Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 54


__ADS_3

“Kau bercanda bertanya tentang hal itu?”


Elena berkata didalam hati bahwa tak ada yang salah dengan pertanyaannya, ia merasa telah benarkan? Atau haruskah ia memang tidak menanyakan hal itu, karena malviano benar-benar tidak mengijinkan kembali ia tidur dikamarnya yang dahulu ditempatinya?


"Sayang, kau benar-benar bercandakan menyakatan dimana kau akan tidur?” tanya Malviano yang kini bertanya dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya, karena Elena terdiam cukup lama.


Mendengar itu sontak Elena menatap Malviano dengan aneh mengapa suaminya ini tiba-tiba berbicara lembut kembali?


“Sepertinya kau lebih suka tidur sendirian daripada menemani suamimu ini,” ucap Malviano yang terlihat seperti Rendra yang sedang merajuk karena Elena tidak mengabulkannya membeli sebuah coklat kesukaannya.


“Maksudmu?”


“Sayang sebenarnya aku sudah memindahkan barang-barangmu kekamar kita,” ucap Malviano yang mengatakan hal itu masih dengan pandangan kebawah seolah-olah kini lantai lebih menarik untuk dilihatnya


“Barang-barang?” ucap Elena yang tak tahu mengapa ia kini lebih lambat dalam mencerna apa yang akan dikatakan oleh suaminya ini.


Walaupun dalam hati ia ingin memikirkan dua kemungkinan yang bertolak belakang dalam mengubah masa depannya. Karena kemungkinan yang ia tebak untuk ucapan apa yang dimaksud oleh Malviano sangat jauh berbeda.


Kemungkinan pertama yang berkeliaran dikepalanya adalah ia terlalu menghayati perkataan Malviano yang romantis kepadanya, akan tetapi kenyataan pria itu melakukan hal itu agar ia tak membawa anaknya pergi menjauh darinya lagi.


Kemungkinan yang kedua adalah Malviano kali ini benar-benar serius akan perkataannya tempo hari, bahwa kali ini ia ingin berumah tangga bersama Elena dengan cara yang benar untuk selamanya.


Memikirkan kemungkinan keduanya membuatnya kini panas dingin, menunggu apa yang akan dikatakan Malviano selanjutnya. Bolehkah kali ini Elena berharap pada pemikirannya yang kedua?

__ADS_1


“Ayolah sayang, bukankah Rendra sudah cukup besar untuk mempunyai seorang adik?”


“Apa!”


“Pasti Rendra akan senang mempunyai duplikat dirinya dalam versi yang lebih kecil darinya,”


Mendengar itu Elena sontak melihat Rendra yang untungnya masih tertidur, tentu saja ia tak ingin anaknya mendengar perkataan ayahnya tentang sesuatu yang mungkin akan ditagihnya setiap saat karena mengetahui bahwa dirinya bisa mendapatkan seorang adik yang sama seperti dirinya.


Elenapun langsung menarik Malviano keluar dari kamar anak mereka untuk kembali membicarakan tentang kelanjutan masa depan mereka. Ketika ia berhasil menyeret Malviano jauh dari kamar Rendra kini ia siap untuk mendebatkan tentang masa depannya.


“Kau benar-benar, bagaimana jika tadi Rendra mendengar,” tuntut Elena marah pada Malviano yang kini menghempaskan kasar tangan suaminya yang tadi ia genggam.


“Bukanlah itu bagus, dengan begitu aku mempunyai dukungan lain agar kau secepatnya mengabulkan permintaanku,” ucap Malviano yang kini terlihat semakin berani membuat Elena menjadi tersipu malu.


“Vian ... kau bahkan belum menjawab pertanyaanku waktu itu,” cicit Elena yang kini menatap lantai karena ia sangat malu untuk menjawab secara langsung menatap suaminya yang terlihat mengebu-gebu menggoda dirinya.


“Aku memberimu pilihan untuk melepaskanku, kali ini aku janji Rendra akan mengerti bahwa aku dan kau tak bisa bersama karena kau memilih untuk bersama yang lain ....”


“Hentikan!” ucap Malviano yang langsung memotong apa yang ingin dikatakan oleh Elena, karena ia kini semakin mengerti bahwa istrinya ini masih salah paham dengan apa yang ia lakukan saat ini.


