
Hari ini Elena pergi memakai pakaian yang tak biasa dipakainya, gaun yang disiapkan
oleh Rendra kemarin membuatnya terlihat sangat berbeda. Bukan hanya pakaiannya
tapi juga diharuskan untuk memakai riasan yang sangat jarang ia gunakan pada wajahnya
yang membuatnya selalu menenggok apapun yang bisa melihat penampilannya.
“Mom sudah sangat cantik.” Ucap Rendra sambil terkikih geli melihat kelakuan ibunya.
“Bisakah kita berhenti sebentar didepan toko sana?” ucap Elena pada Liam yang sedang mengemudikan
mobil yang membawa Elena dan juga Rendra kesuatu tempat yang dirahasiakan oleh
Liam juga Rendra.
Sebenarnya Rendra akan membiarkan ibunya pergi ketoilet atau kemanapun ibunya akan pergi,
jika saja mereka mempunyai sedikit waktu agar bisa datang tepat pada waktunya.
Rendra tak mengerti apa yang dihkhawatirkan oleh ibunya, sementara dimata
Rendra ibunya terlihat sangat-sangat cantik melebihi miss universe.
“Mom kita akan semakin terlambat jika Mom masih memperhatikan apa yang Mom pakai
saat ini, bukankah Rendra katakana Mom sudah sangat cantik.” Ucap Rendra yang
tiba-tiba menjadi kesal.
“Memangnya kita akan kemana sih dengan penampilan seperti ini.” Ucapan Elena membuat Rendra menjadi diam, dan kini malah tiba-tiba lebih tertarik dengan pemandangan
yang terlihat dijendela kaca mobil.
Elena semakin gelisah memikirkan kemana ia akan dibawa dengan memakai pakaian yang
terlihat berlebihan untuk dipakai ditempat umum. Elena sebenarnya sudah membuat
seribu alasan agar tak memakai bahkan ikut bersama Rendra.
Tapi mendengar ancaman Rendra yang akan tinggal dirumah Malviano jika ia tak
bersedia menuruti kemauannya, akhirnya Elena pun menuruti apapun yang
diingginkan oleh Rendra. Elena tak akan pernah rela ataupun membiarkan hal itu
terjadi selama yang mampu bisa dipertahan olehnya.
***
“Kalian sudah datang.” Ucap Malviano ketika melihat Rendra yang kini menuntun seorang wanita cantik lebih tepatnya menarik dengan paksa.
“Dad, kita hampir saja terlambat jika tadi Mom masih saja menemui kekasihnya.” Adu Rendra
yang kini masuk dalam gendongan Malviano setelah melepaskan tangan Elena.
“Mom, Kekasih?” ucap Malviano yang sepertinya terkejut mengetahui wanita cantik yang
dituntun oleh anaknya adalah ibu dari anaknya, dan entah mengapa sepertinya ia
merasa marah mendengar kata kekasih yang terlontar dari mulut anaknya tersebut.
“Hampir tiap detik ia ingin menemuinya jika saja tak Rendra beri ancaman untuk lebih
mengikuti permohonan Rendra datang kemari.”
“Tak sebaiknya kau lebih mementingkan keperluan pribadimu lebih dari kepentingan
anak kandungmu sendiri.” Ucap Malviano sinis pada Elena.
Mendengar hal itu membuat Elena tersentak kaget dengan apa yang telah Malviano tuduhkan
kepadanya, lagi pula keperluan pribadi mana yang bisa mengalahkan kepentingan
anaknya tersayang.
“Maaf.” Hanya itu yang terlontar dimulut Elena.
“Harusnya tadi Dad ikut membawa Mom kemari, hingga tak ada alasan Mom betah lama-lama didepannya.”
Ucap Rendra yang sepertinya semakin membuat Malviano semakin kesal dibuatnya.
“Rendra bilang saja pada Om itu, kalau Rendra tak menyukainya.” Ucap Malviano yang
memanasi anaknya agar menjauhkan ibunya dari pria lainnya.
“Dad, Haruskah Rendra bicara pada benda mati? Bahkan memanggilnya dengan sebutan Om?”
ucap Rendra polos.
“Benda mati?”
“Ya Mom berdiri didepannya sepanjang pagi ini, ia sepertinya tidak suka dengan baju
yang dipilih Rendra.” Ucap Rendra sedih.
