
“Aku memang selalu
menggunakan otakku, jika tidak kita tak akan pernah bertemu karena jika otakku
tak dipakai maka aku akan mengelinding diatas tanah saat ini,” ucap Sandra yang
hanya bisa membuat terdiam, rasanya sangat pusing jika menghadapi Sandra yang
sedang mode gila seperti saat ini.
“Boleh kah aku cerita
sekarang?” ucap Elena sambil meredam rasa kesalnya.
“Tentu,”
“Malviano sudah menemukan
kami dan sekarang ia sudah berada dirumah yang Kenzo berikan pada kami sebagai
tempat tinggal ketika kami berada disini, dan sekarang yang menjadi masalah ku
adalah Malviano belum menjawab apakah ia mencari keberadaan kami atau hanya
keberadaan Rendra saja,” jelas Elena panjang kebar karena tak ingin ucapannya dipotong
Sandra oleh sesuatu yang membuatnya semakin meresa kesal.
“Jadi masalahmu adalah kau
tak yakin apakah Malviano menginginkanmu?” ucap Sandra menyimpulkan perkataannya,
dengan kata-kata yang cukup membuat hati Elena terluka.
“Walaupun kesimpulanmu
sangat kejam, tapi kau memang benar,” lirih Elena.
“Ya tuhan ternyata Mom
mertua galau akan isi hati Dad mertua,” canda Sandra menahan untuk tertawa.
“Aku hanya binggung jika
nantinya ia memilih untuk bercerai, bagaimana nantinya kehidupan kami. Ia pasti
akan membawa Rendra bersama, kau tau bahkan kemarin Rendra bahkan menempel pada
Malviano sepanjang hari,” jelas Elena.
“Kau sudah berbicara
dengan serius dengannya?” ucap Sandra yang kini benar-benar serius.
“Ketika Rendra masuk rumah sakit,
ia alergi makanan laut ternyata,” jelas Elena yang langsung melaporkan penyebab
Rendra masuk rumah sakit sebelum Sandra mengamuk padanya.
“Aku akan menginap dirumahmu
selama seminggu, itu hukuman bagimu karena kau tak memberitahuku keadaan Rendra
saat itu. Elena aku selalu bilang, jika terjadi sesuatu apalagi berhubungan
dengan Rendra aku ingin kau segera memberitahuku,” ucap Sandra penuh dengan
penekanan.
“Itu tak masalah jika kau sanggup
tinggal bersama dua pria dewasa,” tantang Elena yang tahu Sandra tak akan berani
menginap dengan pria asing satu atap dengannya.
“Curang,” ucap Sandra yang sepertinya
kecewa akan kenyataan itu.
“Jadi menurutmu aku harus bagaimana
nanti?” tanya Elena kembali kepada pertanyaan sebelumnya.
“Kau mencintainya?”
“Mencintai siapa?”
“Dad mertua tentu saja, tidak
mungkinkan ku tanya kau mencintai Hanz, atau kau memang sudah mencintai Hanz
sebagai cadangan nanti jika kalian benar-benar bercerai?” ucap Sandra.
“Katakan jika benar nantinya kami
__ADS_1
benar-benar bercerai, apakah masuk akal aku akan menikahi Hanz? Bisa gila aku,”
“Bagaimana bisa kau gila,
bukankah baik jika kali ini kau menikah dengan rasa cinta,” bantah Sandra yan
malah membuat teori luar biasa.
“Aku dan Hanz selalu bertengkar jika
bertemu, apakah mungkin bagimu jika aku dan dia menikah nantinya. Membayangkannya
saja membuatku berpikir setidaknya Malviano tidak pernah mengusikku, walaupun
akhirnya kami akan berpisah,” jelas Elena.
Perkataan panjang lebar Elena kini
membuat Sandra benar-benar terdam dan sepertinya kini ia memikirkan apa yang
terbaik bagi Elena. Walau dari ucapannya sebelumnya terdengar Sandra tidak
terlalu bijak karena terlalu fokus pada Rendra tapi ketika siapun meminta nasihat
yang serius wanita didepannya ini akan membuat pilihan yang baik dan bijak.
“Bisakah aku datang rumahmu dulu?”
tanya Sandra.
“Jawabannya?”
“AKu harus melihat dan merasakan
apa yang diingginkan Dad merta padamu,” jelas Sandra singkat.
“Aku mengerti,” ucap Elena yang kini
bersiap untuk pulang.
Sebelum pulang Sandra mengajak
Elena untuk kesebuah toko, mereka mampir untuk membeli sesuatu. Sandra hampir memborong
banyak hal hanya karena ia memberikan Rendra barang dan makanan yang belum dipunyai
oleh Rendra. Jika Elena tak mengancam akan meninggalkan Sandra, maka wanita itu
tidak akan berhenti untuk berbelanja dengan alasan Rendra memerlukannya.
