saat ini, baik aku dan


Rendra akan menerima apapun yang nantinya kau putuskan walaupun kau memang tak


ingin bersama kami lagi.” Jelas Elena memberi pilihan pada Malviano untuk memilih.


Cukup lama mereka hanya


berpandangan dan mencoba saling menyelami bola mata lawannya. Mereka sepertinya


terlalu hanyut dalam pemikiran masing-masing tentang informasi yang mereka beri


satu sama lain. Baik Elena dan Malviano sepertinya memerlukan cukup waktu untuk


membuat suatu keputusan lain yang nantinya akan mengubah kehidupan mereka.


“Kau tahu rasanya begitu


menyakitkan melihat perusahaanku dalam keadaan seperti kemarin.” Ucap Malviano


terdengar parau.


Mendengar hal itu sontak membuat


Elena memikirkan bagaimana cara mereka untuk bersembunyi kali ini, tak mungkin


selamanya mereka hanya bermain petak umpet. Melihat kecepatan yang Malviano


butuhkan untuk menemukan mereka dikala perusahaannya mengalami penurunanpun


terbilang sangat cepat.


“Jadi kau memutuskan…” ucapan


Elena terputus oleh sebuah pangilan telepon dari Rendra. “Rendra.” Mendengar


itu Malviano menganggukkan kepalanya menandakan bahwa ia mengerti Elena harus


segera mengangkat panggilan dari anak mereka.


“Mom… Kau dimana?.” Rengekan


Rendra langsung terdengar begitu Elena menerima panggilan.


“Mom pulang sebentar untuk


membawa pakaian kita.” Ucap Elena mencari alasan yang paling diterima oleh


anaknya yang sangat cerdas itu.


“Maksud Mom, aku harus menginap


disini.” Ucap Rendra terdengar ketakutan saat ini.


“Ya dokter bilang untuk satu


malam ini, tapi jika Rendra berniat untuk pulang sekarang dokter mengatakan


kemungkinan besar nantinya kau akan dirawat dalam jangka waktu yang lama jika


terjadi hal yang seperti ini lagi.” Ucap Elena.


“Momm…” Rendra kembali merengek


layaknya usianya yang memang dalam fase seperti itu.


“Semua keputusan ada padamu


sayang?.” Seperti biasa Elena hanya bisa memberikan pilihan.


Sejak Rendra sudah bisa


memberdakan apa yang ia inginkan, Elena sudah menanamkan pada Rendra untuk


menghargai apapun keputusan anaknya itu. Akan tetapi sebelumnya ia harus


menyampaikan terlebih dahulu apa yang mungkin ia dapatkan jika memutuskan


sesuatu dan apa yang hilang jika ia melepaskan hal satunya lagi.


“Kalau begitu, bisakah Mom membelikan


coklat sebelum datang kemari?.” Ucap Rendra yang meminta imbalan karena telah


membuat suatu keputusan yang tidak disukainya.


“Sayang dokter bilang..”


“Aku tak akan langsung


memakannya.” Potong Rendra.


“Baiklah.”


“Terimaksih Mom, aku sayang Mom,


hati-hati dijalan.” Ucap Rendra yang kegirangan keinginnannya dituruti.


“Mom juga sayang Rendra.” Ucap Elena

__ADS_1


sebelum menutup teleponnya.


Setelah memutuskan telepon Elena


kembali berbalik pada Malviano yang sejak tadi memandang Elena yang sedang berbicara


pada anak mereka. Elena bisa melihat dengan jelas Malviano sebenarnya ingin


berbicara dengan anak mereka langsung, tapi Elena berpendapat jika malviano


sudah memutuskan untuk bersama mereka barulah ia memikirkan jalan agar Rendra


mau menerima kehadiran Malviano secara terbuka.


“Rendra sudah sadar.”


“Ya, ia tadi merengek meminta dibelilan


coklat yang berarti keadaannya sudah cukup baik saat ini.” Jawab Elena yang sadar


bahwa Malviano perlu tahu bagaimana keadaan anak mereka.


“Aku harus segera kembali.” Ucap Elena.


“Elena aku..”


“Fikirkanlah dahulu, sekarang kau


tahu dimana kami. Aku akan menunggu keputusanmu…” ucap Elena langsung beranjak


pergi tanpa menoleh kebelakang.


Tadi ia kerestoran memakai mobilnya


yang dibawa oleh Malviano, akan tetapi karena ia masih belum bisa mengendarinya


jadilah terpaksa ia harus memakai sebuah taksi. Meskipun agak susah untuk


mengatakan kemana tujuannya, tapi setelah lima menit yang panjang akhirnya sang


supir mengerti dan mengantarkan Elena ketempat yang benar.


“Mom…” ucap Rendra yang senang


Elena sudah datang.


