Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 25 Malviano


__ADS_3

“Elena.” Terdengar suara seorang laki-laki dari arah belakang Elena.


Mendengar itu Elena tak yakin harus bagaimana, bagaimana mungkin suara itu bisa terdengar olehnya saat ini?.


Apakah ia hanya berkhayal mendengar suara itu karena terlalu rindu? Tapi bagaimana


mungkin laki-laki itu bisa menemukannya secepat ini?.


“Sepertinya laki-laki disana memanggilmu?.” Ucap Hanz terdengar ragu ketika mengatakan hal tersebut pada


Elena.


Setelah menghela nafas pelan untuk menangkan diri, Elena pun membalikkan tubuhnya untuk menghadap pada


seseorang yang memangil namanya yang kini tepat berada didepannya. Pria


tersebut tersenyum bahagia ketika melihatnya, walaupun penampilan berubah jauh


menjadi terlihat sangat kacau.


Malviano memakai pakaian kasual yang jarang terlihat dipakainya ketika mereka bersama, biasanya Malviano tak


pernah absen sehari pun untuk memakai jas ataupun kemeja jika ia sedang ingin


untuk terlihat lebih santai. Tapi kini didepannya Elena melihat Malviano memakai


pakaian kaos dengan celana jens.


“Elena.” Ucap Malviano yang kini malah memeluk Elena erat, setelah terdiam memerhatikan bahwa didepannya memang benar-benar Elena istrinya.


Tak bisa ditampik Elena memang merindukan pelukan ini, walaupun pelukan ini bisa dirasakannya dengan dihitung jari. Malviano maupun Elena memang jarang berpelukan walaupun status mereka


resmi suami istri, mungkin dulu baik Elena maupun Malviano merasa segan satu


sama lain untuk melakukannya.


“Bagaimana kau menemukanku?.” Tanya Elena setelah beberapa saat menikmati pelukan Malviano yang terasa nyaman.


“Aku sudah mengikutimu begitu kau memasuki swalayan itu.” Jelas Malviano dan tiba-tiba terhenti begitu menyadari keberadaan Hanz yang berada dibelakang Elena terdiam mematung melihat sebuah


drama dadakan. “Aku tak yakin itu kau, karena kau berjalan dengan seorang pria.”


Lanjutnya dengan tatapan yang kini mulai mencurigai Elena.

__ADS_1


“Kenalkan dia Hanz.” Ucap Elena yang mau tak mau harus memperkenalkan mereka “Dan ini Malviano, suamiku.” Jelas Elena pada Hanz yang langsung membuat kedua pria itu menunjukkan reaksi kaget


yang berbeda.


Malviano yang kaget mendengar Elena langsung mengakui bahwa ia adalah istrinya, yang membuatnya tersenyum. Sementara Hanz hanya bisa tersenyum kaku mendengar apa yang baru saja dikatakan


oleh Elena.


“Kukira kau sudah tak mempunyai seorang suami.” Ucap Hanz yang Elena merasa perkataan Hanz terdengar begitu dingin, walaupun belum terlalu lama mengenal Hanz tapi Elena tak pernah sekalipun melihat


Hanz membuat rawut wajahnya seperti ini.


“Atas dasar apa kau mendapat kesimpulan seperti itu?.” Tanya Malviano pelan, sepertinya ia sangat tersinggung


dengan apa yang telah diucapkan Hanz padanya.


“Rendra mengatakan ia hanya hidup berdua bersama ibunya saja.” Ucap Hanz yang mengatakannya, seolah perkataan itu adalah hal sepele yang dapat ia ucapkan oleh seorang anak pada ayahnya sendiri.


“Rendra memang sedang marah padaku, hingga membuat keluarga kami terpisah seperti saat ini.” Jawab Malviano yang terdengar santai berbeda dengan kedua tangannya mengepal keras, sepertinya ia kaget mendenagr Hanz mengenal Rendra juga.


“Aku begitu memuja anak itu.” Ucap Hanz sambil tertawa kencang.


“Hentikan kau membuat kita menjadi tontonan orang-orang.” Ucap Elena setelah memukul pundak Hanz.


“Ya aku setuju denganmu.” Ucap Malviano sambil menarik tangan Elena agar mendekat kembali padanya.


“Itu tak perlu, aku cukup lebih dari mampu untuk membiayai kehidupannya bahkan hingga ia mempunyai segudang cicit.” Ucap Malviano yang tak menutupi lagi nada permusuhan dalam ucapannya pada Hanz.


