Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 32


__ADS_3

Elena terbangun dari tidurnya


karena suara ketukan pintu yang begitu keras,  sebenarnya siapa sih orang yang bertamu dimalam-malam


seperti ini? Elena lalu berjalan untuk membukakan pintu yang ternyata sudah dibukakan


oleh Hanz. Sepertinya bukan hanya dirinya yang terbagun dengan cara yang tidak


biasa seperti ini.


“Bisakah kau bertamu besok pagi?.”


Terdengar Hanz berbicara dengan ketus pada tamu yang belum terlihat jelas oleh


Elena karena posisinya yang tertutupi oleh tubuh Hanz.


“Sudah ku bilang jika mereka


benar masih berada disini, aku hanya ingin memastikan dengan kedua mataku saja.”


Ucap sosok tamu yang tak tahu waktu itu, tapi menurut Elena suaranya terdengar


persis seperti Malviano.


“Mereka baru saja tertidur, dan


perlu kau tahu Rendra masih sakit ia butuh banyak istirahat.” Ucap Hanz dengan


ketus sepertinya tak membiarkan sosok didepannya untuk masuk kedalam rumah.


“Aku tahu, dan perlukah ku ingatkan


kembali dia adalah anakku.” Ucap sosok yang menurut Elena adalah Malviano dengan


nada tak kalah ketus.


“Dimana…” ucapan Hanz terpotong


karena Malviano yang mendorong dirinya yang kini telah memeluk Elena.


“Elena.” Ucap Malviano yang kini


terdengar lega sambil memeluk Elena kuat.


“Kau..” ucap Hanz yang sepertinya


tak terima karena dirinya didorong begitu saja, akan tetapi baik Elena dan Malvinano


tidak ada lagi yang memperhatikannya.


“Mengapa kau berada disini


malam-malam seperti ini?.” Ucap Elena yang entah terdengar atau tidak karena posisinya


yang masih berada dipelukan erat Malviano.


“Mengapa kau tak mengatakan Rendra


akan pulang hari ini?.” Ucap Malviano yang terdengar begitu menuntut.


“Darimana kau tahu?.” Ucap Elena


berusaha melepaskan pelukan Malviano yang tak semakin terasa mengerat.


“Tadinya aku berencana menengok


Rendra ketika ia sudah tertidur, tapi begitu samapia kesana ruangnya sudah kosong,


kukira aku akan kehilangan kalian lagi. Bisa gila rasanya jika itu benar-benar terjadi,


jadi aku langsung kesini.” Ucap Malviano yang masih terdengar begitu jelas


betapa ia sangat takut.


“Bisakah kau lepaskan aku dulu.” Ucap


Elena.


Sebenarnya Elena mengerti mengapa


Malviano bersikap seperti ini, jika ia tidak salah pastilah kejadian hari ini


mengingatkannya kembali pada hari ia dan Rendra memutuskan untuk pergi kekota ini.


Kejadian hari itu juga sama persis seperti ini Rendra yang dirawat dirumah sakit


tiba-tiba menghilang tanpa adanya pemberitahuan padanya.


“Elena aku bersumpah jika kalian


menghilang kembali seperti ini, lebih baik kau bunuh aku saja ditempat.” Ucap Malviano

__ADS_1


yang telah melepas pelukannya untuk langsung berbicara langsung menatap mata


Elena.


“Mom...” Ucap Rendra yang sepertinya


juga terbangun karena kebisingan yang mereka perbuat.


“Rendra.” “Sayang.” Ucap Malviano


dan Elena berbarengan dan kini terpaku pada Rendra yang sedang menatap mereka


berdua.


Elena bisa melihat perubahan yang


terjadi diwajah kaget Rendra saat ini, pertama mungkin ia takut karena mendengar


suara yang tak biasa dimalam-malam begini. Sekrang setelah ia menatap Malviano


secara sadar wajahnya kini begitu cepat berubah sedetik ia sepertinya kaget,


tak percaya, senang, lalu sekarang sepertinya ia sadar bahwa ia harus memasang


wajah marah.


“Hai sayang.” Ucap Malviano


mencoba mendekat kearahnya.


“Stop.” Ucap Rendra yang kini


berteriak cukup keras hanya untuk menghentikan pergerakan Malviano yang semakin


mendekat padanya.


“I…ini Dad sayang..” ucap Malviano


masih mencoba untuk mendekat pada Rendra.


“Mom.. bagaimana ia bisa ada disini.”


Ucap Rendra yang kini berbicara pada Elena yang membuat Elena tersentak kaget


karena ucapannya.


