Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 38


__ADS_3

“Kalian berdua cocok bersama.”


Ucap Malviano yang terdengar dingin dipendengaran Elena yang mungkin kini


memang kedinginan akibat terlalu lama berada diluar pada malam hari seperti ini.


“Ya kurasa.” Ucap Elena.


“Kau mengakuinya?” Tanya Malviano


tak mempercayai apa yang baru saja Elena katakan.


“Ya kami sangat cocok untuk


menjadi bagian dari perang dunia ketiga.” Balas Elena yang masih mengingat


dengan jelas pertengkarannya dengan Hanz yang membuatnya sakit kepala.


“Elena aku serius.”


“Kau pikir aku bercanda?.”


“Bukannya dia pria yang cukup baik.”


“Ya, tapi ketika bersamaku dia


bagaikan seekor kucing dan aku bagaikan seekor tikus baginya.” Ucap Elena yang


sebenarnya tak rela mengatakan dirinya tikur, setelah dipikir-pikir lebih baik


tadi ia mengatakan ia bagaikan seekor burung. Bukankah burung terdengar lebih


baik dari pada seekor tikus?


“Lalu mengapa kalian tadi terlihat


sangat mesra?”


“Sepertinya matamu mulai rabun.” Ucap


Elena kesal.


“Mataku rutin setiap tahun periksa


ke dokter mata.” Ucap Malviano, ia tak pernah lupa untuk memeriksakan seluruh


tubuhnya setiap tahunnya.


Hal itu ia lakukan untuk


mengurangi dampak penyakit yang mungkin bersarang ditubuhnya. Lebih baik menghilangkan


penyakit ketika masih gejala, dengan begitu tingkat kesembuhannya menjadi lebih


besar dari pada mengobati ketika penyakit itu sudah semakin parah.


“Lalu apakah pendengaranmu yang


mulai kurang.” Ucap Elena.


“Elena haruskah kuperlihatkan


semua hasil pemeriksaanku tiap tahunnya agar kau yakin bahwa aku baik-baik


saja?” ucap Malviano bersungguh-sungguh.


“Lalu mengapa kau mengatakan aku


dan Hanz tadi terlihat sangat mesra, sementara sejak tadi pembicaraan kami lebih


terdengar seperti sedang berada dalam ruang sidang.” Ucap Elena yang


mengatakannya dengan terlalu berlebihan.


“Aku malah melihat seperti kau


dan Hanz adalah sepasang suami istri yang baru saja menikah.” Ucap Malviano


yang kini terlihat kembali emosi.


“Lalu haruskah aku membuat jadwal


antara kalian berdua?” tanya Elena mengikuti perkataan Malviano yang merancau.


“Jadwal untuk apa?”


“Tentu saja aku tak akan sangat


kelelahan dalam menghadapi dua suami bukan?.” Jawab Elena asal.

__ADS_1


“Selain Hanz kau mempunyai calon


lain?.” Ucap Malviano yang kini terlihat semakin emosi.


“Ya tuhan sepertinya percakapan ini


tak akan habis, tadi Hanz sekarang kau pun ternyata sama saja.” Ucap Elena yang


kini terlihat lelah dan juga sedikit mengantuk karena perdebatan yang tak


kunjung usai, kini ia beranjak untuk pergi kekamarnya.


“Kau mau kemana?” Ucap Malviano


dan menarik tangan Elena yang hendak menjauh darinya.


“Tidur.” Ucap Elena.


“Perbicangan kita belum selesai.”


“Tapi aku sudah sangat mengantuk,


bisakah kita bicarakan lagi besok.” Ucap Elena penuh harap bahwa kali ini ia dibiarkan


untuk pergi tidur, lihat lah diatas sana bukankah bulan dan bintang sudah


terlalu bersinar yang kemungkian besar sekarang adalah tengah malam.


“Aku sangat membenci malam.” Ucap


Malviano yang mengumpat pelan.


“kau bilang apa?”


“Baiklah besok kita berbicara


kembali, selamat malam Elena.” Ucap Malviano yang terlihat tak rela ketika melepaskan


tangan Elena.


“Selamat malam juga untukmu.” Ucap


Elena yang kini benar-benar pergi meninggalkan Malviano disana seorang diri.


Diatas tempat tidurnya Elena berpikir


apa yang baru saja dikatakan oleh Hanz bahkan ucapan Malviano juga. Untuk masalah


dapat membatalkan keinginannya untuk mendapatkan sebuah, bukan lebih tepatnya


dua buah pesawat terbang.


