
Elena terbangun dari tidurnya
karena suara ketukan pintu yang begitu keras, sebenarnya siapa sih orang yang bertamu dimalam-malam
seperti ini? Elena lalu berjalan untuk membukakan pintu yang ternyata sudah dibukakan
oleh Hanz. Sepertinya bukan hanya dirinya yang terbagun dengan cara yang tidak
biasa seperti ini.
“Bisakah kau bertamu besok pagi?.”
Terdengar Hanz berbicara dengan ketus pada tamu yang belum terlihat jelas oleh
Elena karena posisinya yang tertutupi oleh tubuh Hanz.
“Sudah ku bilang jika mereka
benar masih berada disini, aku hanya ingin memastikan dengan kedua mataku saja.”
Ucap sosok tamu yang tak tahu waktu itu, tapi menurut Elena suaranya terdengar
persis seperti Malviano.
“Mereka baru saja tertidur, dan
perlu kau tahu Rendra masih sakit ia butuh banyak istirahat.” Ucap Hanz dengan
ketus sepertinya tak membiarkan sosok didepannya untuk masuk kedalam rumah.
“Aku tahu, dan perlukah ku ingatkan
kembali dia adalah anakku.” Ucap sosok yang menurut Elena adalah Malviano dengan
nada tak kalah ketus.
“Dimana…” ucapan Hanz terpotong
karena Malviano yang mendorong dirinya yang kini telah memeluk Elena.
“Elena.” Ucap Malviano yang kini
terdengar lega sambil memeluk Elena kuat.
“Kau..” ucap Hanz yang sepertinya
tak terima karena dirinya didorong begitu saja, akan tetapi baik Elena dan Malvinano
tidak ada lagi yang memperhatikannya.
“Mengapa kau berada disini
malam-malam seperti ini?.” Ucap Elena yang entah terdengar atau tidak karena posisinya
yang masih berada dipelukan erat Malviano.
“Mengapa kau tak mengatakan Rendra
akan pulang hari ini?.” Ucap Malviano yang terdengar begitu menuntut.
“Darimana kau tahu?.” Ucap Elena
berusaha melepaskan pelukan Malviano yang tak semakin terasa mengerat.
“Tadinya aku berencana menengok
Rendra ketika ia sudah tertidur, tapi begitu samapia kesana ruangnya sudah kosong,
kukira aku akan kehilangan kalian lagi. Bisa gila rasanya jika itu benar-benar terjadi,
jadi aku langsung kesini.” Ucap Malviano yang masih terdengar begitu jelas
betapa ia sangat takut.
“Bisakah kau lepaskan aku dulu.” Ucap
Elena.
Sebenarnya Elena mengerti mengapa
Malviano bersikap seperti ini, jika ia tidak salah pastilah kejadian hari ini
mengingatkannya kembali pada hari ia dan Rendra memutuskan untuk pergi kekota ini.
Kejadian hari itu juga sama persis seperti ini Rendra yang dirawat dirumah sakit
tiba-tiba menghilang tanpa adanya pemberitahuan padanya.
“Elena aku bersumpah jika kalian
menghilang kembali seperti ini, lebih baik kau bunuh aku saja ditempat.” Ucap Malviano
__ADS_1
yang telah melepas pelukannya untuk langsung berbicara langsung menatap mata
Elena.
“Mom...” Ucap Rendra yang sepertinya
juga terbangun karena kebisingan yang mereka perbuat.
“Rendra.” “Sayang.” Ucap Malviano
dan Elena berbarengan dan kini terpaku pada Rendra yang sedang menatap mereka
berdua.
Elena bisa melihat perubahan yang
terjadi diwajah kaget Rendra saat ini, pertama mungkin ia takut karena mendengar
suara yang tak biasa dimalam-malam begini. Sekrang setelah ia menatap Malviano
secara sadar wajahnya kini begitu cepat berubah sedetik ia sepertinya kaget,
tak percaya, senang, lalu sekarang sepertinya ia sadar bahwa ia harus memasang
wajah marah.
“Hai sayang.” Ucap Malviano
mencoba mendekat kearahnya.
“Stop.” Ucap Rendra yang kini
berteriak cukup keras hanya untuk menghentikan pergerakan Malviano yang semakin
mendekat padanya.
“I…ini Dad sayang..” ucap Malviano
masih mencoba untuk mendekat pada Rendra.
“Mom.. bagaimana ia bisa ada disini.”
Ucap Rendra yang kini berbicara pada Elena yang membuat Elena tersentak kaget
karena ucapannya.