“Sayang, Mom sangat suka baju ini, lihatlah bahkan Mom tadi berfoto dengan baju yang
Rendra berikan untuk Mom.” Ucap Elena yang kini sibuk mencari telepon
__ADS_1
genggamnya untuk memberikan bukti atas perkataannya.
Malviano kini menurunkan Rendra dan meminta ijin meninggalkan mereka, ia meminta ijin
pergi dengan suara yang cukup pelan. Elena bahkan sempat melihat raut wajah Malviano
yang sepertinya menghindari bertatap muka dengannya ketika berbicara.
“Selamat datang Bapak dan ibu sekalian yang saya hormati.” Ucap Malviano berbicara diatas
panggung yang sepertinya sudah disiapkan untuk membuat orang-orang yang berada
disana terfokus dengan apa yang akan tersaji diatas panggung itu.
Ketika mendengar suara Malviano semua orang yang berada digedung baik orang yang lebih
tua, orang yang sepentaran bahkan anak-anak yang mengikuti orang tuanya untuk
berada disini kini memusatkan perhatian mereka pada Malviano yang berada diatas
panggung.
“Terimakasih banyak atas kehadirannya karena telah bersedia menyempatkan waktu diwaktu sibuk
Bapak dan ibu sekalian.” Ucap Malviano yang kini menjeda perkataannya sambil
tersenyum menyapa kolega-koleganya yang balas tersenyum karena kerendahan hati
Malviano atas ucapannya.
“Hari ini saya menggumpulkan Bapak dan juga ibu disini karena ingin merayakan sesuatu
hal yang luar biasa dapat diraih perusahaan ZRO.” Ucap Malviano dengan bangga.
Mendengar hal itu semua orang yang berada disana bertepuk tangan dengan antusias
mendengar kabar mengembirakan yang baru saja diucapkan oleh Malviano. Elena
yang tak tahu menahu tentang apa yang sedang berlangsung hanya bertepuk tangan
mengikuti apa yang orang-orang disekelilingnya lakukan.
“Sudah hampir sepuluh tahun terakhir perusahan kami mengikuti perlombaan Game terbaik,
yang sayang sekali mendapatkan hasil yang selalu membuatku tak dapat mengangkat
kepala ketika bertemu kawan lamaku yang setiap tahunnya selalu memenangkan
perlombaan tersebut.” Ucap Malviano menjeda ucapannya sambil menggelengkan
kepala sepertinya ia menggenang masa-masa kekalahan yang dulu harus dihadapinya.
kembali dan menyampaikan berita bahagia ini dengan juga dengan bangga bahwa
perusahaan ini kini predikat Game terbaik tahun ini dapat diraih oleh
perusahaan ZRO.”
Mendengar apa yang Malviano ucapkan membuat semua tamu yang sedang memerhatikannya langsung
bertepuk tangan dengan sangat antusias bahkan beberapa dari mereka saling
berjabat tangan bahkan ada yang saling berpelukkan dengan senyuman lebar.
Sepertinya bebrapa yang berada digedung ini sebagian besar adalah karyawan maupun karyawati
perusahaan ZRO, mereka sepertinya sangat gembira mendapatkan apa yang mereka raih
seperti ucapan Malviano tadi perusahaan mereka dulunya selalu kalah dari
perusahaan saingan mereka.
“Hal ini semua dapat terwujud berkat semua orang-orang yang selalu bekerja dengan
tekun diperusahaan ZRO.” Ucap Malviano membuat beberapa orang hampir menanggis
terharu mendengar pengakuan atas jerih payah mereka.
“Dan yang paling penting, semua hal ini tak akan pernah terwujud tanpa bantuan dari ide
brilian seorang anak yang membantu kita semua dalam membuat suatu projek yang
berhasil menjadi sebuah Game yang mulai hari ini resmi diliris pada masyarakat
luas” ucap Malviano sambil mengulurkan tangannya menyambut kedatangan Rendra naik
keatas panggung menghampirinya.
Hal itu sontak membuat Elena merasa sangat kaget dengan ucapan Malviano akan apa
yang sudah Rendra lakukan diusianya yang masih muda, dan jangan lupakan
pertemuan Rendra dan Malviano yang masih bisa dibilang baru saja bertemu. Elena
harus menanyakan bagaimana caranya bahkan sejak kapan anaknya mulai bergabung
bersama Malviano untuk membuat hal besar tersebut.
