
Pagi ini Elena harus menahan rasa
malunya,bagaimana tidak bukankah semalam ia sudah mengatakan pada Hanz bahwa ia
tidak membutuhkan bantuan pria itu. Tapi pagi-pagi sekali pria itu harus dibangunkan
oleh panggilan Elena, yang memintanya untuk datang kerumah sakit secepatnya
karena ia benar-benar membutuhkan kehadiran pria itu.
“Terimakasih.” Ucap Elena begitu
memerah karena rasa malunya.
“Seharusnya kau biarkan aku menginap
dirumah sakit ini semalam.” Ucap Hanz yang terlihat sangat kesal sekarang.
“Aku cukup mampu, hingga tadi pagi
suster itu datang.” Ucap Elena yang sebenarnya ingin sekali marah pada Hanz,
bukan salahnyakan tiba-tiba ia benar-benar membutuhkan pria itu.
Sebenarnya Elena sangat ingin
menelepon Malviano, walau bagaimana pun pria itu masih harus bertanggung jawab
pada anaknya. Akan tetapi ia binggung harus bicara apa nantinya pada Rendra
kalau sebenarnya ayahnya sudah mengetahui keberadaan mereka.
Rendra menganggap Hanzlah yang
telah mengendongnya, karena begitu membuka matanya yang dilihat adalah Hanz
bukan Malviano. Ditambah Elena belum mendengar apa yang akan diputuskan oleh
Malviano, membuat Elena lagi-lagi harus meminta pertolongan pada Hanz.
“Sebenarnya aku sedikit curiga
Rendra bukan anakmu.” Ucap Hanz dengan nada menyindir.
“Kalau bukan anakku, dia anak siapa?
Jangan bilang dia anakmu?” ucap Elena asal karena ia kembali kesal mendengar
pernyataan yang seperti itu.
Elena sudah terlalu sering mendengar
pernyataan itu, dikarenan bukan hanya penampilan Rendra yang begitu mirip
dengan Malviano akan tetapi kepintarannya yang luar biasa jugalah memang diturunkan
oleh pria itu. Rendra hanya mengambil warna rambutnya saja, dan hal itu tak
cukup besar untuk membuktikan dia adalah anak kandungnya.
“Orang-orang akan lebih percaya
hal itu.” Ucap Hanz yang juga mengakui ucapan asal Elena.
“Maksudmu?” ucap Elena yang
benar-benar kesal akan pengakuan Hanz.
“Dengar saja apa yang dikatakan
suster tadi.” Ucap Hanz.
“Kalau aku mengerti apa yang dia
ucapkan, aku tak akan pernah memintamu untuk datang kesini.” Ucap Elena yang
lagi-lagi kesal pada dirinya sendiri, semua ini tak akan terjadi jika saja ia mengerti
bahasa yang digunakan oleh negara ini.
“Suster tadi mengatakan, untung
saja ayahnya datang tepat waktu. Tadi saya sudah lelah menjelaskan bahwa anak
anda sudah boleh pulang. akantetapi istri benar-benar tak mengerti apa yang
saya ucapkan.” Ucap Hanz ucapan suster tadi padanya dan juga menirukan cara
berbicara suster perbedaannya hanya pada bahasa yang dipakai Hanz adalah bahasa
yang dimengerti oleh Elena.
__ADS_1
“Hanya itu?.” Tanya Elena kecewa.
Jika seperti itu sebenarnya lebih
mudah jika tadi ia tak memaksa suster tersebut untuk berbicara tanpa melibatkan
Rendra, jika hanya bicara hal yang seperti ini Elena tak akan mendengar hal
yang aneh-aneh dari Hanz.
Elena tadinya mengira suster
mengatakan hal-hal seperti Rendra harus mendapatkan suntikan sebelum pulang,
tadinya ia ingin sedikit berkompromi bersama suster tersebut. Berkompromi untuk
melakukan hal tersebut secara sembunyi-sembunyi agar anak itu tidak terlalu
takut.
“Memangnya kau pikir kenapa?.”
“Syukurlah, terimakasih.” Ucap Elena
yang lega tapi sepertinya ada sesuatu yang aneh yang ia lupakan. “Mengapa
suster tadi mengatakan kau adalah ayahnya?.”
“Tentu saja karena kami sama-sama
sangat tampan.” Ucap Hanz sambil mengusap rambut depannya kebelakang.
“Untung saja aku berhutang
padamu.” Gerutu Elena sambil meninggalkan Hanz dan berjalan kedalam ruangan
Rendra berada.
