Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 31


__ADS_3

Pagi ini Elena harus menahan rasa


malunya,bagaimana tidak bukankah semalam ia sudah mengatakan pada Hanz bahwa ia


tidak membutuhkan bantuan pria itu. Tapi pagi-pagi sekali pria itu harus dibangunkan


oleh panggilan Elena, yang memintanya untuk datang kerumah sakit secepatnya


karena ia benar-benar membutuhkan kehadiran pria itu.


“Terimakasih.” Ucap Elena begitu


memerah karena rasa malunya.


“Seharusnya kau biarkan aku menginap


dirumah sakit ini semalam.” Ucap Hanz yang terlihat sangat kesal sekarang.


“Aku cukup mampu, hingga tadi pagi


suster itu datang.” Ucap Elena yang sebenarnya ingin sekali marah pada Hanz,


bukan salahnyakan tiba-tiba ia benar-benar membutuhkan pria itu.


Sebenarnya Elena sangat ingin


menelepon Malviano, walau bagaimana pun pria itu masih harus bertanggung jawab


pada anaknya. Akan tetapi ia binggung harus bicara apa nantinya pada Rendra


kalau sebenarnya ayahnya sudah mengetahui keberadaan mereka.


Rendra menganggap Hanzlah yang


telah mengendongnya, karena begitu membuka matanya yang dilihat adalah Hanz


bukan Malviano. Ditambah Elena belum mendengar apa yang akan diputuskan oleh


Malviano, membuat Elena lagi-lagi harus meminta pertolongan pada Hanz.


“Sebenarnya aku sedikit curiga


Rendra bukan anakmu.” Ucap Hanz dengan nada menyindir.


“Kalau bukan anakku, dia anak siapa?


Jangan bilang dia anakmu?” ucap Elena asal karena ia kembali kesal mendengar


pernyataan yang seperti itu.


Elena sudah terlalu sering mendengar


pernyataan itu, dikarenan bukan hanya penampilan Rendra yang begitu mirip


dengan Malviano akan tetapi kepintarannya yang luar biasa jugalah memang diturunkan


oleh pria itu. Rendra hanya mengambil warna rambutnya saja, dan hal itu tak


cukup besar untuk membuktikan dia adalah anak kandungnya.


“Orang-orang akan lebih percaya


hal itu.” Ucap Hanz yang juga mengakui ucapan asal Elena.


“Maksudmu?” ucap Elena yang


benar-benar kesal akan pengakuan Hanz.


“Dengar saja apa yang dikatakan


suster tadi.” Ucap Hanz.


“Kalau aku mengerti apa yang dia


ucapkan, aku tak akan pernah memintamu untuk datang kesini.” Ucap Elena yang


lagi-lagi kesal pada dirinya sendiri, semua ini tak akan terjadi jika saja ia mengerti


bahasa yang digunakan oleh negara ini.


“Suster tadi mengatakan, untung


saja ayahnya datang tepat waktu. Tadi saya sudah lelah menjelaskan bahwa anak


anda sudah boleh pulang. akantetapi istri benar-benar tak mengerti apa yang


saya ucapkan.” Ucap Hanz ucapan suster tadi padanya dan juga menirukan cara


berbicara suster perbedaannya hanya pada bahasa yang dipakai Hanz adalah bahasa


yang dimengerti oleh Elena.

__ADS_1


“Hanya itu?.” Tanya Elena kecewa.


Jika seperti itu sebenarnya lebih


mudah jika tadi ia tak memaksa suster tersebut untuk berbicara tanpa melibatkan


Rendra, jika hanya bicara hal yang seperti ini Elena tak akan mendengar hal


yang aneh-aneh dari Hanz.


Elena tadinya mengira suster


mengatakan hal-hal seperti Rendra harus mendapatkan suntikan sebelum pulang,


tadinya ia ingin sedikit berkompromi bersama suster tersebut. Berkompromi untuk


melakukan hal tersebut secara sembunyi-sembunyi agar anak itu tidak terlalu


takut.


“Memangnya kau pikir kenapa?.”


“Syukurlah, terimakasih.” Ucap Elena


yang lega tapi sepertinya ada sesuatu yang aneh yang ia lupakan. “Mengapa


suster tadi mengatakan kau adalah ayahnya?.”


“Tentu saja karena kami sama-sama


sangat tampan.” Ucap Hanz sambil mengusap rambut depannya kebelakang.


“Untung saja aku berhutang


padamu.” Gerutu Elena sambil meninggalkan Hanz dan berjalan kedalam ruangan


Rendra berada.