“Sayang, Dad berhasil menemukan kita.”
mereka, meskipun Elena tak yakin bagaimana nantinya jawaban Malviano.
“Mom..” ucap Rendra yang kini
malah berlari kearah Elena dengan merentangkan kedua tangan untuk meminta digendong.
“Kau tak senang?.” Tanya Elena yang
hanya mendapat gelengan kepala dari anaknya.
Melihat itu sepertinya Elena melihat
Malviano semakin terluka tanpa suara, sementara Hanz kini malah mendekati Elena
dan menyentuh pundak Rendra.
“Ini Om.” Ucap Hanz yang bersuara
karena tak mendapat respon dari Rendra.
“Om Hanz.” Ucap Rendra mengangkat
kepalanya karena kaget bukan ayahnyalah yang menepuk tubuhnya tadi.
“Kau mau ikut Om dulu, sepertinya
ibumu perlu berbicara dengan ayahmu.” Ucap Hanz sambil merentangkan kedua
tangannya.
Rendra terdiam cukup lama melihat
uluran tangan Hanz yang tertuju padanya, disisi lain Elena hanya berharap-harap
cemas. Sebenarnya Elena lebih suka Rendra menolak Hanz didepan ayahnya akan
tetapi benar yang dikatakan Hanz, ia sepertinya perlu bicara berdua dengan Malviano.
“Mom, jika Dad memang benar-benar
datang untuk Rendra. Pasti Dad tidak langsung pulangkan?.” Bisik Rendra pada
Elena yang tak bisa didengar oleh siapapun selain ibunya itu.
__ADS_1
“Kau ingin Dad berada disini?.” Tanya
Elena yang juga berbisik.
“Itu keputusan Dad kan.” Bisik Rendra
sebelum ia akhirnya menerima uluran tangan Hanz untuk mengendongnya.
Setelah membawa Rendra dalam
gendongannya, Hanz langsung membawa anak itu kedalah kamarnya. Sementara Elena
kini menutup pintu depan rumah, agar udara malam tak semakin membuat tubuh
mereka semakin membeku dan juga yang pastinya tak membuat para tetangga semakin
ternganggu karena ulah mereka.
“Duduklah, aku akan bawakan kau
segelas kopi.” Ucap Elena pada Malviano yang terlihat seperti seekor kucing
yang baru saja dibuang oleh pemiliknya.
Elena secepatnya membuat apa yang
diucapkannya pada Malviano, laki-laki itu perlu sesuatu yang menghangatkan
untuk membantu dirinya yang mendapatkan banyak kejutan pada hari ini. Benar saja
ketika Elena kembali dengan secangkir kopipun Malviano masih berada ditempatnya
ia tadi berdiri.
“Minumlah.” Ucap Elena setelah
menarik Malviano untuk duduk, dan menyerahkan apa yang tadi dibuatnya.
“Terimakasih.” Ucap Malviano yang
terdengar begitu linglung.
“Maafkan Rendra.” Ucap Elena
setelah Malviano meneguk kopi buatannya.
“Aku juga akan berbuat sama pada
ayahku, jika aku berada diposisinya.” Ucap Malviano yang sepertinya sudah mulai
bisa diajak komunikasi kembali.
“Kuharap kau tak marah padanya.” Ucap
Elena yang berharap agar kelangsungan hubungan mereka berdua kedepannya, menjadi
lebih baik. Karena jika keduanya sama-sama menyimpan dendam akan sulit baginya
untuk mendamaikan mereka.
“Aku tak berhak marah pada anakku
sendiri, disaat akulah yang telah menjadi ayah yang jahat baginya.” Ucap Malviano
sambil meletakkan kopi yang ternyata sudah habis diminum olehnya.
“Itu..”
“Kau tak perlu menghiburku,
dengan mengatakan ia tak marah padaku.” Ucap Malviano yang kini malah tersenyum
padanya, walaupun terlihat kedua matanya masih menunjukkan kesedihan.
“Aku yakin kau bisa mendapatkan
maaf darinya, ia bukan tipe anak yang terlalu lama menyimpan kemarahannya.” Ucap
Elena meberi semangat pada Malviano agar tidak mudah menyerah.
“Terimakasih karena kau
membesarkannya dengan begitu baik.” Ucap Malviano sambil menggenggam kedua
tangan Elena.
“Tentu saja, ia adalah anakku jika
kau lupa.” Ucap Elena sambil mengangkat bahunya menutupi kalau sebenarnya ia
sangat gugup karena perlakukan Malviano padanya.
__ADS_1