Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 4 Berbagi?


__ADS_3

“Saya hanya akan mengajukan hak asuh penuh atas Rendra, jika itu yang terjadi” ucap


Malviano dengan enteng.


Mendengarnya perkataan Malviano kini membuat semua kekhawatiran Elena kini berubah menjadi


kenyataan.


“Kau tidak bermaksud akan menjauhkan Rendra denganku kan?” tanya Elena dengan suara


yang parau karena tak dapat menyembunyikan ketakutan akan hal yang didengarnya.


“Bukankah kamu yang melakukan hal itu pertama kali.” Balas Malviano yang kini mengatakannya


dengan nada datar, tak sedikitpun memperlihatkan lagi keramahan yang tadi pagi


berada diwajahnya, Elena jadi ingat inilah wajah yang diperlihatkan oleh Malviano  ketika mereka pertama kali bertemu.


“Hanya dia yang kumiliki didunia ini.” Cicit Elena.


“Dan itu bukan sebuah alasan untuk membenarkan keputusanmu dengan memisahkan dia


dengan ayah kandungnya.” Balas Malviano terdengar semakin emosi.


“Aku tahu itu, walaupun begitu pasti ada jalan lain agar kita sama-sama


merawatnya?.” Elena mencoba memohon agar Malviano tidak mereka.


“Jika kamu mengatakan kita harus menika…”


“Bukan.. maksudku… tentu saja aku… tak akan pernah memintamu menikahku.. kita… kita..


bisa membagi waktu untuk membesarkannya bersama, tentu saja tanpa ada ikatan


pernikahan antara kita berdua.” Ucapan Elena dengan cepat ketika mendengar


ucapan Malviano terdengar begitu memandang rendah ketika melihatnya dan ia


langsung menambahkan dengan suara yang pelan mengingatkan pada keadaannya yang


memang benar membuat Malviano membuat sebuah gagasan tertentu. “Aku tau kau


pasti berpikir aku akan memanfaatkan keadaan ini untuk bergantung padamu kan?.”


“Tentu saja, semua wanita selalu seperti itu bukan? menciptakan sebuah alat untuk


memperalat seseorang agar mereka membuat cara mudah keluar dari kemiskinan


mereka.” Ucap Malviano dengan sorot penuh penghakiman.


Sudah Elena duga pasti Malviano akan mencurigainya, untung saja sebelumnya ia sudah


menyiapkan dirinya agar tak terlalu terluka, tapi ketika mendengarnya secara


langsung, hal ini masih saja terasa sangat menyakitkan.


“Sebelumnya aku hanya ingin kau mengetahui bahwa aku sama sekali tak berniat memanfaatkan


Rendra, aku tahu kau tak akan pernah mempercayaiku mengingat kita bahkan orang


asing yang kebetulan memiliki hubungan karena sebuah ketidak sengajaan.” jelas


Elena yang ingin bahwa pria didepannya kini tak terlalu menganggapnya rendah,


bukan untuk menarik perhatian pria didepannya tapi lebih kepada ia tak ingin pria


didepannya ini akan menanamkan pada anaknya nanti tentang hal-hal yang


menurutnya benar tentang dirinya.


“…” Malviano hanya terdiam mendengarkan apa yang Elena coba jelaskan.


“Aku sengaja membesarkannya bahkan berniat.. kau tak akan pernah tahu keberadaan


kami sama sekali.” Elena mengakui dengan sejujur-jujurnya.


“Lalu?” ucap Malviano mulai tertarik.


“Seperti yang kau ketahui Rendra..”


“Ya anak itu sangat pintar, kalau tidak mana mungkin saya percaya bahwa dia adalah


anak kandung saya.” Ucap Malviano yang tiba-tiba terlihat begitu sombong sekaligus


bangga ketika membicarakan Rendra.


“Ya aku akui itu.” Ucap Elena sedikit meringgis mendengar ucapan Malviano dan


menambahkan “Rendra sendirilah yang ingin bahwa kau mengetahui keberadaannya,


aku bahwa tak tahu bahwa kau benar-benar ada.”


“Dan menurutmu saya akan percaya alasan itu?” Malviano berusaha memancing Elena berbicara


lebih banyak.


“Aku bersedia membuat surat perjanjian atau apapun itu, asalkan kau berjanji bahwa didalamnya


kita berdua mempunyai hak dan kewajiban yang sama pada Rendra.” Ucap Elena sengaja


ia mengatakan hal itu duluan, karena tak ingin Malviano membuat keputusan lain yang


mungkin akan merugikan Elena, mengingat kekuasaan yang dimiliki Malviano yang


tak akan pernah bisa dilawannya.


