
Berbicara memang mudah, tapi dengan keuangan yang dimiliki Elena tak mungkin bagi mereka bisa menghilang begitu saja dikehidupan Maliano yang terlalu mempunyai kekuasaan dalam
menemukan dimana mereka berada. Meskipun kenyataan perusahaan mereka mengalami
penurunan tapi tak akan sulit menemukan ia dan juga Rendra jika hanya mencari
kerumah lama Elena.
“Sayang..” Elena mencoba membicarakan apa yang akan mereka hadapi jika mereka tetap akan
pergi menjauh dari kehidupan Malviano saat ini.
“Mom juga tak ingin bersamaku?” tanya Rendra yang mengatakan dengan rawut wajah
penuh kesedihan.
“Kau berbicara apa sayang..” jawab Elena tak terima perkataan bocah kecil
kesayangannya itu.
“Kalau begitu kita harus segera pergi.” Ucap Rendra singkat.
“Sayang, Dad mungkin hanya salah mengirimkan foto yang sudah lama?” ucap Elena mencoba
membuat alasan yang mungkin diterima Rendra.
“Ayolah Mom, kalau memang benar salah mengapa harus foto yang seperti itu.” Bantah
Rendra yang langsung membuat Elena terdiam karena ucapan Rendra yang lebih
masuk akal daripada apa yang baru saja ia ucapkan.
“Sayang..” ucap Elena mencoba memutar kepalanya agar kemarahan Rendra pada ayahnya tak
perlu sampai untuk pergi jauh dari kehidupan pria itu.
“Kita harus pergi sejauh mungkin Mom.” Ucap Rendra yang sepertinya tak mungkin bisa diganggu
guat lagi apalagi untuk saat ini.
“Memangnya kalian akan kemana?” ucap seorang pria yang tiba-tiba saja masuk menggagetkan
Elena yang sangat pusing dengan apa seharusnya bisa ia katakana, sementara disisi
lain Rendra terkejut melihat sosok pria asing seumuran ayahnya berada ditempat ini.
“Om siapa?” tanya Rendra yang memang belum pernah bertemu langsung dengan Kenzo.
“Ayahmu.” Jawab Kenzo ringan, sepertinya pria itu ingin menjahili Rendra.
“Tidak mungkin.” Ucap Rendra yang tak mungkin bisa dibohongi hanya dengan sebuah
ucapan saja, karena ketika dia berada dirumah sakit untuk mencocokan DNA dengan
Malviano, iapun langsung bertanya pada dokter yang menyuntik dirinya untuk
memberikannya hasil dan penjelasan akan hasil yang diperolehnya.
“Tentu saja tidak mungkin, Om bahkan belum pernah Kawin ataupun menikah.” Jawab Kenzo sambil
tertawa senang setelah menyelesaikan ucapannya sambil memasuki ruangan dan
langsung duduk disofa yang berada disamping ranjang Rendra.
Kamar inap Rendra memang termasuk jenis kamar VIP, dengan keuangan yang diberikan
Malviano setiap harinya pada Elena membuat keuangannya memang cukup banyak
__ADS_1
hanya agar ia bisa memberikan hal yang layak pada anaknya. Ia ingin Rendra
istirahat tanpa takut melihat jarum suntik yang diberikan dokter pada pasien
lainnya.
Jadi ia memilih kamar VIP sebagai alternative pilihan terbaik untuk kesembuhan
Rendra, meskipun Rendra hanya berada disini karena dokter masih ingin melihat
hasil test lebih lanjut akan penyakit yang mungkin diderita Rendra yang kemarin
tiba-tiba jatuh sakit.
“Mom siapa Om gila ini?.” Ucap Rendra berbisik tapi dengan seuara yang masih
terdengar keras.
“Siapa yang kau sebut Om gila?” tanya Kenzo yang tentu saja mendengar apa yang dikatakan
Rendra.
“Tentu saja Om, tidak ada orang lain diruangan ini selain Om.” Ucap Rendra.
“Dasar Keponakan kurang ajar, tidak baik mengatakan sesuatu yang jelek.” Ucap Kenzo.
“Rendra hanya bicara hal yang sebenarnya, Om tiba-tiba datang-datang mengakui ayah
Rendra lalu langsung tertawa seperti orang gila.” Jelas Rendra.
