Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 57


__ADS_3

"Bu, bagaimana--" ucap Malviano terhenti ketika Ibu Kenzo tiba-tiba saja memeluknya sambil menangis meraung-raung.


Sepertinya hal buruk sudah terjadi, itulah satu-satunya hal yang terpikir oleh Elena. Ia dan Rendra langsung berlari ketika Malviano berhasil memarkirkan kendaraan mereka di rumah sakit ini, walaupun Ia dan Rendra tak terlalu berhasil menyamakan kecepatan mereka sampai.


"Kenzo, dia kejang-kejang. Ibu tak kuat melihatnya," jelas Ibu Kenzo dengan terbata-bata karena tangisannya semakin menjadi ketika menjelaskan keadaan putranya.


Oh tuhan, kuatkan lah malaikat penyelamat hidupnya dan putranya ini, walaupun baru beberapa kali mereka bertatap muka tapi jika bukan karena kemurahan hati seorang Kenzo, Elena yakin ia dan Rendra tak mungkin pernah berada disini saat ini. Bahkan berkat bantuan-bantuan yang tergolong sangat besar oleh Kenzo pada kehidupannya ia kini bisa bersama Rendra juga Malviano saat ini.


"Bu, tunggulah di sini bersama Elena dan Rendra ya. biar Vian bertemu dulu dengan dokter yang menanggani Kenzo. Vian janji sama Ibu, Kenzo ga akan meninggalkan kita sebelum mendapatkan ijin dari Ibu." ucap Malviano panjang lebar terdengar tegas sekaligus menenangkan, ia harus mengatakan hal tersebut karena keengganan Ibu Kenzo untuk melepaskannya.


"Tapi Vian--"


"Vian janji Bu, coba bilang sama Vian? kapan kiranya Vian ingkar janji sama Ibu?" tanya Malviano.


"Ibu pegang janji Vian," ucap Ibu walaupun masih dengan keengganan yang sama tapi kini malah beralih memeluk Elena.


Elena sontak saja kaget, tapi tangannya langsung mengelus punggung Ibu Kenzo. Ia juga pasti sangat membutuhkan hal itu jika saja Rendra yang berada diposisi Kenzo saat ini. Ibu mana yang tak akan rapuh menghadapi kenyataan anaknya kini berada di ambang kematian, rasa segan ataupun malu tak akan pernah terpikirkan yang penting anaknya hidup kembali.


"Sayang, titip Ibu ya."


"Tenang saja Dad, Rendra akan menjaga Mom dan Oma," malah terdengar susara Rendra, berbicara sangat langtang menggantikan Ibunya sambil menggenggam tangan Ibu Kenzo.


Melihat tangannya digenggam erat oleh sosok menyerupai salah satu anaknya walaupun dengan ukuran lebih kecil, membuat Ibu Kenzo tersenyum haru.


"Lihat siapakah jagoan kecil kita ini," ucap Ibu Kenzo, terkagum-kagum sambil berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Rendra.


"Emm-- Bu, kenal kan. Itu Rendra---Putraku."

__ADS_1


Sangat jarang Elena melihat Malviano berbicara seperti ini, tergagap-gagap dan wajah memerah persis seperti Rendra yang ketahuan berbuat sesuatu hal luar biasa yang membuatnya menghela nafas berat karena kelakuan ajaibnya.


"Kau sudah punya anak?" tanya Ibu kenzo yang kini melotot karena  terlalu terkejut dengan fakta yang baru saja ia dengar.


"Vian akan jelaskan nanti ya Bu, Vian sekarang pamit mau bertemu dengan dokter."


Mendengar hal itu sontak membuat Ibu Kenzo ingat bagaimana keadaan putra semata wayangnya, alasannya memanggil Malviano kemari. walaupun ia sangat ingin mengorek bagaimana bisa seorang Malviano bisa mempunyai seorang putra dan datang kemari dengan seorang perempuan yang kemungkinan besar adalah ibu dari anak berwajah persis seperti dirinya.


Tak terasa waktu bergulir meninggalkan Elena, Rendra dan Ibu Kenzo terdiam menunggu penuh ketidak pastian, Ibu Kenzo sempat beberapa kali akan menanggis kembali, jika saja Elena dan Rendra tidak menghentikannya. Baik dengan sebuah pelukan ataupun Rendra yang berinisiatif menghapus air mata di pipi Oma Kenzo. Rendra langsung memanggil Oma Kenzo karena tak yakin mengapa ia tidak menyebutnya Grandma.


