Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 42


__ADS_3

“Kau baik-baik saja?” ucap


Sandra yang membuyarkan lamunan Elena.


Setelah Malviano memberikan


kembali telepon genggamnya yang sudah dimasukan aplikasi pelacak, Elena langsung


pergi untuk menjemput Sandra mengunakan taxi yang sudah ia pesan sebelumnya.


Rendra yang tak keberatan menunggu dirumah bersama Malviano dan juga Hanz


membuat Elena kini merasa nyaman untuk berbicara bersama Sandra disebuah Kafe.


“Aku membawamu kemari


karena aku ingin meminta saranmu?” ucap Elena yang tak ingin lebih lama lagi


memendam perasaannya.


“Sepertinya kali ini lebih


runyam dari masalah sebelumnya, kemarin saja kau tega pergi tanpa memberitahuku


selama hampir Empat bulan ini,” ucap Sandra.


“Kau marah?”


“Tentu saja, tapi aku tak


mungkin memarahi calon mertuaku lama-lama bukan. Walaupun karenanya aku berpisah


bersama pujaan hati ini,” ucap Sandra yang terdengar seperti sedang membacakan


sebuah puisi cinta.


“Sandra bisa kah aku serius


saat ini?”


“Tentu saja aku selalu serius


ibu mertua atau kau ingin ku sembut mamah mertua tapi bukankah Rendra memanggilmu


Mom jadilah apakah aku juga harus memanggil Mom mertua atau Mother in law,”


ucap Sandra yang sepertinya kebinggungan sendiri.


“Haruskah aku pulang?”


“Tentu tidak Mom mertua,”


ucap Sandra sambil menahan tangan Elena yang sudah berdiri hendak meninggalkannya.


“Aku sedang perlu


pendapatmu, jadi bisakah kali ini kau serius?” tanya Elena yang memastikan


Sandra sedang dalam keadaan yang tidak gila.


“Janji Mom mertua,”


ucapnya yang lega Elena kembali duduk.


“Dan apa-apaan kau memanggilku


seperti itu?”


“Bukankah itu keren,” ucap


Sandra yang bangga ia sudah memutuskan pangilannya pada Elena.


“Itu aku ingin mendiskusikan tentang Malviano,” ucap Elena memulai


konsultasi dadakannya pada Sandra teman, sahabat, atasan, kakak, bahkan


penyelamat hidupnya.


“Ada apa dengan Dad


mertua?”


“Sandra tidakkah aneh


memanggil kami dengan sebutan itu,”


“Tentu tidak aku sangat


menyukainya,” ucap Sandra semakin bangga.


Sandra sebenarnya


seseorang yang hebat diusia yang sama dengannya. Krtika Elena hanya bisa


menghasilkan untuk kebutuhan ia dan Rendra saja, berbeda dengan Sandra yang bisa


menggaji puluhan karyawannya. Ia tidak mempunyai segalanya karena harta warisan,

__ADS_1


akan tetapi wanita didepannya ini meraih semua itu dengan kerja keras yang tak


mudah.


“Serius,” sangah Elena yang


merasa terkadang masih tak mempercayai Sandra seoran gyang sehebat ia ketahui jika


saja dulu ia tak melihat dan merasakan secara langsung pandangan, strategi dan


penggalaman hidup Sandra secara langsung.


“Katakan,” ucapnya kini


langsung membuat wajah yang sangat serius.


“Kau tahu kan alasan kami


tinggal dinegara ini, bahkan tanpa memberitahukanmu selama ini?”


“Tentu jika tidak, aku


akan melaporkan kau pada pihak berwajib karena telah menculik calon suamiku,”


ucap Sandra yang lagi-lagi kembali mengila.


“Aku pergi,” ucap Elena


yang sudah muak akan sikap Sandra yang hanya main-main.


“Jangan begitu kau pasti


harusnya tahu, aku akan bereaksi seperti apa jika Rendra disebut-sebut disini,”


ucap Sandra yang lagi-lagi harus menahan kepergian Elena.


“Kau..”


“Minumlah dulu,” bujuk


Sandra untuk meredakan emosi Elena. “Kau boleh bercerita kembali dan aku janji


akan benar-benar serius, ya kecuali kau membawa-bawa calon suamiku,” tambahnya.


“Malviano menemukan kami,


dan sekarang Rendra sedang bersamanya,”


“Apa bukankah tadi kau bilang


begitu emosi.


“Diamlah kau tak lihat


orang-orang menatap kita aneh!” desis Elena dan meminta maaf pada orang-orang


sekitar yang terganggu karena mereka.


