
Seperti dokter yang menanggani Kenzo sudah tahu Malviano dan
Elena sudah datang, karena kini dokter itu pun akhirnya keluar dari ruang operasi. Dokter itu
langsung mendekat ke arah ibu dari Kenzo untuk mengabarkan apa yang telah
mereka lakukan pada Kenzo.
“Dok,” ucap Malviano yang pertama
kali menyadari bahwa sang dokter sudah berada didepannya.
“Operasi berjalan dengan cukup
rumit, maaf waktu operasi berjalan dengan waktu yang lama karena kami sempat beberapa
kali hampir kehilangannya. akan tetapi berkat bantuan dari dokter lain akhirnya
kami bisa menyelamatkan pasien, syukurlah setelah kedatangan dokter ini kini keadaan
pasien lebih stabil saat ini, jika keadaan tetap seperti sekarang kami akan
segera memindahkannya keruangan rawat inap,” ucap dokter itu panjang lebar.
Mendengar perkataan sang dokter
tentang keadaan anaknya, Elena harus membantu Malviano untuk menahan ibu Kenzo
yang lemas akibat kabar yang terdengar cukup berat yang beberapa saat yang lalu
hampir dialaminya. Akan tetapi ketika dokter itu selesai menjelaskan ibu Kenzo
pun tetap menanggis lega setidaknya ia mungkin tak kehilangan anaknya untuk
selama-lamanya.
“Terimakasih dok, anda… bukan kalian…kami…
benar-benar hanya bisa… mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya,” ucap Malviano
terbata-bata ketika mengatakannya mengucapkan perasaannya.
Elena tahu pasti Malviano sangat
terkejut mendengar kabar yang mungkin membuatnya kehilangan sahabat sebaik
Kenzo, yang sebenarnya iapun juga sangat terpukul karena Kenzo jugalah yang
membuatnya dan Rendra mempunyai kehidupan seperti saat ini.
“Kalo begitu saya permisi,” ucap
dokter itu yang langsung pergi meninggalkan mereka.
Setelah itu Malviano menitipkan ibu
Kenzo sebentar pada Elena, karena ia harus mengurus administrasi dan penempatan
ruangan rawat inap yang nantinya akan ditempati oleh Kenzo untuk masa pemulihannya.
Yang bisa dilakukan Elena hanya menepuk pundak ibu Kenzo untuk menenangkan sedikit
perasaannya.
Tak berapa lama Malviano datang
dan membawa ibu Kenzo dan Elena keruang yang sudah dipesannya untuk ruangan
rawat inap yang akan Kenzo tinggali sampai ia sembuh nanti, awalnya ibu Kenzo
menolak untuk ikut sekarang tapi setelah menerima bujukan dari suster bahwa
Kenzopun akan sesegera mungkin mereka pindahkan, akhirnya ibu Kenzopun menuruti
pergi terlebih dahulu keruang rawat inap.
“Istirahatlah dulu bu, jika kau
tak ingin pulang sekarang kau bisa tidur disana,” ucap Malviano yang menuntun ibu
Kenzo ke sebuah ranjang yang ada diruangan rawat inap yang diperuntukkan untuk
keluarga pasien.
Malviano memang memilih ruang
__ADS_1
rawat inap yang mempunyai dua ranjang atau bisa Elena jabarkan lebih seperti
sebuah rumah, disini segalanya ada. Ruangan rawat inap ini terlihat sangat
nyaman baik untuk pasien maupun keluarga pasien yang tidak akan terganggu oleh
pasien maupun keluarga pasien yang lain.
“Tapi Ibu ingin melihat Kenzo
dulu,” tolak Ibu Kenzo.
“Bu keadaan Kenzo sekarang sudah
lebih baik bukankah dokter tadi menjelaskan begitu?”
“Tapi..”
“Bu, aku hanya tak ingin Ibu juga
ikutan sakit, bukankah setelah meneleponku Ibu belum tidur apalagi Ibu menanggis
hampir dua belas jam bukan,” ucap Malviano mencoba membujuk wanita yang sudah ia
anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.
“Baiklah, tapi jika terjadi
sesuatu padanya Ibu harap kau harus segera membangunkan Ibu,” ucap Ibu Kenzo
yang terlihat menyerah pada keinginnannya untuk terus terjaga sampai melihat
kondisi anaknya.