Dan untuk masalah Malviano, ia


tak begitu yakin sebenarnya apa yang dimaksud ucapan pria itu padanya tadi. Mungkinkah


suaminya itu sudah menyerah padanya? Ataukah pria itu rela membagi Elena dengan


pria lain karena ia hanya menginginkan sebuah status saja?


Sehingga untuk kebutuhan dan


kewajiban seorang suami, Malviano akan melimpahkan kedua itu pada suami Elena yang


kedua? Tapi bukankah itu tidak mungkin, jika seorang suami mempunyai istri dua itu


memang ada, tapi untuk seorang istri mempunyai dua suami apakah suami itu akan


rela berbagi?


“Sebaiknya aku tidur saja, mungkin


besok kutanyakan kembali pada Malviano apa yang benar-benar diinginkan oleh pria


itu.” Gumam Elena sambil memejamkan kedua matanya.


Rasanya baru saja Elena


memejamkan kedua matanya tapi kini kedua matanya terbuka begitu saja karena


terusik oleh cicitan burung-burung yang sepertinya menyambut matahari yang baru


saja muncul. Setelah pereganggan ringan diatas Kasur Elena langsung beranjak


kekamar mandi.


Setelah mengerjakan semua


pekerjaan yang membuatnya kini layak disebut manusia, Elena keluar kamar dan

__ADS_1


seperti kebiasaan paginya yaitu menyiapkan sarapan pagi bagi semua orang. Tapi ketika


ia hampir dekat Elena berhenti karena suara yang cukup berisik yang datang dari


arah dapur.


Elena membawa sapu yang terdapat


didekatnya untuk menjadi senjata jika didalam dapurnya terdapat seorang pencuri.


Walaupun sebenarnya Elena sangat takut, ditambah karena berada dinegara asing


yang membuat pencuri itu juga pasti berbicara asing nanti, ia tetap nekad berjalan


sambil memegang erat senjatanya untuk menangkap pencuri itu.


“Ouch..” ucap pria itu yang ketika


berbalik menghadap Elena ternyata adalah Malviano yang kini mengelus-elus


kepalanya yang tadi Elena pukul sekuat tenaga oleh senjatanya yaitu sebuah


sapu.


“Kau tak apa-apa?.” Ucap Elena


yang mengantikan kedua tangan Malviano menggunakan tangannya untuk mengurangi


rasa sakit dikepala pria itu akibat perbuatannya.


“Kau ingin membunuhku yah?.” Tuduh


Malviano yang berbicara ketus.


“Kukira tadi kau mencuri, karena


biasanya tak ada orang lain yang berada didapur selain aku.” Ucap Elena yang


merasa bersalah tak memastikan dulu siapa yang akan dipukulnya, ia menutup mata


ketika memukul kepala Malviano tadi.


Sebenarnya Elena tak pernah sekalipun


berbuat kekerasan terhadap siapapun, bahkan pada tikus yang selalu mencuri


makanannya dulu ia tak penah. Tikus dulu sangat suka mencuri makanannya karena


rumah Elena yang dulu terletak dikawasan yang bisa dibilang kumuh sehingga binatang


pengerat seperti tikus berkeliaran bebas disekitar rumahnya.


“Aku mengerti, tapi ini rasanya


sangat menyakitkan.” Ucap Malviano yang tak lagi marah karena Elena telah


memukul kepalanya, dan ia kini malah mengadukan rasa sakitnya sehingga Elena tak


menghentikan elusan pada kepala Malviano.


“Apakah sangat sakit? Haruskah kita


kedokter? Bagaimana jika kau mengalami gegar otak?.” Tanya Elena dengan


beruntun.


“Mengelusnya sampai berkurang sakitnya


kurasa sudah cukup.” Ucap Malviano yang sepertinya menikmati elusan tangan Elena


yang sebenarnya kini agak pegal karena posisinya yang berjinjit berdiri ketika


mengelus kepala Malviano.


Sebenarnya Elena ingin mengatakan


untuk berpindah tempat pada kursi terdekat untuk melakukan pengobatan ini. Karena


biar Elena jelaskan kembali, tinggi badannya bahkan tak sampai pundak Malviano.


Sehingga Elena kini merasa pegal walaupun hanya melakukan usapan ini walau


sebentar saja.


“Bisakah kulihat kepalamu?.” Ucap


Elena penasaran.


“Mengapa?”

__ADS_1


“Aku ingin memastikan kepalamu tidak


benjol.” Ucap Elena polos.


__ADS_2