Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 51


__ADS_3

“Sayang kau tidak apa-apa?” ucap


Malviano yang kini membenarkan selimut yang jatuh merosot dari tubuhnya.


Lagi-lagi panggilan itu, haruskah


ia mulai membiasakan diri mendengarnya?


“Kau pusing?”


Entahlah apa yang harus ia jawab


saat ini, apakah ada seseorang yang diposisinya yang baik-baik saja?


“Tidurlah kembali, aku akan


membanggunkanmu ketika pesawat ini lepas landas,” ucap Malviano yang seolah


mengerti keterdiamannya yang seolah menenangkan dengan mencium keningnya dan kini


ia beranjak kekursi disebelahnya ketempat Rendra sedang tertidur pulas disana.


Ia memang kini sedang berada didalam


pesawat yang membawanya pulang, alih-alih kesebuah restauran cepat saji Malviano


malah membawanya dan Rendra kebandara terdekat. Hari itu juga mereka


benar-benar pulang tanpa direncanakan bahkan mereka tak membawa apapaun selain


apapun yang mereka gunakan.


Sebelumnya mereka hampir saja


sampai didepan restaurant cepat saji seperti yang diinginkan oleh Rendra tadi siang,


akan tetapi Malviano langsung memutar kemudinya dan menjalankan mobil dengan


kecepatan diatas rata-rata yang membuat ia langsung memeluk Rendra dengan erat.


Setelah memesan tiket penerbangan


tercepat Malviano mengatakan bahwa terjadi sesuatu yang membuatnya harus


secepatnya pulang. Malviano sempat hampir bersujud dibandara karena Elena


menolak untuk ikut pulang sebelum malviano mengatakan bahwa tak mungkin menunda


kepulangnya karena kondisi Kenzo yang mungkin kini sedang kritis.


Mendengar berita itu mau tahu baik


ia dan Rendra tentu saja langsung menyetujui untuk pulang, sementara Malviano


langsung lega karena tak susah membuatnya dan Rendra mengerti bahwa suaminya itu


harus secepatnya pulang. Dalam hati ia begitu kaget karena baru saja beberapa


hari yang lalu mereka saling berhubungan lewat telepon.


Sebenarnya apa yang terjadi pada


Kenzo? batinnya bertanya sebelum jatuh tertidur.


“Sayang bangun,” terdengar ucapan


sayup-sayup membangunkan tidurnya.


Sepertinya cukup lama ia jatuh


tertidur sehingga tak terasa ia sudah sampai dinegaranya.


“Kita harus segera turun jika kau


tak ingin bermalam didalam bandara ini,” ucap Malviano kembali sambil


mengangkat Rendra dalam pelukkannya.


Melihat itu ia langsung mengikuti


Malviano yang turun dari pesawat dan kini terun berjalan keluar dari area


bandara ke tempat parkir yang disediakan oleh pihak bandara. Ia bisa melihat

__ADS_1


ternyata kedatangan mereka sudah disambut oleh Liam yang kini melambaikan


tangannya penuh semangat.


“Sayang kau ingin pulang bersama Rendra


atau ikut denganku?” tanya Malviano yang langsung memberikan Rendra pada Liam.


Ia mendengar ucapan Malviano yang


terdengar tak rela untuk berpisah dengannya atau dengan Rendra, mungkinkah pria


ini takut jika ia ikut pulang Rendra mungkin mereka akan kembali menghilang


dalam kehidupannya. Tapi disisi lain Malviano harus segera melihat keadaan


Kenzo dan menghargai bahwa keluarganya memerlukan istirahat.


“Kurasa aku ikut denganmu,”


jawabnya yang tak yakin karena ia juga setuju dengan Malviano yang tak membiarkan


Rendra ikut ketempat yang mungkin ditakuti oleh anak itu.


Rendra mungkin akan sangat


ketakutan ketika tiba-tiba terbangun ditempat yang paling ditakutinya, akan


cukup lama membujuk anak itu karena kejadian yang kemaren saja kemarahan anak itu


belum terlalu reda.


“Liam akan membawa Rendra


langsung pulang kerumah,” ucap Malviano yang lega mendengar ucapannya.


Apakah ia harus berharap ia bahagia


karena Malviano tak ingin berpisah darinya?


“Selamat datang, aku benar-benar


merindukan kalian,,, aku sebaiknya membawa Rendra pulang dulu sekarang,” ucap Liam


dipundaknya.


