
Pagi hari menjelang tanpa ada yang terjadi antara Malviano dan Elena semalam, sepasang suami istri itu tertidur lelap diatas sofa yang sempit karena mereka terlalu lelah melakukan perjalanan yang panjang.
“Kau sudah bangun,” ucap Malviano ketika Elena bergerak karena ia tiba-tiba terbangun karena kaget ketika membuka mata, ia berada didalam pelukan orang lain.
“Apakah aku benar-benar jatuh tertidur?” hanya pertanyaan itu yang keluar karena Elena tersadar tidak ada salahnya tertidur didalam pelukan suaminya sendiri.
“Kau hanya kelelahan sayang,” ucap Malviano yang kini menenangkan istrinya.
Haruskah ia pasrah menerima panggilan manis yang tertuju padanya itu? Batin Elena hanya bisa menjerit.
“Kenzo,” hanya kata itu yang terlintas dibenak Elena untuk mengalihkan perasaannya yang semakin berbunga-bunga.
“Menurut dokter tadi kemunginan terbesar nanti siang ia akan sadar,” jelas Malviano dengan tenang sambil menarik tubuh Elena untuk mendekat kembali kepadanya.
“Dokter sudah melakukan pemeriksaan?”
“Ya, mereka sudah melakukan pemeriksaan rutin tadi, bahkan ibu sudah kekantin duluan sekarang,” lapor Malviano yang kini semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Elena.
“Jangan bilang semua orang melihat kita dalam posisi yang seperti ini tadi,” cicit Elena yang merasa malu.
Apakah semua orang melihatnya yang dalam posisi memalukan seperti ini, jika benar semua orang akan menganggapnya sebagai seseorang tak tahu tempat untuk melakukan hal yang romantis ini dalam keadaan dimana ada seseorang yang belum sadar didepan mata mereka.
“Kau tidak perlu malu, ibu justru merasa bersalah membuat kita harus berada disini saat ini,” jelas Malviano sambil mengelus punggung Elana.
“Bolehkah aku pulang dulu?” tanya Elena yang tak enak jika harus bertemu langsung dengan ibu Kenzo.
“Aku harus memastikan Kenzo benar-benar sadar seperti kata dokter tadi” jelas Malviano yang menolak permintaan Elena secara halus.
“Aku bisa pulang sendiri, lagi pula Rendra mungkin akan kaget karena tak menemukanku saat ini,” bujuk Elena yang tak ingin menyerah dengan pulang saat ini, lagi pula ia bisa kembali kesini jika keadaan Kenzo nanti sudah ada perkembangan bukan.
“Aku sudah menelpon Rendra, anak itu cukup mengerti bahwa kita belum bisa pulang saat ini. Ia juga sangat khawatir dengan keadaan pamannya ini.” Jelas suaminya itu.
“Kapan kau menelponnya?”
__ADS_1
“Saat kau terlelap tentunya,” ucap Malviano yang menahan tubuh Elena untuk menjauh dari tubuhnya.
“Bisakah kita bangun sekarang?” tanya Elena yang memutuskan untuk menyampaikan bahwa sudah saatnya mereka bergerak dari posisi yang tak tepat untuk dilakukan disituasi seperti saat ini.
“Sayang, aku masih mengantuk.”
“Bukankah kita baru bangun?”
“Aku belum tidur sayang,” ucap Malviano yang kini menyamankan posisinya sehingga ia seolah-olah berada diatas sebuah kasur yang empuk.
“Kau bisa tidur, aku sepertinya perlu kekamar mandi saat ini, aku janji aku akan tetap berada disini selama kau tidur,” jelas Elena yang menjelaskan bahwa ia perlu bergerak saat ini.
“Aku mengerti, bangunkan aku jika kau merasa lapar,” ucap Malviano yang harus rela melepaskan istrinya.
“Tidurlah,” ucap Elena yang lega Malviano akhirnya melepaskannya.
Ia kini langsung beranjak pergi kekamar mandi untuk melakukan rutinitas manusianya, dan juga untuk menenangkan perasaannya yang terasa campur aduk saat ini.
“Mom,” ucap Rendra yang berlari kearah Elena yang baru saja pulang kerumah yang sudah sangat lama ia tinggalkan karena menuruti kemauan anaknya ini.
