
“Kalian berdua cocok bersama.”
Ucap Malviano yang terdengar dingin dipendengaran Elena yang mungkin kini
memang kedinginan akibat terlalu lama berada diluar pada malam hari seperti ini.
“Ya kurasa.” Ucap Elena.
“Kau mengakuinya?” Tanya Malviano
tak mempercayai apa yang baru saja Elena katakan.
“Ya kami sangat cocok untuk
menjadi bagian dari perang dunia ketiga.” Balas Elena yang masih mengingat
dengan jelas pertengkarannya dengan Hanz yang membuatnya sakit kepala.
“Elena aku serius.”
“Kau pikir aku bercanda?.”
“Bukannya dia pria yang cukup baik.”
“Ya, tapi ketika bersamaku dia
bagaikan seekor kucing dan aku bagaikan seekor tikus baginya.” Ucap Elena yang
sebenarnya tak rela mengatakan dirinya tikur, setelah dipikir-pikir lebih baik
tadi ia mengatakan ia bagaikan seekor burung. Bukankah burung terdengar lebih
baik dari pada seekor tikus?
“Lalu mengapa kalian tadi terlihat
sangat mesra?”
“Sepertinya matamu mulai rabun.” Ucap
Elena kesal.
“Mataku rutin setiap tahun periksa
ke dokter mata.” Ucap Malviano, ia tak pernah lupa untuk memeriksakan seluruh
tubuhnya setiap tahunnya.
Hal itu ia lakukan untuk
mengurangi dampak penyakit yang mungkin bersarang ditubuhnya. Lebih baik menghilangkan
penyakit ketika masih gejala, dengan begitu tingkat kesembuhannya menjadi lebih
besar dari pada mengobati ketika penyakit itu sudah semakin parah.
“Lalu apakah pendengaranmu yang
mulai kurang.” Ucap Elena.
“Elena haruskah kuperlihatkan
semua hasil pemeriksaanku tiap tahunnya agar kau yakin bahwa aku baik-baik
saja?” ucap Malviano bersungguh-sungguh.
“Lalu mengapa kau mengatakan aku
dan Hanz tadi terlihat sangat mesra, sementara sejak tadi pembicaraan kami lebih
terdengar seperti sedang berada dalam ruang sidang.” Ucap Elena yang
mengatakannya dengan terlalu berlebihan.
“Aku malah melihat seperti kau
dan Hanz adalah sepasang suami istri yang baru saja menikah.” Ucap Malviano
yang kini terlihat kembali emosi.
“Lalu haruskah aku membuat jadwal
antara kalian berdua?” tanya Elena mengikuti perkataan Malviano yang merancau.
“Jadwal untuk apa?”
“Tentu saja aku tak akan sangat
kelelahan dalam menghadapi dua suami bukan?.” Jawab Elena asal.
__ADS_1
“Selain Hanz kau mempunyai calon
lain?.” Ucap Malviano yang kini terlihat semakin emosi.
“Ya tuhan sepertinya percakapan ini
tak akan habis, tadi Hanz sekarang kau pun ternyata sama saja.” Ucap Elena yang
kini terlihat lelah dan juga sedikit mengantuk karena perdebatan yang tak
kunjung usai, kini ia beranjak untuk pergi kekamarnya.
“Kau mau kemana?” Ucap Malviano
dan menarik tangan Elena yang hendak menjauh darinya.
“Tidur.” Ucap Elena.
“Perbicangan kita belum selesai.”
“Tapi aku sudah sangat mengantuk,
bisakah kita bicarakan lagi besok.” Ucap Elena penuh harap bahwa kali ini ia dibiarkan
untuk pergi tidur, lihat lah diatas sana bukankah bulan dan bintang sudah
terlalu bersinar yang kemungkian besar sekarang adalah tengah malam.
“Aku sangat membenci malam.” Ucap
Malviano yang mengumpat pelan.
“kau bilang apa?”
“Baiklah besok kita berbicara
kembali, selamat malam Elena.” Ucap Malviano yang terlihat tak rela ketika melepaskan
tangan Elena.
“Selamat malam juga untukmu.” Ucap
Elena yang kini benar-benar pergi meninggalkan Malviano disana seorang diri.
Diatas tempat tidurnya Elena berpikir
apa yang baru saja dikatakan oleh Hanz bahkan ucapan Malviano juga. Untuk masalah
dapat membatalkan keinginannya untuk mendapatkan sebuah, bukan lebih tepatnya
dua buah pesawat terbang.
