
“Mom…” terdengar suara Rendra yang sepertinya baru saja pulang.
Semua orang yang berada diruangan itu kangsung melihat Rendra berlari menghampiri Elena membawa setangkai bunga yang sangat cantik.
“Ini untuk Mom?” Tanya Elena yang ragu menerima bunga yang berada ditangan Rendra.
“Tentu, happy brithday Mom..” ucap Rendra dengan senyuman yang sangat lebar.
Mendengar hal itu membuat Elena melirik telepon genggamnya yang memang menujukan hari ini merupakan tanggal ia dilahirkan didunia ini, berada ditempat asing membuatnya melupakan hari dan tanggal yang sedang berjalan.
Kehidupannya berjalan begitu cepat ketika ia sudah mempunyai Rendra didalam kehidupannya, entah pertumbuhan Rendra yang terlalu cepat atau semua perhatian Elena tertuju pada Rendra seorang.
“Terimakasih sayang.” Ucap Elena begitu terharu, anaknya yang masih kecil ini begitu perhatian padanya.
“Bos seharusnya kita datang kemari membawa hadiah” ucap Robert pada Hanz yang sudah Elena lupakan keberadaan mereka yang sejak tadi menikmati pemandangan haru antara ibu dan anak.
“Mom mereka siapa?” Ucap Rendra menunjuk orang yang tampak asing baginya.
“Salam kenal aku Hanz dan dia Robert.” Ucap Hanz yang terlihat memperkenalkan dirinya meskipun pada anak kecil tapi ia memperlakukan Rendra layaknya menyapa orang dewasa.
Hanz yang menyodorkan telapak tangan kepada Rendra, membuat Rendra melakukan hal yang sama membuat dua orang itu bersalaman. Keduanya tampak senang ketika melakukannya membuat Elena bersyukur Rendra termasuk anak yang sangat sopan pada siapapun.
“Aku sudah menunggu Paman dari kemarin.” Ucap Rendra riang.
“Aku?” Tanya Hanz dengan rawut yang sangat binggung.
“Bukannya Paman yang terus menurus mendesakku agar kita cepat-cepat bertemu.” Ucap Rendra yang sekarang entah mengapa menjadi kesal akan respon dari pria dewasa didepannya.
__ADS_1
“Tentu saja aku.” Ucap Hanz sambil tertawa melirik Robert tak begitu yakin akan ucapannya dan juga maksud ucapan Rendra padanya.
“Biar aku yang menjelaskan.” Ucap Elena yang mengerti dari kebinggungan pria-pria disekitarnya ini, walaupun ukur Rendra masih enam tahun tapi dengan wawasan dan kepintaran Rendra bukankah ia juga berhak disebut pria juga.
“Bisakah?” tanya Robert yang juga terlihat tersiksa dengan situasinya yang mungkin akan segera diadili karena ketidaktahuannya.
“Rendra sayang, Om Hanz sepertinya salah sangka bahwa orang yang ingin ditemuinya adalah mom.” Ucap Elena menjelaskan kepada Rendra terlebih dahulu.
“Sebentar, maksud perkataanmu kami salah orang?” Ucap Hanz yang sepertinya langsung mengerti apa yang telah terjadi.
Berbeda dengan Robert yang masih membuat wajah yang mengerut-erut memperlihatkan bahwa kepalanya masih berputar-putar untuk mencari tahu apa maksud perkataan Elana pada anaknya.
“Om bukan kah sudah kukatakan namaku Rendra dengan jelas pada email itu.” Ucap Rendra pada laki-laki yang terlihat sangat terkejut begitu menyadari kesalahannya yang mengira nama Rendra adalah sebuah nama samaran.
Sebelum memutuskan untuk menemui Rendra yang sebelumnya sangat ingin dirahasiakan keberadaannya. Membuat Hanz berasumsi sendiri bahwa mungkin nama yang berinisial Rendra adalah seseorang yang sangat tersembunyi bahkan untuk namanya yang kemungkinan adalah nama samaran.
“Bagaimana mungkin aku membuat sebuah karya hebat itu, tahukah kau sekarang setiap anak bercita-cita menjadi pilot karena game yang kau buat.” Ucap Hanz menyakinkan Rendra untuk kembali bersemangat dan juga lebih memercayainya.
“Benarkah itu.” Ucap Rendra yang kini langsung tertarik dengan hasil yang diperoleh karena game ciptaannya.
