
Setelah
mengatakan apa yang mengganjal dihati Elena langsung mengambil air minum milik
malviano yang langsung diteguknya sampai habis. Rasanya luar biasa segar entah
karena ia baru saja minum air yang menghilangkan dahaganya atau karena ia sudah
mengeluarkan semuanya langsung pada orang yang telah memberinya sebuah beban.
“Elena,,”
ucap Malviano pelan.
“Mengapa?”
tanya Elena masih menjawab denagn nada ketus karena suaminya masih berani berbicara
padanya.
“Sepertinya
kau salah paham,” cicit malviano yang terlihat menahan tawa.
“Adakah
lucu disini?” ucap Elena yang rasanya semakin sensitive melihat Malviano yang
melakukan sesuatu yang tidak biasa, sebenarnya jika ia tidak sedang tersinggung
karena perkataan pria itu mungkin saat ini ia akan mengabadikan wajah Malviano
yang menggemaskan seperti saat ini.
Sangat
jarang Malviano membuat wajah seperti yang terlihat didepan Elena seperti saa ini,
wajahnya terlihat perpaduan seperti ketakutan dan juga seperti seseorang yang bahagia
akan sesuatu hal yang membuat Elena tiba-tiba merasa marah karena mungkin saja
suaminya ini sedang menikmati kalau ia keberatan untuk pulang.
Sehingga
ia senang karena tak akan ada lagi yang akan menjadi penggangu dalam rumah
tangga baru mereka. Lalu bagaimana dengan Rendra yang kini sepertinya semakin
lengket dengan ayahnya ini? Apakah kali ini ialah yang mungkin akan ditinggal
sendirian sementara Rendra akan ikut pulang bersama Malviano?
“Apakah
aku boleh memelukmu lagi?”
“Kau
gila?”
“Ayolah,”
pinta Malviano sambil merentangkan kedua tangannya.
“Kau..,”
ucap Elena yang tak bisa melanjutkan ucapannya karena terlalu kesal dan akhirnya
memtuskan untuk pergi sebelum tangannya ditarik oleh Malviano untuk masuk dalam
pelukan pria itu kembali.
“Kau
benar-benar salah paham sayang,” ucap Malviano yang kini membalikkan badan
Elena untuk menghadap kearahnya.
Apakah
Elena tak salah dengar? Apakah tadi Malviano mengatakan sayang?
“Siapa
yang akan menikah dengan siapa menurutmu?”
“Kau
tentu saja dengan seseorang yang kau cintai?” jawab Elena yang memberanikan diri
untuk menjawab meski dalam hatinya tak sanggup karena rasanya jantungnya yang
__ADS_1
perpacu dengan kencang hanya mendengar ucapan Malviano yang memanggilnya dengan
ucapan sayang.
“Apakah
seseorang bisa menikah dua kali dalam hidupnya?”
“Tentu
saja bisa, mau sampai puluhan juga bisa,” ucap Elena yang kembali sebal akan
perkataan pria yang tadi membuatnya berdebar.
“Maksudku
apakah suatu pasangan bisa menikah lagi?”
“Ten..”
“Mereka
sudah menikah Elena dan mengapa juga mereka harus menikah lagi?”
“Haah..”
“Bukankah
kita sudah menikah atau kau ingin kita menikah lagi? Pernikahan kemarin sepertinya
kau tidak puas ya?” ucap Malviano yang sepertinya sedang menyimpulkan suatu
permasalahan.
“Mengapa
kita harus menikah lagi? Bukankah kali ini kau akan menikah dengan seseorang
yang kau cintai?” tanya Elena yang kini menjadi tak mengerti dengan ucapan Malviano.
“Sayang,
biar kali ini aku yang menjelaskan ku harap kau tak memotong apa yang akan ku
jelaskan,”
Lagi-lagi
Elena terbang hanya dengan ucapan Malviano yang memanggilnya sayang, agak aneh
ia akan menggucapkan hal itu pada orang lain itu pun sebenarnya ia akan ucapkan
pada Rendra karena ia benar-benar menyayangi dan mencintai anaknya, tapi ucapn
sayang dari Malviano ini sebenarnya apa maksudnya ya?
