Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 47


__ADS_3

“Kurasa kini Rendra akan senang,


tadi malam ia begitu khawatir karena kau tak juga keluar dari kamar ayahnya. Ia


sangat ingin menyusulmu, tapi aku harus menghentikannya bukan?” ucap Hanz yang


terlihat seperti sedang memberikan kode bahwa Elena harus berterimakasih


padanya karena menahan Rendra yang hendak mengganggu waktu Elena dan Malviano


tadi malam.


“Semalam tidak ada yang terjadi


pada kami,” bantah Elena yang tak suka akan perkataam Hanz padanya, yang


terdengar seolah-olah mereka berbuat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh anak


kecil sepserti Rendra.


“Ayolah Elena bukankah kalian


suami istri, tidak usah mengelak,” ejek Hanz


“Kami tidak melakukan hal itu tadi


malam,” jelas Elena.


“Jadi kalian tidak melakukannya


tadi malam, apakah karena ada kami ya,”gumam Hanz yang terdengar seperti


menganalis sesuatu yang rumit.


“Ssebaiknya aku mandi dulu,” ucap


Elena yang beranjak masuk kamarnya.


“Bukankah kau tadi bilang tidak


melakukannya semalam?” tanya Hanz dengan usil.


“Kami memang tidak,” jawab Elena yang


tentu saja tahu maksud perkataan Hanz padnya.


“Lalu untuk apa kau mandi?”


“Memangnya kau akan mandi jika


setelah melakukan hal itu saja,” jawab Elena dengan ketus yang langsung menutup


pintu kamarnya dengan cukup keras.


Rasanya sangat kesal mendengar


perkataan Hanz, padahal bukankah wajar jika suami dan istri melakukan hal itu. Tak


harus seheboh itu sampai menanyakan padanya pagi-pagi buta seperti ini, padahal


Elena dan Malviano tidak berbuat hal itu semalam.


Elena bergegas pergi mandi untuk


mendinginkan kekesalannya terhadap Hanz. Dan benar saja setelah mandi kini


perasaan Elena lebih baik, ia langsung menuju dapur untuk membuat sarapan unyuk


semua orang.


“Telur, daging, kentang, roti,


dan ya wortel,” gumam Elena yang sedang mencari-cari bahan makanan untuk


membuat sarapan pagi ini.


Elena langsung mengolah semua


bahan-bahan yang disebutkan tadi untuk membuat berbagai macam menu. Sambil memasak


ia hanya tersenyum-senyum sendiri karena memikirkan reaksi satu orang yang


mungkin akan sangat antusias melihat menu special sarapan hari ini.


“Pagi mom,” ucap Rendra yang


berjalan mendekat pada Elena.


“Pagi sayang,” jawab Elena cerah.

__ADS_1


“Dad masih sakit?” tanya Rendra


yang sepertinya belum melihat keberadaan ayahnya pagi ini.


“Dad sudah sehat kok,” jawab


Elena yang menjadi malu karena menginggat perbuatan pria itu padanya.


“Mom baik-baik saja,”


“Tentu, memangnya kenapa sayang?”


tanya Elena.


“Apakah Dad menularkan penyakitnya


pada Mom, lihat wajah Mom berubah menjadi merah,” jelas Rendra yang terlihat


khawatir.


“Oh…ini… ini.. karena Mom sedang


memasak…. Terlalu panas disini sehingga membuat wajah Mom panas,” jela Elena


yang tak tahu mengapa ia harus membuat alasan konyol hanya untuk menutupi bahwa


ia sedang memikirkan sesuatu yang membuat wajahnya merah.


“Mom yakin?” tanya Rendra yang


terlihat masih khawatir.


“Tentu sayang Mom baik-baik saja,


lebih baik kau panggil Dad dan Om Hanz untuk segera turun karena sarapan sudah


hampir selesai,”


“Baik Mom,” ucap Rendra yang kini


terlihat bersemangat untuk memanggil kedua orang yang tadi Elena katakan.


Sementara Elena kini menaruh hasil


makanannya dimeja makan dengan begitu cantic, ia sudah tak sabar untuk melihat


kini ia kembali kedalam dapur untuk secepatnya membuat hal itu.


“Baunya sangat lezat,” ucap Malviano


yang kini duduk didepan makanan yang sudah Elena siapkan.


“Tentu saja masakan Mom selalu


lezat,” balas Rendra yang memilih duduk disamping ayahnya.


