
Pagi ini diisi oleh percakapan ringan tentang kesukaan dan ketidak sukaan Elena dan Malviano khusus tentang jenis makanan dan minuman. Banyaknya ketidak cocokan membuat mereka berdua berhenti untuk saling memberi alasan mengapa mereka menyukai ataupun menolak bahkan untuk mencoba jenis makanan ataupun minuman. seperti saat Rendra telah turut hadir untuk sarapanpun, mereka berdua tak menyadarinya.
"Salmon itu sangat enak jika langsung kita memakannya setelah menangkapnya," jelas Malviano menjelaskan alasan ia sangat suka memancing pada Elena.
"Dad yakin ingin melakukan itu?" pertanyaan itu bukanlah dari Elena, melainkan dari anak mereka--Rendra.
Rendra menatap ayahnya dengan pandangan permusuhan, karena bagaimana mungkin ayahnya mengatakan dengan santainya, bahwa ayahnya itu akan memakan binatang kesukaan dengan cara kejam. sebenarnya Rendra tak terlalu mempermasalahkan jika ayahnya memang suka memakan bintang kesukaannya--ikan, tapi Rendra akan menolak keras jika ayahnya sengaja pergi memancing hanya agar dapat mendapatkaan kenikmatan memakannya.
Jika untuk alasan kesehatan maupun misalnya tak ada pilihan selain memakan ikan maka Rendra tak akan menyalahkan ayahnya untuk memakan teman-temannya. Akan tetapi, jika ayahnya memakan dengan sangat tidak berkepriikaan salah satu contoh seperti, dengan membunuh di depan teman-teman lainnya. Tidak akan ada maaf bagi ayahnya bagi Rendra, ayahnya telah menantangnya untuk berperang.
"Sayang ten---" ucapan Malviano langsung dipotong oleh pukulan keras dipundaknya, ketika ia akan protes pada seseorang yang memukulnya tak lain dan tidak bukan adalah Elena. Malviano tidak bisa berbuat apa-apa selain diam karena mendapatkan tatapan tak kalah tajam seperti anak mereka.
"Dad, tidak akan punya cukup waktu untuk memancing. lagi pula Dad sudah janji bukan akan membuatkan Aquarium di dekat kamar Renda. Mom dengar Om Liam bahkan sudah menyewa seorang arsitek baru untuk mengerjakannya." jelas Elena panjang lebar untuk membujuk anak mereka, ia jelas melihat tanduk di kepala putra tampan mereka jika ia tak mengatakan hal itu.
"Benarkah itu Dad?" tanya Rendra, kali ini dengan nada girang bukan main. jauh berbeda dengan pertanyaan pertamanya beberapa menit lalu.
"Ya, kau sudah memilih ingin memeliraha ikan jenis apa?" tanya Malviano.
Elena jelas melihat keterkejutan ditambah ketidak tahuan Malviano dalam pernyataan bahwa ia sudah menyewa seorang arsitek, hanya untuk membuatka Rendra sebuah kolam ikan. tapi melihat antusias anak mereka sepertinya Malviano sekali lagi harus memberikan hadiah bagi istrinya karena lagi-lagi telah menyelamatkan dirinya, untuk menjadi ayah terbaik bagi Rendra.
"Tentu saja, aku sudah sudah siap untuk memesan si Louhan, Arwana, Koi, Oscar, Bala Shark, Redfin, Botie, ..." Rendra terus saja menyebutkan nama-nama jenis ikan membuat Malviano hanya melongo tidak mengerti sementara Elena hanya bisa menyiapkan mental untuk mendengar pelajaran biologi dari anaknya.
__ADS_1
Elena sudah tau membiarkan anaknya berbicara tentang ikan akan membutuhkan waktu lama, akan tetap ia tidak mengantisipasi bahwa kali ini anaknya akan membuat mereka medapatkan pelajaran biologi dadakan bahkan hingga malam hari. Malviano pun terpaksa cuti bekerja karena tak bisa menghentikan pelajaran dari Rendra.
Anaknya sangat-sangat antusias atau lebih tepatnya terlalu terobssesi memberikan pelajaran bagi ayah dan ibunya tetang binatang apa saja yang akan mereka rawat. Dari mulai nama sampai bagaimana cara mereka mengembang biakkan ikan-ikan yang nantinya akan Rendra rawat dengan sepenuh cinta tentu saja Rendra meminta lebih tepatnya memaksa Elena dan Malviano turut membantunya.