“Bagus kalau kamu mengetahui bahwa hanya Rendra yang aku inginkan.” Jawab Malviano


senang, sepertinya Elena membuat sebuah keputusan yang benar untuk mengatakan


hal itu diawal.


“Mengingat Rendra masih terlalu kecil, apakah kau keberatan jika waktu dimalam hari adalah


milikku?” tanya Elena mencoba peruntungannya kembali.


“Kurasa itu tak masalah, kurasa pekerjaan saya mungkin akan menyita sebagian perhatian


waktu saya, akan cukup sulit untuk mengaturnya ketika ia harus cukup beristirahat


diusianya saat ini.” Ucap Malviano kini berbicara lebih lunak ketika tak


terdengar lagi nada kesinisan dalam ucapannya “Tapi saya dapat membawanya kapanpun


saya inginkan, bahkan jika saya sedang ingin menghabiskan waktu lebih dari dua


puluh empat jam bersamanya.”


“Kurasa itu bisa kita bicarakan…”


“Baru saja satu menit tapi kamu mulai membuat sebuah alasan kita harus selalu saling


berkomunikasi?.” Malviano tiba-tiba terlihat emosi kembali.


“Kau salah sangka… Maafkan aku…. Aku tak mungkin bermaksud agar kita lebih sering

__ADS_1


untuk bertemu…. Aku.. aku hanya tak terbiasa jauh darinya.” ucap Elena dengan


pasrah, sekarang sepertinya semakin nyata bahwa kelak ia harus merelakan bahwa


Rendra akan menghabiskan waktu dengan ayahnya tanpa ia didalamnya.


“Baiklah pembicaraan ini saya rasa sudah usai, saya akan kirim Liam untuk membuat surat


yang akan menguatkan perjanjian kita tadi.” Ucap Malviano secara tidak langsung


mengakhiri, atau menurut Elena seperti mengusirnya secara halus.


“Apakah perjanjian ini sudah mulai berlaku hari ini?” ucap Elena pelan.


“Tentu saja, oh iya hampir saja saya lupa, mungkin kita akan bertemu lagi ketika kita


akan mengurus surat-surat tentang Rendra, saya ingin semua tahu Rendra adalah anak


kandung saya secepatnya.” Terang Maliano memberikan uluran tangan untuk


berjabat tangan.


Elena terdiam melihar uluran tangan itu, apakah menurut Malviano percakapan barusan


adalah sebuah percakapan bisnis? Dan sekarang mereka mengakhirinya dengan


sebuah jabat tangan ketika memperoleh kesepakatan?.


Kini Elena mulai ragu apakah nantinya akan baik-baik saja membagi Rendra dengan


seorang ayah yang mungkin menganggap segala sesuatu seperti sedang berbisnis?.


Elena harus lebih meluangkan cukup waktu untuk mencari tahu segala hal tentang


Malviano.


Bukan karena kini ia telah tertarik pada pesona orang setampan dan mapan pria didepannya


kini, walaupun memang benar pria didepannya kini mempunyai dua hal tersebut.


Tapi Elena harus mengetahui lebih jelas bahwa pria didepannya bisa meyakinkannya


bahwa ia melakukan hal yang benar untuk mempercayakan Rendra padanya. Dan yang


bisa dilakukannya kini hanya menyambut uluran tangan itu untuk kesepakatan yang


tadi telah mereka sepakati.


“Woooaah.” Terdenngar suara seorang anak dari arah pintu depan.


Mendengar suara itu membuat Malviano dan juga diikuti oleh Elena mendekat pada suara itu.


“Mom… Dad…” teriakan bahagia Rendra ketika pertama kali melihat Malviano dan Elena


terlihat oleh matanya yang tadi sangat sibuk melihat-lihat sekitar rumah Malviano.


“kau sudah datang?” ucap Malviano riang merentangkan kedua tangannya pada Rendra, membuat


Elena kaget melihat perubahan drastis Malviano terhadapnya tadi dan kini pada


anaknya.


Sementara disisi lain, hal itu pun membuat Liam sama terkejutnya mendengar perkataan Malviano


yang tak pernah semanis keluar dari mulut bos tempramennya itu.


“Rendra tak tahu kalau Dad mempunyai rumah sebesar ini?” antusias Rendra yang kini


sudah berada digendongan Malviano.


