Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 50


__ADS_3

Sudah Elena


duga bukan hanya Liam yang sedang menunggu kepulangan Malviano, tapi ada


seseorang yang juga tentu saja Malviano rindukan sehingga ia nekat berkata


sayang pada Elena. Semua itu mungkin diucapkan oleh Malviano agar ia bisa


membawa Rendra pulang dengan secepatnya.


          “Aku


mengerti,” ucap Elena yang sepertinya harus menyerah dengan keputusan, kini ia


harus rela menghadpi hidup dinegara yang akan selalu menggunjingnya karena


statusnya yang akan berganti.


          Status


baru yang akan disandangnya nanti adalah seorang janda dari orang ternama, akan


cukup sulit untuk hidup tenang tanpa gunjingan karena masyarakat akan sangat


mengenal sosok Malviano. Dan sebagai ia sebagai seseorang yang dibuang oleh


sosok seterkenal Malviano mungkin akan mendapatkan cemoohan dikarenakan


kebodohannya untuk mempertahankan sebuah ikatan pernikahan.


          “Aku


tak yakin,” ucap Malviano yang kini memegang kedua pundak Elena.


          “Apakah


kau berbuat seperti ini, karena kau takut padaku?”


          “Tentu


saja aku takut, tapi sepertinya kita mempunyai pandangan yang berbeda, bisakah


kau mendengarkan apa yang akan kukatakan tanpa sedikitpun membuat kesimpulan lain


terlebih dahulu?” ucap Malviano yang mengatakan hal itu dengan penuh


permohonan.


          Tapi


apakah bisa ia kuat mendengarkan langsung dari mulut Malviano?


          “Kenzo,”


ucap Malviano singkat.


          Ada


apa dengan Kenzo? mengapa nama itu tiba-tiba terucap dari mulut Malviano? Mungkinkah


ia sudah mengetahui Elena mendapatkan bantuan dari sahabatnya itu?


          “Aku


bisa menemuinya lagi jika aku berhasil membawa pulang kalian,” ucap Malviano


kembali karena Elena tak merespon ucapannya.


          “Jadi


kau ingin kami pulang untuk membuat Kenzo bangga padamu,” ucap Elena yang entah


berapa kali dalam hari ini hatinya serasa ditusuk ribuan jarum.


          “Tentu


saja,” balas Malviano dengan cepat.


          “Apakah


kami dimatamu hanya sebatas itu saja?” Batin Elena meraung sedih.


          “Aku


bisa menemuinya kembali jika kalian ikut bersamaku, tentu saja Kenzo akan semakin


bahagia jika tahu bahwa aku kini sudah bisa membuka hatiku untuk membuat sebuah


keluarga yang utuh” jelas Malviano.


          “Apa


katanya tadi?” batin Elena yang hanya bisa memandang Malviano dengan mata yang


terasa semakin panas.


          “Kenzo


dan Liam akan sangat senang mendengar bahwa pernikahanku bisa terselamatkan,”

__ADS_1


ucap Malviano yang kini memandang Elena dengan pandangan yang berbinar-binar.


          “Kau


yakin hanya mereka berdua saja yang kau pikirkan jika pulang nanti?”


          “Tentu,”


          “Wanita


lain mungkin Harsha?”


          “Bukankah


dari dulu kau sudah tahu aku tak pernah tertarik berhubungan apalagi dengan


Harsha, hingga ada seorang wanita yang merencanakan membuatku harus bertanggung


jawab karena sudah menghamilinya,”


          “Kau


berkata seolah-olah kau memang kau tak pernah tertarik pada seorang wanita,”


          “Memang


aku tak pernah tertarik dengan mereka,”


          “Kau


sehat?”


          “Astaga


jangan bilang kau menuduhku seorang gay,” ucap Malviano yang kini terkekeh


senang sepertinya ia tak tersinggung sedikitpun atas kecurigaan Elena barusan.


          “Bukan


salahku, kau sendiri yang mengatakan tak tertarik pada wanita,” ucap Elena yang


tak mau disalahkan atas tuduhannya kepada Malviano.


          “Aku


akan menceritakannya padamu nanti,” ucap Malviano yang kembali menutup diri dari


Elena.


          “Kau,,”


          “Sayang


bahwa akan segera mendapatkan adik jika kita tak juga keluar secepatnya,” goda


Malviano.