"Aku tak tahu anakmu menakutkan," ucap Malviano ketika ia dan Elena baru saja berhasil masuk kemar pribadi mereka setelah beralasan pada Rendra bahwa sekarang sudah waktunya mereka untuk tidur.
"Anakku!?" pekik Elena tak terima tuduhan Malviano padanya. Enak saja ketika seperti ini Malviano seenaknya sendiri, sementara kenyataannya Rendra tak mungkin bisa lahir kedunia ini jika tidak ada kontribusi Malviano didalam pembuatannya.
"Anak kita tentu saja," jelas Malviano panik, mengatakan hal itu sangat cepat sebelum kejadian malam sebelumnya terulang kembali.
"Kau harusnya bangga."
"Ya, menakutkan. Untung saja aku terlahir seperti ini, dulu bahkan aku sempat iri pada anakku sendiri,"
"Jelaskan, apa maksud kata 'menakutkan' sebelum aku benar-benar tersinggung!"
"Oh tuhan," ucap Elena reflek karena ia sepertinya kini kelepasan berbicara, ia sudah sangat lelah mendengarkan kuliah dari Rendra, bagaimana mungkin kini ia harus kembali berdebat dengan suaminya.
"Elena!" tegur Malviano, tak sabar melihat keenggan Elena untuk menjelaskan ucapannya.
"Bisakah besok pagi?"
__ADS_1
"Sekarang."
"Tapi bukankah kita sudah lelah?" mohon Elena, karena matanya sudah terlalu lelah, apalagi bebrbicara dengan Malviano pun pasti memerlukan tenaga lebih untuk kepalanya.
"SEKARANG!" ucap Malviano mulai meninggikan suaranya.
"Rendra, maksudku kalian menakutkan. Lebih tepatnya cara kalian berpikir. kalian selalu berpikir selangkah tidak maksudku berlalu sangat jauh dari pada cara kami berpikir. lihat lah tadi contohnya, seharusnya Rendra hanya meminta kita membuatkan sebuah aquarium kecil untuk seekor ikan Koi bukan malah berencana memindahkan populasi laut kemari." jelas Elena panjang lebar, mencoba menjelaskan dengan sesingkat mungkin tapi itu tak bisa dilakukannya karena ia ingin menjelaskan pada Malviano dalam satu waktu.
"Apakah seperti itu menurutmu?" tanya Malviano kembali berbicara senormal mungkin.
"Ya, apalagi dulu. Rendra sangat menakutkan apalagi aku tidak mempunyai cukup uang untuk memenuhi keinginannya," adu Elena, ia lega akhirnya bisa mengeluarkan apa yang dulu menjadi beban terbesarnya.
Bukan maksud apa-apa, apalagi bukan karena lelah membesarkan Rendra ia mengadukan hal ini pada Malviano. Elena mengatakan hal ini karena ia tak ingin Malviano meninggalnya sendirian menghadapi Rendra anak mereka, ia sangat ingin bergantung pada Malviano untuk menjaga Rendra tetap pada jalur baik dari yang terbaik.
Dengan kasih sayang Malviano, ia ingin Rendra tidak hanya mendapatkan masukan dari sisinya, yang terkadang terlalu mengandalkan perasaan. Elena ingin Rendra tumbuh menjadi sosok tangguh dan bijaksana dengan bantuan Malviano yang merupak ayah kandungnya. apalagi mereka sama-sama mempunyai pemikiran diatas orang lain, mereka terlalu rentan untuk berpikir diluar sesuatu hal tidak biasa.
"Elena, kuharap bukan hanya aku saja yang terbuka. Aku yakin kau juga masih ragu padaku, untuk itu mari sama-sama, mencoba saling terbuka. walaupun kita sedang sama-sama lelah, karena terlalu lama membiarkan pihak lain tak mengerti maksud perkataan dan perbuataan lainnya mungkin akan menjadi masalah besar nantinya." jelas Malviano sambil mendekat untuk memeluk Elena.
Mendengar perkataan Malviano, membuat Elena merasakan dadanya memberat. Elena semakin sadar ia juga sangat egois yang mementingkan keinginnannya sendiri. kini mereka adalah sepasang suami istri, keharmonisan rumah tangga tidak bisa dibangun hanya dengan satu orang. Kedua belah bihak harus bekerja sama untuk membuat rumah mereka kokoh berdiri tegak apalagi landasan pondasi rumah mereka dulu tidaklah kuat.
Jika ingin membuat rumah tangga mereka berhasil, hal sekecil apapun harus sesegera mungkin mereka perbaiki untuk membuat sebuah rumah tangga yang nyaman, indah dan tentu saja sangat megah.
__ADS_1