Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 49


__ADS_3

          Setelah


mengatakan apa yang mengganjal dihati Elena langsung mengambil air minum milik


malviano yang langsung diteguknya sampai habis. Rasanya luar biasa segar entah


karena ia baru saja minum air yang menghilangkan dahaganya atau karena ia sudah


mengeluarkan semuanya langsung pada orang yang telah memberinya sebuah beban.


          “Elena,,”


ucap Malviano pelan.


          “Mengapa?”


tanya Elena masih menjawab denagn nada ketus karena suaminya masih berani berbicara


padanya.


          “Sepertinya


kau salah paham,” cicit malviano yang terlihat menahan tawa.


          “Adakah


lucu disini?” ucap Elena yang rasanya semakin sensitive melihat Malviano yang


melakukan sesuatu yang tidak biasa, sebenarnya jika ia tidak sedang tersinggung


karena perkataan pria itu mungkin saat ini ia akan mengabadikan wajah Malviano


yang menggemaskan seperti saat ini.


          Sangat


jarang Malviano membuat wajah seperti yang terlihat didepan Elena seperti saa ini,


wajahnya terlihat perpaduan seperti ketakutan dan juga seperti seseorang yang bahagia


akan sesuatu hal yang membuat Elena tiba-tiba merasa marah karena mungkin saja


suaminya ini sedang menikmati kalau ia keberatan untuk pulang.


          Sehingga


ia senang karena tak akan ada lagi yang akan menjadi penggangu dalam rumah


tangga baru mereka. Lalu bagaimana dengan Rendra yang kini sepertinya semakin


lengket dengan ayahnya ini? Apakah kali ini ialah yang mungkin akan ditinggal


sendirian sementara Rendra akan ikut pulang bersama Malviano?


          “Apakah


aku boleh memelukmu lagi?”


          “Kau


gila?”


          “Ayolah,”


pinta Malviano sambil merentangkan kedua tangannya.


          “Kau..,”


ucap Elena yang tak bisa melanjutkan ucapannya karena terlalu kesal dan akhirnya


memtuskan untuk pergi sebelum tangannya ditarik oleh Malviano untuk masuk dalam


pelukan pria itu kembali.


          “Kau


benar-benar salah paham sayang,” ucap Malviano yang kini membalikkan badan


Elena untuk menghadap kearahnya.


          Apakah


Elena tak salah dengar? Apakah tadi Malviano mengatakan sayang?


          “Siapa


yang akan menikah dengan siapa menurutmu?”


          “Kau


tentu saja dengan seseorang yang kau cintai?” jawab Elena yang memberanikan diri


untuk menjawab meski dalam hatinya tak sanggup karena rasanya jantungnya yang

__ADS_1


perpacu dengan kencang hanya mendengar ucapan Malviano yang memanggilnya dengan


ucapan sayang.


          “Apakah


seseorang bisa menikah dua kali dalam hidupnya?”


          “Tentu


saja bisa, mau sampai puluhan juga bisa,” ucap Elena yang kembali sebal akan


perkataan pria yang tadi membuatnya berdebar.


          “Maksudku


apakah suatu pasangan bisa menikah lagi?”


          “Ten..”


          “Mereka


sudah menikah Elena dan mengapa juga mereka harus menikah lagi?”


          “Haah..”


          “Bukankah


kita sudah menikah atau kau ingin kita menikah lagi? Pernikahan kemarin sepertinya


kau tidak puas ya?” ucap Malviano yang sepertinya sedang menyimpulkan suatu


permasalahan.


          “Mengapa


kita harus menikah lagi? Bukankah kali ini kau akan menikah dengan seseorang


yang kau cintai?” tanya Elena yang kini menjadi tak mengerti dengan ucapan Malviano.


          “Sayang,


biar kali ini aku yang menjelaskan ku harap kau tak memotong apa yang akan ku


jelaskan,”


          Lagi-lagi


Elena terbang hanya dengan ucapan Malviano yang memanggilnya sayang, agak aneh


ia akan menggucapkan hal itu pada orang lain itu pun sebenarnya ia akan ucapkan


pada Rendra karena ia benar-benar menyayangi dan mencintai anaknya, tapi ucapn


sayang dari Malviano ini sebenarnya apa maksudnya ya?


