
“Kurasa kini Rendra akan senang,
tadi malam ia begitu khawatir karena kau tak juga keluar dari kamar ayahnya. Ia
sangat ingin menyusulmu, tapi aku harus menghentikannya bukan?” ucap Hanz yang
terlihat seperti sedang memberikan kode bahwa Elena harus berterimakasih
padanya karena menahan Rendra yang hendak mengganggu waktu Elena dan Malviano
tadi malam.
“Semalam tidak ada yang terjadi
pada kami,” bantah Elena yang tak suka akan perkataam Hanz padanya, yang
terdengar seolah-olah mereka berbuat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh anak
kecil sepserti Rendra.
“Ayolah Elena bukankah kalian
suami istri, tidak usah mengelak,” ejek Hanz
“Kami tidak melakukan hal itu tadi
malam,” jelas Elena.
“Jadi kalian tidak melakukannya
tadi malam, apakah karena ada kami ya,”gumam Hanz yang terdengar seperti
menganalis sesuatu yang rumit.
“Ssebaiknya aku mandi dulu,” ucap
Elena yang beranjak masuk kamarnya.
“Bukankah kau tadi bilang tidak
melakukannya semalam?” tanya Hanz dengan usil.
“Kami memang tidak,” jawab Elena yang
tentu saja tahu maksud perkataan Hanz padnya.
“Lalu untuk apa kau mandi?”
“Memangnya kau akan mandi jika
setelah melakukan hal itu saja,” jawab Elena dengan ketus yang langsung menutup
pintu kamarnya dengan cukup keras.
Rasanya sangat kesal mendengar
perkataan Hanz, padahal bukankah wajar jika suami dan istri melakukan hal itu. Tak
harus seheboh itu sampai menanyakan padanya pagi-pagi buta seperti ini, padahal
Elena dan Malviano tidak berbuat hal itu semalam.
Elena bergegas pergi mandi untuk
mendinginkan kekesalannya terhadap Hanz. Dan benar saja setelah mandi kini
perasaan Elena lebih baik, ia langsung menuju dapur untuk membuat sarapan unyuk
semua orang.
“Telur, daging, kentang, roti,
dan ya wortel,” gumam Elena yang sedang mencari-cari bahan makanan untuk
membuat sarapan pagi ini.
Elena langsung mengolah semua
bahan-bahan yang disebutkan tadi untuk membuat berbagai macam menu. Sambil memasak
ia hanya tersenyum-senyum sendiri karena memikirkan reaksi satu orang yang
mungkin akan sangat antusias melihat menu special sarapan hari ini.
“Pagi mom,” ucap Rendra yang
berjalan mendekat pada Elena.
“Pagi sayang,” jawab Elena cerah.
__ADS_1
“Dad masih sakit?” tanya Rendra
yang sepertinya belum melihat keberadaan ayahnya pagi ini.
“Dad sudah sehat kok,” jawab
Elena yang menjadi malu karena menginggat perbuatan pria itu padanya.
“Mom baik-baik saja,”
“Tentu, memangnya kenapa sayang?”
tanya Elena.
“Apakah Dad menularkan penyakitnya
pada Mom, lihat wajah Mom berubah menjadi merah,” jelas Rendra yang terlihat
khawatir.
“Oh…ini… ini.. karena Mom sedang
memasak…. Terlalu panas disini sehingga membuat wajah Mom panas,” jela Elena
yang tak tahu mengapa ia harus membuat alasan konyol hanya untuk menutupi bahwa
ia sedang memikirkan sesuatu yang membuat wajahnya merah.
“Mom yakin?” tanya Rendra yang
terlihat masih khawatir.
“Tentu sayang Mom baik-baik saja,
lebih baik kau panggil Dad dan Om Hanz untuk segera turun karena sarapan sudah
hampir selesai,”
“Baik Mom,” ucap Rendra yang kini
terlihat bersemangat untuk memanggil kedua orang yang tadi Elena katakan.
Sementara Elena kini menaruh hasil
makanannya dimeja makan dengan begitu cantic, ia sudah tak sabar untuk melihat
kini ia kembali kedalam dapur untuk secepatnya membuat hal itu.
“Baunya sangat lezat,” ucap Malviano
yang kini duduk didepan makanan yang sudah Elena siapkan.
“Tentu saja masakan Mom selalu
lezat,” balas Rendra yang memilih duduk disamping ayahnya.
