Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 18 Kepergian...


__ADS_3

Berbicara memang mudah, tapi dengan keuangan yang dimiliki Elena tak mungkin bagi mereka bisa menghilang begitu saja dikehidupan Maliano yang terlalu mempunyai kekuasaan dalam


menemukan dimana mereka berada. Meskipun kenyataan perusahaan mereka mengalami


penurunan tapi tak akan sulit menemukan ia dan juga Rendra jika hanya mencari


kerumah lama Elena.


“Sayang..” Elena mencoba membicarakan apa yang akan mereka hadapi jika mereka tetap akan


pergi menjauh dari kehidupan Malviano saat ini.


“Mom juga tak ingin bersamaku?” tanya Rendra yang mengatakan dengan rawut wajah


penuh kesedihan.


“Kau berbicara apa sayang..” jawab Elena tak terima perkataan bocah kecil


kesayangannya itu.


“Kalau begitu kita harus segera pergi.” Ucap Rendra singkat.


“Sayang, Dad mungkin hanya salah mengirimkan foto yang sudah lama?” ucap Elena mencoba


membuat alasan yang mungkin diterima Rendra.


“Ayolah Mom, kalau memang benar salah mengapa harus foto yang seperti itu.” Bantah


Rendra yang langsung membuat Elena terdiam karena ucapan Rendra yang lebih


masuk akal daripada apa yang baru saja ia ucapkan.


“Sayang..” ucap Elena mencoba memutar kepalanya agar kemarahan Rendra pada ayahnya tak


perlu sampai untuk pergi jauh dari kehidupan pria itu.


“Kita harus pergi sejauh mungkin Mom.” Ucap Rendra yang sepertinya tak mungkin bisa diganggu


guat lagi apalagi untuk saat ini.


“Memangnya kalian akan kemana?” ucap seorang pria yang tiba-tiba saja masuk menggagetkan


Elena yang sangat pusing dengan apa seharusnya bisa ia katakana, sementara disisi


lain Rendra terkejut melihat sosok pria asing seumuran ayahnya berada ditempat ini.


“Om siapa?” tanya Rendra yang memang belum pernah bertemu langsung dengan Kenzo.


“Ayahmu.” Jawab Kenzo ringan, sepertinya pria itu ingin menjahili Rendra.


“Tidak mungkin.” Ucap Rendra yang tak mungkin bisa dibohongi hanya dengan sebuah


ucapan saja, karena ketika dia berada dirumah sakit untuk mencocokan DNA dengan


Malviano, iapun langsung bertanya pada dokter yang menyuntik dirinya untuk


memberikannya hasil dan penjelasan akan hasil yang diperolehnya.


“Tentu saja tidak mungkin, Om bahkan belum pernah Kawin ataupun menikah.” Jawab Kenzo sambil


tertawa senang setelah menyelesaikan ucapannya sambil memasuki ruangan dan


langsung duduk disofa yang berada disamping ranjang Rendra.


Kamar inap Rendra memang termasuk jenis kamar VIP, dengan keuangan yang diberikan


Malviano setiap harinya pada Elena membuat keuangannya memang cukup banyak

__ADS_1


hanya agar ia bisa memberikan hal yang layak pada anaknya. Ia ingin Rendra


istirahat tanpa takut melihat jarum suntik yang diberikan dokter pada pasien


lainnya.


Jadi ia memilih kamar VIP sebagai alternative pilihan terbaik untuk kesembuhan


Rendra, meskipun Rendra hanya berada disini karena dokter masih ingin melihat


hasil test lebih lanjut akan penyakit yang mungkin diderita Rendra yang kemarin


tiba-tiba jatuh sakit.


“Mom siapa Om gila ini?.” Ucap Rendra berbisik tapi dengan seuara yang masih


terdengar keras.


“Siapa yang kau sebut Om gila?” tanya Kenzo yang tentu saja mendengar apa yang dikatakan


Rendra.


“Tentu saja Om, tidak ada orang lain diruangan ini selain Om.” Ucap Rendra.


“Dasar Keponakan kurang ajar, tidak baik mengatakan sesuatu yang jelek.” Ucap Kenzo.


“Rendra hanya bicara hal yang sebenarnya, Om tiba-tiba datang-datang mengakui ayah


Rendra lalu langsung tertawa seperti orang gila.” Jelas Rendra.