“Sayang, Dad berhasil menemukan kita.”


mereka, meskipun Elena tak yakin bagaimana nantinya jawaban Malviano.


“Mom..” ucap Rendra yang kini


malah berlari kearah Elena dengan merentangkan kedua tangan untuk meminta digendong.


“Kau tak senang?.” Tanya Elena yang


hanya mendapat gelengan kepala dari anaknya.


Melihat itu sepertinya Elena melihat


Malviano semakin terluka tanpa suara, sementara Hanz kini malah mendekati Elena


dan menyentuh pundak Rendra.


“Ini Om.” Ucap Hanz yang bersuara


karena tak mendapat respon dari Rendra.


“Om Hanz.” Ucap Rendra mengangkat


kepalanya karena kaget bukan ayahnyalah yang menepuk tubuhnya tadi.


“Kau mau ikut Om dulu, sepertinya


ibumu perlu berbicara dengan ayahmu.” Ucap Hanz sambil merentangkan kedua


tangannya.


Rendra terdiam cukup lama melihat


uluran tangan Hanz yang tertuju padanya, disisi lain Elena hanya berharap-harap


cemas. Sebenarnya Elena lebih suka Rendra menolak Hanz didepan ayahnya akan


tetapi benar yang dikatakan Hanz, ia sepertinya perlu bicara berdua dengan Malviano.


“Mom, jika Dad memang benar-benar


datang untuk Rendra. Pasti Dad tidak langsung pulangkan?.” Bisik Rendra pada


Elena yang tak bisa didengar oleh siapapun selain ibunya itu.

__ADS_1


“Kau ingin Dad berada disini?.” Tanya


Elena yang juga berbisik.


“Itu keputusan Dad kan.” Bisik Rendra


sebelum ia akhirnya menerima uluran tangan Hanz untuk mengendongnya.


Setelah membawa Rendra dalam


gendongannya, Hanz langsung membawa anak itu kedalah kamarnya. Sementara Elena


kini menutup pintu depan rumah, agar udara malam tak semakin membuat tubuh


mereka semakin membeku dan juga yang pastinya tak membuat para tetangga semakin


ternganggu karena ulah mereka.


“Duduklah, aku akan bawakan kau


segelas kopi.” Ucap Elena pada Malviano yang terlihat seperti seekor kucing


yang baru saja dibuang oleh pemiliknya.


Elena secepatnya membuat apa yang


diucapkannya pada Malviano, laki-laki itu perlu sesuatu yang menghangatkan


untuk membantu dirinya yang mendapatkan banyak kejutan pada hari ini. Benar saja


ketika Elena kembali dengan secangkir kopipun Malviano masih berada ditempatnya


ia tadi berdiri.


“Minumlah.” Ucap Elena setelah


menarik Malviano untuk duduk, dan menyerahkan apa yang tadi dibuatnya.


“Terimakasih.” Ucap Malviano yang


terdengar begitu linglung.


“Maafkan Rendra.” Ucap Elena


setelah Malviano meneguk kopi buatannya.


“Aku juga akan berbuat sama pada


ayahku, jika aku berada diposisinya.” Ucap Malviano yang sepertinya sudah mulai


bisa diajak komunikasi kembali.


“Kuharap kau tak marah padanya.” Ucap


Elena yang berharap agar kelangsungan hubungan mereka berdua kedepannya, menjadi


lebih baik. Karena jika keduanya sama-sama menyimpan dendam akan sulit baginya


untuk mendamaikan mereka.


“Aku tak berhak marah pada anakku


sendiri, disaat akulah yang telah menjadi ayah yang jahat baginya.” Ucap Malviano


sambil meletakkan kopi yang ternyata sudah habis diminum olehnya.


“Itu..”


“Kau tak perlu menghiburku,


dengan mengatakan ia tak marah padaku.” Ucap Malviano yang kini malah tersenyum


padanya, walaupun terlihat kedua matanya masih menunjukkan kesedihan.


“Aku yakin kau bisa mendapatkan


maaf darinya, ia bukan tipe anak yang terlalu lama menyimpan kemarahannya.” Ucap


Elena meberi semangat pada Malviano agar tidak mudah menyerah.


“Terimakasih karena kau


membesarkannya dengan begitu baik.” Ucap Malviano sambil menggenggam kedua


tangan Elena.


“Tentu saja, ia adalah anakku jika


kau lupa.” Ucap Elena sambil mengangkat bahunya menutupi kalau sebenarnya ia


sangat gugup karena perlakukan Malviano padanya.

__ADS_1


__ADS_2