“Mom sudah pulang,” sapa Rendra
begitu Elena baru saja masuk dan langsung memeluk kedua kakinya.
“Sayangku cintaku, tante datang,”
ucap Sandra yang langsung heboh mendekai Rendra untuk memeluknya.
“Rendra rinu tante,” ucap Rendra
yang kini sudah berada digendongan Sandra dan memeluk Sandra dengan erat.
“Syukurlah kau sudah pulang,”
ucap Malviano yang baru saja berlari kearah ruang tamu.
“Ia hampir saja meninggalkan
Rendra padaku, jika kau tak muncul lima menit lagi,” lapor Hanz yang rupanya
sedang duduk diruangan itu.
“Rendra yang minta Om,” protes
Rendra.
“Ya benar dua orang yang terlallu
berlebihan yang membuat seolah-olah kau sedang pergi berperang Elena,” ucap
Hanz yang kesal.
“Jika tak suka dengan yang kami bicarakan
kau bisa pergi,” ucap Malviano yang tersinggung akan perkataan Hanz yang melaporkan
begitu kekanak-kanakkannya mereka ketika Elena pergi tadi.
“Tahukah Elena mereka bahkan akan
menemui kantor kedutaan,” ucap Hanz yang terus saja melaporkan apa yang dibicarakan
Rendra dengan Malviano.
“Wajarkan kami mengkhawatirkan istri
__ADS_1
dan ibunya, kau tak akan mengerti,” bela Malviano.
“Kau,,”
“Sudahlah itu cukup,” relai Elena
yang semakin pusing akan perdebatan yang semakin hari semakin tidak penting
untuk ia dengarkan.
“Tebak tante punya apa untuk
calon suami tante yang sangat tampan ini?” ucap Sandra yang mengalihkan
orang-orang yang berada disana.
“Tante bawa coklat?” tanya Rendra
yang penasaran.
Biasanya memang Sandra tak pernah
melewatkan untuk membelikan Rendra coklat ketika bertemu dengannya. Rendra akan
mendapatkan makanan manis itu hanya dari Sandra karena Elena tak suka Rendra
terlalu banyak memakan sesuatu yang membuat giginya berlubang.
“Ya tapi kali ini tante akan
memberikannya jika Rendra menjawab apa yang tante tanyakan,” ucap Sandra yang
sontak membuat Rendra binggung tak biasanya tante kesayangannya ini memberikan
syarat ketika akan memberikan sesuatu padanya.
“Apa itu tante?” tanya Rendra
yang penasaran dan juga tak sabar ingin memakan sesuatu yang manis.
“Rendra biarkan tante duduk dulu,”
tegur Elena karena mereka terlalu asik sehingga mereka semua berdiri didekat pintu
masuk.
Mendengar itu semua orangpun
menurut dan tentu memutuskan untuk duduk disofa yang berada diruang tamu. Elena
langsung memasuki dapur untuk membaw beberapa cemilan yang tadi dibelinya dan
juga membuat jus dari berbagai buah yang masih tersedia didalam kulkasnya.
“Apa ini Mom?” tanya Rendra ketika
mendapatkan segelas jus dari Elena.
“Pisangbeku, Strawberrybeku,
Raspberrybeku, Susu cair,” ucap
Elena mengucapkan apa saja bahan yangia masukkan pada minuman mereka.
“Kau memasukkan pisang?” tanya Malviano yang langsung
menjauhkan minuman itu dari mulutnya.
“Ya memangnya mengapa?” tanya bertanya balik Elena.
“Jangan bilang kau alergi pisang,” ejek Hanz sambil meminum
hampir segelas jus yang menjadi miliknya.
“Aku tak pernah menyukainya,” ucap jujur Malviano.
“Dad pisang
itu bermanfaat untuk Meningkatkan
konsentrasi otak Karena mengandung kalium, buah pisang bisa meningkatkan
konsentrasi untuk anak atau orang dewasa. Kalium dalam buah pisang membuat otak
dan saraf berfungsi dengan maksimal. Buah pisang juga kaya akan magnesium
yang memainkan peran penting untuk mengirimkan sinyal di antara otak dengan
tubuh anak. Magnesium juga berfungsi sebagai penjaga reseptor
N-Methyl-D-Aspartate (NMDA), yang membantu perkembangan otak, meningkatkan daya
ingat, serta meningkatkan kemampuan pembelajaran.” Ucap Rendra menjelaskan tiada
henti tentang manfaat buah pisang pada ayahnya dan tak ingin ada satupun yang
__ADS_1
memotong pembicaraannya.