“Mom kira kau sudah tidur sayang,” ucap Elena yang kaget anaknya masih bangun diwaktu yang sudah larut seperti ini.
Malviano akhirnya mengajak Elena pulang dengannya setelah tadi siang Kenzo baru saja sadar. Suaminya senang ternyata prediksi dokter benar-benar terjadi, walaupun hanya beberapa detik sahabatnya itu sadar tapi sekarang mereka sudah lega karena pria itu berangsur-angsur membaik.
Karena alasan itulah kini Malviano bisa membawa pulang Elena katena ibu Kenzo memaksa mereka untuk pulang dan beristirahat dirjmah sementara ia yang akan menemani putranya. Ibu Kenzo mengatakan tak enak menahan mereka disana sementara Malviano dan Elena melupakan anak mereka dirumah sendirian.
Walaupun sebenarnya Rendra tak sendirian dirumah Malviano yang besar ini, karena tentu saja Liam dan beberapa orang yang bekerja ditumah itu tentu saja bersedia menemani dan menjaga putra bos mereka.
“Bagaimana keadaan Om Kenzo?” tanyanya yang terlihat masih khawatir akan keadaan sahabat dari ayahnya itu.
“Ia hanya membuka matanya sebentar, tapi kau tak perlu khawatir dokter bilang itu kemajuan besar untuk kondisinya saat ini.” Jelas Malviano yang kini mengendong putranya dan berjalan menuju kamar pribadi anaknya.
Sementara Elena hanya bisa mengikuti dari belakang karena ia juga tak tahu harus berada dimana ketika ia pertama kali kembali berada didalam rumah lama mereka.
__ADS_1
Elena binggung apakah sekarang ia masih bisa menempati kamarnya yang dulu atau ia harus berbagi kamar dengan anaknya ini. Sementara Malviano kini sudah menidurkan Rendra yang kini sudah terbungkus dengan nyaman oleh selimbut yang Malviano sematkan ditubuh anak mereka.
“Tidur nyenyak, besok kalau kau ingin kita bisa menjenguk Om Kenzo,” jelas Malviano yang kini mencium kepala anaknya.
“Rendra sangat ingin menemui Om tapi haruskah Rendra menjenguk kesana?” Ucapnya ragu karena bisa dilihat anak itu sangat ketakutan harus datang ketempat yang paling ditakutinya.
“Rendra sayang Om Kenoz?”
“Tentu saja,” balas Rendra yang menjawab dengan tegas.
“Kalau begitu kendalikan rasa takutmu, kau harus bisa jika ingin bertemu dengan orang yang kau sayangi meskipun kita harus pergi ketempat paling berbahaya sekalipun,”
“Rendra akan usahakan Dad,” balas Rendra yang mengerti apa yang barusan diucapkan oleh ayahnya.
“Anak Dad adalah anak yang paling hebat didunia,” ucap Malviano yang lega bahwa anaknya mengerti apa yang sebelumnya ia ingin sampaikan.
“Selamat malam Dad Mom,” pamit Rendra yang kini memejamkan kedua matanya untuk pergi kealam mimpi.
Setelah itu Malviano berbalik untuk meninggalkan Rendra untuk mendapatkan waktu istirahatnya, akan tetapi ia tidak jadi pergi keluar karena Elena masih saja diam tak bergerak ditempatnya.
“Sayang bukankah kita juga harus beristirahat sekarang?” tegur Malviano secara halus karena merasa istrinya terlalu lama menatap anak mereka.
Yang sebenarnya bukan larena itu Elena masih berdiri disini, sebenarnya Elena ragu apakah ia harus pergi kekamarnya yang dulu atau ia harus naik keatas kasur anaknya setelah Malviano keluar dari kamar ini.
“Aku juga sudah rindu kasurku, ayo,” ucap Malviano yang membuat Elena tak menegerti maksud dati perkataan Malviano padanya.
“Jadi kamar itu masih menjadi milikku,”
“Apa maksudmu?”
“Kamar yang dulu aku tempati, apakah itu masih menjadi kamarku?” tanya Elena yang langsung bertanya dengan terus terang karena ia binggung dimana ia akan tidur malam ini.
“Kau bercanda bertanya tentang hal itu?”
__ADS_1