          “Aku


mengajakmu juga Rendra pulang agar kita bisa bersama-sama lagi disana tentunya


kita kembali kesana sebagai sebuah keluarga yang utuh, aku sebagai seorang suamimu


dan ayah dari Rendra anak kita dan kau istriku juga seorang ibu dari anakku


Rendra,” jelas Malviano dengan ucapannya yang sangat serius dan membuat Elena


semakin kehilangan keseimbangannya ketika mempertahankan kedua kakinya untuk


tetap bisa berdiri dengan tegak.


“Aku sebenarnya


tak keberatan jika kau ingin kita hidup dinegara ini, tapi aku tak yakin kau


akan nyaman dinegara ini,” tambahnya yang terdengar seperti meledeknya diakhir


kalimat romantis yang baru saja ia ucapkan pada Elena.


“Aku


sangat senang berada dinegara ini, kau bisa lihat sendiri sampai saat ini aku


tak pernah mengeluh pada siapapun bahwa aku mau pulang, jadi atas dasar apa kau


mengatakan aku tak akan nyaman berada dinegara ini?” jelas Elena yang diakhiri


oleh sebuah pertanyaan yang mengganggunya apalagi tadi Malviano sepertinya


tersenyum sedikit seolah ia mengejek dirinya.


“Aku tak


yakin kau menikmati berada dinegara ini, apalagi ketika kau diharuskan keluar

__ADS_1


rumah,” jelas Malviano yang sekarang benar-benar mengejek Elena.


“Maksudmu


aku tak nyaman karena aku tak bisa berbicara pada mereka ketika diluar?”


Elena kini


mengerti apa yang coba dikatakan oleh Malviano padanya, ia mengejek bahwa Elena


tak mungkin bisa nyaman keluar rumah karena ia terhadap oleh komunikasi yang


terbatas karena ia belum bisa berbahasa sesuai dengan bahasa yang digunkan oleh


negara ini.


“Jika kita


kembali pulang bukankah kau akan lebih senang dan bahkan kau bisa melakukan


apapun yang bisa kau lakukan sendiri tanpa harus menghawatirkan menggunakan


bahasa asing?”


“Kau pikir


aku akan seperti ini saja, aku bisa belajar bahasa negara ini jika aku mau


tetap tinggal dan berjalan-jalan diluar,” jelas Elena yang berusaha melepaskan


diri dari pelukan Malviano.


Berkat


ucapan sayang yang beberapa saat Malviano ucapkan untuknya, ia lupa sudah


berapa lama mereka berpelukkan. Mereka memperdebatkan hal ini dengan posisi


Malviano memeluknya dengan erat. Sebenarnya apakah yang Malviano sadar berbicara


apa padanya dalam posisi yang terlalu intim seperti saat ini?


“Ayolah


sayang kau ikut aku pulang, aku tak tega terlalu lama meninggalkan Liam terlalu


lama,” bujuk Malviano


“Kau tak


tega pada Liam atau pada orang lain yang sedang menunggumu pulang?” tanya Elena


yang kembali ketus.


Elena masih


berpendapat Malviano sepertinya mempunyai seseorang yang akan dinikahinya dinegara


asal mereka, mungkin ia bersikap seperti ini karena ia takut Rendra tak akan


mengikutinya untuk pulang bersamanya. Liam mungkin hanya ia jadikan alasan yang


hebat agar ia bisa membujuknya.


“Kau tau


orang lainnya?” ucap Malviano yang sepertinya kelepasan berbicara karena ia


langsung memukul mulutnya menggunakan sebelah tangan yang membuat pelukan pada


Elena terlepas begitu saja.


Pertanyaan


Malviano yang spontan membuatnya membenarkan bahwa memang benar ada orang lain.


Apakah ucapan Malviano beberapa saat yang lalu hanyalah sebuah bualan seorang


buaya darat. Sejak kapan pria didepannya yang biasa terlihat dingin pada semua


kaum wanita bisa berbohong selancar seorang playboy yang terlalu sering


mengatakan hal seperti tadi?


Mungkinkah


kepribadian Maliano sebelumnya adalah seorang playboy yang berubah menjadi dingin


tak tersentuh oleh kaum wanita hanyalah sebuah kedok belaka? Tapi untuk apa? Dan


mengapa ia harus repot-repot menjemputnya sampai sejauh ini.


“Sebenarnya

__ADS_1


memang ada satu orang lagi yang menunggu kepulangan kita,” cicit Malviano.


__ADS_2