Dan untuk masalah Malviano, ia
tak begitu yakin sebenarnya apa yang dimaksud ucapan pria itu padanya tadi. Mungkinkah
suaminya itu sudah menyerah padanya? Ataukah pria itu rela membagi Elena dengan
pria lain karena ia hanya menginginkan sebuah status saja?
Sehingga untuk kebutuhan dan
kewajiban seorang suami, Malviano akan melimpahkan kedua itu pada suami Elena yang
kedua? Tapi bukankah itu tidak mungkin, jika seorang suami mempunyai istri dua itu
memang ada, tapi untuk seorang istri mempunyai dua suami apakah suami itu akan
rela berbagi?
“Sebaiknya aku tidur saja, mungkin
besok kutanyakan kembali pada Malviano apa yang benar-benar diinginkan oleh pria
itu.” Gumam Elena sambil memejamkan kedua matanya.
Rasanya baru saja Elena
memejamkan kedua matanya tapi kini kedua matanya terbuka begitu saja karena
terusik oleh cicitan burung-burung yang sepertinya menyambut matahari yang baru
saja muncul. Setelah pereganggan ringan diatas Kasur Elena langsung beranjak
kekamar mandi.
Setelah mengerjakan semua
pekerjaan yang membuatnya kini layak disebut manusia, Elena keluar kamar dan
__ADS_1
seperti kebiasaan paginya yaitu menyiapkan sarapan pagi bagi semua orang. Tapi ketika
ia hampir dekat Elena berhenti karena suara yang cukup berisik yang datang dari
arah dapur.
Elena membawa sapu yang terdapat
didekatnya untuk menjadi senjata jika didalam dapurnya terdapat seorang pencuri.
Walaupun sebenarnya Elena sangat takut, ditambah karena berada dinegara asing
yang membuat pencuri itu juga pasti berbicara asing nanti, ia tetap nekad berjalan
sambil memegang erat senjatanya untuk menangkap pencuri itu.
“Ouch..” ucap pria itu yang ketika
berbalik menghadap Elena ternyata adalah Malviano yang kini mengelus-elus
kepalanya yang tadi Elena pukul sekuat tenaga oleh senjatanya yaitu sebuah
sapu.
“Kau tak apa-apa?.” Ucap Elena
yang mengantikan kedua tangan Malviano menggunakan tangannya untuk mengurangi
rasa sakit dikepala pria itu akibat perbuatannya.
“Kau ingin membunuhku yah?.” Tuduh
Malviano yang berbicara ketus.
“Kukira tadi kau mencuri, karena
biasanya tak ada orang lain yang berada didapur selain aku.” Ucap Elena yang
merasa bersalah tak memastikan dulu siapa yang akan dipukulnya, ia menutup mata
ketika memukul kepala Malviano tadi.
Sebenarnya Elena tak pernah sekalipun
berbuat kekerasan terhadap siapapun, bahkan pada tikus yang selalu mencuri
makanannya dulu ia tak penah. Tikus dulu sangat suka mencuri makanannya karena
rumah Elena yang dulu terletak dikawasan yang bisa dibilang kumuh sehingga binatang
pengerat seperti tikus berkeliaran bebas disekitar rumahnya.
“Aku mengerti, tapi ini rasanya
sangat menyakitkan.” Ucap Malviano yang tak lagi marah karena Elena telah
memukul kepalanya, dan ia kini malah mengadukan rasa sakitnya sehingga Elena tak
menghentikan elusan pada kepala Malviano.
“Apakah sangat sakit? Haruskah kita
kedokter? Bagaimana jika kau mengalami gegar otak?.” Tanya Elena dengan
beruntun.
“Mengelusnya sampai berkurang sakitnya
kurasa sudah cukup.” Ucap Malviano yang sepertinya menikmati elusan tangan Elena
yang sebenarnya kini agak pegal karena posisinya yang berjinjit berdiri ketika
mengelus kepala Malviano.
Sebenarnya Elena ingin mengatakan
untuk berpindah tempat pada kursi terdekat untuk melakukan pengobatan ini. Karena
biar Elena jelaskan kembali, tinggi badannya bahkan tak sampai pundak Malviano.
Sehingga Elena kini merasa pegal walaupun hanya melakukan usapan ini walau
sebentar saja.
“Bisakah kulihat kepalamu?.” Ucap
Elena penasaran.
“Mengapa?”
__ADS_1
“Aku ingin memastikan kepalamu tidak
benjol.” Ucap Elena polos.