
“Kau baik-baik saja?” ucap
Sandra yang membuyarkan lamunan Elena.
Setelah Malviano memberikan
kembali telepon genggamnya yang sudah dimasukan aplikasi pelacak, Elena langsung
pergi untuk menjemput Sandra mengunakan taxi yang sudah ia pesan sebelumnya.
Rendra yang tak keberatan menunggu dirumah bersama Malviano dan juga Hanz
membuat Elena kini merasa nyaman untuk berbicara bersama Sandra disebuah Kafe.
“Aku membawamu kemari
karena aku ingin meminta saranmu?” ucap Elena yang tak ingin lebih lama lagi
memendam perasaannya.
“Sepertinya kali ini lebih
runyam dari masalah sebelumnya, kemarin saja kau tega pergi tanpa memberitahuku
selama hampir Empat bulan ini,” ucap Sandra.
“Kau marah?”
“Tentu saja, tapi aku tak
mungkin memarahi calon mertuaku lama-lama bukan. Walaupun karenanya aku berpisah
bersama pujaan hati ini,” ucap Sandra yang terdengar seperti sedang membacakan
sebuah puisi cinta.
“Sandra bisa kah aku serius
saat ini?”
“Tentu saja aku selalu serius
ibu mertua atau kau ingin ku sembut mamah mertua tapi bukankah Rendra memanggilmu
Mom jadilah apakah aku juga harus memanggil Mom mertua atau Mother in law,”
ucap Sandra yang sepertinya kebinggungan sendiri.
“Haruskah aku pulang?”
“Tentu tidak Mom mertua,”
ucap Sandra sambil menahan tangan Elena yang sudah berdiri hendak meninggalkannya.
“Aku sedang perlu
pendapatmu, jadi bisakah kali ini kau serius?” tanya Elena yang memastikan
Sandra sedang dalam keadaan yang tidak gila.
“Janji Mom mertua,”
ucapnya yang lega Elena kembali duduk.
“Dan apa-apaan kau memanggilku
seperti itu?”
“Bukankah itu keren,” ucap
Sandra yang bangga ia sudah memutuskan pangilannya pada Elena.
“Itu aku ingin mendiskusikan tentang Malviano,” ucap Elena memulai
konsultasi dadakannya pada Sandra teman, sahabat, atasan, kakak, bahkan
penyelamat hidupnya.
“Ada apa dengan Dad
mertua?”
“Sandra tidakkah aneh
memanggil kami dengan sebutan itu,”
“Tentu tidak aku sangat
menyukainya,” ucap Sandra semakin bangga.
Sandra sebenarnya
seseorang yang hebat diusia yang sama dengannya. Krtika Elena hanya bisa
menghasilkan untuk kebutuhan ia dan Rendra saja, berbeda dengan Sandra yang bisa
menggaji puluhan karyawannya. Ia tidak mempunyai segalanya karena harta warisan,
__ADS_1
akan tetapi wanita didepannya ini meraih semua itu dengan kerja keras yang tak
mudah.
“Serius,” sangah Elena yang
merasa terkadang masih tak mempercayai Sandra seoran gyang sehebat ia ketahui jika
saja dulu ia tak melihat dan merasakan secara langsung pandangan, strategi dan
penggalaman hidup Sandra secara langsung.
“Katakan,” ucapnya kini
langsung membuat wajah yang sangat serius.
“Kau tahu kan alasan kami
tinggal dinegara ini, bahkan tanpa memberitahukanmu selama ini?”
“Tentu jika tidak, aku
akan melaporkan kau pada pihak berwajib karena telah menculik calon suamiku,”
ucap Sandra yang lagi-lagi kembali mengila.
“Aku pergi,” ucap Elena
yang sudah muak akan sikap Sandra yang hanya main-main.
“Jangan begitu kau pasti
harusnya tahu, aku akan bereaksi seperti apa jika Rendra disebut-sebut disini,”
ucap Sandra yang lagi-lagi harus menahan kepergian Elena.
“Kau..”
“Minumlah dulu,” bujuk
Sandra untuk meredakan emosi Elena. “Kau boleh bercerita kembali dan aku janji
akan benar-benar serius, ya kecuali kau membawa-bawa calon suamiku,” tambahnya.
“Malviano menemukan kami,
dan sekarang Rendra sedang bersamanya,”
“Apa bukankah tadi kau bilang
begitu emosi.
“Diamlah kau tak lihat
orang-orang menatap kita aneh!” desis Elena dan meminta maaf pada orang-orang
sekitar yang terganggu karena mereka.
