Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 33


__ADS_3

“Tentu saja, ia adalah anakku


jika kau lupa.” Ucap Elena sambil mengangkat bahunya menutupi kalau sebenarnya


ia sangat gugup karena perlakukan Malviano padanya.


Setelah mengatakan hal itu Elena tak


tahu lagi bagaimana cara yang tepat agar Malviano melepaskan tanggannya tanpa


menyinggung pria itu. Elena sangat resah karena jika terlalu lama, ia mungkin


akan semakin berdebar lebih dari seharusnya, ia sebenarnya ingin terus seperti ini


jika saja Malviano sudah memperjelas masa depan mereka.


“Elena aku, tidak maksudku.. aku


sudah memutuskannya.” Ucap Malviano yang terdengar begitu terburu-buru ingin


menyampaikan sesuatu pada Elena.


“Tenanglah, aku tak akan


kemana-mana.” Ucap Elena.


“Aku sudah memutuskan, bahwa kalian


lebih penting dari pada apapun yang kumiliki.” Kali ini Malviano mengucapkannya


dengan perlahan sambil melihat kedua mata Elena.


Elena seperti bermimpi mendengar


apa yang baru saja diucapkan oleh Malviano, jika saja kedua tangan Malviano tidak


sedang menggenggam tangannya, mungkin saja Elena tak akan mempercayai bahwa didepannya


benar-benar suaminya. Perasaan Elena tiba-tiba menghangat hanya karena Malviano


mengatakan hal itu.


“Kau yakin?.”


“Tentu aku yakin seratus persen,


aku lebih suka kau membunuhku langsung dari pada kalian meninggalkanku lagi.” Ucap


Malviano sambil membawa tangan Elena untuk diletakkan pada pipinya sebelum


mengecupnya singkat.


“Mengapa?.”


“Tentu saja karena aku sangat


menyayangi kalian, kalian adalah hartaku yang paling berharga, walaupun aku masih


belum tahu apa arti yang sesungguhnya dari sebuah keluarga tapi aku yakin aku


tak ingin kehilangan kalian apapun yang terjadi.” Jelas Malviano begitu panjang


lebar.


“Kau masih…”


“Ya aku tahu kau kecewa karena


aku masih belum tahu arti sebuah keluarga, tapi apakah kau tak bisa mengajariku?.”


Ucap Malviano dengan nada penuh permohonan.


“Bagaimana..”


“Elena aku yakin kali ini aku tak


akan membuat kesalahan lagi, selama kau bersedia membimbingku dalam penikahan kita


ini.” Ucap Malviano.


“Lalu apakah kau bersedia juga


mengatakan apa yang ingin ku ketahui sebagai imbalannya?.” Tanya Elena.


“…” Malviano tiba-tiba terdiam


“Kau…”


“Tentu saja aku bersedia.” Potong


Malviano yang sepertinya takut Elena lagi-lagi mendorongnya untuk menjauh.


“Kau terdengar tidak begitu yakin?.”

__ADS_1


“Bukan begitu.” Ucap Malviano.


“Lalu?.”


“Aku tidak terbiasa dengan berbagi


apa yang kupikirkan, aku takut jika tiba-tiba kau marah padaku karena kebiasaanku


yang seperti itu.” ucap Malviano yang sepertinya mengakui hal itu dari awal.


“Selama kau tidak memberi dinding


penghalang padaku, walaupun tak banyak tapi aku yakin suatu saat kau akan terbiasa


untuk kita yang saling terbuka satu sama lain.” Ucap Elena.


“Benarkah?.”


“Ya, sebagai permulaan kau boleh


bertanya satu pertanyaan padaku dan nanti aku yang akan bertanya padamu?.” Ucap


Elena.


“Bisakah aku tinggal disini?.” Tanya


Malviano.


“Tentu saja itu akan bagus untuk


lebih mendekatkan dirimu dan Rendra kembali.” Jawab Elena enteng.


“Sekarang giliranku, emm.. Kau


menginap dimana selama berada dikota ini?.” Tanya Elena yang memulai dengan


pertanyaan yang paling mudah.


“Hotel.” Jawab Malviano singkat “Boleh


aku bertanya kembali?.” Ucap Malviano yang kini sepertinya mulai ketagihan


untuk bertanya.


“Tak bisakah kita tunda besok?”


ucap Elena yang tak sengaja melihat jam di dinding menunjukkan waktu pukul dua


“Kau sudah mengantuk?” tanya Malviano


dan diangguki oleh Elena.


