
“Bagaimana?” Tanya Elena yang sangat penasaran.
“Beliau seperti sangat sibuk hingga semua panggilan teleponku tak dihiraukannya, tapi
aku sudah mengirimkan pesan padanya.” Ucap Liam.
“Terimakasih.” Ucap Elena yang tak mungkin menahan Liam lebih lama ketika perusahaan Malviano
sedang kacau, karena walau bagaimanapun yang diperlukannya bukan pria didepannya
tapi Bosnya lah yang seharusnya berada didepannya kini.
“Sebaiknya aku kembali, anda harus menghubungiku jika ada sesuatu hal terjadi pada Tuan
kecil.” Ucap Liam.
Mendengar itu membuat Elena semakin ingin memaki Malviano saat ini juga, bagaimana mungkin
orang lain lebih peduli pada anak mereka dibanding dengan dirinya yang merupakan
ayah kandungnya. Elena mamang harus mengakui pertemuan mereka hanya bisa dihitung
bulan tapi apakah hal itu masih berlaku pada Rendra yang merupakan anak
kandungnya?.
Setelah Liam pergi Elena kembali kedalam ruangan Rendra berada, sepertinya ia masih
tertidur nyenyak. Mungkin tadi dokter memberinya semacam obat tidur agar sakit
yang diderita Rendra cepat sembuh. Sambil menunggui Rendra, Elena membuka
telepon genggamnya dan mengetikkan pesan pada Malviano sendiri.
Ia berharap meskipun tadi Liam melakukan hal tersebut, tapi jika pesan itu
langsung darinya mungkin respon yang diberikan pria itu bisa lebih cepat. Dan itulah
yang dilakukan Elena ia bisa melihat bahwa pesan itu kini langsung terbaca oleh
penerima pesan yang dimaksudnya.
“Hallo..” ucap Malviano ketika Elena mengangkat telepon.
“Ya..” ucap Elena yang tak tahu kini harus dikatakan.
“Bisakah kau menjaganya tanpa harus menggangguku.” Ucap Malviano yang terdengar dingin
dan langsung memutuskan panggilan telepon mereka tanpa mengatakan apapun lagi.
Elena yang tak percaya apa yang didengarnya kini memastikan bahwa beberapa detik yang
lalu memang terjadi sebuah pembicaraan dengan Malviano. Meskipun jelas tercatat
memang benar adanya panggilan yang terjadi, tapi Elena kini hanya bisa menatap
kosong pada telepon genggamnya.
“Apa yang harus ku lakukan kini.” Ucap Elena pelan.
Perasaannya begitu campur aduk sekarang, apakah ia harus membiarkan Malviano saat ini ketika
tadi ia mendengar secara langsung apa yang sedang dihadapinya saat ini, atau apakah
ia harus tetap berjuang untuk membuat laki-laki itu memberikan perhatian lebih
pada anak mereka yang kini sedang sakit karena perbuatan Malviano padanya.
“Mom..” Elena terbangun oleh suara Rendra, ia mengedip-ngedipkan mata terlebih dahulu untuk
__ADS_1
membuatnya segera terjaga.
Sepertinya kini hari sudah larut terlihat dari kaca yang terletak disamping tempat tidur
Rendra yang menunjukkan awan yang mengelap. Elena jatuh tertidur memikirkan apa
yang seharusnya kini dilakukannya, bukannya mendapatkan jawaban tapi kini ia
malah mendapatkan mimpi bahwa Malviano sangat menyalahkan keberadaan Rendra dihidupnya
dan bahkan membuangnya dengan cara yang cukup kejam.
Dan untunglah hal itu hanyalah sebuah mimpi yang menjadi bunga tidur, tetapi jika hal
itu yang akan Malviano lakukan pada Rendra, Elena pasti tak akan pernah membiarkan
hal yang terjadi dimimpi itu menjadi kenyataan. Mimpi tadi cukup kejam bahkan
baginya yang sudah dewasa, ia harus membuat Rendra tak pernah mengalami apa
yang terjadi dimimpinya.
“Momm..” ucap Rendra kembali.
“Sayang kau lapar?.” Jawab Elena yang kini sudah duduk disamping tempat tidur Rendra.
“Dad.” Ucap Rendra yang sepertinya Elena bisa menebak bahwa anaknya sangat memerlukan
perhatian dari ayahnya.
“Ini sudah malam sayang, Dad kelelahan jadi tadi Mom suruh untuk istirahat dirumah.”
Ujar Elena berbohong, ia tak mungkin mengatakan kenyataan bahwa ayahnya masih sibuk
dengan urusannya diperusahaan.