“Dia dirumah memang
bersama HANZ dan juga Malviano,”
“Sebenarnya siapa Hanz ini,
aku harus tahu Elena. Soalnya ia sepertinya begitu terikat pada Rendra seperti
cerita singkatmu ditelepon kemarin,” tuntut Sandra yang sepertinya lebih
penasaran dengan Hanz dari pada ceritanya tentang Malviano.
“Hanz pada Rendra itu
seperti kau bagiku,” jelas singkat Elena yang sebenarnya kesal karena Sandra lebih
tertarik apapun yang berhubungan dengan Rendra terlebih dahulu.
“Jadi Hanz adalah calon
Dad mertua baruku, harusnya kau mengatakan dari tadi jadi aku tak akan memakinya
semalaman seperti kemarin malam,” ucap Sandra yang terlihat lega.
“Kau gila, siapa yang
mengatakan aku akan menikah dengan Hanz?”
“Bukan kah tadi kau bilang
Hanz pada Rendra itu seperti aku bagimu,” ucap Sandra sambil menirukan ucapan
Elena berserta nadanya juga.
“Rendra bahkan bukan calon
suamimu,” ucap Elena memperingatkan kenyataan tragis antara Sandra dan Rendra,
karena ia sangat kesal pada tuduhan Sandra padanya yang berniat akan menikah
__ADS_1
kembali.
Sepertinya baik Sandra dan
Malviano mempunyai pemikiran yang sama akan dirinya. Mereka sama-sama ingin Elena
mempunyai dua orang suami dalam waktu yang bersamaan. Bukankah akan aneh apalagi
bagi kaum perempuan jika mereka benar-benar menikah dengan dua pria lalu bagaimana
kelanjutan rumah tangga nantinya.
“Kau jahat,”
“Kau yang memulai sudah
kukatakan aku sedang memerlukan pendapatmu, tapi dari tadi kau malah membahas
masa depan yang sangat terlalu menakutkan untuk dibahas,” ucap Elena.
“Jadi kau pikir menakutkan
ya mempunyai menantu sepertiku,” ucap Sandra kini menjadi murung.
“Ya tuhan Sandra bukan maksudku,
aku berpendapat begitu karena kau yang seusiaku terlalu terobsesi menikah
dengan putraku yang masih berusia enam tahun. Bayangkan posisiku padamu, tapi
beda ceritanya jika kau meminta ijinku untuk menikahi kakak atau adik jika itupun
aku punya maka aku pasti akan langsung mendukung hubungan kalian kelak,” ucap Elena
panjang lebar karena ia harus membuat Sandra merasa diinginkan.
“Kau jahat, kau berkata
sekeren itu hanya karena kau tak mempunyai seorang saudara bukan?” tebak Sandra
yang sepertinya perasaannya mulai membaik.
“Aku bersungguh-sungguh,”
tegas Elena.
karena memang itulah
kenyataan jika memang ia mempunyai saudara yang seumuran dengan Sandra, orang
yang sangat berjasa baginya. Sayangnya ia adalah anak tunggal bahkan adapun
saudara jauh itu pun seorang wanita persis seperti dirinya, tak mungkinkan ia
menjodohkan Sandra dengan saudaranya yang perempuan itu.
“Jika dari pihakmu memang
benar kau tak mempunyai seorang saudarapun, bagaimana dari pihak Malviano. Ya walaupun
sikapnya menyebalkan seperti perkataanmu dulu, tapi bukankah Rendra mempunyai
sebagian besar Gen darinya,” ucap Sandra yang sepertinya kembali bersemangat
sehingga bisa berbicara sepanjang ini.
“Itu aku tak tahu, kau bisa
tanyakan hal itu pada Malviano langsung,” ucap Elena karena memang benar ia tak
mengetahui apapun tentang suaminya itu.
“Benarkah, atau kau sedang
menyembunyikan calon-calon suamiku,” curiga Sandra.
“Kau bodoh, dan
calon-calon suamiku? Kau pikir akan menikahi berapa orang?” ucap Elena sambil
mengetuk kepala Sandra dengan sendok yang berada didekat tangannya.
“Sakit tahu,”
“Makanya bicara itu
harusnya gunakan otakmu”
“Aku memang selalu
menggunakan otakku, jika tidak kita tak akan pernah bertemu karena jika otakku
tak dipakai maka aku akan mengelinding diatas tanah saat ini,” ucap Sandra yang
hanya bisa membuat terdiam, rasanya sangat pusing jika menghadapi Sandra yang
sedang mode gila seperti saat ini.
__ADS_1