Elena langsung berdiri untuk


mengantarkan Malviano kekamar yang akan ditempati olehnya selama berada dirumah


ini, tidak mungkinkan mereka langsung satu kamar sementara selama pernikahan


mereka dulu, mereka tak pernah sekalipun berada dalam satu kamar yang sama.


“Untuk


malam ini kau tidur dikamar ini.” Ucap Elena ketika sudah berada didepan


kamar yang dimaksud.


“Lalu kau?.” Ucap Malviano yang


entah mengapa bertanya dengan begitu canggung.


“Diujung sana.” Ucap Elena sambil


menunjukkan kamarnya.


“Selamat malam, mimpi yang indah.”


Ucap Malviano yang terlihat sedikit kecewa akan sesuatu.


“Ya kau juga.” Ucap Elena singkat


karena tak biasa mendapat ucapan seperti itu, dan langung berjalan kekamarnya


untuk melanjutkan tidur yang tadi sempat terganggu.


Disisa malam itu Elena tertidur


begitu nyenyak, ia terbangun ketika burung sudah berkicau. Setelah mencuci muka


dan mengosok gigi ia keluar kamarnya untuk menyiapkan sarapan untuk semua orang


yang berada dirumahnya. Sambil melangkahkan kaki kedapur ia memikirkan menu apa


yang harus dibuatnya untuk sarapan pagi ini.

__ADS_1


Elena ingat apa kesukaan Malviano


untuk sarapan pagi yaitu roti panggang dengan selai coklat dan beberapa potong


buah-buahan berbeda dengan Hanz yang sangat menyukai sarapan nasi goreng. Hanz


sepertinya tergila-gila dengan nasi goring buatannya sehingga hampir setiap pagi


ia memakannya akan tetapi pria itu tak pernah bosan.


“Mom aku lapar.” Ucap Rendra yang


tak biasanya sudah berada didapur sepagi ini, apalagi kondisinya yang baru saja


pulang dari rumah sakit.


“Sayang kau sudah bangun?” ucap


Elena yang kini membawa Rendra dalam pelukannya.


“Ya tadi sepanjang malam Om Hanz


menemani Rendra sampai tertidur.” Lapor Rendra yang kini sudah berada dimeja


makan karena Elena membawanya untuk duduk disana sambil menunggunya memasakan


sesuatu untuknya.


“Lalu Om Hanz masih tidur?.” Tanya


Elena yang tak melihat orang yang dikatakan oleh Rendra.


“Dikamar mandi Mom.” Jawab Rendra.


“Kau ingin sarapan apa?.” Tanya Elena


yang tak bisa memutuskan menu mereka sarapan hari ini, daripada ia binggung


sendiri dan membuang waktu yang lebih lama lebih baik ia langsung bertanya


sajakan.


“Rendra ingin curry.” Ucap Rendra.


“Curry ya, untuk hari ini kau


duduk saja disini.” Ucap Elena seperti itu pada Rendra karena biasanya Rendra akan


bersemangat membantunya untuk memotong bahan-bahan yang nantinya akan digunakan


untuk memasak kari yang merupakan makanan kesukaannya.


Memasak curry sebenarnya cukup


mudah baginya, ia langsung menuju lemari es dan menggambil beberapa bahan yang


digunakan seperti wortel, daging, kentang dan bawang bombai. Ia langsung


memotong bahan-bahan tadi menjadi potongan-potongan kecil karena ia tahu Rendra


tak suka jika bentuk makanannya terlalu besar.


Setengah jam tak terasa Elena


berhasil menyelesaikan makanannya dan langsung membawa hasil masakannya pagi itu


kemeja makan. Disana ternyata sudah terdapat Hanz disebelah Rendra bahkan Malviano


yang dduduk dengan canggung didepan Rendra.


Elena tak sadar bahwa semua


penghuni rumah ini sudah terbangun dan menunggunya untuk membawakan mereka


makanan. Melihat Elena yang kesusahan membawa dua piring sekaligus membuat Hanz


bangkit berdiri untuk membantunya, sedangkan Malviano hanya bisa menatap mereka


karena ia masih tak berani berbuat apa-apa karena tatapan tajam Rendra masih tertuju


padanya.


“Sayang kau menunggu lama?.” Tanya


Elena setelah selesai menyajikan makanan ke semua orang dan juga berkat bantuan


Hanz yang kini sudah duduk diposisinya semula sedangkan Elena memilih duduk disebelah


Malviano.


“Mom mengapa dia masih berada disini?.”


Ucap Rendra sambil menunjuk Malviano dengan dagunya.

__ADS_1


__ADS_2