“Aku janji,”
Kini tinggal Malviano dan Elena yang terjaga
menunggu kedatangan Kenzo yang menurut dokter tadi mungkin beberapa menit lagi
akan dipindahkan keruangan ini. Mereka berdua duduk disebuah sofa yang juga terdapat
diruangan itu.
menemaniku disini padahal kau sangat kelelahan,” ucap Malviano yang dengan tiba-tiba
berucap pada Elena yang tanpa sengaja menguap karena rasa kantuk yang tiba-tiba
menyerangnya.
“Aku tentu tidak keberatan,”
jawab Elena yang mengatakan hal yang sebenarnya, karena jika ia ikut pulang
bersama Rendrapun ia mungkin tak akan bisa tidur dengan nyenyak memikirkan
keadaan Kenzo.
Dengan ia berada disini setidaknya
ia lega karena keadaan Kenzo sudah melewati masa kritisnya, walaupun keadaan fisinya
mengatakan ia juga kelelahan akibat jarak tempuh yang harus dilewatinya hanya untuk bisa
berada disini.
“Bolehkah aku meminta sebuah
pelukan,” tanya Malviano yang terlihat sangat letih.
“Tentu,” ucap Elena yang langsung
merentangkan kedua tangannya, dan langsung disambut oleh Maliano yang kini
langsung memeluknya erat.
“Kau tahu aku benar-benar takut
tadi, kukira akan sangat sudah membujukmu untuk ikut pulang denganku secepatnya.
Sedangkan jika itu terjadi aku takut memikirkan jika mendengar kabar keadaan
Kenzo lebih buruk dari ini,” jelas Malviano yang mungkin menanggis dibahunya
karena Elena merasa bahwa bajunya kini terasa basah.
__ADS_1
“Aku,,”
“Terimakasih,,,” ucap Malviano
yang harus terpotong ucapannya karena suara ketukan dari arah pintu.
Mendengar itu Malviano langsung
berdiri setelah menghapus air mata yang jatuh dikedua pipinya, ia membuka pintu
yang ternyata adalah seorang suster yang membawa Kenzo yang terbaring diatas
tempat tidur dengan mata tertutup juga berbagai alat-alat yang terhubung pada
tubuhnya.
Beberapa suster langsung
menempatkan Kenzo di sebuah ranjang yang lebih nyaman diruangan itu, mereka
keluar pamit setelah memastikan semua alat yang terhubung ditubuh Kenzo berada
ditempatnya dan juga menerangkan sedikit tentang apabila terjadi sesuatu pada
pasien diharapkan langsung menghubungi mereka lewat telepon yang berada disamping
tempat Kenzo berbaring.
Kondisi Kenzo terlihat buruk dari
yang terakhir Elena lihat, dikepala Kenzo kini terbalut oleh perban, didadanya
juga tak kalah juga terbalut dengan rapi oleh perban yang menempel ditubuhnya. Infus
dan alat yang mungkin pendeteksi detak jantung juga tak ketinggalan menghiasi
tubuhnya.
“Apa yang terjadi padamu kawan?”
ucap Malviano yang langsung menghampiri tubuh Kenzo yang tentu saja tidak akan
menjawab pertanyaan darinya.
“Dia mungkin lelah, kuharap kita
juga istirahat saja dulu sambil menunggu ia sadar. Bukankah suster tadi
mengatakan mungkin ia akan sadar dalam beberapa hari?” ucap Elena yang menghampiri
suaminya yang mungkin saat ini masih dalam keadaan yang terpukul.
“Sayang bolehkah aku egois memintamu
beristirahat disini saja menemaniku,” ucap Malviano yang terdengar putus asa.
Lagi-lagi Malviano mengucapkan
kata sayang lagi padanya? Apakah itu cara baru baginya untuk membujuk Elena untuk
tak meninggalkannya sendirian?
“Kurasa sofa itu cukup untuk kita
berdua,” jelas Malviano yang menunjuk sebuah sofa yang tadi mereka duduki.
Apakah Malviano mengatakan mereka
akan tidur disebuah sofa yang walaupun ukurannya cukup besar untuk bisa ditiduri
oleh orang dewasa, akantetapi bukankah akan terasa sempit jika ada dua orang
dewasa yang tidur diatasnya?.
“Aku akan memelukmu erat agar kau
tidak terjatuh,” jelasnya yang melihat kekhawatiran Elena karena terus menatap
Sofa.
“Kau bercanda, ini rumah sakit
kalau kau lupa?” pekik Elena yang tak sengaja menaikan suaranya karena kaget
dengan ucapan suaminya yang berbicara ditempat yang menurutnya sangat aneh.
__ADS_1