Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 52


__ADS_3

Seperti dokter yang menanggani Kenzo sudah tahu Malviano dan


Elena sudah datang, karena kini dokter itu pun akhirnya keluar dari ruang operasi. Dokter itu


langsung mendekat ke arah ibu dari Kenzo untuk mengabarkan apa yang telah


mereka lakukan pada Kenzo.


“Dok,” ucap Malviano yang pertama


kali menyadari bahwa sang dokter sudah berada didepannya.


“Operasi berjalan dengan cukup


rumit, maaf waktu operasi berjalan dengan waktu yang lama karena kami sempat beberapa


kali hampir kehilangannya. akan tetapi berkat bantuan dari dokter lain akhirnya


kami bisa menyelamatkan pasien, syukurlah setelah kedatangan dokter ini kini keadaan


pasien lebih stabil saat ini, jika keadaan tetap seperti sekarang kami akan


segera memindahkannya keruangan rawat inap,” ucap dokter itu panjang lebar.


Mendengar perkataan sang dokter


tentang keadaan anaknya, Elena harus membantu Malviano untuk menahan ibu Kenzo


yang lemas akibat kabar yang terdengar cukup berat yang beberapa saat yang lalu


hampir dialaminya. Akan tetapi ketika dokter itu selesai menjelaskan ibu Kenzo


pun tetap menanggis lega setidaknya ia mungkin tak kehilangan anaknya untuk


selama-lamanya.


“Terimakasih dok, anda… bukan kalian…kami…


benar-benar hanya bisa… mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya,” ucap Malviano


terbata-bata ketika mengatakannya mengucapkan perasaannya.


Elena tahu pasti Malviano sangat


terkejut mendengar kabar yang mungkin membuatnya kehilangan sahabat sebaik


Kenzo, yang sebenarnya iapun juga sangat terpukul karena Kenzo jugalah yang


membuatnya dan Rendra mempunyai kehidupan seperti saat ini.


“Kalo begitu saya permisi,” ucap


dokter itu yang langsung pergi meninggalkan mereka.


Setelah itu Malviano menitipkan ibu


Kenzo sebentar pada Elena, karena ia harus mengurus administrasi dan penempatan


ruangan rawat inap yang nantinya akan ditempati oleh Kenzo untuk masa pemulihannya.


Yang bisa dilakukan Elena hanya menepuk pundak ibu Kenzo untuk menenangkan sedikit


perasaannya.


Tak berapa lama Malviano datang


dan membawa ibu Kenzo dan Elena keruang yang sudah dipesannya untuk ruangan


rawat inap yang akan Kenzo tinggali sampai ia sembuh nanti, awalnya ibu Kenzo


menolak untuk ikut sekarang tapi setelah menerima bujukan dari suster bahwa


Kenzopun akan sesegera mungkin mereka pindahkan, akhirnya ibu Kenzopun menuruti


pergi terlebih dahulu keruang rawat inap.


“Istirahatlah dulu bu, jika kau


tak ingin pulang sekarang kau bisa tidur disana,” ucap Malviano yang menuntun ibu


Kenzo ke sebuah ranjang yang ada diruangan rawat inap yang diperuntukkan untuk


keluarga pasien.


Malviano memang memilih ruang

__ADS_1


rawat inap yang mempunyai dua ranjang atau bisa Elena jabarkan lebih seperti


sebuah rumah, disini segalanya ada. Ruangan rawat inap ini terlihat sangat


nyaman baik untuk pasien maupun keluarga pasien yang tidak akan terganggu oleh


pasien maupun keluarga pasien yang lain.


“Tapi Ibu ingin melihat Kenzo


dulu,” tolak Ibu Kenzo.


“Bu keadaan Kenzo sekarang sudah


lebih baik bukankah dokter tadi menjelaskan begitu?”


“Tapi..”


“Bu, aku hanya tak ingin Ibu juga


ikutan sakit, bukankah setelah meneleponku Ibu belum tidur apalagi Ibu menanggis


hampir dua belas jam bukan,” ucap Malviano mencoba membujuk wanita yang sudah ia


anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.


“Baiklah, tapi jika terjadi


sesuatu padanya Ibu harap kau harus segera membangunkan Ibu,” ucap Ibu Kenzo


yang terlihat menyerah pada keinginnannya untuk terus terjaga sampai melihat


kondisi anaknya.