“Ya masakannya luar biasa, aku
sebenarnya ingin istrimu itu menjadi juru koki pribadiku atau biarkanlah ia
membuka sebuah restoran,” ucap Hanz yang berharap ia dapat memakan masakan
Elena setiap saat seperti ini akan tetapi melihat sorot mata Malviano yang
tajam tertuju padanya ia memberikan pilihan yang mungkin bisa ia dapatkan.
“Tentu aku akan membuka sebuah restoran
dengan menu seperti menu sarapan kita hari ini,” ucap Elena yang tak melihat kini
tatapan tajam Malviano mengarah padanya, berbeda dengan Hanz yang terlihat
sangat senang.
Elena tak memperdulikan apapun
saat ini selain wajah Hanz yang melihat hasil masakannya yang luar biasa. Ia kini
bisa melihat wajah Hanz yang tadinya sangat senang karena ucapannya kini sedikit
demi sedikit mulai terlihat muram, persis seperti apa yang Elena harapkan.
“Bukankah kau senang dengan
masakanku, ayo dimakan dengan lahap ya. Sini piringmu aku akan bawakan,” ucap
Elena yang bersemangat mengambil piring Hanz dan langsung mengisinya dengan
semua jenis makanan yang ia buat.
__ADS_1
“Aku memang sudah belajar memakan
ini, tapi haruska semua masakan terdapat itu Elena?” tanya Hanz sambil menerima
piringnya yang kini terdapat makanan yang terisi dengan penuh.
“Cobalah aku yakin kau akan
sangat suka,” ucap Elena tersenyum kejam, ia sangat menikmati pemandangan dimana
Hanz memakan masakannya dengan setengah hati.
Lihatlah wajah Hanz ketika
memasukkan potongan omelet wortel itu kedalam mulunya, pertama Hanz menunjukkan
keengganan yang sangat terlihat jelas diwajahnya. Dan semakin ia menguyah semakin
berkurang lah wajah aneh Hanz yang tadinya terlihat mirip seorang anak yang dipaksa
memakan suatu obat yang sangat pahit.
“Enak bukan?” tanya Elena yang
semangat.
“Ya tidak buruk,” jawab Hanz yang
kini menikmati makanannya.
“Bukan kini kau sudah terbiasa
dengan wortel?” tanya Elena yang tak mengerti mengapa Hanz selalu bersikap
seperti ini jika pertama kali ia akan memakan makanan yang terdapat wortel didalamnya.
“Mungkin karena hampir seumur hidupku
aku tak pernah menyukai wortel apapun bentuk dan olahannya,” jelas Hanz yang
masih saja memakan makanan yang Elena berikan pada piringnya.
“Aku akan lebih sering
membuatkanmu wortel agar kau semakin terbiasa dengan rasanya,” ucap Elena.
“Kurasa aku sudah kenyang, Rendra
sayang kau juga?” ucap Malviano setengah berteriak untuk menyadarkan Elena dan
Hanz bahwa diruangan itu bukan hanya ada mereka berdua.
Elena yang sadar akan maksud
perkataan Malviano kini sontak melihat kea rah pria itu yang terlihat pergi
menuju kekamarnya. Berbeda dengan Rendra yang sepertinya tak terlalu peduli
akan ayahnya, karena ia kini sedang sibuk memakan pizza kentang wortel kukus
salah satu makanan kesukaannya.
“Kurasa kau harus segera
menyusulnya,” ucap Hanz yang terlihat cemas akan kepergian Malviano sama seperti
Elena.
“Aku mengerti,”
“Bawa beberapa makanan kurasa ia
hanya asal bicara ketika mengatakan ia sudah kenyang,” tambah Hanz
Elena langsung menuruti perkataan
Hanz dengan membawakan sebuah piring yang didalamnya terdapat segala macam jenis
masakannya. Elena juga yakin Malviano tidak mungkin merasa kenyang karena sejak
kemarin pria itu hanya makan sedikit karena ia sedang tidak enak badan.
Elena langsung menuju kamar Malviano
dengan kedua tangan yang penuh dengan makanan, ia kini binggung sekarang bagaimana
cara ia bisa masuk. Kalo mengetuk ia kesusahan karena kedua tangannya yang
penuh sedangkan jika ia berteriak ia tak yakin pria itu akan menjawab.
__ADS_1