
“Sayang bisakah kau kemari sebentar.” Teriak Elena pada Rendra yang sepertinya
lagi-lagi disibukkan dengan gadgetnya.
“Sebentar Mom.” Balas teriak Rendra.
“Cepatlah sayang.”
Elena hanya bisa mengatakan hal itu dan tersenyum canggung pada orang asing yang kini
berada didepan rumah mereka. Jika saja ia bisa bahasa orang yang didepannya kini,
maka ia tak akan mengganggu apapun yang sedang Rendra lakukan. Dan untung saja
anak itu tak begitu lama menghampirinya.
“Ada apa Mom.” Ucap Rendra.
“Bisakah kau jelaskan pada orang ini, jika Mom tidak pernah memesan makanan ini.” Ucap Elena
yang sudah menjelaskan dengan susah payah bahkan menggunakan Bahasa isyarat
tetapi pria yang sepertinya salah alamat dalam mengirimkan makanan ini tetap
pada pendiriannya bahwa memang benar rumah yang dimaksud adalah rumah Elena.
Rendrapun langsung menjelaskan apa yang dimaksud oleh Elena pada orang asing tersebut
mengunakan Bahasa mereka. Pria itu langsung pergi setelah mengatakan kata “Sorry”
pada Elena, membuat Elena jengkel karena kemampuan bahasanya yang tak meningkat
bahkan ketika mereka berada dinegara ini hampir tiga bulan penuh.
“Sayang maukah kau mengajari Mom tentang Bahasa asing lagi?.” Ucap Elena yang
sebenarnya malu untuk meminta pada anaknya yang kini telah genap berusia yang
keenam.
Dua hari yang lalu Elena merayakan ulang tahun Rendra dengan sederhana, mereka kini
bukan hanya hidup berdua tetapi mereka bahkan kini berada dinegara asing. Yang bahkan
masih membuat Elena binggung untuk berkomunikasi dengan para warga sekitar yang
kebanyakan tak bisa bahasanya.
Bertepatan dengan ulang tahun Rendra kemarin, mereka hanya membeli sebuah cake dan
beberapa makanan kesukaan Rendra dinegara ini. Bukan karena Elena tidak bisa
memasak, tapi Rendra ingin memanjakan ibunya dihari ia dilahirkan. Rendra
bahkan mengerjakan semua tugas-tugas rumah bahkan memijat badan Elena pada hari
itu.
“Bisakah Mom belajar pada telepon genggam yang baru, maaf Rendra sedang membuat sesuatu.”
“Rendra bekerja lagi?” ucap Elena yang langsung marah.
“Mom Rendra hanya mengikuti hobi saja, belum tentukan Rendra menang dinegara ini.” Ucapnya
mencoba membujuk Elena.
“Kalau memang Rendra ingin begitu kenapa kita tidak pulang saja, Dad pasti akan membantu.”
__ADS_1
Ucap Elena yang mencoba untuk membuat Rendra memaafkan ayahnya.
“Bukan Rendra yang tak ingin pulang Mom.”
“Lalu?”
“Dad yang tak berusaha mencari kita.”
“Kau tahu darimana Dad tidak mencari kita?”
“Kalau mencari, Dad pasti bisa menemukan kita dengan cepat.”
“Sayang mungkin kita yang terlalu tersembunyi.”
“Mom, bukan kita yang terlalu tersembunyi tapi Dad yang kini sudah terlalu sibuk
dengan tante itu.” Ucap Rendra sedikit berteriak karena kemarahannya pada Malviano
yang sampai sekarang tak berhasil menemukan mereka.
Pada bulan pertama setelah kepergian mereka, baik Elena bahkan Rendrapun memutuskan
akan kembali pada pria itu jika ia berhasil menemukan mereka. Tapi sekarang
waktu berlalu dengan begitu cepat tak terasa tiga bulan sudah berjalan, sampai
saat ini tak akan kabar apapun yang menyatakan pencarian mereka.
Hal itu membuat Rendra menjadi sangat Marah pada ayahnya itu, ia berpendapat mungkin
memang benar hal inilah yang diingginkan pria itu yaitu kepergian ia dan juga ibunya
dari kehidup pria itu selama-lamanya. Karena sepertinya kebersamaan mereka hanyalah
kenangan sesaat tanpa adanya keterikatan yang kuat.
“Kalian baik-baik saja.” Ucap Kenzo seseorang yang menghubungi Elena.