“Aku janji,”


 Kini tinggal Malviano dan Elena yang terjaga


menunggu kedatangan Kenzo yang menurut dokter tadi mungkin beberapa menit lagi


akan dipindahkan keruangan ini. Mereka berdua duduk disebuah sofa yang juga terdapat


diruangan itu.


menemaniku disini padahal kau sangat kelelahan,” ucap Malviano yang dengan tiba-tiba


berucap pada Elena yang tanpa sengaja menguap karena rasa kantuk yang tiba-tiba


menyerangnya.


“Aku tentu tidak keberatan,”


jawab Elena yang mengatakan hal yang sebenarnya, karena jika ia ikut pulang


bersama Rendrapun ia mungkin tak akan bisa tidur dengan nyenyak memikirkan


keadaan Kenzo.


Dengan ia berada disini setidaknya


ia lega karena keadaan Kenzo sudah melewati masa kritisnya, walaupun keadaan fisinya


mengatakan ia juga kelelahan akibat jarak  tempuh yang harus dilewatinya hanya untuk bisa


berada disini.


“Bolehkah aku meminta sebuah


pelukan,” tanya Malviano yang terlihat sangat letih.


“Tentu,” ucap Elena yang langsung


merentangkan kedua tangannya, dan langsung disambut oleh Maliano yang kini


langsung memeluknya erat.


“Kau tahu aku benar-benar takut


tadi, kukira akan sangat sudah membujukmu untuk ikut pulang denganku secepatnya.


Sedangkan jika itu terjadi aku takut memikirkan jika mendengar kabar keadaan


Kenzo lebih buruk dari ini,” jelas Malviano yang mungkin menanggis dibahunya


karena Elena merasa bahwa bajunya kini terasa basah.

__ADS_1


“Aku,,”


“Terimakasih,,,” ucap Malviano


yang harus terpotong ucapannya karena suara ketukan dari arah pintu.


Mendengar itu Malviano langsung


berdiri setelah menghapus air mata yang jatuh dikedua pipinya, ia membuka pintu


yang ternyata adalah seorang suster yang membawa Kenzo yang terbaring diatas


tempat tidur dengan mata tertutup juga berbagai alat-alat yang terhubung pada


tubuhnya.


Beberapa suster langsung


menempatkan Kenzo di sebuah ranjang yang lebih nyaman diruangan itu, mereka


keluar pamit setelah memastikan semua alat yang terhubung ditubuh Kenzo berada


ditempatnya dan juga menerangkan sedikit tentang apabila terjadi sesuatu pada


pasien diharapkan langsung menghubungi mereka lewat telepon yang berada disamping


tempat Kenzo berbaring.


Kondisi Kenzo terlihat buruk dari


yang terakhir Elena lihat, dikepala Kenzo kini terbalut oleh perban, didadanya


juga tak kalah juga terbalut dengan rapi oleh perban yang menempel ditubuhnya. Infus


dan alat yang mungkin pendeteksi detak jantung juga tak ketinggalan menghiasi


tubuhnya.


“Apa yang terjadi padamu kawan?”


ucap Malviano yang langsung menghampiri tubuh Kenzo yang tentu saja tidak akan


menjawab pertanyaan darinya.


“Dia mungkin lelah, kuharap kita


juga istirahat saja dulu sambil menunggu ia sadar. Bukankah suster tadi


mengatakan mungkin ia akan sadar dalam beberapa hari?” ucap Elena yang menghampiri


suaminya yang mungkin saat ini masih dalam keadaan yang terpukul.


“Sayang bolehkah aku egois memintamu


beristirahat disini saja menemaniku,” ucap Malviano yang terdengar putus asa.


Lagi-lagi Malviano mengucapkan


kata sayang lagi padanya? Apakah itu cara baru baginya untuk membujuk Elena untuk


tak meninggalkannya sendirian?


“Kurasa sofa itu cukup untuk kita


berdua,” jelas Malviano yang menunjuk sebuah sofa yang tadi mereka duduki.


Apakah Malviano mengatakan mereka


akan tidur disebuah sofa yang walaupun ukurannya cukup besar untuk bisa ditiduri


oleh orang dewasa, akantetapi bukankah akan terasa sempit jika ada dua orang


dewasa yang tidur diatasnya?.


“Aku akan memelukmu erat agar kau


tidak terjatuh,” jelasnya yang melihat kekhawatiran Elena karena terus menatap


Sofa.


“Kau bercanda, ini rumah sakit


kalau kau lupa?” pekik Elena yang tak sengaja menaikan suaranya karena kaget


dengan ucapan suaminya yang berbicara ditempat yang menurutnya sangat aneh.

__ADS_1


__ADS_2