“Bagaimana Mom?” ucap Rendra yang
menunggu kabar dari Elena dengan wajah yang terlihat sangat cemas.
“Kau boleh pulang sekarang juga.”
Ucap Elena.
Mendengar hal itu Rendra langsung
terlihat sangat senang, ia bahkan akan turun kebawah jika tidak mendapat
tangannya untuk menyapa Rendra dan mendekati anak itu.
“Kau sudah lebih baik?.” Tanya
Hanz setelah berada didepan anak itu.
“Tentu, kemarilah.” Ucap Rendra
menyuruh Hanz mendekat untuk membisikkan sesuatu padanya.
“Apa katanya.” Ucap Elena yang
penasaran apa yang telah diucapkan anaknya pada Hanz.
“Mom, ini urusan laki-laki.” Ucap
Rendra menolak untuk memberitahu ibunya.
“Tapi..” Elena mencoba mencari
tahu sebelum ucapannya dipotong oleh Hanz.
“Jika kau laki-laki maka akan ku
beri tahu.” Ucap Hanz sambil bertos bersama Rendra senang karena dengan begitu
Elena tak mungkin akan bertanya kembali.
Disaat seperti ini rasanya Elena ingin
sekali cepat-cepat mempunyai seorang anak perempuan, anaknya yang laki-laki cenderung
mempunyai pemikiran yang berbeda dengannya. Tapi mengingat rumah tangganya yang
belum jelas akan masa depannya, seketika membuat Elena langsung kehilangan
harapan untuk mempunyai seorang anak perempuan.
“Kalau begitu mengapa kau tak
menjadi anak dari Om Hanz.” Rajuk Elena.
__ADS_1
“Ide bagus, Kau mau kan menjadi
anak Om?.” Tawar Hanz pada Rendra.
“Kalau begitu kenapa Om tidak menikah
dengan Mom?.” Rendra balik bertanya.
“Mengapa Om harus menikahi Mom mu
yang aneh ini?.” Ucap Hanz berbicara seolah-olah ia keberatan karena telah
menjodohnya dengan Elena.
“Siapa juga yang ingin menikah
denganmu, lagi pula aku masih mempunyai seorang suami.” Ucap Elena yang tiba-tiba
merasa emosi akan perkataan Hanz padanya.
“Mom..” Ucap Rendra dengan nada
yang berubah menjadi sendu.
Elena sontak melihat pada Rendra,
ia menyadari perkataannya yang sepertinya telah menyinggung keberadaan Malviano.
Sehingga anak itu tak sesenang beberapa saat yang lalu, Elena hanya bisa
merutuki mulutnya yang terlalu ceroboh sehingga membuat situasi berubah seperti
ini.
“Sayang..” Elena sepertinya harus
membicarakan pada anaknya bahwa kemarin Malviano sudah berhasil menemukan
mereka seperti apa yang selama ini diinginkan anaknya itu.
Karena walaupun rumah tangganya tidak
berjalan dengan lancer, tetapi hubungannya dengan Malviano harus tetap berjalan
seperti yang seharusnya. Rendra berhak atas Malviano sebagai anak kandungnya
walaupun nantinya Malviano akan membuangnya karena lebih mencintai
perusahaannya.
“Om ingin menjadi ayah Rendra?.” Tanya
Rendra pada Hanz.
“Mengapa Rendra jadi bertanya
seperti itu?.”
“Bukankah Om tadi yang bertanya
duluan?.”
“Tadi… tentu kalau perlu Om pangil
Robert untuk mengurus surat-suratnya.” Ucap Hanz yang langsung berbicara cepat
ketika melihat wajah Rendra yang hampir terlihat kecewa padanya.
“Jadi Om bersedia menikah dengan
Mom?.” Tanya Rendra tiba-tiba bersemangat.
“Tentu tidak, Kau tetap akan
menjadi anak Om meski tidak menikah dengan Mommu kan.” Ucap Hanz menjelaskan
pada Rendra dengan gugup karena takut melihat kekecewaan dimata anak itu lagi.
“Jadi kau akan membawa Rendra dariku?.”
Kini giliran Elena yang marah karena tak terima ucapan Hanz, Bagaimana mungkin
ada seseorang yang tega memisahkan anak dari ibunya sendiri.
“Itu…” Hanz kini tiba-tiba binggung
harus berkata apa.
“Apakah yang Mom katakan itu
benar Om? Rendra tak mau, jika Om ingin menjadikan Rendra anak Om maka Om
__ADS_1
seharusnya menikah dengan Mom Rendra.” Ucapan Rendra yang terdengar begitu
Mendesak Hanz.