          Mendengar


ucapan Malviano tentu saja membuat Elena ingat dirumah ini bukan hanya ada ia


dan suaminya ini. Semalam bersama Malviano saja membuat Hanz memberikan


pengaruh buruk bagi anaknya, apalagi sekarang jika ia terus-terusan berdiam


bersama Malviano didalam kamar seperti ini.


          “Kau


benar,” ucap Elena yang langsung meninggalkan Malviano tanpa adanya pejelasan


apapun lagi tentang perbincangan mereka tadi.


          Elena


langsung pergi kekamar Rendra yang kini terlihat kembali disibukkan kembali


dengan komputernya. Sementara telingganya kini tersambung dengan earphone yang


biasanya tak pernah Elena biarkan benda itu berada ditelinga anaknya.


          “Bukan


kah Mom tidak pernah menyetujui kau mengggunakannya,” ucap Elena sambil melepas


earphone pada telingga Rendra.


          “Maaf


Mom,” ucap Rendra yang tersentak kaget dan langsung menunduk meminta maaf


karena ia melanggar perintah ibunya.


          “Kau


ingin menjelaskan,” tuntut Elena yang merasa aneh anaknya berbuat hal seperti ini,


melawan perintahnya ataupun tidak meminta ijin darinya adalah sesutau yang

__ADS_1


sangat jarang Rendra lakuka dan ELen harus memastikan alasannya sebelum ia memutuskan


untuk menegur lebih lanjut atau bahkan menghukum tindakan anaknya.


          Bukannya


Elena tidak mengijinkan Rendra menggunakan benda canggih yang bisa membuatnya


senang, akan tetapi untuk usia Rendra yang masih kecil ia harus membatasi apa


saja yang bisa digunakannya dan tentu batasan berapa lama ia menggunkan benda itu


ditiap harinya.


          Sebagai


seorang ibu ia harus tegas walaupun anaknya memang terlahir jenius bahkan


melewati kecerdasan orang dewasa, akan tetapi jika Anaya terlalu sering


menggunakan teknologi secara berlebih bukankah hal itu akan berdampak negatif


bagi anaknya?


          “Tadi


Om Hanz pamit pergi keluar sebentar katanya ada urusan yang harus ia selesaikan,


lalu kata Om hanz Rendra harus menggunakan alat itu jika Mom dan Dad tidak


keluar juga dari dalam kamar kamar,” jelas Rendra .


          “Lalu?”


pancing Elena yang ingin Rendra mengatakan apa saja yang Hanz katakana pada


anaknya.


          “Kata


Om hanz kalau tidak memakainya nanti Rendra akan mendengar suara yang sangat ditakuti


oleh anak-anak, kata Om Hanz kalau Rendra mengetuk ruangan Dad mungkin nanti


Dad akan memarahi Rendra karena Rendra sudah mengganggunya,” jelas Rendra yang


mengatakan semua yang dikatakan Hanz padanya tanpa ada satu katapun yang


terlewat.


          “Apa


Hanz sudah lama pergi?” tanya Elena yang kini menahan rasa kesal dan malu


mendengar ucapan Rendra.


          “Sudah


tiga puluh menit,” jawab Rendra sambil menunjukkan pada Elena sebuah jam dinding


yang berada dikamarnya yang kini sudah menunjukkan waktu pukul satu siang.


          “Apa


Rendra sudah lapar?” sepertinya Elena sudah terlalu lama berbincang dengan Malviano


dikamarnya sehingga kini sudah waktunya jam makan siang.


          “Mom


bolehkah kali ini kita makan diluar?” tanya Rendra sambil memegang perut kecilnya.


          Haruskah


kini mereka makan diluar, sepertinya Rendra sudah kelaparan dan jika pun Elena


memasak sekarang bahan yang tersedia didapurpun tidak cukup karena tadi pagi


sepertinya Malviano membuang sebagian bahan untuk makanan mereka selama satu minggu


kedepan.


          “Rendra


panggil Dad untuk bersiap pergi,” ucap Elena yang menyutujui bahwa mereka akan


makan svang diluar dan juga mereka harus berbelanja bahan makanan untuk mengisi


lemari es mereka.


          “Siap


Mom, Rendra akan meminta Dad untuk membawa kita kerestoran siap saji,” ucap


Rendra yang langsung berlari kemar Malviano.


          “Makan


diluar sepertinya bukan ide yang buruk,” gumam Elena sambil berjalan kekamarnya

__ADS_1


untuk berganti pakaian, rasanya entah mengapa iapun bersemangat untuk pergi makan


siang dikeluar hari ini.


__ADS_2