
“Sayang kau tidak apa-apa?” ucap
Malviano yang kini membenarkan selimut yang jatuh merosot dari tubuhnya.
Lagi-lagi panggilan itu, haruskah
ia mulai membiasakan diri mendengarnya?
“Kau pusing?”
Entahlah apa yang harus ia jawab
saat ini, apakah ada seseorang yang diposisinya yang baik-baik saja?
“Tidurlah kembali, aku akan
membanggunkanmu ketika pesawat ini lepas landas,” ucap Malviano yang seolah
mengerti keterdiamannya yang seolah menenangkan dengan mencium keningnya dan kini
ia beranjak kekursi disebelahnya ketempat Rendra sedang tertidur pulas disana.
Ia memang kini sedang berada didalam
pesawat yang membawanya pulang, alih-alih kesebuah restauran cepat saji Malviano
malah membawanya dan Rendra kebandara terdekat. Hari itu juga mereka
benar-benar pulang tanpa direncanakan bahkan mereka tak membawa apapaun selain
apapun yang mereka gunakan.
Sebelumnya mereka hampir saja
sampai didepan restaurant cepat saji seperti yang diinginkan oleh Rendra tadi siang,
akan tetapi Malviano langsung memutar kemudinya dan menjalankan mobil dengan
kecepatan diatas rata-rata yang membuat ia langsung memeluk Rendra dengan erat.
Setelah memesan tiket penerbangan
tercepat Malviano mengatakan bahwa terjadi sesuatu yang membuatnya harus
secepatnya pulang. Malviano sempat hampir bersujud dibandara karena Elena
menolak untuk ikut pulang sebelum malviano mengatakan bahwa tak mungkin menunda
kepulangnya karena kondisi Kenzo yang mungkin kini sedang kritis.
Mendengar berita itu mau tahu baik
ia dan Rendra tentu saja langsung menyetujui untuk pulang, sementara Malviano
langsung lega karena tak susah membuatnya dan Rendra mengerti bahwa suaminya itu
harus secepatnya pulang. Dalam hati ia begitu kaget karena baru saja beberapa
hari yang lalu mereka saling berhubungan lewat telepon.
Sebenarnya apa yang terjadi pada
Kenzo? batinnya bertanya sebelum jatuh tertidur.
“Sayang bangun,” terdengar ucapan
sayup-sayup membangunkan tidurnya.
Sepertinya cukup lama ia jatuh
tertidur sehingga tak terasa ia sudah sampai dinegaranya.
“Kita harus segera turun jika kau
tak ingin bermalam didalam bandara ini,” ucap Malviano kembali sambil
mengangkat Rendra dalam pelukkannya.
Melihat itu ia langsung mengikuti
Malviano yang turun dari pesawat dan kini terun berjalan keluar dari area
bandara ke tempat parkir yang disediakan oleh pihak bandara. Ia bisa melihat
__ADS_1
ternyata kedatangan mereka sudah disambut oleh Liam yang kini melambaikan
tangannya penuh semangat.
“Sayang kau ingin pulang bersama Rendra
atau ikut denganku?” tanya Malviano yang langsung memberikan Rendra pada Liam.
Ia mendengar ucapan Malviano yang
terdengar tak rela untuk berpisah dengannya atau dengan Rendra, mungkinkah pria
ini takut jika ia ikut pulang Rendra mungkin mereka akan kembali menghilang
dalam kehidupannya. Tapi disisi lain Malviano harus segera melihat keadaan
Kenzo dan menghargai bahwa keluarganya memerlukan istirahat.
“Kurasa aku ikut denganmu,”
jawabnya yang tak yakin karena ia juga setuju dengan Malviano yang tak membiarkan
Rendra ikut ketempat yang mungkin ditakuti oleh anak itu.
Rendra mungkin akan sangat
ketakutan ketika tiba-tiba terbangun ditempat yang paling ditakutinya, akan
cukup lama membujuk anak itu karena kejadian yang kemaren saja kemarahan anak itu
belum terlalu reda.
“Liam akan membawa Rendra
langsung pulang kerumah,” ucap Malviano yang lega mendengar ucapannya.
Apakah ia harus berharap ia bahagia
karena Malviano tak ingin berpisah darinya?
“Selamat datang, aku benar-benar
merindukan kalian,,, aku sebaiknya membawa Rendra pulang dulu sekarang,” ucap Liam
dipundaknya.
