
“Mom mengapa dia masih berada disini?.”
Ucap Rendra sambil menunjuk Malviano dengan dagunya.
“Rendra.” Ucap Elena yang tak
suka jika anaknya berkata tak sopan seperti itu, apalagi kepada ayahnya sendiri.
“Mom.” Ucap Rendra kaget dengan
perkataan Elena dan langsung menundukkan wajahnya.
Elena menghela nafas sejenak
sebelum mengatakan “Sekarang makanlah dulu, setelah itu kita harus berbicara.”
Mendengar itu terlihat Rendra
menyuapkan makanan kemulutnya dengan perlahan, Elena tahu anaknya kini tidak
terlalu berselera lagi untuk sarapan, tapi Elena tak mengucapkan hal apapun lagi.
Elena hanya makan makananya dengan diam, lalu diikuti oleh Hanz dan Malviano
yang tak berani mengatakan sesuatu saat ini.
“Mom tunggu dikamar Mom sekarang
juga.” Ucap Elena setelah meletakkan semua piring kotor ketempat cuci piring
tanpa mencucinya yang sebenarnya sudah kebiasaannya untuk langsung mencuci
peralatan yang sudah digunakannya.
Tapi berbicara dengan Rendra
sekarang juga adalah yang terpenting, Elena tak akan membiarkan anaknya terlalu
berbuat seenaknya seperti saat ini. Walaupun Elena tahu Rendra masih dalam
tahap penyembuhan tapi kali ini ia tak ingin meloloskannya karena telah berbuat
sesuatu yang salah.
“Masuk.” Perintah Elena pada
Rendra yang kini masih berdiri didepan kamarnya sambil menunduk.
“Mom.” Ucapnya pelan sambil
menghampiri Elena yang sudah lebih dahulu masuk kedalam kamarnya dan duduk diatas
tempat tidur.
“Duduklah.” Kembali Elena
mengunakan kata suruh pada Rendra yang lagi hanya berdiri didepannya.
“Maaf Mom.” Ucap Rendra pelan
setelah ia mendudukkan diri disamping Elena.
“Kenapa kau minta maaf?.” Tanya Elena
yang kini bertanya dengan nada yang sedikit lunak.
“Maaf karena Rendra melakukan
__ADS_1
kesalahan.” Ucap Rendra yang kini terlihat akan menanggis.
“Sayang, Mom tahu kau sangat
kecewa dengan perlakuan Dad.” Ucap Elena yang kini memenggan bahu Rendra untuk
membuat anaknya menghadap padanya.
“Ya dan juga mengapa Dad
memerlukan waktu yang sangat lama untuk menemukan kita.” Ucap Rendra mengakui
apa yang paling membuatnya kecewa.
“Semua itu ada alasannya sayang.”
“Mengapa Mom sangat membela Dad,
Mom tak sayang lagi pada Rendra?.” Ucap anak itu yang kini malah terlihat
kecewa pada Elena.
“Mom kira kau sudah dewasa
sekarang.”
“Tentu saja Rendra bahkan sudah
mampu masuk keperguruan tinggi saat ini juga jika Mom mengijinkan Rendra masuk
kesana.” Tantang Rendra dengan penuh kepercayaan dirinya.
“Kau yakin ingin Mom kirim ke Ingris
atau kau lebih suka California?.” Ucap Elena yang malah balik menantang.
Turki atau Jerman.” Jawab Rendra dengan pelan.
“Mengapa tiba-tibe berubah pikiran
bukankah selama ini kau ingin masuk Universitas Oxford atau Universitas
Stanford?.” Tanya Elena yang penasaran dengan perubahan Rendra.
“Rendra sekarang lebih tertarik
terhadap pesawat Mom.” Akui Rendra.
“Karena Om Hanz?.”
“Bukan, tapi karena Mom.”
“Mom?.”
“Aku melihat diary Mom,”
“Bagaimana?” Ucap Elana kaget.
“Telepon Mom.” Rendra mengakui dengan menundukkan kepalanya, sepertinya ia takut Elana kembali memarahinya.
“Bukankah telepon itu terkunci?.” Lagi-lagi Elena bertanya, dalam benaknya ia berpikir sejauh apa Rendra membacanya.
“Merentas sekarang sudah jadi
keahlian Rendra Mom.”
“Astaga, kau membaca sejauh mana?” Tanya Elena yang tak bisa lagi mengelak bahwa anaknya terlalu pintar untuk dapat menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
“Hanya sampai Mom memilih pergi membawa Rendra.” Ucap Rendra dengan begitu sedih.