“Sangat senang.”


“Kau akan jauh lebih senang ketika melihat kolam renang.” Ucap Liam yang berdiri dibelakangnya.


“kau tidak berbohong disini benar-benar ada kolam renang?”


“RENDRA!.” Mendengar ucapan Rendra pada orang yang lebih tua dari anaknya lalu ia tidak menunjukkan sebuah


kesopanan, hal itu membuat Elena langsung memangil nama anaknya dengan suara yang cukup keras,


tanpa memperdulikan dimana dan siapapun yang sedang bersamanya.


“Mom…” Balas Rendra tergagap karena kaget akan panggilan ibunya dengan intonasi yang biasa


digunakannya jika iya membuat sebuah kesalahan.


“Kau tahu mengapa Mom berteriak memanggilmu?” kini menurunkan intonasi suaranya melihat


ketakutan Renda padanya.


“…” Rendra mengelengkan kepala tertunduk, kebiasaanya ketika Elena marah pada


sesuatu yang tak diketahuinya.


“Apa yang Mom katakan sebelumnya tentang memangil seseorang yang lebih tua?” pancing


Elena.


“Rendra harus menghormati orang yang lebih tua dengan memanggilnya dengan sebuatan


kakak, om ataupun kakek.” Ucap Rendra dengan lancer apa yang sebelumnya pernah


Elena katakana tentang apa yang harus dilakukan pada orang yang lebih tua.


“Maafkan Renda Mom, Rendra tadi lupa.”


“Berjanji ini tak akan terulang kembali.” Kini Elena duduk menyetarakan tinggi badannya


agar ia dapat memeluk Rendra.


“Rendra janji.” Ucap Rendra langsung memeluk Elena kebiasaan mereka, jika Rendra


berbuat salah dan mendapat kemarahan Elena.


Elena selalu membiasakan menegur langsung ketika anaknya berbuat sesuatu hal yang


menurutnya salah. Dan ia akan memeluknya dengan penuh kasih sayang karena ia


tak ingin Rendra berpendapat ia marah karena tak menyayanginya lagi, sebaliknya


Elena memarahinya karena ia sangat menyayanginya, ia tak ingin Rendra tumbuh


memjanji seseong yang bijaksana.


Meskipun anaknya itu dikaruniai oleh otak yang sangat cerdas, tapi jika nanti


kelakuannya tak lebih dari merendahkan orang lain bahkan sampai merendahkan


orang yang lebih tua, ia tak ingin hal itu terjadi karena itu akan berdampak


jelek untuk masa depan Rendra nantinya.


“Sepertinya saya harus bicara serius denganmu tentang hal yang kalian perdebatkan tadi.”ucap


Malviano kini berusara setelah melihat perdebatan itu selesai, dan langsung diangguki

__ADS_1


pelan oleh Elena yang menyadari adanya orang lain ketika menjelaskan pada


anaknya apa yang baik dan yang tidak. lalu setelah mendapatkan tanda


persetujuan bahwa mereka akan berbicara nanti Malviano kembali berbicara pada


Rendra “Kamu mau lihat kolam renang sekarang?.”


“Didalam rumah ini?” tanya Rendra yang sepertinya setengah tak percaya dan senang raut


wajahnya kini sudah seperti biasa seolah Elena tidak pernah memarahinya tadi.


“Kita bisa kesana sekarang juga kalau kau mau.” Tawar Malviano.


“Dan jangan lupakan apa yang ku katakan bahwa ayahmu mempunyai playstation yang kau inginkan


tadi ditoko yang kita lewati.” Ucap Liam mengingatkan bahwa tadi Rendra sempat


tak ingin ia bawa kerumah ini karena masih cukup senang berada ditempat ramai.


Mendengar segala yang dipunyai oleh Malviano membuat kebahagian tersirat diwajah Rendra


yang tak pernah Elena berikan pada anak itu, membuat Elena merasakan sesuatu


yang sangat campur aduk. Perasaannya tercampur antara bahagia, lega, takut,


marah menjadi satu didalam hatinya.


Bahagia karena bagaimana tidak merasakan hal itu ketika melihat wajah bahagia anaknya


mendapatkan segala sesuatu yang tak pernah bisa diberikannya. Lega karena laki-laki


yang merupakan ayah biologisnya menerima bahkan memperlakukan anaknya dengan baik.