“Dia dirumah memang


bersama HANZ dan juga Malviano,”


“Sebenarnya siapa Hanz ini,


aku harus tahu Elena. Soalnya ia sepertinya begitu terikat pada Rendra seperti


cerita singkatmu ditelepon kemarin,” tuntut Sandra yang sepertinya lebih


penasaran dengan Hanz dari pada ceritanya tentang Malviano.


“Hanz pada Rendra itu


seperti kau bagiku,” jelas singkat Elena yang sebenarnya kesal karena Sandra lebih


tertarik apapun yang berhubungan dengan Rendra terlebih dahulu.


“Jadi Hanz adalah calon


Dad mertua baruku, harusnya kau mengatakan dari tadi jadi aku tak akan memakinya


semalaman seperti kemarin malam,” ucap Sandra yang terlihat lega.


“Kau gila, siapa yang


mengatakan aku akan menikah dengan Hanz?”


“Bukan kah tadi kau bilang


Hanz pada Rendra itu seperti aku bagimu,” ucap Sandra sambil menirukan ucapan


Elena berserta nadanya juga.


“Rendra bahkan bukan calon


suamimu,” ucap Elena memperingatkan kenyataan tragis antara Sandra dan Rendra,


karena ia sangat kesal pada tuduhan Sandra padanya yang berniat akan menikah

__ADS_1


kembali.


Sepertinya baik Sandra dan


Malviano mempunyai pemikiran yang sama akan dirinya. Mereka sama-sama ingin Elena


mempunyai dua orang suami dalam waktu yang bersamaan. Bukankah akan aneh apalagi


bagi kaum perempuan jika mereka benar-benar menikah dengan dua pria lalu bagaimana


kelanjutan rumah tangga nantinya.


“Kau jahat,”


“Kau yang memulai sudah


kukatakan aku sedang memerlukan pendapatmu, tapi dari tadi kau malah membahas


masa depan yang sangat terlalu menakutkan untuk dibahas,” ucap Elena.


“Jadi kau pikir menakutkan


ya mempunyai menantu sepertiku,” ucap Sandra kini menjadi murung.


“Ya tuhan Sandra bukan maksudku,


aku berpendapat begitu karena kau yang seusiaku terlalu terobsesi menikah


dengan putraku yang masih berusia enam tahun. Bayangkan posisiku padamu, tapi


beda ceritanya jika kau meminta ijinku untuk menikahi kakak atau adik jika itupun


aku punya maka aku pasti akan langsung mendukung hubungan kalian kelak,” ucap Elena


panjang lebar karena ia harus membuat Sandra merasa diinginkan.


“Kau jahat, kau berkata


sekeren itu hanya karena kau tak mempunyai seorang saudara bukan?” tebak Sandra


yang sepertinya perasaannya mulai membaik.


“Aku bersungguh-sungguh,”


tegas Elena.


karena memang itulah


kenyataan jika memang ia mempunyai saudara yang seumuran dengan Sandra, orang


yang sangat berjasa baginya. Sayangnya ia adalah anak tunggal bahkan adapun


saudara jauh itu pun seorang wanita persis seperti dirinya, tak mungkinkan ia


menjodohkan Sandra dengan saudaranya yang perempuan itu.


“Jika dari pihakmu memang


benar kau tak mempunyai seorang saudarapun, bagaimana dari pihak Malviano. Ya walaupun


sikapnya menyebalkan seperti perkataanmu dulu, tapi bukankah Rendra mempunyai


sebagian besar Gen darinya,” ucap Sandra yang sepertinya kembali bersemangat


sehingga bisa berbicara sepanjang ini.


“Itu aku tak tahu, kau bisa


tanyakan hal itu pada Malviano langsung,” ucap Elena karena memang benar ia tak


mengetahui apapun tentang suaminya itu.


“Benarkah, atau kau sedang


menyembunyikan calon-calon suamiku,” curiga Sandra.


“Kau bodoh, dan


calon-calon suamiku? Kau pikir akan menikahi berapa orang?” ucap Elena sambil


mengetuk kepala Sandra dengan sendok yang berada didekat tangannya.


“Sakit tahu,”


“Makanya bicara itu


harusnya gunakan otakmu”


“Aku memang selalu


menggunakan otakku, jika tidak kita tak akan pernah bertemu karena jika otakku


tak dipakai maka aku akan mengelinding diatas tanah saat ini,” ucap Sandra yang


hanya bisa membuat terdiam, rasanya sangat pusing jika menghadapi Sandra yang


sedang mode gila seperti saat ini.

__ADS_1


__ADS_2