Sepertinya Malviano, Hanz bahkan sekarang
Liam terlihat tidak terlalu kesusahan ketika mengendong Rendra, berbeda
dengannya yang baru sebentar mengedong putranya rasanya pinggangnya terasa akan
putus. Padahal untuk seumuran Rendra yang baru saja berusia enam tahun anaknya
termasuk anak yang berbadan tidak terlalu gemuk.
“Kami titip ya,” ucap Malviano
yang kini mengandeng tangannya menuju sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari
tempat mereka berdiri yang kunci mobilnya sudah diberikan oleh Liam.
Bisa ia liat Liam juga pergi menuju
kesebuah mobil yang terparkir tak jauh dari mobil yang kini dimasuki olehnya.
Sebelum mobil yang dikendarai oleh Malviano meluncur ia bisa melihat dengan
jelas Liam sedang memasangkan sabuk pengaman pada Rendra.
Ternyata tempat yang dituju oleh
Malviano cukup jauh dari bandar walaupun pria itu sepertinya mengemudikan mobilnya
dengan sangat cepat, tapi sekitar lima belas menit mereka tiba didepan sebuah
rumah sakit besar yang kemungkinan Kenzo sedang dirawat didalamnya.
Tanpa mengatakan apapun Malviano
langsung keluar dari mobil diikuti olehnya yang ternyata pria itu sudah berada
didepannya untuk mengandeng tangannya. Apakah ia harus merasakan senang dalam
__ADS_1
keadaan yang sangat tidak tepat seperti saat ini, batinnya terus menerus
berkata jangan sampai ia kelepasan untuk tersenyum senang.
“Ibu,” teriak Malviano yang kini
langsung membawanya mendekati seorang wanita yang terlihat sangat cemat didepan
sebuah pintu ruang operasi.
“Kenn.. Zo,” ucap wanita itu sambil
menanggis memeluk Malviano yang sudah melepaskan genggaman tangannya.
Ia sebenarnya binggung bukankah
Malviano sudah tidak mempunyai kedua orang tua? Bagaimana mungkin wanita didepannya
ini ia sebut dengan sebutan Ibu? Tapi wanita ini menanggis sambil mengatakan
nama Kenzo? mungkinkah ini adalah Ibu dari Kenzo? melihat ia mengangis sepedih ini
mungkinkah keadaan Kenzo sangat buruk?
Ingin sekali ia mengatakan pertanyaan
itu dengan keras, tapi ia tahu keadaan sudah cukup membinggungkan karena kondisi
Kenzo yang belum mereka ketahui seperti apa saat ini. Karena wanita yang
kemungkinan ibunya ini masih saja menanggis didalam pelukan Malviano.
“Kenzo akan selamat bu, bukankah
kejadian seperti ini juga pernah terjadi padanya dulu dan lihat ia sampai kemarin
ia masih berkeliaran seperti tak pernah terjadi apa-apa padanya,” hibur Malviano
pada wanita yang masih menanggis didalam pelukkannya.
“Tapi dulu ia hanya terguling dari
sepeda motor kesayangannya, kali ini berbeda ia…ia ter…tertabak oleh sebuah…
truk… ibu… bahkan sudah melihat keadaan mobil yang dikendarainya,” jelas wanita
itu yang menjelaskan sambil sesegukkan karena rasa sedih yang terjadi pada
Kenzo.
Sepertinya mungkin sangat parah
mendengar wanita yang mungkin adalah Ibu Kenzo menjabarkan bahwa ia melihat
kedaraan yang dibawa anaknya saja dalam keadaan yang mungkin tidak ada harapan
sehingga Ibu dari Kenzo itu samai kehilangan harapan pada keadaan anaknya yang
masih berada didalam ruang operasi.
“Mereka belum selesai?”
“Sudah hampir dua belas jam,”
jelas ibu Kenzo.
Sepertinya memang kondisi dari
sahabat suaminya ini memang mengalami sesuatu yang amat sangat serius hingga
memerlukan operasi yang sangat lama seperti ini. Dalam hati ia hanya berdo’a
untuk keberhasilan dari para dokter didalam sana untuk menyembuhkan semua luka
yang didapat oleh Kenzo dalam kecelakaan ini.
Karena Kenzo harus sembuh bukan
hanya untuk Ibunya yang masih terlihat kembali menangis didalam pelukan Malviano.
Tapi menurutnya orang sebaik Kenzo yang sangat berjasa dalam hidupnya harus bisa
hidup lebih lama, tak adil jika tuhan memanggil orang sebik itu lebih cepat
__ADS_1
bukan?