Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 55


__ADS_3

Terbangun dengan pemandangan dada yang kokoh membuat Elena kaget sontak langsung terbangun seratus persen, akibatnya seseorang yang memiliki dada yang kokoh tersebut kini juga terbangun.


"Pagi,"  ucap Malviano yang memeluk Elena sekejap sebelum ia beranjak pergi menuju kearah kamar mandi yang berada dikamar ini.


"Jadi haruskah aku terbiasa dengan semua ini!" gumam Elena yang langsung mencubit dirinya sendiri karena tak memercayai bahwa apa yang sudah ia lalui tadi malam bukanlah sebuah mimpi.


Pengakuaan Malviano yang mencoba untuk menyayangi dirinya juga, membuat mereka akhirnya memutuskan untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh pasangan lainnya. Mereka kini harus membiasakan diri mereka untuk lebih terbuka kepada pasangan mereka tentang apa yang dirasakan satu sama lain agar pihak lain lebih mengerti apa yang harus dilakukannya.


"Mom, kau ada didalam?” ucap Rendra dibalik pintu kamar Malviano setelah menggetuk tiga kali.


“Selamat pagi,” ucap Elena yang kini memeluk Rendra setelah sebelumnya ia membukaan pintu baginya.


“Om Kenzo?” tanya Rendra yang begitu penasaran meskipun sebenarnya ia sangat menikmati berada didalam pelukan ibunya kini.


“Kondisinya mulai membaik walau sampai saat ini Om Kenzo sepertinya masih betah dalam tidurnya?” jawab Elena yang menenangkan anaknya yang terlihat sangat khawatir.


“Apakah luka Om kenzo sangat parah?” tanya Rendra yang terlihat masih mengkhawatirkan sesorang yang sudah ia anggap sebagai pamannya sendiri.


“Dokter mengatakan tak Om Kenzo hanya perlu istirahat sekarang, dan yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah menunggu dan berdo'a semoga Om Kenzo lebih cepat untuk bangun dari tidur nyenyaknya,” jelas Elena yang mulai membuat Rendra cukup tenang.


“Dad?” tanyanya kembali yang tak melihat keberadaan Malviano.


“Sedang mandi, sambil menunggu maukah Rendra bantu Mom menyiapkan sarapan?” tanya Elena mencoba membujuk Rendra karena ia sebenarnya masih binggung harus bagaimana menghadapi situasi seperti saat ini.


Rendra yang mengangguk mengerti membuatnya lega, karena kini Elena bisa menyibukkan pikirannya dengan membuat sarapan tanpa pikirannya kemana saja dikarenakan ia sedangan bersama Rendra disampingnya.


Rasanya sudah lama sekali ia meninggalkan rumah Malviano ini, tapi ketika berjalan menuju dapur ia melihat dengan jelas suaminya itu tidak pernah memindahkan apa yang sudah berada ditempatnya.

__ADS_1


“Mom hari ini kita sarapan apa?” tanya Rendra.


“Coba kita lihat bahan apa saja yang berada didalam lemari pendinggin Dad,” jawab Elena yang ia juga ragu harus membuat ap untuk sarapan mereka pagi ini.


Kini Elena dan Rendra tepat berdiri didapan lemari pendinggin untuk melihat bahan apa saja yang terdapat untuk mereka olah menjadi bahan makanan untuk menjadi sarapan.


Betapa kaget mereka berdua ketika membuka lemari pendinggin, karena baik Elena maupun Rendra langsung menutup pintu lemari kembali dan langsung lari ke tempat yang lebih terbuka untuk mendapatkan udara yang lebih segar.


Mereka berdua langsung menghirup nafas cepat-cepat akibat dari rasa lelah karena berlari tergesa-gesa dan juga karena untuk menghilangkan penciuman mereka dari rasa menyakitkan beberapa saat yang lalu akibat sesuatu yang mereka hitup ketika membuka pintu lemari pendinggin.


“Mom apakah Dad ingin membunuh kita! atau mungkin ia ingin bunub diri,” ucap Rendra yang terdengar begitu kejam menuduh ayahnya hanya karena hal luar biasa yang mereka lewati beberapa saat yang lalu.


