Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 36


__ADS_3

Seharian itu Rendra menghabiskan


waktunya bersama Malviano, mereka saling menempel bagai perangko. Elena tak habis


berpikir mereka bercerita sampai tak ada habisnya sampai ia memanggil mereka


untuk makan siang yang sedikit terlambat karena pembicaraan mereka.


Malviano memperlakukan Rendra


layaknya bayi yang belum bisa melakukan apapun seperti ia menyuapi Rendra sampai


perut anak itu kenyang, lalu mereka menghabiskan mennonton tv bersama dan ditutup


tidur dengan Malviano yang jatuh tertidur diranjang Rendra karena ia pun sepertinya


terhayut dalam dongeng yang ia ceritakan pada anaknya sebagai pengantar tidur.


“Bisakah kita bicara?.” Ucap Hanz


yang berdiri dibelakang Elena membuatnya terlonjak kaget karena ia baru saja


mengintip kamar Rendra untuk memastikan apa yang sedang mereka lakukan.


“Astaga kau membuatku jantungan.”


Ucap Elena yang terlonjak kaget dan kini mengelus-elus dadanya untuk


menenangkan detak jantungnya.


“Makanya orang tua bilang, jangan


pernah mengintip kamar orang lain.” Ucap hanz yang terdengar seperti sedang


memperingati anak kecil.


“Aku hanya memeriksa keadaan


kamar Rendra, lagi pula itu kamar anaku sendiri.” Ucap Elena yang memberi


alasan dari perbuatannya.


“Oh jadi kau akan mengintip kamar


anakmu jika ia sudah menikah nanti.” Ucap Hanz yang memberi kesimpulan dari


perkataan Elena.


“Kau gila?” pekik Elena yang


mulutnya langsung ditutup oleh tangan Hanz.


“Kau ingin membangunkan mereka.” Ucap


Hanz.


Elena hanya bisa membuat


menganggukkan kepala bahwa ia mengerti dan membuat isyarat bahwa Hanz bisa


melepaskan tangannya. Hanz yang mengertipun langsung melepaskan tangannya dan


mengikuti Elena yang kini menjauh dari kamar Rendra. Elena membawa Hanz ke


belakang rumah, ia membuat jarak dengan kamar Rendra agar perbincangan mereka


tak mengganggunya.


“Apa tadi kau bilang? Orang gila


mana yang akan berani mengintip sepasang suami istri.” Ucap Elena ketika sampai


ditempat yang aman untuk berbicara dengan suara yang cukup keras.


“Tadi kau ….”


“Itu karena ia masih kecil dan


aku hanya ingin memastikan bahwa mereka benar-benar sudah saling memaafkan,


bukan hanya karena mereka berada didepanku.” Jelas Elena yang terpaksa


mengatakan kekhawatirannya pada Hanz, sebelum pria didepannya ini berfikiran


yang tidak-tidak padanya.


“Ya sebenarnya aku tak peduli,


tapi aku mungkin akan mencoba untuk mengintip anakku kelak ketika ia sudah menikah

__ADS_1


nanti.” Ucap Hanz yang mengatakan apa yang ada pikirannya.


“Kau benar-benar gila, apakah kau


ingin mendapatkan pukulan dari anakmu yang bahkan masih belum jelas kapan ia


akan berjumpa denganmu? Bagaimana mungkin ia akan membiarkan ayahnya sendiri


melihat ia sedang berhubungan intim dengan istrinya kelak.” Ucap Elena yang


merasa beruntung Hanz bukanlah ayahnya ataupun ayah mertuanya, memikirkan hal


tersebut membuat Elena sangat ingin mencongkel kedua mata Hanz karena terlalu


emosi ketika mendengar perkataan pria itu.


“Aku kan hanya bilang akan


mencoba, bukan aku akan berbuat. Mengapa kau malah mendo’akan anakku menjadi


anak yang durhaka.”


“Kapan aku mendo’akan anakmu yang


tidak-tidak.”


“Tadikau bilang anakku akan


memukulku.”


“Kau..” ucap Elena yang


sebenarnya ingin mendebat tapi ia ingat sedang berhadapan dengan siapa sehingga


ia hanya bisa menelan semua ucapannya, ia tak ingin memperpanjang perdebatan


yang semakin yang tentu kemana arah tujuannya seperti ini.


“Kenapa kau diam?.” Ucap Hanz.


“Lalu harukah perpanjang perdebatan yang tak


penting ini?” ucapan itu hanya bisa Elena katakana didalam hati.


”Bukankah kau ingin mengatakan sesuatu?”