“Aku ingin Nasi Tim.” Ucap Rendra yang sepertinya cukup pengertian pada ayahnya,
sedang sakit seperti saat ini.
“Mom kebawah untuk membelikannya untukmu, kau tak apa Mom tinggal sendirian?.” Tanya
Elena memastikan apa yang Rendra inginkan.
“Rendra memenggang telepon jika ada apa-apa Rendra akan menelepon Mom.” Ucap Rendra
menunjukkan apa yang dikatakannya.
Elena menganggukkan kepala, membawa dompet dan keluar untuk membelikan apa yang diminta
Rendra setelah mencium kepala anaknya. Ia langsung menuju kebawah rumah sakit dimana
biasanya terdapat toko ataupun penjual-penjual yang menyediakan berbagai
makanan.
Untunglah dibawah memang terdapat penjual Nasi Tim yang diinginkan oleh anaknya, ia
langsung membeli dua porsi karena ia pun belum makan ketika membawa Rendra tadi
kerumah sakit ini. Setelah membayar ia membawa makanan mereka ke kamar inap
Rendra.
“Mom lihat.” Ucap Rendra yang kini terlihat sangat marah dan menunjukkan telepon
genggamnya ketika Elena baru saja masuk.
Elena begitu shock melihat sebuah foto yang menunjukkan kebersamaan Malviano dan Harsha yang telah sampai pada Rendra. Sepertinya saat ia tak ada tadi Rendra mendapatkan sebuat peasan yang berupa sebuah foto tersebut. Foto itu menujukkan Harsha dan Malviano yang sedang tertawa entah karena apa.
__ADS_1
Bagaimana mungkin Malviano bersenang-senang sendirian sementara disini Rendra anaknya
sendiri sedang menunggu kedatangan ayahnya ketika ia sedang sakit. Sepertinya melihat
hal itu Membuat anaknya berbalik marah pada Malviano.
“Mom apakah Dad tidak khawatir pada Rendra? Apakah Dad memang akan menikah kembali
dengan tante itu seperti apa yang dulu Mom katakan?.” Ucap Rendra tiba-tiba.
Elena memang tak pernah membicarakan kenyataan yang didengarnya dari Kenzo saat itu,
Elena berpendapat Rendra masih terlalu kecil untuk mengerti urusan orang
dewasa. Jadi Rendra sampai saat ini memang belum mengetahui apapun selain tiba-tiba
saja ayah dan ibunya memutuskan untuk menikah dan membangun kebuah keluarga
bersama Rendra.
Kala itu Rendra sangat bahagia mendengar kabar tersebut, Elena bahkan tak pernah melihat
senyuman Rendra yang bertahan sepanjang hari ketika memerhatikan Elena yang
sedang menyiapkan segala sesuatu baginya dan juga Malviano kala awal-awal pernikahan
mereka.
“Darimana Rendra mendapatkan foto itu?.” Alih-alih menjawab Elena lebih penasaran darimanakah
Rendra mendapat foto itu.
“Dari Dad tentu saja.” Ucap Rendra.
Mendengar hal itu membuat Elena semakin binggung apa yang sebenarnya telah Malviano
perbuat pada anaknya, apakah ia sengaja mengirimkan pada anak mereka agar
mereka tak mengganggu waktunya lagi. Apakah menurut pria itu kini keberadaan
mereka sangat mengganggunya?.
“Mom bukankah dulu Mom katakana pada Rendra jika tante itu tak ingin menjadi Mom
Rendra, Mom akan membawa Rendra kemanapun agar kita tak dapat bertemu Dad lagi?.”
Tanya Rendra yang sepertinya masih mengingat perkataan Elena.
“Tapi sayang..” ucap Elena mencoba membuat Rendra tak terlalu berpikir yang tidak-tidak
saat ini.
“Rendra janji kali ini Rendra tak akan pernah lagi mengganggu kehidupan Dad lagi.” Ucap
Rendra penuh keyakinan.
“Sayang…”
“Lihat Mom, Rendra berada dirumah sakit saja Dad masih bisa tertawa senang bersama
tante itu.” Ucap Rendra yang sepertinya sangat kecewa pada ayahnya.
“Tapi..”
“Ayolah Mom.. saat ini bukankah kita harus pergi sejauh mungkin.. Dad sepertinya memang tak
begitu senang berada disisi kita..” ucap sedih Rendra yang kini menanggis ketika
mengatakannya.
__ADS_1
Sekarang apa yang harus diperbuat oleh Elena?