Sejak Elena tahu tentang kenyataan Kenzo lah yang selalu berada didekat mereka untuk
menjaga mereka bahkan ketika orang itu tak langsung ikut campur. Membuat Elena sedikit
demi sedikit lebih percaya dan bergantung pada pria itu dalam apapun keputusan
dan masukkannya.
“Kami baik, Kau..”
“Aku tentu saja baik, tapi sebaliknya Malviano merasakan hal yang berbeda.”
“Aku tak mengatakan tentang..”
“Aku tahu kau akan bertanya.” Jelas Kenzo yang lagi-lagi langsung memotong perkataan
Elena.
“Memangnya apa yang terjadi?” ucap Elena yang entah mengapa jadi khawatir akan pria yang
menjadi ayah dari anaknya itu.
“Sudahku bilangkan kau akan menanyakannya?.” Ucap Kenzo sambil tertawa dengan leluconnya
sendiri.
“Lalu haruskah ku beri hadiah?” ucap Elena ketus.
“Dia selama tiga bulan ini mencari-cari keberadaan kalian, bahkan kerjasama yang dibantu
__ADS_1
oleh Harshapun ia tinggalkan begitu saja.” Ucap Kenzo yang tiba-tiba melaporkan
apa yang sedang terjadi. “Maaf aku baru menelepon kalian sekarang, sebenarnya
aku disibukkan dengan perusahaan ZRO yang hampir gulung tikar dan juga aku
tetap waspada agar Malviano tak curiga kalau aku yang membantu kalian untuk
kabur.” Tambahnya
“Benarkah?.” Tanya Elena yang tiba-tiba senang akan yang telah disampaikan oleh Kenzo, jadi
bukan dirinya sendiri yang menghayal bahwa Malviano selama ini mencari mereka.
“Ya aku membuatnya mencari dinegara lain.”
Ucapan yang dikatakan Kenzo kini malah membuat Elena ingin memukul pria yang sedang berbicara dengannya pada sambungan telepon ini, meskipun Elena sangat berhutang
apapun pada Kenzo tapi ia berjanji jika saatnya tiba ia ingin sekali memukul
kepala Kenzo walau diberikan kesempatan satu kali.
“Mengapa?.”
“Sekali-sekali aku ingin membuatnya berusaha lebih susah. Bukankah selama ini aku selalu
mempermudah semua untuknya, hingga ia berbuat hal semena-mena pada kalian.” Ucap
Kenzo yang sepertinya sangat kecewa pada perbuatan Malviano padanya dan juga
Rendra.
“Tapi kau membuat anaknya sangat marah pada pria itu.” Jelas Elena.
“Benarkah dia sangat marah.”
“Apakah aku pernah berbohong?”
“Entahlah akukan tak terlalu mengenalmu.” Ucap Kenzo yang memang benar adanya. Elena dan juga Malviano yang jelas-jelas mempunyai seorang anak saja tak jauh berbeda dengan seseorang yang hanya berpapaan dipingir jalan, apalagi hubungan Kenzo dan juga Elena?.
“Kalau kau lihat tadi bahkan Rendra sempat berteriak padaku karena aku membujuknya
hanya agar ia mengerti bahwa mungkin Malviano yang tak bisa menemukan keberadaan kami yang terlalu bersembunyi.”
“Aku mengerti, nanti jika sudah waktunya aku yakin Malviano tidak akan pernah menyakiti
kalian lagi saat itu aku yang akan mennjelaskan sendiri padanya.” Janji Kenzo.
“Ya, semoga nanti ia akan lebih mendengarkan mu.” Ucap Elena.
“Jika kalian kekurangan apapun langsung hubungi Sofia sebagai penggantiku, ia akan
memberitahukan padaku secepatnya.” Ucap Kenzo yang sepertinya akan menghentikan
pembicaraan mereka pada telepon genggam.
“Terimakasih sekali lagi kuucapkan untuk semua yang kau lakukan pada keluargaku.” Ucap Elena
tulus.
“Kalian hanya perlu bahagia, itu cukup untukku.” Ucap Kenzo.
Setelah panggilan telepon mereka terputus, Elena hanya bisa menghela nafas berat baik
kabar baik yang disampaikan oleh Kenzo maupun apa saja yang telah pria itu
lakukan untuk keluarganya kini membuat Elena berdoa semoga Kenzo bisa
__ADS_1
mendapatkan hal yang lebih baik dari apa yang telah ia lakukan untuk orang lain.