
“Ya.. kami kini sedang memberimu
waktu untuk memikirkan apa yang sebenarnya kau inginkan saat ini, baik aku dan
Rendra akan menerima apapun yang nantinya kau putuskan walaupun kau memang tak
ingin bersama kami lagi.” Jelas Elena memberi pilihan pada Malviano untuk memilih.
Cukup lama mereka hanya
berpandangan dan mencoba saling menyelami bola mata lawannya. Mereka sepertinya
terlalu hanyut dalam pemikiran masing-masing tentang informasi yang mereka beri
satu sama lain. Baik Elena dan Malviano sepertinya memerlukan cukup waktu untuk
membuat suatu keputusan lain yang nantinya akan mengubah kehidupan mereka.
“Kau tahu rasanya begitu
menyakitkan melihat perusahaanku dalam keadaan seperti kemarin.” Ucap Malviano
terdengar parau.
Mendengar hal itu sontak membuat
Elena memikirkan bagaimana cara mereka untuk bersembunyi kali ini, tak mungkin
selamanya mereka hanya bermain petak umpet. Melihat kecepatan yang Malviano
butuhkan untuk menemukan mereka dikala perusahaannya mengalami penurunanpun
terbilang sangat cepat.
“Jadi kau memutuskan…” ucapan
Elena terputus oleh sebuah pangilan telepon dari Rendra. “Rendra.” Mendengar
itu Malviano menganggukkan kepalanya menandakan bahwa ia mengerti Elena harus
segera mengangkat panggilan dari anak mereka.
“Mom… Kau dimana?.” Rengekan
Rendra langsung terdengar begitu Elena menerima panggilan.
“Mom pulang sebentar untuk
membawa pakaian kita.” Ucap Elena mencari alasan yang paling diterima oleh
anaknya yang sangat cerdas itu.
“Maksud Mom, aku harus menginap
disini.” Ucap Rendra terdengar ketakutan saat ini.
“Ya dokter bilang untuk satu
malam ini, tapi jika Rendra berniat untuk pulang sekarang dokter mengatakan
kemungkinan besar nantinya kau akan dirawat dalam jangka waktu yang lama jika
terjadi hal yang seperti ini lagi.” Ucap Elena.
“Momm…” Rendra kembali merengek
layaknya usianya yang memang dalam fase seperti itu.
“Semua keputusan ada padamu
sayang?.” Seperti biasa Elena hanya bisa memberikan pilihan.
Sejak Rendra sudah bisa
memberdakan apa yang ia inginkan, Elena sudah menanamkan pada Rendra untuk
menghargai apapun keputusan anaknya itu. Akan tetapi sebelumnya ia harus
menyampaikan terlebih dahulu apa yang mungkin ia dapatkan jika memutuskan
sesuatu dan apa yang hilang jika ia melepaskan hal satunya lagi.
“Kalau begitu, bisakah Mom membelikan
coklat sebelum datang kemari?.” Ucap Rendra yang meminta imbalan karena telah
membuat suatu keputusan yang tidak disukainya.
“Sayang dokter bilang..”
“Aku tak akan langsung
memakannya.” Potong Rendra.
“Baiklah.”
“Terimaksih Mom, aku sayang Mom,
hati-hati dijalan.” Ucap Rendra yang kegirangan keinginnannya dituruti.
“Mom juga sayang Rendra.” Ucap Elena
__ADS_1
sebelum menutup teleponnya.
Setelah memutuskan telepon Elena
kembali berbalik pada Malviano yang sejak tadi memandang Elena yang sedang berbicara
pada anak mereka. Elena bisa melihat dengan jelas Malviano sebenarnya ingin
berbicara dengan anak mereka langsung, tapi Elena berpendapat jika malviano
sudah memutuskan untuk bersama mereka barulah ia memikirkan jalan agar Rendra
mau menerima kehadiran Malviano secara terbuka.
“Rendra sudah sadar.”
“Ya, ia tadi merengek meminta dibelilan
coklat yang berarti keadaannya sudah cukup baik saat ini.” Jawab Elena yang sadar
bahwa Malviano perlu tahu bagaimana keadaan anak mereka.
“Aku harus segera kembali.” Ucap Elena.
“Elena aku..”
“Fikirkanlah dahulu, sekarang kau
tahu dimana kami. Aku akan menunggu keputusanmu…” ucap Elena langsung beranjak
pergi tanpa menoleh kebelakang.
Tadi ia kerestoran memakai mobilnya
yang dibawa oleh Malviano, akan tetapi karena ia masih belum bisa mengendarinya
jadilah terpaksa ia harus memakai sebuah taksi. Meskipun agak susah untuk
mengatakan kemana tujuannya, tapi setelah lima menit yang panjang akhirnya sang
supir mengerti dan mengantarkan Elena ketempat yang benar.