“Jadi sekarang seharusnya kau tahu mengapa Dad melakukan hal ini pada kita.” Ucap Elena yang teringat didalam diary ia juga selalu menuliskan pilihan-pilihan apa yang dipertimbangkannya dalam setiap mengambil keputusan.
“Ya.”
“Lalu mengapa kau masih saja berbuat hal yang seperti ini pada Dad?”
“Rendra hanya ingin Dad tak melakukan hal yang seperti ini pada Mom, Rendra tak ingin Dad membawa Rendra pergi meninggalkan Mom sendirian.” Ucapnya sambil menangis.
Mendengar itu Elena langsung menggendong anaknya, apa yang didengarnya kini seperti perkataan orang dewasa terhadap anak mereka. Ternyata anaknya begitu takut kalau ibunya akan tersakiti.
“Sayang dengarkan Mom baik-baik, tak ada yang akan bisa menjauhkan Mom dan Rendra sekuat apapun mereka inginkan jika kita saling menyayangi dan menghargai satu sama lain.” Ucap Elena setelah mengelap air matanya yang juga terjatuh mendengar ucapan Rendra padanya.
“Tapi Mom.”
“Sayang walaupun memang kita tiba-tiba terpisah karena suatu alasan, bukankah anak Mom ini sangat cerdas untuk memikirkan bagaimana caranya agar kita kembali bersama?” Tanya Elena yang memberikan Rendra kepercaya dirian terhadap kemampuan anaknya.
“Tentu, Rendra janji akan melakukan hal itu.” Ucap anak itu penuh dengan tekad.
“Kalau begitu bisakah sekarang kau memberi Dad sebuah kesempatan?” Tanya Elena yang kini mengingat mengapa mereka berada disini.
“Itu masalah yang berbeda Mom.” Rengeknya.
“Darimana yang berbeda?”
“Dad jelas-jelas tidak berusaha dalam menemukan kita.”
“Kau sudah mendengar alasan Dad.?”
“Itu...” Rendra kehabisan kata-kata untuk membela dirinya.
“Sayang, bukankah Mom ingin kita saling memahami agar tak salah dalam mengambil keputusan?” Elena menginggatkan kembali anaknya.
“Tapi Rendra tak mau berbicara dengan Dad.” Akui Rendra dengan menunduk.
“Kalau begitu, sampai kapan Dad akan mengerti jika apa yang Rendra inginkan. Ingat Dad bukan Mom, yang tahu semua hal tentang Rendra dari dalam perut Mom.” Ucap Elena mengingatkan kembali anaknya. “Dad mengakui keberadaan kita pun bukankah itu sudah luar biasa? Sambung Elena dengan sebuah pertanyaan.
“Dad akan lebih bahagia jika bersama kita.” Bela Rendra.
“Darimana kau seyakin itu?”
“Karena Mom dan Rendra akan selalu menyanyangi Dad.”
“Lalu mengapa Rendra tak ingin berbicara dengan Dad? Rendra ingin Dad kembali pergi dari kehidapan kita.” Tantang Elena pada putranya yang sepertinya sedang masuk dalam fase mementingkan keinginannya sendiri.
“Dad memerlukanya Mom.”
“Baiklah, Mom menghargai apa yang Rendra sekarang sedang lakukan pada Dad tapi Mom harap Rendra tidak terlalu berlebihan dalam bertindak.” Ucap Elena menasehati anaknya yang masih terlalu kecil ini.
“Terimkasih Mom.” Ucap Rendra yang kini memeluk ibunya.
“Sekarang kita keluar, Mom ingin Rendra meminta maaf pada Dad karena sudah tidak sopan.”
“Mom, haruskah Rendra mengatakannya sekarang.”
“Lalu kapan? Rendra ingin Dad berpikir anaknya sangat kasar sehingga Dad mungkin memutuskan tak menginginkan Rendra kembali.” Ucap Elena yang sebenarnya lebih menakut-nakuti anaknya ini.
“Benarkah?” Tanyanya polos
“Tentu, bukan kah Rendra juga akan menjauhi jika orang tersebut berbuat hal yang sama terhadap kita?”
“Baiklah Rendra akan meminta maaf.” Ucap Rendra.
“Kalau begitu ayo kita keluar.” Ucap Elena yang mengendong Renda keluar dari kamarnya untuk menemui Malviano.
Elena mengendong anaknya karena ia ingat keadaan Rendra yang masih sangat lemah karena kesehatannya, ia berjalan menuju dapur yang kini sudah kosong dan juga sudah rapih.
__ADS_1
Sepertinya kedua pria dewasa itu membersihkan apa yang seharusnya dikerjakannya, kini ia berjalan menuju ruang tamu yang memang terdapat kedua orang itu yang sedang terduduk dalam diam.