
Sudah Elena
duga bukan hanya Liam yang sedang menunggu kepulangan Malviano, tapi ada
seseorang yang juga tentu saja Malviano rindukan sehingga ia nekat berkata
sayang pada Elena. Semua itu mungkin diucapkan oleh Malviano agar ia bisa
membawa Rendra pulang dengan secepatnya.
“Aku
mengerti,” ucap Elena yang sepertinya harus menyerah dengan keputusan, kini ia
harus rela menghadpi hidup dinegara yang akan selalu menggunjingnya karena
statusnya yang akan berganti.
Status
baru yang akan disandangnya nanti adalah seorang janda dari orang ternama, akan
cukup sulit untuk hidup tenang tanpa gunjingan karena masyarakat akan sangat
mengenal sosok Malviano. Dan sebagai ia sebagai seseorang yang dibuang oleh
sosok seterkenal Malviano mungkin akan mendapatkan cemoohan dikarenakan
kebodohannya untuk mempertahankan sebuah ikatan pernikahan.
“Aku
tak yakin,” ucap Malviano yang kini memegang kedua pundak Elena.
“Apakah
kau berbuat seperti ini, karena kau takut padaku?”
“Tentu
saja aku takut, tapi sepertinya kita mempunyai pandangan yang berbeda, bisakah
kau mendengarkan apa yang akan kukatakan tanpa sedikitpun membuat kesimpulan lain
terlebih dahulu?” ucap Malviano yang mengatakan hal itu dengan penuh
permohonan.
Tapi
apakah bisa ia kuat mendengarkan langsung dari mulut Malviano?
“Kenzo,”
ucap Malviano singkat.
Ada
apa dengan Kenzo? mengapa nama itu tiba-tiba terucap dari mulut Malviano? Mungkinkah
ia sudah mengetahui Elena mendapatkan bantuan dari sahabatnya itu?
“Aku
bisa menemuinya lagi jika aku berhasil membawa pulang kalian,” ucap Malviano
kembali karena Elena tak merespon ucapannya.
“Jadi
kau ingin kami pulang untuk membuat Kenzo bangga padamu,” ucap Elena yang entah
berapa kali dalam hari ini hatinya serasa ditusuk ribuan jarum.
“Tentu
saja,” balas Malviano dengan cepat.
“Apakah
kami dimatamu hanya sebatas itu saja?” Batin Elena meraung sedih.
“Aku
bisa menemuinya kembali jika kalian ikut bersamaku, tentu saja Kenzo akan semakin
bahagia jika tahu bahwa aku kini sudah bisa membuka hatiku untuk membuat sebuah
keluarga yang utuh” jelas Malviano.
“Apa
katanya tadi?” batin Elena yang hanya bisa memandang Malviano dengan mata yang
terasa semakin panas.
“Kenzo
dan Liam akan sangat senang mendengar bahwa pernikahanku bisa terselamatkan,”
__ADS_1
ucap Malviano yang kini memandang Elena dengan pandangan yang berbinar-binar.
“Kau
yakin hanya mereka berdua saja yang kau pikirkan jika pulang nanti?”
“Tentu,”
“Wanita
lain mungkin Harsha?”
“Bukankah
dari dulu kau sudah tahu aku tak pernah tertarik berhubungan apalagi dengan
Harsha, hingga ada seorang wanita yang merencanakan membuatku harus bertanggung
jawab karena sudah menghamilinya,”
“Kau
berkata seolah-olah kau memang kau tak pernah tertarik pada seorang wanita,”
“Memang
aku tak pernah tertarik dengan mereka,”
“Kau
sehat?”
“Astaga
jangan bilang kau menuduhku seorang gay,” ucap Malviano yang kini terkekeh
senang sepertinya ia tak tersinggung sedikitpun atas kecurigaan Elena barusan.
“Bukan
salahku, kau sendiri yang mengatakan tak tertarik pada wanita,” ucap Elena yang
tak mau disalahkan atas tuduhannya kepada Malviano.
“Aku
akan menceritakannya padamu nanti,” ucap Malviano yang kembali menutup diri dari
Elena.
“Kau,,”
“Sayang
bahwa akan segera mendapatkan adik jika kita tak juga keluar secepatnya,” goda
Malviano.