“Mom…” ucap Rendra yang senang
Elena sudah datang.
“Kau sudah makan?.” Ucap Elena
yang ingat dokter mengatakan setelah Rendra sadar sebaiknya ia diberi makan
sesuatu yang lembek terlebih dahulu.
bayi.” Ucap Hanz yang baru saja keluar dari kamar mandi, sepertinya ia
mendengar apa yang dikatakan Elena ketika didalamnya.
“Mengapa Om seperti perempuan.” Tegur
Rendra.
“Mengapa kau menyebut Om
perempuan?.” Tanya Hanz.
“Karena hanya perempuan yang suka
mengadukan segala sesuatu.” Jelas Rendra yang kini memalingkan wajahnya.
“Kalau begitu kau juga seperti
perempuan.” Ucap Hanz tak kalah menyindir, karena sepertinya Rendra sedang
mengaktifkan mode tak ingin mendengarkan.
“Mengapa kau memanggil Rendra
perempuan.” Ucap Elena mewakili Rendra yang sepertinya memepertahankan untuk
tak berbicara langsung pada Hanz.
“Karena hanya seorang perempuan
yang akan merajuk.” Ucap Hanz singkat.
Seketika baik Rendra maupun Elena
langsung melotot pada Hanz, yang membuat pria itu langsung mengangkap kedua
tangannya. Akan tetapi baik Rendra maupun Elena langsung tertawa gembira melihat
tingkah Hanz yang memperagakan sesuatu yang lucu bagi mereka.
**
“Kau bisa pulang sekarang.” Ucap Elena
pada Hanz.
Ini sudah jam sepuluh malam,
Rendra sudah jatuh tertidur satu jam yang lalu setelah acara makan dengan bujuk
__ADS_1
rayuan dari Hanz. Sejak tadi Elena melihat interaksi yang terjadi anatara Hanz
dan Rendra sangat positif, seandainya saja Malviano bisa bersikap seperti itu
juga pada Rendra, pasti Elena sangat bahagia.
Karena Hanz bisa menempatkan
waktu yang tepat bila sedang bersama Rendra, contohnya Hanz akan menempatkan
Rendra sebagai orang dewasa yang bisa diajaknya bekerja dalam memecahkan proyek
yang mereka kerjakan. Tapi disini Hanz memperlakukan Rendra penuh dengan kasih
sayang seperti sedang memanjakan Rendra baik dengan pengertian dan memberi hiburan
ketika Rendra sakit seperti sekarang.
“Aku akan berada disini menemani
kalian, aku takut jika malam tiba kalian membutuhkan sesuatu.” Ucap Hanz.
Lihatlah bahkan dulu ketika
Rendra sakit, Malviano bahkan hanya disibukkan dengan urusan persahaannya. Tanpa
sekalipun menanyakan bagaimana keadaan putra mereka, sedangkan disini, Hanz
yang sebenarnya orang asing malah menawarkan akan menemani mereka, jikalau nantinya
mereka tiba-tiba membutuhkan pertolongannya.
“Hanz, kami hanya akan tidur
malam ini, lagi pula penyakit Rendra hanya alergi yang sebenarnya hanya
menunggu waktu bagi dokter untuk memastikan jenis alergi yang dimiliki Rndra.” Ucap
Elena yang menolak ditemani Hanz ketika menjaga anaknya.
“Tapi..”
“Jangan-jangan kau takut?” tanya
Elena.
“Takut?”
“Ya kau takut.”
“Aku? Aku takut apa?”
“Kau takut pulang sendirian. Dan juga
kau takut dirumah sendirian.”
“Siapa bilang?”
“Aku, karena kau sepertinya hanya
mencari-cari alasan untuk tetap bersama kami disini.” Ejek Elena.
“Sembarangan.”
“Kalau begitu cepatlah pulang
sebelum semakin malam.”
“Kau benar-benar mengusirku ya.” Ucap
Hanz yang bersiap untuk pulang, walaupun dengan berat hati.
“Aku hanya khawatir kau pulang
terlalau malam, bukankah terlalu berbahaya pulang larut malam?.”
“Aku bukan wanita, Elena.” Ucap Hanz
yang tak terima yang disamakan seperti gadis remaja.
“Wanita atau pria sama saja jika
orang jahat ingin berbuat, maka mereka tak segan-segan memilih korbankan.” Jelas
Elena.
“Baik kalau begitu aku pulang
sekarang.” Ucap Hanz yang kini sudah berada didepan pintu.
“Hati-hati dijalan, Kalau sudah
sampai rumah jangan lupa kunci semua pintu.”
“Aku bukan anak kecil Elena.” Ucap
Hanz yang kini sudah benar-benar pergi meninggalkan Elena bersama Rendra yang
sudah tertidur dengan lelap karena walaupun mereka bersuara dengan begitu keras
tapi tak sedikitpun ia terganggu.
__ADS_1