Elena tak terlalu yakin alasan apa yang membuat Rendra, tak memakai sapaan bahasa asing pada Ibu Kenzo. karena sampai saat ini pikiran kecil Rendra adalah misteri terbesar baginya. Apa yang akan Rendra ucapkan pada Ibu kandung Elena jika susatu saat mereka bertemu ya? pikiran itu tiba-tiba terbesit di kepalanya, membuatnya bertanya-tanya bagaimana keadaan Ibu kandungnya sendiri.


"Mom, Rendra ijin pergi dulu ya," ucapan Rendra sontak mengalihkan lamunan Elena.


"Memangnya Rendra, mau pergi kemana?"


"Biar Mom yang pergi, kau disini jaga Oma."


"Tapi--"


"Memangnya Rendra, bawa uang?" pertanyaan Elena sontak mendapat gelengan kepala dari anaknya itu, membuat Elena menang bahwa ia yang akan pergi dan anaknya tetap disini besama Ibu Kenzo. Memenangkan perdebatan kecil dengan anaknya entah mengapa membuatnya sedikit senang.


Dengan perasaan sedikit ringan ia berjalan menuju kantin atau kemanapun dirumah sakit ini yang menjual susu coklat. Dan tepat dilantai dasar Rumah Sakit Elena melihat sebuat mini market, ia pun langsung bergegas membeli susu coklat dan beberapa makanan ringan untuk berjaga-jaga jika nanti ada seseorang yang kemungkinan akan kelaparan.


Dengan sekantung makanan dan minuman Elena kembali menuju Rendra dan Ibu Kenzo berada. Disana ternyata sudah kosong membuat Elena merasa aneh. tak ingin memikirkan apapun ia hanya terus berjalan masuk keruangan kamar inap Kenzo yang sebelumnya ditempatinya. Dan untung saja memang benar didalamnya terdapat Rendra, Ibu Kenzo ditambah sosok Kenzo masih terbaring lemah.


"Mom," ucap Renra berjalan mendekati Elena membawa barang-barang yang dibeli oleh ibunya.

__ADS_1


Rendra dengan cekatan meletakkan belanjaan Elena diatas meja yang berada diruangan itu. ia menaruh dan mengeluarkan sebungkus roti selai kacang dan kebuah susu coklat yang langsung ia berikan pada Oma Kenzonya.


membuat wanita rapuh itu tersenyum melihat perhatian kecil dari cucu barunya itu.


"Oma harus makan banyak, agar nanti ketika Om Kenzo bangun Oma bisa marahin Om Kenzo sepuasnya."


"Kenapa Oma marahin Om Kenzo?"


"Tentu saja, karena Om kenzo sangat nakal,"


"Memangnya apa salah Om Kenzo?"


"Gara-gara Om Kenzo, Oma dari tadi terus-terusan menangis," jelas Rendra terdengar sangat polos untuk keadaan saat ini, anaknya yang sangat jenius di bidang teknologi ternyata mempunyai sisi seperti ini juga.


"Anak pintar, tadi namamu Rendra bukan?" ucap Ibu Kenzo langsung mendapat anggukan semangat dari anaknya.


"Ia Oma, Rendra anak dari Malviano dan Elana," ucap Rendra menegaskan siapa nama kedua orang tuanya.


"Nanti jika Om Kenzo bangun, mau ya Rendra bantu Oma untuk memarahi anak Oma yang nakal ini," ucap Ibu Kenzo menerima Makanan dan minuman dari Rendra untuknya.


"Tentu Oma, Rendra janji. engga akan ada orang yang bisa membuat Mom, Dad, dan Oma mengangis lagi" janji Rendra selalu terlihat sangat sungguh-sungguh mengingatkan Ibu Kenzo pertemuannya dengan Malviano. Anak dan ayah sama-sama mempunyai tekad melindungi orang-orang yang menurutnya sangat berharga baginya.


"Memangnya, Rendra berani sama Om Kenzo?"


"Tentu---" ucapan anaknya tak terlihat menyakinkan. karena Elena yakin Kenzo termasuk orang sangat berarti bagi anaknya itu.


Mendengar jawaban dari anak Malviano membuat Ibu Kenzo tersenyum bahagia menyadari maksud perkataan Elena dan Rendra.

__ADS_1


__ADS_2