
“Tentu saja, ia adalah anakku
jika kau lupa.” Ucap Elena sambil mengangkat bahunya menutupi kalau sebenarnya
ia sangat gugup karena perlakukan Malviano padanya.
Setelah mengatakan hal itu Elena tak
tahu lagi bagaimana cara yang tepat agar Malviano melepaskan tanggannya tanpa
menyinggung pria itu. Elena sangat resah karena jika terlalu lama, ia mungkin
akan semakin berdebar lebih dari seharusnya, ia sebenarnya ingin terus seperti ini
jika saja Malviano sudah memperjelas masa depan mereka.
“Elena aku, tidak maksudku.. aku
sudah memutuskannya.” Ucap Malviano yang terdengar begitu terburu-buru ingin
menyampaikan sesuatu pada Elena.
“Tenanglah, aku tak akan
kemana-mana.” Ucap Elena.
“Aku sudah memutuskan, bahwa kalian
lebih penting dari pada apapun yang kumiliki.” Kali ini Malviano mengucapkannya
dengan perlahan sambil melihat kedua mata Elena.
Elena seperti bermimpi mendengar
apa yang baru saja diucapkan oleh Malviano, jika saja kedua tangan Malviano tidak
sedang menggenggam tangannya, mungkin saja Elena tak akan mempercayai bahwa didepannya
benar-benar suaminya. Perasaan Elena tiba-tiba menghangat hanya karena Malviano
mengatakan hal itu.
“Kau yakin?.”
“Tentu aku yakin seratus persen,
aku lebih suka kau membunuhku langsung dari pada kalian meninggalkanku lagi.” Ucap
Malviano sambil membawa tangan Elena untuk diletakkan pada pipinya sebelum
mengecupnya singkat.
“Mengapa?.”
“Tentu saja karena aku sangat
menyayangi kalian, kalian adalah hartaku yang paling berharga, walaupun aku masih
belum tahu apa arti yang sesungguhnya dari sebuah keluarga tapi aku yakin aku
tak ingin kehilangan kalian apapun yang terjadi.” Jelas Malviano begitu panjang
lebar.
“Kau masih…”
“Ya aku tahu kau kecewa karena
aku masih belum tahu arti sebuah keluarga, tapi apakah kau tak bisa mengajariku?.”
Ucap Malviano dengan nada penuh permohonan.
“Bagaimana..”
“Elena aku yakin kali ini aku tak
akan membuat kesalahan lagi, selama kau bersedia membimbingku dalam penikahan kita
ini.” Ucap Malviano.
“Lalu apakah kau bersedia juga
mengatakan apa yang ingin ku ketahui sebagai imbalannya?.” Tanya Elena.
“…” Malviano tiba-tiba terdiam
“Kau…”
“Tentu saja aku bersedia.” Potong
Malviano yang sepertinya takut Elena lagi-lagi mendorongnya untuk menjauh.
“Kau terdengar tidak begitu yakin?.”
__ADS_1
“Bukan begitu.” Ucap Malviano.
“Lalu?.”
“Aku tidak terbiasa dengan berbagi
apa yang kupikirkan, aku takut jika tiba-tiba kau marah padaku karena kebiasaanku
yang seperti itu.” ucap Malviano yang sepertinya mengakui hal itu dari awal.
“Selama kau tidak memberi dinding
penghalang padaku, walaupun tak banyak tapi aku yakin suatu saat kau akan terbiasa
untuk kita yang saling terbuka satu sama lain.” Ucap Elena.
“Benarkah?.”
“Ya, sebagai permulaan kau boleh
bertanya satu pertanyaan padaku dan nanti aku yang akan bertanya padamu?.” Ucap
Elena.
“Bisakah aku tinggal disini?.” Tanya
Malviano.
“Tentu saja itu akan bagus untuk
lebih mendekatkan dirimu dan Rendra kembali.” Jawab Elena enteng.
“Sekarang giliranku, emm.. Kau
menginap dimana selama berada dikota ini?.” Tanya Elena yang memulai dengan
pertanyaan yang paling mudah.
“Hotel.” Jawab Malviano singkat “Boleh
aku bertanya kembali?.” Ucap Malviano yang kini sepertinya mulai ketagihan
untuk bertanya.
“Tak bisakah kita tunda besok?”
ucap Elena yang tak sengaja melihat jam di dinding menunjukkan waktu pukul dua
“Kau sudah mengantuk?” tanya Malviano
dan diangguki oleh Elena.
