
Seharian itu Rendra menghabiskan
waktunya bersama Malviano, mereka saling menempel bagai perangko. Elena tak habis
berpikir mereka bercerita sampai tak ada habisnya sampai ia memanggil mereka
untuk makan siang yang sedikit terlambat karena pembicaraan mereka.
Malviano memperlakukan Rendra
layaknya bayi yang belum bisa melakukan apapun seperti ia menyuapi Rendra sampai
perut anak itu kenyang, lalu mereka menghabiskan mennonton tv bersama dan ditutup
tidur dengan Malviano yang jatuh tertidur diranjang Rendra karena ia pun sepertinya
terhayut dalam dongeng yang ia ceritakan pada anaknya sebagai pengantar tidur.
“Bisakah kita bicara?.” Ucap Hanz
yang berdiri dibelakang Elena membuatnya terlonjak kaget karena ia baru saja
mengintip kamar Rendra untuk memastikan apa yang sedang mereka lakukan.
“Astaga kau membuatku jantungan.”
Ucap Elena yang terlonjak kaget dan kini mengelus-elus dadanya untuk
menenangkan detak jantungnya.
“Makanya orang tua bilang, jangan
pernah mengintip kamar orang lain.” Ucap hanz yang terdengar seperti sedang
memperingati anak kecil.
“Aku hanya memeriksa keadaan
kamar Rendra, lagi pula itu kamar anaku sendiri.” Ucap Elena yang memberi
alasan dari perbuatannya.
“Oh jadi kau akan mengintip kamar
anakmu jika ia sudah menikah nanti.” Ucap Hanz yang memberi kesimpulan dari
perkataan Elena.
“Kau gila?” pekik Elena yang
mulutnya langsung ditutup oleh tangan Hanz.
“Kau ingin membangunkan mereka.” Ucap
Hanz.
Elena hanya bisa membuat
menganggukkan kepala bahwa ia mengerti dan membuat isyarat bahwa Hanz bisa
melepaskan tangannya. Hanz yang mengertipun langsung melepaskan tangannya dan
mengikuti Elena yang kini menjauh dari kamar Rendra. Elena membawa Hanz ke
belakang rumah, ia membuat jarak dengan kamar Rendra agar perbincangan mereka
tak mengganggunya.
“Apa tadi kau bilang? Orang gila
mana yang akan berani mengintip sepasang suami istri.” Ucap Elena ketika sampai
ditempat yang aman untuk berbicara dengan suara yang cukup keras.
“Tadi kau ….”
“Itu karena ia masih kecil dan
aku hanya ingin memastikan bahwa mereka benar-benar sudah saling memaafkan,
bukan hanya karena mereka berada didepanku.” Jelas Elena yang terpaksa
mengatakan kekhawatirannya pada Hanz, sebelum pria didepannya ini berfikiran
yang tidak-tidak padanya.
“Ya sebenarnya aku tak peduli,
tapi aku mungkin akan mencoba untuk mengintip anakku kelak ketika ia sudah menikah
__ADS_1
nanti.” Ucap Hanz yang mengatakan apa yang ada pikirannya.
“Kau benar-benar gila, apakah kau
ingin mendapatkan pukulan dari anakmu yang bahkan masih belum jelas kapan ia
akan berjumpa denganmu? Bagaimana mungkin ia akan membiarkan ayahnya sendiri
melihat ia sedang berhubungan intim dengan istrinya kelak.” Ucap Elena yang
merasa beruntung Hanz bukanlah ayahnya ataupun ayah mertuanya, memikirkan hal
tersebut membuat Elena sangat ingin mencongkel kedua mata Hanz karena terlalu
emosi ketika mendengar perkataan pria itu.
“Aku kan hanya bilang akan
mencoba, bukan aku akan berbuat. Mengapa kau malah mendo’akan anakku menjadi
anak yang durhaka.”
“Kapan aku mendo’akan anakmu yang
tidak-tidak.”
“Tadikau bilang anakku akan
memukulku.”
“Kau..” ucap Elena yang
sebenarnya ingin mendebat tapi ia ingat sedang berhadapan dengan siapa sehingga
ia hanya bisa menelan semua ucapannya, ia tak ingin memperpanjang perdebatan
yang semakin yang tentu kemana arah tujuannya seperti ini.
“Kenapa kau diam?.” Ucap Hanz.
“Lalu harukah perpanjang perdebatan yang tak
penting ini?” ucapan itu hanya bisa Elena katakana didalam hati.
”Bukankah kau ingin mengatakan sesuatu?”