“Kau


“Jadi ada


apa?.” Ucap Elena penasaran karena sebenarnya, ia tak terlalu banyak berbincang


dengan Hanz selama ini. Biasanya Hanz hanya berbicara dengan Rendra.


“Sebenarnya


aku ingin bertanya tentang jenis pesawat yang diinginkan oleh kalian, Robert


mengatakan padaku bahwa perancang perusahaan kami sudah siap jika kalian ingin


meminta pergantian model.” Ucap Hanz yang berbicara seolah-olah sedang bertanya


apakah Elena menginginkan model baju seperti apa.


“Hanz,


aku sebenarnya tak keberatan jika kau tak memenuhi keinginan Rendra itu.” ucap Elena


yang tak ingin membuat orang lain kerepotan akan permintaan Rendra yangmenginginkan


sesuatu yang luar biasa.


Bayangkan


satu satu pesawat berapa puluh atau ratus miliar rupiah, ah bukan rupiah mungkin


berapa puluh atau ratus miliar dollar. Memikirkannya saja membuat Elena pusing


bagaimana mungkin Rendra meminta hal sebesar itu pada orang lain. Bahkan dengan


tidak manusiawinya Hanz dan Robert menawarkan dua buah pesawat sebagai hadiah


untuk mereka.


“Kau ingin


mengejekku karena kini suamimu sudah datang padamu lagi?” ucap Hanz yang terlihat


begitu emosi.

__ADS_1


“Aku


kapan?.” Tanya Elena yang tak mengerti, apa yang salah dengan ucapannya.


“Kau tak


menginginkan hadiah dariku yang tak ada apa-apanya dari suamimu kan, ternyata


kau seperti suamimu ya.” Tuduh Hanz yang dengan mudahnya mengatakan hal itu


pada Elena.


“Pertama


aku tak mengerti mengapa Malviano dibawa-bawa dalam masalah ini, kedua aku tak


terlalu lagi menginginkan sebuah pesawat. Kau pikir bagaimana nantinya benda itu


dapat berjalan semetara aku tak bisa mengendarainya dan alasan yang paling-paling


penting adalah dimakah aku meletakkannya nanti.” Ucap Elena yang entah mengapa


begitu emosi pada Hanz.


“Kan


sudahku katakana dulu, benda itu akan berjalan memakai pilot yang bekerja diperusahaanku


jika kalian ingin memakainya. Dan untuk tempat meyimpannya kau bisa saja


meletakkan dirumahmu, aku yakin Malviano punya cukup ruang untuk dua pesawat


tambahan.” Balas Hanz panjang lebar sepertinya ia sangat emosi dalam pembicaraan


hari ini.


“Kau pikir


sebesar apa rumah Malviano?.” Ucap Elena yang sebenarnya penasaran berapa besar


rumah yang dulu ditempatinya dulu.


Kala itu


Elena terlalu malas untuk berjalan-jalan dirumah Malviano yang kamar mandinya


sebesar rumahnya yang dimilikinya selama membesarkan Rendra. Malvianopun


terlalu sibuk dengan urusannya diperusahaan sehingga tak pernah laki-laki itu


sekalipun menawarkan untuk memberi Elena berkeliling area rumahnya.


“Ayolah


jangan membuatku semakin kecil hanya untuk mengatakan seberapa besar perbedaan


kami.” Ucap Hanz yang kini terlihat malas membicarakan sesuatu yang sudah pasti.


“Kau bisa


membicarakan hal itu pada Rendra kalau begitu, kita benar-benar tak akan pernah


bisa untuk berbicara dengan normal.” Ucap Elena yang menyerah, nanti ia akan


memberi tahukan Rendra agar ia membatalkan keinginannya dalam meminta Hanz dua


buah pesawat terbang.


“Aku tak


yakin, ia akan berbicara padaku sekarang.” Ucap hanz yang terlihat sedih.


Memang benar


Rendra melupakan Hanz ketika sedang bersama Malviano, sepertinya Hanz tak terlihat


jika anaknya sedang bersama ayah kandungnya. Tapi bukannya tak ada yang salahkan,


seorang anak pasti akan lebih menghabiskan waktu bersama ayah mereka sendiri.


“Aku yakin


ia tak mungkin menempeli Malviano selamanya.” Ucap Elena.


“Kau yakin.”


Ucap Hanz yang kini malah memegang bahu Elena dan menatap Elena dengan intens.


“Ak…”

__ADS_1


ucap Elena terhenti ketika ia mendengar namanya disebut.


“Elena.”


__ADS_2