Sementara Elena hanya bisa memberanikan dirinya sendiri, untuk apapun kemungkinan yang dihadapinya. Kini ia sudah berada dineragaranya sendiri, jadi jikapun Malviano akan melepaskannya saat ini.


Ia yakin dapat bertahan dirumahnya yang lama, karena kini ia berjanji pada dirinya sendiri. Bahkan Rendra tak akan dapat memaksanya kali ini untuk membuat Malviano kehilangan anaknya lagi.

__ADS_1


Sudah cukup beberapa waktu yang dulu, mereka menjauhi Malviano sendirian yang berakibat pria itu nekat mencari bahkan menyusul mereka. Karena sepertinya pria dihadapannya kini benar-benar menyayangi anak mereka hingga tak rela dipisahkan begitu saja.


“Tidak! Aku ingin masalah ini benar-benar jelas, kau tidak perlu berpura-pura kalau kau mencintaiku hanya untuk membuat Rendra tetap bersamamu ...”


Kali ini ucapan Elena harus terhenti karena tindakan Malviano yang tiba-tiba saja membuatnya tak bisa melanjutkan ucapan apapun. Karena pria itu kini menghentikan ucapannya mengunakan mulutnya lansung.


“Apakah ini bisa menjadi sebuah bukti?” ucap Malviano setelah ia melepakan Elena dalam sebuah jarak yang sangat dekat, sehingga kejadian beberapa detik yang lalu bisa saja ia ulang kembali agar Elena semakin yakin dengan apa yang dimaksud oleh perkataannya kali ini.


“Tadi itu ....”


“Sebuah tanda bahwa aku kali ini benar-benar serius, aku akan belajar melakukan apapun yang harus dilakukan oleh seorang suami pada istrinya,” ucap Malviano yang tak membiarkan Elena untuk mundur dari dekapannya kini.


“Kau ....”


“Atau haruskah kita lakukan proses membuat adik Rendra malam ini juga, agar kau benar-benar yakin bahwa kali ini aku sangat menyangangimu ....”


“Benarkah?” tanya Elena yang sontak merasa ragu bahwa suaminya ini bisa berkata seperti itu pada orang lain.


“Sudahku katakan sebelumnya sayang, kepergian kalian bebar-benar membuatku gila. Aku tak akan sanggup lagi menghadapi hal yang sama untuk kedua kalinya, itu juga berlaku padamu yang menghilang dari pandanganku. Kenzo bilang itu adalah rasa sayang atau bahkan cinta meskipun aku belum sangat memahami kedua istilah itu ... tapi meskipun begitu aku benar-benar merasakan kedua hal itu saat ini,” jelas Malviano panjang lebar.


“Astaga ....” hanya kata itu yang bisa Elena ucapkan akibat rasa kaget mendengar perkataan suaminya yang sangat membuatnya merasa berada dialam mimpi, akan tetapi kedua tangan Malviano yang kini memeluknya sangat erat hingga menimbulkan sedikit rasa sakit. Membuatnya yakin bahwa semua perkataan pria itu beberapa saat yang lalu adalah benar-bebar sedang terjadi saat ini.


“Aku tak ingin kau berpikir untuk menjauh dariku, walaupun kau tidak merasakan hal yang sama. Aku yakin aku mampu membuatmu merasakan hal yang sama secepatnya,” ucap Malviano yang kini mendekatkan kepala Elena pada dadanya, karena perbedaan tinggi badan mereka.

__ADS_1


Sementa yang berada dibenak Elena adalah hal lain seperti ia merasa dada suaminya sangat kokoh dan sangat nyaman untuk berada didalam dekapannya, Elena yakin Malviano pasti sangat rajin menjaga tubuhnya agar memiliki otot-otot perut yang tak sengaja ia sentuh saat ini.


Wajah Elena berubah menjadi merah yang untung saja tak akan diketahui oleh Malviano yang tak membiarkan Elena untuk melepaskan pelukan eratnya. Yang membuat Elena beruntung karena suaminya ini tak akan mengetahui bahwa beberapa detik sebelumnya ia mempunyai pikiran yang kotor hanya karena ia tak sengaja memenggang otot perut akibat pelukan mereka saat ini.


__ADS_2