“Ya masakannya luar biasa, aku


sebenarnya ingin istrimu itu menjadi juru koki pribadiku atau biarkanlah ia


membuka sebuah restoran,” ucap Hanz yang berharap ia dapat memakan masakan


Elena setiap saat seperti ini akan tetapi melihat sorot mata Malviano yang


tajam tertuju padanya ia memberikan pilihan yang mungkin bisa ia dapatkan.


“Tentu aku akan membuka sebuah restoran


dengan menu seperti menu sarapan kita hari ini,” ucap Elena yang tak melihat kini


tatapan tajam Malviano mengarah padanya, berbeda dengan Hanz yang terlihat


sangat senang.


Elena tak memperdulikan apapun


saat ini selain wajah Hanz yang melihat hasil masakannya yang luar biasa. Ia kini


bisa melihat wajah Hanz yang tadinya sangat senang karena ucapannya kini sedikit


demi sedikit mulai terlihat muram, persis seperti apa yang Elena harapkan.


“Bukankah kau senang dengan


masakanku, ayo dimakan dengan lahap ya. Sini piringmu aku akan bawakan,” ucap


Elena yang bersemangat mengambil piring Hanz dan langsung mengisinya dengan


semua jenis makanan yang ia buat.

__ADS_1


“Aku memang sudah belajar memakan


ini, tapi haruska semua masakan terdapat itu Elena?” tanya Hanz sambil menerima


piringnya yang kini terdapat makanan yang terisi dengan penuh.


“Cobalah aku yakin kau akan


sangat suka,” ucap Elena tersenyum kejam, ia sangat menikmati pemandangan dimana


Hanz memakan masakannya dengan setengah hati.


Lihatlah wajah Hanz ketika


memasukkan potongan omelet wortel itu kedalam mulunya, pertama Hanz menunjukkan


keengganan yang sangat terlihat jelas diwajahnya. Dan semakin ia menguyah semakin


berkurang lah wajah aneh Hanz yang tadinya terlihat mirip seorang anak yang dipaksa


memakan suatu obat yang sangat pahit.


“Enak bukan?” tanya Elena yang


semangat.


“Ya tidak buruk,” jawab Hanz yang


kini menikmati makanannya.


“Bukan kini kau sudah terbiasa


dengan wortel?” tanya Elena yang tak mengerti mengapa Hanz selalu bersikap


seperti ini jika pertama kali ia akan memakan makanan yang terdapat wortel didalamnya.


“Mungkin karena hampir seumur hidupku


aku tak pernah menyukai wortel apapun bentuk dan olahannya,” jelas Hanz yang


masih saja memakan makanan yang Elena berikan pada piringnya.


“Aku akan lebih sering


membuatkanmu wortel agar kau semakin terbiasa dengan rasanya,” ucap Elena.


“Kurasa aku sudah kenyang, Rendra


sayang kau juga?” ucap Malviano setengah berteriak untuk menyadarkan Elena dan


Hanz bahwa diruangan itu bukan hanya ada mereka berdua.


Elena yang sadar akan maksud


perkataan Malviano kini sontak melihat kea rah pria itu yang terlihat pergi


menuju kekamarnya. Berbeda dengan Rendra yang sepertinya tak terlalu peduli


akan ayahnya, karena ia kini sedang sibuk memakan pizza kentang wortel kukus


salah satu makanan kesukaannya.


“Kurasa kau harus segera


menyusulnya,” ucap Hanz yang terlihat cemas akan kepergian Malviano sama seperti


Elena.


“Aku mengerti,”


“Bawa beberapa makanan kurasa ia


hanya asal bicara ketika mengatakan ia sudah kenyang,” tambah Hanz


Elena langsung menuruti perkataan


Hanz dengan membawakan sebuah piring yang didalamnya terdapat segala macam jenis


masakannya. Elena juga yakin Malviano tidak mungkin merasa kenyang karena sejak


kemarin pria itu hanya makan sedikit karena ia sedang tidak enak badan.


Elena langsung menuju kamar Malviano


dengan kedua tangan yang penuh dengan makanan, ia kini binggung sekarang bagaimana


cara ia bisa masuk. Kalo mengetuk ia kesusahan karena kedua tangannya yang


penuh sedangkan jika ia berteriak ia tak yakin pria itu akan menjawab.

__ADS_1


__ADS_2