“Ya, bahkan aku mendapat kabar luar biasa dari penjualan jasa tiket naik pesawat perusahaan tadi pagi.” Jawab Hanz yang sangat bersemangat menceritakan keajaiban game buatan Rendra pada penjualan tiket yang kini langsubg naik dengan drastis.
Hanz sebenarnya adalah seorang CEO dari sebuah perusahaan pesawat. Yang kini jasa penerbangannya paling dinikmati dan menjadi alternatif penerbangan yang akan mereka pakai untuk berpergian kemanapun tujuan mereka.
Hal itu terjadi karena masyarakat luas lebih menuruti anak- ank mereka yang ingin memakai pesawat milik perushaanbha hanya karena anak mereka melihat perusahaan pesawat Hanz adalah pesawat yang menjadi pesawat yang merupakan tokoh utama game buatan Rendra yang sedang mereka mainkan.
“Lalu? Apakah paman sekarang akan mengabulkan permintaanku, seperti janji paman padaku?” Ucap Rendra mengucapkan dengan serius melupakan bahwa ia sedang berbicara dengan orang yang lebih tua dan juga orang yang berkuasa.
__ADS_1
Tiba-tiba Elena menjadi takut, sebernarnya apa yang sudah dilakukan oleh Rendra saat ini. Apakah Elena lagi-lagi berbuat salah karena membiarkan kepintaran Rendra membuatnya berhak melakukan apa saja.
Kini Elena harus menghadapi kemungkinan terburuk karena sudah membiarkan anaknya melakukan segalanya. Apakah jika Rendra kelak jatuh pada hukuman yang buruk, Elena harus membujuk Malviano untuk mengeluarkan mereka dari hal itu?
Apakah nantinya akan ada hari ia bertemu dengan Malviano untuk meminta pertolongannya karena masalah yang diperbuat Rendra tak mampu ia pecahkan sendiri? Dan akankah Malviano menolongnya?
“Apapun yang bisa ku lakukan untuk membalas jasamu karena membiarkan kami menjadi menjadi perusahan jasa penerbangan nomor satu.” Ucap Hanz yang dengan mudahnya mengucapkan janji pada anak kecil yang menurutnya tak akan cukup sulit untuk mengabulkan apapun permintaannya.
“Bos, ku harap anda dengarkan dahulu permintaannya sebelum berjanji untuk mengabulkan hal itu.” Ucap Robert yang sepertinya sangat keberatan denagn ucapan bosnya, terlepas dari umur Rendra.
Bagi Robert, Rendra bukanlah anak biasa. Karena bagaimana mungkin ada seorang anak kecil yang mampu membuat sebuah game. Apalagi game itu cukup sempurna hingga membuat anak-anak lainnya ingin memainkan game tersebut.
Bahkan karena hampir semua anak kini memainkan game tersebut, hingga bahkan perusahaan pesawatpun mendapatkan efek dari kepopuleran game itu. Bukan kah permintaan pembuatnya akan juga luar biasa, hal itu membuat Robert sangat khawatir mendengar permintaan Rendra pada Hanz.
“Sayang..” ucap Elana yang ingin mendengar terlebih dahulu apa yang ada dipikiran Rendra, jika hal itu buruk Elena hanya ingin mengingatkan Rendra bahwa pilihannya mingkin bisa ia pikirkan kembali.
“Mom, Rendra sudah cukup dewasa untuk tahu apa yang baik dan tidak.” Jawab Rendra.
“Tapi.” Elena lagi-lagi harus menghentikan ucapannya karena kini Rendra langsung mendekat diri pada Hanz.
Hanz pun terlihat sedikit mengantipasi apa yang akan dilakukannya. Ia sudah berjanji pda anak kecil didepannya kini yang menurutnya sangat luar biasa, jika saja dulu ia cukup pintar maka perusahaannya mungkin lebih cepat berkembang pesat seperti sekarang.
“Paman harus berjanji harus memenuhi apapun yang kuinginkan.” Ucap Rendra.
“Tentu, mau ingin sebuag kontrak tertulis seperti biasa?” Ucap Hanz yang sebenarnya sudah melalukan kontrak kerja sama pada Rendra tentang pembuatan Game dan banyaknya royalti yang harus dibagi antara perusahaannya dan Rendra sebagai pencipta dari game itu.
“Aku ingin sebuah pesawat pribadi atas nama Elena.” Ucap Rendra.
__ADS_1