“Ya mungkin kau dulu mungkin cukup mampu untuk melakukannya, tapi aku tak yakin dengan keadaanmu yang


sekarang.” Ucap Hanz yang sepertinya sudah mengetahui sosok Malviano dengan yakin.


“Kau…” ucap Malviano.


“Kau mungkin tak tertarik dengan dunia penerbangan hingga tak mengenalku.” Ucap hanz yang tiba-tiba terdengar begitu sombong bagi Elena.


Elena melihat rawut wajah Malviano yang mengerung karena pria itu begitu konsentrasi untuk menggali ingatannya akan adanya sebuah perusahaan yang dimaksud oleh Hanz yang mungkin saja menjadi


perusahaan milik pria itu. Setelah beberapa saat sepertinya ia tak juga


menemukan jawaban pria itupun memandang Elena untuk meminta bantuan.


“Kau terlalu sibuk dengan sistem-sistemmu sendiri, hingga kau bahkan tak pernah tertarik dengan siapa kau bekerja sama?.” Ucap Hanz sambil mengelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Bisakah kau katakan saja dari mana asalmu?.” Ucap Malviano yang masih saja tak sabaran untuk mengetahui apa saja yang tak diketahui olehnya.


“HJ.” Ucap Singkat Hanz ketika menyebutkan nama perusahaan miliknya.


“Kau..” Ucap Malviano yang sepertinya kaget mendengar fakta tersebut.


“Senang rasanya melihat kau berekpresi seperti ini.” Ucap hanz dengan bangga.


“Jadi kau..” ucap Maliano yang sepertinya tak bisa melanjutkan perkataannya membuat Elena penasaran apa yang terjadi pada dua laki-laki yang berada didepannya kini.


“Maaf Elena aku membuat suamimu kesulitan beberapa bulan ini.” Ucap Hanz yang malah meminta maaf pada Elena, ketika tanpa sengaja kedua mata mereka bertemu.


“Kesulitan?.” Tanya Elena yang ingin mengetahui lebih banyak tentang permasalahan diantara kedua pria ini.


“Aku mengalahkan game milik perusahaan suamimu dalam ajang kompetisi beberapa bulan ini, rasanya senang bisa mengalahkan seseorang yang sangat dengan mudahnya menolak tawaran kerjasama


hanya karena ide awal yang tak begitu umum dipasaran.” Jelas Hanz panjang lebar


karena sepertinya sangat ingin mengatakan hal tersebut langsung pada Malviano.


“Aku tak pernah tahu kau akan menemukan orang hebat yang membantumu untuk membuat suatu sampah menjadi berlian.” Ucap Malviano.


“Kau mengatakan ideku sampah?” ucap Hanz yang tak terima perkataan Malviano.


Baik Hanz dan Malviano sepertinya akan saling menyerang secara fisik jika Elena tak langsung berdiri tepat diantara kedua pria tersebut. Yang langsung mengurungkan niat mereka untuk saling melukai


satu sama lain secara fisik, kedua pria ini sepertinya sudah dalam fase dimana


keduanya tak mungkin lagi untuk melanjutkan obrolan mereka dengan kepala dingin.


“Sebaiknya kita pulang sekarang.” Ucap Elena yang kini semakin rishi mengetahui mereka telah menjadi tontonan masyarakat, untung saja mereka berada dinegara lain sehingga mereka tak akan direpotkan


dengan pemberitaan yang tidak perlu karena situasi yang terjadi saat ini.


“Ya, ayo Elena kita pulang.” Ucap hanz yang kini malah manarik tangan Elena didepan mata Malviano.


“Apa-apan kau ini.” Ucap Hanz marah karena Malvino memukul tangannya dengan keras hingga peganggannya pada Elena terlepas begitu saja.


“Kau menyentuh tangan istri orang.” Ucap Malviano dengan dingin.


“kau..” ucap Hanz yang sepertinya akan memulai peperangan kembali yang langsung dipotong oleh Elena.


“Sebaiknya kita langsung pulang, aku khawatir dengan keadaan Rendra.” Ucapan Elena langsung membuat kedua pria yang tadinya masih ingin memperpanjang perkelahian mereka, kini langsung

__ADS_1


menurut pada Elena yang berjalan kearah sebuah mobil yang merupakan kendaraan


Hanz yang sengaja dibawanya untuk membawa mereka berbelanja ke swalayan ini.


__ADS_2