“Aku
mengajakmu juga Rendra pulang agar kita bisa bersama-sama lagi disana tentunya
kita kembali kesana sebagai sebuah keluarga yang utuh, aku sebagai seorang suamimu
dan ayah dari Rendra anak kita dan kau istriku juga seorang ibu dari anakku
Rendra,” jelas Malviano dengan ucapannya yang sangat serius dan membuat Elena
semakin kehilangan keseimbangannya ketika mempertahankan kedua kakinya untuk
tetap bisa berdiri dengan tegak.
“Aku sebenarnya
tak keberatan jika kau ingin kita hidup dinegara ini, tapi aku tak yakin kau
akan nyaman dinegara ini,” tambahnya yang terdengar seperti meledeknya diakhir
kalimat romantis yang baru saja ia ucapkan pada Elena.
“Aku
sangat senang berada dinegara ini, kau bisa lihat sendiri sampai saat ini aku
tak pernah mengeluh pada siapapun bahwa aku mau pulang, jadi atas dasar apa kau
mengatakan aku tak akan nyaman berada dinegara ini?” jelas Elena yang diakhiri
oleh sebuah pertanyaan yang mengganggunya apalagi tadi Malviano sepertinya
tersenyum sedikit seolah ia mengejek dirinya.
“Aku tak
yakin kau menikmati berada dinegara ini, apalagi ketika kau diharuskan keluar
__ADS_1
rumah,” jelas Malviano yang sekarang benar-benar mengejek Elena.
“Maksudmu
aku tak nyaman karena aku tak bisa berbicara pada mereka ketika diluar?”
Elena kini
mengerti apa yang coba dikatakan oleh Malviano padanya, ia mengejek bahwa Elena
tak mungkin bisa nyaman keluar rumah karena ia terhadap oleh komunikasi yang
terbatas karena ia belum bisa berbahasa sesuai dengan bahasa yang digunkan oleh
negara ini.
“Jika kita
kembali pulang bukankah kau akan lebih senang dan bahkan kau bisa melakukan
apapun yang bisa kau lakukan sendiri tanpa harus menghawatirkan menggunakan
bahasa asing?”
“Kau pikir
aku akan seperti ini saja, aku bisa belajar bahasa negara ini jika aku mau
tetap tinggal dan berjalan-jalan diluar,” jelas Elena yang berusaha melepaskan
diri dari pelukan Malviano.
Berkat
ucapan sayang yang beberapa saat Malviano ucapkan untuknya, ia lupa sudah
berapa lama mereka berpelukkan. Mereka memperdebatkan hal ini dengan posisi
Malviano memeluknya dengan erat. Sebenarnya apakah yang Malviano sadar berbicara
apa padanya dalam posisi yang terlalu intim seperti saat ini?
“Ayolah
sayang kau ikut aku pulang, aku tak tega terlalu lama meninggalkan Liam terlalu
lama,” bujuk Malviano
“Kau tak
tega pada Liam atau pada orang lain yang sedang menunggumu pulang?” tanya Elena
yang kembali ketus.
Elena masih
berpendapat Malviano sepertinya mempunyai seseorang yang akan dinikahinya dinegara
asal mereka, mungkin ia bersikap seperti ini karena ia takut Rendra tak akan
mengikutinya untuk pulang bersamanya. Liam mungkin hanya ia jadikan alasan yang
hebat agar ia bisa membujuknya.
“Kau tau
orang lainnya?” ucap Malviano yang sepertinya kelepasan berbicara karena ia
langsung memukul mulutnya menggunakan sebelah tangan yang membuat pelukan pada
Elena terlepas begitu saja.
Pertanyaan
Malviano yang spontan membuatnya membenarkan bahwa memang benar ada orang lain.
Apakah ucapan Malviano beberapa saat yang lalu hanyalah sebuah bualan seorang
buaya darat. Sejak kapan pria didepannya yang biasa terlihat dingin pada semua
kaum wanita bisa berbohong selancar seorang playboy yang terlalu sering
mengatakan hal seperti tadi?
Mungkinkah
kepribadian Maliano sebelumnya adalah seorang playboy yang berubah menjadi dingin
tak tersentuh oleh kaum wanita hanyalah sebuah kedok belaka? Tapi untuk apa? Dan
mengapa ia harus repot-repot menjemputnya sampai sejauh ini.
“Sebenarnya
__ADS_1
memang ada satu orang lagi yang menunggu kepulangan kita,” cicit Malviano.