“Perkenalkan anak yang bisa mewujudkan impian kita semua, Rendra yang tak lain dan tak bukan
__ADS_1
adalah anak kandung saya sendiri.” Ucap Malviano yang kini mengendong Rendra
dan memperlihatkan wajah anaknya dengan sangat bangga pada orang-orang yang kini
sepertinya tak kalah kaget dengan keadaan Elena.
Meskipun orang-orang yang berada disana dibuat sangat kaget dengan pengakuan tak terduga
dari Malviano tapi sambutan yang dilontarkan oleh orang-orang yang berada disana
malah terlihat seperti mereka malah menjadi penasaran dengan hasil Game yang
telah dibuat oleh anak yang kini berada digendongan Malviano.
Beberapa orang kini malah terlihat mengabadikan wajah Rendra dan Malviano pada telepon
genggam bahkan ada yang memakai kamera yang Elena ketahui dari tanda pengenal
yang menggatung dileher mereka yang menunjukkan mereka adalah seorang wartawan
yang sepertinya menjadi antusias dalam mengambil gambar yang bagus yang akan
mereka pakai sebagai bukti dari berita yang akan mereka sebarkan dimajalah
maupun Tabloit tempat mereka berada.
“Bos lihat mereka sekarang terlihat sangat besar kepala.” meskipun berbisik seorang pria pada pria lainnya tapi suara mereka terdengar jelas oleh Elena karena posisi mereka berdiri tepat disampingnya.
“Bukankah sudahku bilang jangan sampai gagal memberikan virus pada kepada keamanan sistem
mereka.” Ucap pria satunya yang disebut pria tadi sebagai Bos.
“Ya kami akan mengirimkan Virus itu secepatnya sehingga mereka akan mengalami kekecewaan yang
besar pada masyarakat yang telah membeli Game yang mereka buat” Jelasnya yang
memberikan sebuah ide yang tak akan membuat bosnya semakin marah padanya.
“Pastikan kali ini Kau tak mengecewakaanku” ucap pria itu dan ketika akan dijawab oleh pria
lainnya mereka dikejutkan dengan kedatangan pria lainnya.
“Selamat siang tuan, aku tak pernah tahu anda bisa menyempatkan datang disini.” Ucap Liam
yang merupakan pria lain yang kini datang menghampiri pria disamping Elena
tersebut.
“Tentu saja aku akan datang untuk mengucapkan selamat karena telah berhasil merebut
kemenangan yang selalu kami dapatkan tiap tahunya.” Ucap pria yang disebut Bos itu
dengan ucapan yang terdengar sangat angkuh.
“Lalu mengapa anda masih disini dan tidak langsung menghampiri tuan Malviano disana?”
ucapan Liam terdengar tak kalah angkuh.
“Kami harus segera pergi, jadwal kami cukup padat hanya untuk mengantri hanya untuk
mengucapkan hal yang bisa kau sampaikannya dari kami.” Ucap pria itu yang terlihat
sangat jengkel mendengar jawaban Liam yang tak kalah angkuh darinya.
“Kalau begitu akan saya sampaikan ucapan tulus dari anda jika nanti tuan Maliano sudah
selesai menerima ucapan yang sepertinya memang tak akan selesai dengan cepat
dan juga ucapan maaf dari anda yang luar biasa sibuk tapi masih menyempatkan diri
menghadiri perayaan perebut kemengan yang biasanya selalu perusahaan anda raih.”
Ucap Liam dengan panjang lebar membuat pria dan juga asistennya tadi langsung
beranjak pergi tanpa membalas apa yang diucapakan oleh Liam.
“Sampai jumpa lagi, hati-hati dijalan tuan.” Teriak Liam pada pria-pria yang berjalan
semakin menjauh.
“Kata-katamu tadi cukup kejam.” Ucap Elena menghampiri Liam.
“Khafi nama orang tersebut ia adalah saingan Malviano dari bangku kuliah hanya saja
keahlian mereka sedikit berbeda sebelumnya.” Jelas Liam
“Tadi aku sempat mendengar mereka sepertinya mereka akan mengacaukan Game yang akan
segera diliris.” Ucap Elena yang langsung menyampaikan apa yang ia curi dengar
dari percakapan pria disebelahnya.
“Anda jangan khawatir dengan kepintaran yang dimiliki Rendra dan bantuan Malviano itu
tak akan menjadi masalah besar.” Ucap Liam.
Mendengar hal itu yang bisa Elena lakukan hanya menyetujui hal itu dan berdoa semoga
anaknya dan juga Malviano bisa melewati serangan-serang lawan terhadap mereka
__ADS_1
berdua.