“Kau
“Jadi ada
apa?.” Ucap Elena penasaran karena sebenarnya, ia tak terlalu banyak berbincang
dengan Hanz selama ini. Biasanya Hanz hanya berbicara dengan Rendra.
“Sebenarnya
aku ingin bertanya tentang jenis pesawat yang diinginkan oleh kalian, Robert
mengatakan padaku bahwa perancang perusahaan kami sudah siap jika kalian ingin
meminta pergantian model.” Ucap Hanz yang berbicara seolah-olah sedang bertanya
apakah Elena menginginkan model baju seperti apa.
“Hanz,
aku sebenarnya tak keberatan jika kau tak memenuhi keinginan Rendra itu.” ucap Elena
yang tak ingin membuat orang lain kerepotan akan permintaan Rendra yangmenginginkan
sesuatu yang luar biasa.
Bayangkan
satu satu pesawat berapa puluh atau ratus miliar rupiah, ah bukan rupiah mungkin
berapa puluh atau ratus miliar dollar. Memikirkannya saja membuat Elena pusing
bagaimana mungkin Rendra meminta hal sebesar itu pada orang lain. Bahkan dengan
tidak manusiawinya Hanz dan Robert menawarkan dua buah pesawat sebagai hadiah
untuk mereka.
“Kau ingin
mengejekku karena kini suamimu sudah datang padamu lagi?” ucap Hanz yang terlihat
begitu emosi.
__ADS_1
“Aku
kapan?.” Tanya Elena yang tak mengerti, apa yang salah dengan ucapannya.
“Kau tak
menginginkan hadiah dariku yang tak ada apa-apanya dari suamimu kan, ternyata
kau seperti suamimu ya.” Tuduh Hanz yang dengan mudahnya mengatakan hal itu
pada Elena.
“Pertama
aku tak mengerti mengapa Malviano dibawa-bawa dalam masalah ini, kedua aku tak
terlalu lagi menginginkan sebuah pesawat. Kau pikir bagaimana nantinya benda itu
dapat berjalan semetara aku tak bisa mengendarainya dan alasan yang paling-paling
penting adalah dimakah aku meletakkannya nanti.” Ucap Elena yang entah mengapa
begitu emosi pada Hanz.
“Kan
sudahku katakana dulu, benda itu akan berjalan memakai pilot yang bekerja diperusahaanku
jika kalian ingin memakainya. Dan untuk tempat meyimpannya kau bisa saja
meletakkan dirumahmu, aku yakin Malviano punya cukup ruang untuk dua pesawat
tambahan.” Balas Hanz panjang lebar sepertinya ia sangat emosi dalam pembicaraan
hari ini.
“Kau pikir
sebesar apa rumah Malviano?.” Ucap Elena yang sebenarnya penasaran berapa besar
rumah yang dulu ditempatinya dulu.
Kala itu
Elena terlalu malas untuk berjalan-jalan dirumah Malviano yang kamar mandinya
sebesar rumahnya yang dimilikinya selama membesarkan Rendra. Malvianopun
terlalu sibuk dengan urusannya diperusahaan sehingga tak pernah laki-laki itu
sekalipun menawarkan untuk memberi Elena berkeliling area rumahnya.
“Ayolah
jangan membuatku semakin kecil hanya untuk mengatakan seberapa besar perbedaan
kami.” Ucap Hanz yang kini terlihat malas membicarakan sesuatu yang sudah pasti.
“Kau bisa
membicarakan hal itu pada Rendra kalau begitu, kita benar-benar tak akan pernah
bisa untuk berbicara dengan normal.” Ucap Elena yang menyerah, nanti ia akan
memberi tahukan Rendra agar ia membatalkan keinginannya dalam meminta Hanz dua
buah pesawat terbang.
“Aku tak
yakin, ia akan berbicara padaku sekarang.” Ucap hanz yang terlihat sedih.
Memang benar
Rendra melupakan Hanz ketika sedang bersama Malviano, sepertinya Hanz tak terlihat
jika anaknya sedang bersama ayah kandungnya. Tapi bukannya tak ada yang salahkan,
seorang anak pasti akan lebih menghabiskan waktu bersama ayah mereka sendiri.
“Aku yakin
ia tak mungkin menempeli Malviano selamanya.” Ucap Elena.
“Kau yakin.”
Ucap Hanz yang kini malah memegang bahu Elena dan menatap Elena dengan intens.
“Ak…”
__ADS_1
ucap Elena terhenti ketika ia mendengar namanya disebut.
“Elena.”