Mendengar
ucapan Malviano tentu saja membuat Elena ingat dirumah ini bukan hanya ada ia
dan suaminya ini. Semalam bersama Malviano saja membuat Hanz memberikan
pengaruh buruk bagi anaknya, apalagi sekarang jika ia terus-terusan berdiam
bersama Malviano didalam kamar seperti ini.
“Kau
benar,” ucap Elena yang langsung meninggalkan Malviano tanpa adanya pejelasan
apapun lagi tentang perbincangan mereka tadi.
Elena
langsung pergi kekamar Rendra yang kini terlihat kembali disibukkan kembali
dengan komputernya. Sementara telingganya kini tersambung dengan earphone yang
biasanya tak pernah Elena biarkan benda itu berada ditelinga anaknya.
“Bukan
kah Mom tidak pernah menyetujui kau mengggunakannya,” ucap Elena sambil melepas
earphone pada telingga Rendra.
“Maaf
Mom,” ucap Rendra yang tersentak kaget dan langsung menunduk meminta maaf
karena ia melanggar perintah ibunya.
“Kau
ingin menjelaskan,” tuntut Elena yang merasa aneh anaknya berbuat hal seperti ini,
melawan perintahnya ataupun tidak meminta ijin darinya adalah sesutau yang
__ADS_1
sangat jarang Rendra lakuka dan ELen harus memastikan alasannya sebelum ia memutuskan
untuk menegur lebih lanjut atau bahkan menghukum tindakan anaknya.
Bukannya
Elena tidak mengijinkan Rendra menggunakan benda canggih yang bisa membuatnya
senang, akan tetapi untuk usia Rendra yang masih kecil ia harus membatasi apa
saja yang bisa digunakannya dan tentu batasan berapa lama ia menggunkan benda itu
ditiap harinya.
Sebagai
seorang ibu ia harus tegas walaupun anaknya memang terlahir jenius bahkan
melewati kecerdasan orang dewasa, akan tetapi jika Anaya terlalu sering
menggunakan teknologi secara berlebih bukankah hal itu akan berdampak negatif
bagi anaknya?
“Tadi
Om Hanz pamit pergi keluar sebentar katanya ada urusan yang harus ia selesaikan,
lalu kata Om hanz Rendra harus menggunakan alat itu jika Mom dan Dad tidak
keluar juga dari dalam kamar kamar,” jelas Rendra .
“Lalu?”
pancing Elena yang ingin Rendra mengatakan apa saja yang Hanz katakana pada
anaknya.
“Kata
Om hanz kalau tidak memakainya nanti Rendra akan mendengar suara yang sangat ditakuti
oleh anak-anak, kata Om Hanz kalau Rendra mengetuk ruangan Dad mungkin nanti
Dad akan memarahi Rendra karena Rendra sudah mengganggunya,” jelas Rendra yang
mengatakan semua yang dikatakan Hanz padanya tanpa ada satu katapun yang
terlewat.
“Apa
Hanz sudah lama pergi?” tanya Elena yang kini menahan rasa kesal dan malu
mendengar ucapan Rendra.
“Sudah
tiga puluh menit,” jawab Rendra sambil menunjukkan pada Elena sebuah jam dinding
yang berada dikamarnya yang kini sudah menunjukkan waktu pukul satu siang.
“Apa
Rendra sudah lapar?” sepertinya Elena sudah terlalu lama berbincang dengan Malviano
dikamarnya sehingga kini sudah waktunya jam makan siang.
“Mom
bolehkah kali ini kita makan diluar?” tanya Rendra sambil memegang perut kecilnya.
Haruskah
kini mereka makan diluar, sepertinya Rendra sudah kelaparan dan jika pun Elena
memasak sekarang bahan yang tersedia didapurpun tidak cukup karena tadi pagi
sepertinya Malviano membuang sebagian bahan untuk makanan mereka selama satu minggu
kedepan.
“Rendra
panggil Dad untuk bersiap pergi,” ucap Elena yang menyutujui bahwa mereka akan
makan svang diluar dan juga mereka harus berbelanja bahan makanan untuk mengisi
lemari es mereka.
“Siap
Mom, Rendra akan meminta Dad untuk membawa kita kerestoran siap saji,” ucap
Rendra yang langsung berlari kemar Malviano.
“Makan
diluar sepertinya bukan ide yang buruk,” gumam Elena sambil berjalan kekamarnya
__ADS_1
untuk berganti pakaian, rasanya entah mengapa iapun bersemangat untuk pergi makan
siang dikeluar hari ini.