“Bagaimana Mom?” ucap Rendra yang


menunggu kabar dari Elena dengan wajah yang terlihat sangat cemas.


“Kau boleh pulang sekarang juga.”


Ucap Elena.


Mendengar hal itu Rendra langsung


terlihat sangat senang, ia bahkan akan turun kebawah jika tidak mendapat


tangannya untuk menyapa Rendra dan mendekati anak itu.


“Kau sudah lebih baik?.” Tanya


Hanz setelah berada didepan anak itu.


“Tentu, kemarilah.” Ucap Rendra


menyuruh Hanz mendekat untuk membisikkan sesuatu padanya.


“Apa katanya.” Ucap Elena yang


penasaran apa yang telah diucapkan anaknya pada Hanz.


“Mom, ini urusan laki-laki.” Ucap


Rendra menolak untuk memberitahu ibunya.


“Tapi..” Elena mencoba mencari


tahu sebelum ucapannya dipotong oleh Hanz.


“Jika kau laki-laki maka akan ku


beri tahu.” Ucap Hanz sambil bertos bersama Rendra senang karena dengan begitu


Elena tak mungkin akan bertanya kembali.


Disaat seperti ini rasanya Elena ingin


sekali cepat-cepat mempunyai seorang anak perempuan, anaknya yang laki-laki cenderung


mempunyai pemikiran yang berbeda dengannya. Tapi mengingat rumah tangganya yang


belum jelas akan masa depannya, seketika membuat Elena langsung kehilangan


harapan untuk mempunyai seorang anak perempuan.


“Kalau begitu mengapa kau tak


menjadi anak dari Om Hanz.” Rajuk Elena.

__ADS_1


“Ide bagus, Kau mau kan menjadi


anak Om?.” Tawar Hanz pada Rendra.


“Kalau begitu kenapa Om tidak menikah


dengan Mom?.” Rendra balik bertanya.


“Mengapa Om harus menikahi Mom mu


yang aneh ini?.” Ucap Hanz berbicara seolah-olah ia keberatan karena telah


menjodohnya dengan Elena.


“Siapa juga yang ingin menikah


denganmu, lagi pula aku masih mempunyai seorang suami.” Ucap Elena yang tiba-tiba


merasa emosi akan perkataan Hanz padanya.


“Mom..” Ucap Rendra dengan nada


yang berubah menjadi sendu.


Elena sontak melihat pada Rendra,


ia menyadari perkataannya yang sepertinya telah menyinggung keberadaan Malviano.


Sehingga anak itu tak sesenang beberapa saat yang lalu, Elena hanya bisa


merutuki mulutnya yang terlalu ceroboh sehingga membuat situasi berubah seperti


ini.


“Sayang..” Elena sepertinya harus


membicarakan pada anaknya bahwa kemarin Malviano sudah berhasil menemukan


mereka seperti apa yang selama ini diinginkan anaknya itu.


Karena walaupun rumah tangganya tidak


berjalan dengan lancer, tetapi hubungannya dengan Malviano harus tetap berjalan


seperti yang seharusnya. Rendra berhak atas Malviano sebagai anak kandungnya


walaupun nantinya Malviano akan membuangnya karena lebih mencintai


perusahaannya.


“Om ingin menjadi ayah Rendra?.” Tanya


Rendra pada Hanz.


“Mengapa Rendra jadi bertanya


seperti itu?.”


“Bukankah Om tadi yang bertanya


duluan?.”


“Tadi… tentu kalau perlu Om pangil


Robert untuk mengurus surat-suratnya.” Ucap Hanz yang langsung berbicara cepat


ketika melihat wajah Rendra yang hampir terlihat kecewa padanya.


“Jadi Om bersedia menikah dengan


Mom?.” Tanya Rendra tiba-tiba bersemangat.


“Tentu tidak, Kau tetap akan


menjadi anak Om meski tidak menikah dengan Mommu kan.” Ucap Hanz menjelaskan


pada Rendra dengan gugup karena takut melihat kekecewaan dimata anak itu lagi.


“Jadi kau akan membawa Rendra dariku?.”


Kini giliran Elena yang marah karena tak terima ucapan Hanz, Bagaimana mungkin


ada seseorang yang tega memisahkan anak dari ibunya sendiri.


“Itu…” Hanz kini tiba-tiba binggung


harus berkata apa.


“Apakah yang Mom katakan itu


benar Om? Rendra tak mau, jika Om ingin menjadikan Rendra anak Om maka Om

__ADS_1


seharusnya menikah dengan Mom Rendra.” Ucapan Rendra yang terdengar begitu


Mendesak Hanz.


__ADS_2