Takut karena mungkin Rendra mungkin akan lebih bahagia bila bersama ayahnya daripada


bersama dengannya karena ia tak pernah bisa memberikan apa yang ditawarkan oleh


Malviano. Marah, karena keadaannya yang tak pernah berpihak padanya sehingga ia


tak bisa memberikan Rendra apa yang diberikan oleh Malviano kini.


“Mom.” Ucap Rendra yang turun dari gendongan Malviano dan kini menghampiri dirinya.


“Ya sayang.” Elena hanya bisa memasang senyum kecil untuk menyembunyikan apa yang


tadi dipikirannya.


“Bolehkah Rendra berenang sekarang juga?” kebiasaan Rendra meminta ijin pada Elena untuk


melakukan hal apapun, tapi tidak termasuk meminta ijin padanya ketika mencari


keberadaan ayahnya yang kini membuat Elena harus rela membagi Rendra dengan


ayah kandung dari anaknya itu.


“Bukankah Rendra tak bisa berenang?” ucap Elena yang malah balik bertanya dengan mengingatkan


bahwa anaknya tak mungkin bisa berenang karena ia tak pernah sekalipun


membawanya untuk aktifitas tersebut.


“Tapi menurut buku yang Rendra baca serta sebuah video tentang cara-cara menyelam


yang Rendra tonton dilaptop Mom bukankah caranya hanya tinggal loncat kedalam air


lalu mengerakkan kaki serta tangan secara berurutan.” Ucap Rendra panjang lebar.


Rendra menceritakannya dengan semangat sambil mencontohkan sebuah gerakan yang hampir


sama seperti yang dilihat oleh mereka ketika menonton tentang cara untuk bisa berenang


untuk pemula yang sengaja ia tonton untuk referensi untuknya dalam membantu


seorang penulis kala itu yang sedang menulis suatu hal yang didalamnya terdapat


plot tentang berenang.


“Hal itu tak mungkin bisa membuatmu jago berenang kan.” Jawab Elena sambil tertawa


setelah Rendra selesai memperagakan apa yang dimaksud olehnya.


Elena tertawa karena menurutnya hal yang dikatan oleh Rendra sangat lucu, bagaimana tidak


kalau hanya dengan membaca bisa membuat seseorang langsung bisa berenang. kalau


hal itu memang akan terjadi, maka sekarang ia pasti sudah bisa membuat sebuah


pesawat terbang, mengingat banyaknya buku tentang segala hal tentang pesawat.


Dulu Elena sangat suka akan pesawat terbang, ia membaca segala hal tentang pesawat terbang


bahkan ia pernah bercita-cita menjadi pilot karena kecintaannya dengan pesawat.


Ia telah membaca semua buku tentang hal-hal yang berkaitan dengan pesawat agar


suatu saat dapat lebih dekat dengan mimpinya, tapi ketika mengingat pesawat kini


ia  kembali bersedih karena ia harus rela


merelakan mimpinya dulu.


“Tapi Rendra berhasil menggacaukan perusahaan Dad karena membaca buku.” Jelas Rendra


yang menyadarkan Elena dari lamunannya tadi tentang mimpi yang sudah ia simpan


jauh didalam hatinya.


Elena kembali terkejut mendengar perkataan Rendra yang masih membuatnya masih tak


mempercayai bahwa anaknya mungkin memang benar-benar genius untuk seorang anak


yang berusia lima tahun. jika Malviano tidak mencarinya untuk bertanggung jawab


untuk perusahaan besar miliknya Elena tak akan pernah bisa mempercayai apa yang


dikatakan anaknya itu.


Kini Elena semakin bertanya-tanya apakah benar dengan membaca buku seseorang dapat


menjadi pintar?.


Atau mungkin hal itu hanya berlaku untuk Rendra yang memang sudah diberikan kepintaran


yang luar biasa untuk memahami segala sesuatu hanya dengan membaca buku?. Elena


sangat ingin mengetahui hal tersebut seumur hidupnya jika mungkin Malviano


memberikan waktu bersama Rendra sedikit lebih lama.


“Mom..” Rendra kembali merengek ketika Elena tak memberikan jawaban apapaun.


“Bukankah kau sudah mendapat ijin dari Dad?” ucap Malviano bersuara mendekati Rendra.


“Tapi Mom belum memberi ijin Dad..” ucap Rendra pelan.

__ADS_1


“Mulai saat ini jika Dad sudah memberi ijin berarti kau sudah dapat ijin.” Ucap Malviano terdengar begitu marah hingga wajahnya yang berubah warna menjadi memerah.


__ADS_2