“Sayang kenalkan dia Om Kenzo sahabat ayahmu, dia jugalah yang selalu menjaga kita


selama ini.” Jelas Elena yang tak ingin membuat Rendra semakin salah paham


dengan Kenzo.


“Untuk apa Om kesini?.” Tanya Rendra yang semakin ketus mendengar kenzo adalah sahabat


dari ayahnya yang menurutnya telah menelantarkannya demi seorang wanita selain ibunya.


“Om mendengar kalian ingin pergi menjauh dari pria bodoh itu.” Ucap KEnzo yang kini


menunjukkan wajah yang sangat serius jauh berbeda ketika ia pertama kali datang


keruangan ini.


“Om akan mencegah kami?” tanya balik Rendra.


“Jika kau katakana alasannya, Om akan pertimbangkan untuk membantu kalian untuk


menjauh sejauh mungkin jika perlu.” Ucap Kenzo.


Rendrapun langung menjelaskan apa yang dilakukan ayahnya dan juga bukti foto yang dikirimkan


padanya. Disampingnya Elena hanya bisa menambahkan apa yang ia tahu tanpa


membuat Rendra semakin membenci ayahnya, sementara Kenzo mendengarkan apa yang


dikatakan Rendra dengan seksama.


“Sungguh keterlaluan.” Ucap Kenzo begitu marah setelah mendengar penjelasan Rendra.


“Om juga berpendapat begitukan.” Ucap Rendra yang kini mulai menyukai Kenzo yang


terlihat sangat begitu memahami apa yang dikatakan Rendra.


“Kalian akan mendapat tiket pesawat keberangkatan pagi keSingapura, Om akan siapkan

__ADS_1


segala sesuatu yang nantinya akan kalian perlukan.” Ucap Kenzo yang kini pergi


untuk mengurus apa yang dikatakannya tadi.


kepergian Rendra dan Elena langsung terlaksana pagi harinya, mengunkan pesawat yang


beroperasi pagi langsung menuju kota Singapura. Semua itu bisa terjadi karena


campur tangan Kenzo langsung menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan oleh


Rendra dan Elena menuju dan juga kebutuhan mereka nanti diSingapura.


Kini baik Elena dan Rendra langsung beristirahat dikamar yang memang tersedia untuk


mereka, rumah yang dipilihkan oleh Kenzo termasuk rumah yang besar. Rumah ini


sepertinya dua atau tiga kali lipat dari rumah Elena yang dulu. Kamar yang ditempati


Elenapun berukuran setelah dari rumahnya.


Rendra yang keadaannya masih sakit apalagi setelah memaksakan menempuh perjalanan yang


cukup melelahkan kini yang bisa dilakukannya adalah berbaring dikasur Elena.


Mereka memutuskan untuk tetap berada dalam satu tempat tidur selama mereka


berada dinegara asing ini.


“Mom..” ucap Rendra.


“Ya sayang?” ucap Elena yang masih disibukkan membereskan barang-barang mereka.


“Apakah Dad sudah tahu kita pergi?” ucap Rendra sendu.


Mendengar itu Elena yang kini sedang menata pakaian mereka langsung menghentikan kegitanya.


Dan kini ia menghampiri Rendra untuk memeluk putranya yang terlihat sangat sedih


memutuskan untuk pergi dari orang yang disayanginya, dan terlihat ia menyesal


memutuskan untuk pergi dari ayahnya itu.


“Haruskah kita pulang kembali?” tanya Elena yang kini mengusap rambut Rendra yang sepertinya


mulai memanjang.


“Jika kita pulang apakah Dad akan menyambut kita?”


“Mom tidak tahu sayang.” Hanya itu yang bisa Elena katakana.


“Kalau begitu kita akan tetap berada disini, sampai Dad sendiri yang menemukan kita jika


memang benar Dad membutuhkan keberadaan kita.” Ucap Rendra sambil menangis dan


masuk kepelukaan Elena.


Seharian itu baik Rendra maupun Elena hanya bisa menangis dan jatuh tertidur karena


kelelahan akibat terlalu lama menangis dan juga karena menempuh perjalanan yang


cukup panjang. Mereka tertidur tanpa memikirkan apa yang akan mereka lakukan


sekarang dikota baru, haruskah mereka benar-benar hidup hanya berdua saja


seperti sebelumnya. Biarlah pertanyaan itu akan mereka pikirkan kembali ketika


mereka membuka mata mereka besok pagi.

__ADS_1


__ADS_2