“Sayang kenalkan dia Om Kenzo sahabat ayahmu, dia jugalah yang selalu menjaga kita
selama ini.” Jelas Elena yang tak ingin membuat Rendra semakin salah paham
dengan Kenzo.
“Untuk apa Om kesini?.” Tanya Rendra yang semakin ketus mendengar kenzo adalah sahabat
dari ayahnya yang menurutnya telah menelantarkannya demi seorang wanita selain ibunya.
“Om mendengar kalian ingin pergi menjauh dari pria bodoh itu.” Ucap KEnzo yang kini
menunjukkan wajah yang sangat serius jauh berbeda ketika ia pertama kali datang
keruangan ini.
“Om akan mencegah kami?” tanya balik Rendra.
“Jika kau katakana alasannya, Om akan pertimbangkan untuk membantu kalian untuk
menjauh sejauh mungkin jika perlu.” Ucap Kenzo.
Rendrapun langung menjelaskan apa yang dilakukan ayahnya dan juga bukti foto yang dikirimkan
padanya. Disampingnya Elena hanya bisa menambahkan apa yang ia tahu tanpa
membuat Rendra semakin membenci ayahnya, sementara Kenzo mendengarkan apa yang
dikatakan Rendra dengan seksama.
“Sungguh keterlaluan.” Ucap Kenzo begitu marah setelah mendengar penjelasan Rendra.
“Om juga berpendapat begitukan.” Ucap Rendra yang kini mulai menyukai Kenzo yang
terlihat sangat begitu memahami apa yang dikatakan Rendra.
“Kalian akan mendapat tiket pesawat keberangkatan pagi keSingapura, Om akan siapkan
__ADS_1
segala sesuatu yang nantinya akan kalian perlukan.” Ucap Kenzo yang kini pergi
untuk mengurus apa yang dikatakannya tadi.
kepergian Rendra dan Elena langsung terlaksana pagi harinya, mengunkan pesawat yang
beroperasi pagi langsung menuju kota Singapura. Semua itu bisa terjadi karena
campur tangan Kenzo langsung menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan oleh
Rendra dan Elena menuju dan juga kebutuhan mereka nanti diSingapura.
Kini baik Elena dan Rendra langsung beristirahat dikamar yang memang tersedia untuk
mereka, rumah yang dipilihkan oleh Kenzo termasuk rumah yang besar. Rumah ini
sepertinya dua atau tiga kali lipat dari rumah Elena yang dulu. Kamar yang ditempati
Elenapun berukuran setelah dari rumahnya.
Rendra yang keadaannya masih sakit apalagi setelah memaksakan menempuh perjalanan yang
cukup melelahkan kini yang bisa dilakukannya adalah berbaring dikasur Elena.
Mereka memutuskan untuk tetap berada dalam satu tempat tidur selama mereka
berada dinegara asing ini.
“Mom..” ucap Rendra.
“Ya sayang?” ucap Elena yang masih disibukkan membereskan barang-barang mereka.
“Apakah Dad sudah tahu kita pergi?” ucap Rendra sendu.
Mendengar itu Elena yang kini sedang menata pakaian mereka langsung menghentikan kegitanya.
Dan kini ia menghampiri Rendra untuk memeluk putranya yang terlihat sangat sedih
memutuskan untuk pergi dari orang yang disayanginya, dan terlihat ia menyesal
memutuskan untuk pergi dari ayahnya itu.
“Haruskah kita pulang kembali?” tanya Elena yang kini mengusap rambut Rendra yang sepertinya
mulai memanjang.
“Jika kita pulang apakah Dad akan menyambut kita?”
“Mom tidak tahu sayang.” Hanya itu yang bisa Elena katakana.
“Kalau begitu kita akan tetap berada disini, sampai Dad sendiri yang menemukan kita jika
memang benar Dad membutuhkan keberadaan kita.” Ucap Rendra sambil menangis dan
masuk kepelukaan Elena.
Seharian itu baik Rendra maupun Elena hanya bisa menangis dan jatuh tertidur karena
kelelahan akibat terlalu lama menangis dan juga karena menempuh perjalanan yang
cukup panjang. Mereka tertidur tanpa memikirkan apa yang akan mereka lakukan
sekarang dikota baru, haruskah mereka benar-benar hidup hanya berdua saja
seperti sebelumnya. Biarlah pertanyaan itu akan mereka pikirkan kembali ketika
mereka membuka mata mereka besok pagi.
__ADS_1