“Dad bersumpah hal itu tak mungkin pernah terjadi bahkan dalam mimpi sekalipun,” ucap Malviano yang mendekati mereka, dengan wajah yang menujukkan bahwa ia sangat terluka mendengar tuduhan Rendra padanya.


Rendra dan Elena kaget mendengar perkataan Malviano yang entah sejak kapan berada didekat mereka hingga mendengar ucapan melantur Rendra yang kesal karena mencium sesuatu yang tak enak dari dalam lemari pendinggin tadi.


“Sayang kau belum mandikan?”


“Belum Mom,”


“Sebaiknya kau mandi dulu sebelum kita keluar untuk mencari sesuatu untuk kita sarapan,” jelas Elena pada anaknya yang mendapatkan penolakan walau hanya dengan tatapan matanya.


Rendra sepertinya sangat merasa bersalah pada ayahnya, yang sampai saat ini terlihat sedih. Tapi Rendra harus menuruti permintaannya kali ini, biar urusan Malviano ia yang akan berbicara secara halus.


“Mom akan menjelaskan, kau bisa turuti permintaan Mom tadi?”


“Rendra mengerti Mom,” balas Rendra yang kini langsung beranjak pergi meninggalkan Elena dan Malviano.

__ADS_1


Elena menunggu Rendra benar-benar masuk kedalam kamarnya untuk menuruti permintaannya barusan. Ia harus melakukan hal itu agar ia yakin anaknya benar-benar melakukan perintahnya.


“Kukira kau langsung kerumah sakit?” tanya Elena yang mengingatkan Malviano bahwa mereka telah berjanji pada ibu Kenzo bahwa Malviano akan kesana pagi-pagi sekali setiap harinya.


“Aku ingin melihat kalian sebelum kesana” balas Malviano yang sepertinya muring karena masih terluka dengan apa yang ia denagt dari mulut anaknya sendiri.


“Yang harus kau tau, Rendra mengucapkan itu tidak dari hatinya,” jelas Elena perlahan sambil mendekati suaminya.


“Bisakah kau katakan apa salahku kali ini?” ucap Malviano yang memberanikan diri untuk mengetahui dimana letak kesalahannya sehingga anaknya sendiri perdendapat bahwa ia ingin membunuh darah dagingnya sendiri.


“Ia hanya kesal karena tak dapat sarapan pagi ini,” jelas Elena.


“Apakah kau tidak ingin aku memperbaiki apa kesalahanku?” tuntut Malviano yang mengira bahwa Elena menyembunyikan kesalahan fatal yang sudah dilakukannya.


“Aku tak tahu ternyata kau juga termasuk orang yang sensitif,” balas Elena yang semakin takjud melihat perubahan ekspresi diwajah suaminya, yang dulu ia kira laki-laki didepannya hanya mampu memperlihatkan dua wajah kakunya.


Wajah pertama adalah wajah yang bahagia karena pria dihadapannya kini mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan wajah marah ketika pria ini mendapatkan kekalahan yang menurutnya fayal bagi kehidupannya.


Tapi semenjak Elena dan Rendra meninggalkannya, hingga pria ini berhasil menemukan mereka. Kini Elena dapat melihat dengan jelas berbagai emosi yang terpancar dari wajah pria didepannya ini.


“Elena ....”ucap Malviano yang sepertinya semakin frustasi karena Elena semakin mengundur-undur waktu.


“Mengapa kau sangat ingin tahu sih!” ucap Elena yang entah mengapa sangat tergoda untuk melihat lebih lama wajah Malviano yang terlihat seperti anaknya yang merengek karena ia tak mengabulkan permintaannya.


Sejak dulu Elena memang sudah sangat suka melihat Rendra yang menunjukkan wajah seperti ini sehingga jika ada kesempatan anak itu membuat wajah seperti ini, ia tak akan dengan mudah untuk tergoda mengabulkan permohonan anak itu.


Karena ia sangat ingin menikmati dengan waktu yang lama, wajah mengemaskan diwajah anaknya. Dan kini Malviano yang membuat wajah ini membuatnya benar-benar ingin menikmati lebih lama untuk memandangnya.

__ADS_1


__ADS_2