Sepertinya Malviano, Hanz bahkan sekarang


Liam terlihat tidak terlalu kesusahan ketika mengendong Rendra, berbeda


dengannya yang baru sebentar mengedong putranya rasanya pinggangnya terasa akan


putus. Padahal untuk seumuran Rendra yang baru saja berusia enam tahun anaknya


termasuk anak yang berbadan tidak terlalu gemuk.


“Kami titip ya,” ucap Malviano


yang kini mengandeng tangannya menuju sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari


tempat mereka berdiri yang kunci mobilnya sudah diberikan oleh Liam.


Bisa ia liat Liam juga pergi menuju


kesebuah mobil yang terparkir tak jauh dari mobil yang kini dimasuki olehnya.


Sebelum mobil yang dikendarai oleh Malviano meluncur ia bisa melihat dengan


jelas Liam sedang memasangkan sabuk pengaman pada Rendra.


Ternyata tempat yang dituju oleh


Malviano cukup jauh dari bandar walaupun pria itu sepertinya mengemudikan mobilnya


dengan sangat cepat, tapi sekitar lima belas menit mereka tiba didepan sebuah


rumah sakit besar yang kemungkinan Kenzo sedang dirawat didalamnya.


Tanpa mengatakan apapun Malviano


langsung keluar dari mobil diikuti olehnya yang ternyata pria itu sudah berada


didepannya untuk mengandeng tangannya. Apakah ia harus merasakan senang dalam

__ADS_1


keadaan yang sangat tidak tepat seperti saat ini, batinnya terus menerus


berkata jangan sampai ia kelepasan untuk tersenyum senang.


“Ibu,” teriak Malviano yang kini


langsung membawanya mendekati seorang wanita yang terlihat sangat cemat didepan


sebuah pintu ruang operasi.


“Kenn.. Zo,” ucap wanita itu sambil


menanggis memeluk Malviano yang sudah melepaskan genggaman tangannya.


Ia sebenarnya binggung bukankah


Malviano sudah tidak mempunyai kedua orang tua? Bagaimana mungkin wanita didepannya


ini ia sebut dengan sebutan Ibu? Tapi wanita ini menanggis sambil mengatakan


nama Kenzo? mungkinkah ini adalah Ibu dari Kenzo? melihat ia mengangis sepedih ini


mungkinkah keadaan Kenzo sangat buruk?


Ingin sekali ia mengatakan pertanyaan


itu dengan keras, tapi ia tahu keadaan sudah cukup membinggungkan karena kondisi


Kenzo yang belum mereka ketahui seperti apa saat ini. Karena wanita yang


kemungkinan ibunya ini masih saja menanggis didalam pelukan Malviano.


“Kenzo akan selamat bu, bukankah


kejadian seperti ini juga pernah terjadi padanya dulu dan lihat ia sampai kemarin


ia masih berkeliaran seperti tak pernah terjadi apa-apa padanya,” hibur Malviano


pada wanita yang masih menanggis didalam pelukkannya.


“Tapi dulu ia hanya terguling dari


sepeda motor kesayangannya, kali ini berbeda ia…ia ter…tertabak oleh sebuah…


truk… ibu… bahkan sudah melihat keadaan mobil yang dikendarainya,” jelas wanita


itu yang menjelaskan sambil sesegukkan karena rasa sedih yang terjadi pada


Kenzo.


Sepertinya mungkin sangat parah


mendengar wanita yang mungkin adalah Ibu Kenzo menjabarkan bahwa ia melihat


kedaraan yang dibawa anaknya saja dalam keadaan yang mungkin tidak ada harapan


sehingga Ibu dari Kenzo itu samai kehilangan harapan pada keadaan anaknya yang


masih berada didalam ruang operasi.


“Mereka belum selesai?”


“Sudah hampir dua belas jam,”


jelas ibu Kenzo.


Sepertinya memang kondisi dari


sahabat suaminya ini memang mengalami sesuatu yang amat sangat serius hingga


memerlukan operasi yang sangat lama seperti ini. Dalam hati ia hanya berdo’a


untuk keberhasilan dari para dokter didalam sana untuk menyembuhkan semua luka


yang didapat oleh Kenzo dalam kecelakaan ini.


Karena Kenzo harus sembuh bukan


hanya untuk Ibunya yang masih terlihat kembali menangis didalam pelukan Malviano.


Tapi menurutnya orang sebaik Kenzo yang sangat berjasa dalam hidupnya harus bisa


hidup lebih lama, tak adil jika tuhan memanggil orang sebik itu lebih cepat

__ADS_1


bukan?


__ADS_2