“Kau sudah makan?.” Ucap Elena


yang ingat dokter mengatakan setelah Rendra sadar sebaiknya ia diberi makan


sesuatu yang lembek terlebih dahulu.


bayi.” Ucap Hanz yang baru saja keluar dari kamar mandi, sepertinya ia


mendengar apa yang dikatakan Elena ketika didalamnya.


“Mengapa Om seperti perempuan.” Tegur


Rendra.


“Mengapa kau menyebut Om


perempuan?.” Tanya Hanz.


“Karena hanya perempuan yang suka


mengadukan segala sesuatu.” Jelas Rendra yang kini memalingkan wajahnya.


“Kalau begitu kau juga seperti


perempuan.” Ucap Hanz tak kalah menyindir, karena sepertinya Rendra sedang


mengaktifkan mode tak ingin mendengarkan.


“Mengapa kau memanggil Rendra


perempuan.” Ucap Elena mewakili Rendra yang sepertinya memepertahankan untuk


tak berbicara langsung pada Hanz.


“Karena hanya seorang perempuan


yang akan merajuk.” Ucap Hanz singkat.


Seketika baik Rendra maupun Elena


langsung melotot pada Hanz, yang membuat pria itu langsung mengangkap kedua


tangannya. Akan tetapi baik Rendra maupun Elena langsung tertawa gembira melihat


tingkah Hanz yang memperagakan sesuatu yang lucu bagi mereka.


**


“Kau bisa pulang sekarang.” Ucap Elena


pada Hanz.


Ini sudah jam sepuluh malam,


Rendra sudah jatuh tertidur satu jam yang lalu setelah acara makan dengan bujuk

__ADS_1


rayuan dari Hanz. Sejak tadi Elena melihat interaksi yang terjadi anatara Hanz


dan Rendra sangat positif, seandainya saja Malviano bisa bersikap seperti itu


juga pada Rendra, pasti Elena sangat bahagia.


Karena Hanz bisa menempatkan


waktu yang tepat bila sedang bersama Rendra, contohnya Hanz akan menempatkan


Rendra sebagai orang dewasa yang bisa diajaknya bekerja dalam memecahkan proyek


yang mereka kerjakan. Tapi disini Hanz memperlakukan Rendra penuh dengan kasih


sayang seperti sedang memanjakan Rendra baik dengan pengertian dan memberi hiburan


ketika Rendra sakit seperti sekarang.


“Aku akan berada disini menemani


kalian, aku takut jika malam tiba kalian membutuhkan sesuatu.” Ucap Hanz.


Lihatlah bahkan dulu ketika


Rendra sakit, Malviano bahkan hanya disibukkan dengan urusan persahaannya. Tanpa


sekalipun menanyakan bagaimana keadaan putra mereka, sedangkan disini, Hanz


yang sebenarnya orang asing malah menawarkan akan menemani mereka, jikalau nantinya


mereka tiba-tiba membutuhkan pertolongannya.


“Hanz, kami hanya akan tidur


malam ini, lagi pula penyakit Rendra hanya alergi yang sebenarnya hanya


menunggu waktu bagi dokter untuk memastikan jenis alergi yang dimiliki Rndra.” Ucap


Elena yang menolak ditemani Hanz ketika menjaga anaknya.


“Tapi..”


“Jangan-jangan kau takut?” tanya


Elena.


“Takut?”


“Ya kau takut.”


“Aku? Aku takut apa?”


“Kau takut pulang sendirian. Dan juga


kau takut dirumah sendirian.”


“Siapa bilang?”


“Aku, karena kau sepertinya hanya


mencari-cari alasan untuk tetap bersama kami disini.” Ejek Elena.


“Sembarangan.”


“Kalau begitu cepatlah pulang


sebelum semakin malam.”


“Kau benar-benar mengusirku ya.” Ucap


Hanz yang bersiap untuk pulang, walaupun dengan berat hati.


“Aku hanya khawatir kau pulang


terlalau malam, bukankah terlalu berbahaya pulang larut malam?.”


“Aku bukan wanita, Elena.” Ucap Hanz


yang tak terima yang disamakan seperti gadis remaja.


“Wanita atau pria sama saja jika


orang jahat ingin berbuat, maka mereka tak segan-segan memilih korbankan.” Jelas


Elena.


“Baik kalau begitu aku pulang


sekarang.” Ucap Hanz yang kini sudah berada didepan pintu.


“Hati-hati dijalan, Kalau sudah


sampai rumah jangan lupa kunci semua pintu.”


“Aku bukan anak kecil Elena.” Ucap


Hanz yang kini sudah benar-benar pergi meninggalkan Elena bersama Rendra yang


sudah tertidur dengan lelap karena walaupun mereka bersuara dengan begitu keras


tapi tak sedikitpun ia terganggu.

__ADS_1


__ADS_2