Elena langsung berdiri untuk
mengantarkan Malviano kekamar yang akan ditempati olehnya selama berada dirumah
ini, tidak mungkinkan mereka langsung satu kamar sementara selama pernikahan
mereka dulu, mereka tak pernah sekalipun berada dalam satu kamar yang sama.
“Untuk
malam ini kau tidur dikamar ini.” Ucap Elena ketika sudah berada didepan
kamar yang dimaksud.
“Lalu kau?.” Ucap Malviano yang
entah mengapa bertanya dengan begitu canggung.
“Diujung sana.” Ucap Elena sambil
menunjukkan kamarnya.
“Selamat malam, mimpi yang indah.”
Ucap Malviano yang terlihat sedikit kecewa akan sesuatu.
“Ya kau juga.” Ucap Elena singkat
karena tak biasa mendapat ucapan seperti itu, dan langung berjalan kekamarnya
untuk melanjutkan tidur yang tadi sempat terganggu.
Disisa malam itu Elena tertidur
begitu nyenyak, ia terbangun ketika burung sudah berkicau. Setelah mencuci muka
dan mengosok gigi ia keluar kamarnya untuk menyiapkan sarapan untuk semua orang
yang berada dirumahnya. Sambil melangkahkan kaki kedapur ia memikirkan menu apa
yang harus dibuatnya untuk sarapan pagi ini.
__ADS_1
Elena ingat apa kesukaan Malviano
untuk sarapan pagi yaitu roti panggang dengan selai coklat dan beberapa potong
buah-buahan berbeda dengan Hanz yang sangat menyukai sarapan nasi goreng. Hanz
sepertinya tergila-gila dengan nasi goring buatannya sehingga hampir setiap pagi
ia memakannya akan tetapi pria itu tak pernah bosan.
“Mom aku lapar.” Ucap Rendra yang
tak biasanya sudah berada didapur sepagi ini, apalagi kondisinya yang baru saja
pulang dari rumah sakit.
“Sayang kau sudah bangun?” ucap
Elena yang kini membawa Rendra dalam pelukannya.
“Ya tadi sepanjang malam Om Hanz
menemani Rendra sampai tertidur.” Lapor Rendra yang kini sudah berada dimeja
makan karena Elena membawanya untuk duduk disana sambil menunggunya memasakan
sesuatu untuknya.
“Lalu Om Hanz masih tidur?.” Tanya
Elena yang tak melihat orang yang dikatakan oleh Rendra.
“Dikamar mandi Mom.” Jawab Rendra.
“Kau ingin sarapan apa?.” Tanya Elena
yang tak bisa memutuskan menu mereka sarapan hari ini, daripada ia binggung
sendiri dan membuang waktu yang lebih lama lebih baik ia langsung bertanya
sajakan.
“Rendra ingin curry.” Ucap Rendra.
“Curry ya, untuk hari ini kau
duduk saja disini.” Ucap Elena seperti itu pada Rendra karena biasanya Rendra akan
bersemangat membantunya untuk memotong bahan-bahan yang nantinya akan digunakan
untuk memasak kari yang merupakan makanan kesukaannya.
Memasak curry sebenarnya cukup
mudah baginya, ia langsung menuju lemari es dan menggambil beberapa bahan yang
digunakan seperti wortel, daging, kentang dan bawang bombai. Ia langsung
memotong bahan-bahan tadi menjadi potongan-potongan kecil karena ia tahu Rendra
tak suka jika bentuk makanannya terlalu besar.
Setengah jam tak terasa Elena
berhasil menyelesaikan makanannya dan langsung membawa hasil masakannya pagi itu
kemeja makan. Disana ternyata sudah terdapat Hanz disebelah Rendra bahkan Malviano
yang dduduk dengan canggung didepan Rendra.
Elena tak sadar bahwa semua
penghuni rumah ini sudah terbangun dan menunggunya untuk membawakan mereka
makanan. Melihat Elena yang kesusahan membawa dua piring sekaligus membuat Hanz
bangkit berdiri untuk membantunya, sedangkan Malviano hanya bisa menatap mereka
karena ia masih tak berani berbuat apa-apa karena tatapan tajam Rendra masih tertuju
padanya.
“Sayang kau menunggu lama?.” Tanya
Elena setelah selesai menyajikan makanan ke semua orang dan juga berkat bantuan
Hanz yang kini sudah duduk diposisinya semula sedangkan Elena memilih duduk disebelah
Malviano.
“Mom mengapa dia masih berada disini?.”
Ucap Rendra sambil menunjuk Malviano dengan dagunya.
__ADS_1