
Kuliah yang diberikan Rendra
tentang pisang tak cukup sampai situ saja, ketika Malviano meminum jusnya
dengan terpaksa Rendra kembali mengatakan manfaat lain dari pisang. Tak ada
yang bisa mereka lakukan jika Rendra sudah memulai lagi penjelasan tentang pisang.
“Aku tak tahu Rendra bisa
secerewet ini,” bisik Hanz pada Elena.
“Aku juga baru mengetahui hari ini,”
balas Elena yang juga berbisik.
“Sepertinya ia terobsesi dengan pisang,”
ucap Sandra yang juga mendekat untuk ikut berbisik.
“Kalian tak tahu berada banyak
yang ia makan dalam seminggu, jika aku punya lahan kurasa aku harus menanamnya,”
ucap Elena sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Elena sangat ingat pertama kali
Rendra diperkenalkan pada buah pisang, kala itu bayi Rendra baru saja belajar
untuk makan sesuatu selain ASI. Setelah hari itu bayi Rendra selalu menanggis jika
ia tak mendapatkan makanan pisang.
Pernah suatu hari Elena kebinggungan
tak bisa mendapatkan buah pisang karena kebetulan juga stok ditukang sayur keliling habis terjual karena ada
seseorang yang memborongnya. Hingga Elena harus berangkat membawa bayi yang
menangis keras hanya untuk membeli buah pisang disebuah supermarket yang cukup
jauh jaraknya.
“Haruskah kubelikan ia segunung
buah pisang,” gumam Sandra pada dirinya sendiri, akan tetapi karena suara
Sandra yang tak bisa kecil menghasilkan gumamnya pun terdengar jelas oleh semua
orang.
“Benarkah tante?” tanya Rendra
yang terdengar bahagia akan ucapan Sandra.
“Kau suka?” tanya Sandra penuh
semangat karena melihat Rendra begitu senang dengan apa yang ditawarkannya.
“Tentu, tapi..,” ucap Rendra semangat
tapi diakhir kalimatnya ia tiba-tiba merasa sedih.
“Kenapa sayang,” tanya orang-orang
dewasa yang berada disana secara serempak.
Hingga membuat semuanya saling
melemparkan tatapan satu sama lain, sepertinya semua orang dewasa yang berada diruang
itu, tak ada yang satu pun yang tidak menyayangi Rendra. Membuat Elena sangat
terharu, melihat kenyataan anaknya begitu disayangi oleh semua orang.
“Ulang tahun Rendra kan sudah sebulan
yang lalu,” cicit Rendra sambil memainkan bajunya.
“Masih ada tahun depankan,” ucap
Elena menenangkan anaknya itu.
“Tidak bisakah kita membuat hari ini
ulang tahun Rendra,” tawar Rendra dengan nada yang sangat mengemaskan.
“Om Hanz akan membelikanmu
__ADS_1
sekarang juga kalau perlu setoko-tokonya,” ucap Hanz yang sepertinya termakan
kelucuan Rendra.
“Dad akan membelikan kalau perlu
sekarang juga, ladang pisang jadi jika Rendra ingin mereka bisa mengirim buah itu
setiap saat,” tambah Malviano.
“Kalian benar-benar berlebihan,
sayang kau harus memakan buah yang lainnya juga,” ucap Elena memperingati dengan
tegas karena tak ingin anaknya hanya akan memakan buah pisang saja.
karena walaupun suatu makanan mempunyai
manfaat yang sangat bagus bagi tubuh kita, akan tetapi jika makan itu dikonsumsi
secara berlebihan maka bukan manfaat yang didapatkan oleh tubuh, malah yang
terjadi adalah badan kita mendapatkan suatu penyakit karena kekurangan zat lain
yang dibutuhkan oleh tubuh kita.
“Tapi Mom Rendra sangat suka pisang,”
ucap Rendra kembali murung, setelah beberapa saat lalu begitu bahagia karena
ucapan Hanz dan ayahnya.
“Mom bukan melarangmu memakan pisang,
tapi Mom ingin kau menyeimbangkan semua makanan yang akan kau makan. Rendra ingatkan
apa yang dikatakan oleh dokter?” ucap Elena yang harus mengingatkan hari dimana
Rendra harus masuk rumah sakit karena terlalu berlebihan mengkonsumsi buah itu.
“Rendra janji akan memakan semuanya,
dan ini juga berlaku untukmu,” ucap Elena pada Malviano karena ia ingin pria
dewasa yang telah menjadi ayah Rendra itu memberi contoh yang baik.
“Sepertinya aku tahu dari mana sifat
menyetujui perkataan hanz padanya.
****
Ketika mengobrol bersama membuat
waktu secara cepat berlalu, walaupun mereka hanya mengatakan apapun dengan acak
dan bahkan beberapa dari percakapan mereka terdengar begitu konyol, akan tetapi
semua itu membuat semua orang senang higga membuat mereka tak merasakan waktu
yang kini sudah mulai gelap.
“Tante Sandra mengapa tidak menginap saja?”
rengek Rendra karena Sandra pamit akan pulang ke hotel tempatnya menginap dinegara
ini.
“Bagaimana jika Rendra saja yang
menginap disana?” tawar Sandra.
“Jangan macam-macam pada anak kecil,
atau aku akan laporkan kepihak KOMNAS anask,” tegur Elena yang tak setuju
Sandra akan membawa anaknya untuk menginap disebuah hotel.
“Ayolah Elena kami hanya menginap
disana,” balas Sandra sambil memutarkan kedua matanya.
“Memangnya apa yang salah dengan
ucapannya hingga kau membawa-bawa KOMNAS anak?” tanya Malviano dan Hanz yang
juga menangguk menyetujui pertanyaan pria itu.
“Ia mungkin akan memakan Rendra disana,”
__ADS_1
jawab Elena singkat.
“kalau begitu kau harusnya
langsung menghubungi polisi saja bukan KOMNAS anak,” sela Hanz yang tak mengerti
perkataan Elena dan langsung menjauhkan Rendra dari Sandra.”
“Astaga,” ucap Sandra yang kini
memijat kepalanya pusing dengan sikap berlebihan orang-orang ini padanya.
“Maksudku ia akan memakan Rendra
karena rasa cintanya yang terlalu berlebihan,” jelas Elena yang tak suka bahwa ia
dikira salah mengatakan lembaga untuk melaporkan suatu kasus.
“Maksudmu ia pedofil,” teriak
Malviano yang langsung menyembunyikan Rendra dibelakangnya.
“Mom mertua dan Dad Mertua aku
tak mungkin berbuat senekad itu, aku janji jika Rendra belum meminta aku tak
mungkin memaksanya,” ucap Sandra yang sekalian saja mengikuti apa yang sedang
Elena mainkan.
“Astaga ternyata kau seorang
pedofil,” ucap Hanz yang hampir saja memukul Sandra jika ia tak ingat Sandra
adalah seorang wanita.
“Elena…” rengek Sandra yang tak
terima semua orang kini memojokkannya.
“Makanya jika berbicara itu diperhatikan!
aku kan jadi terbawa oleh ucapanmu jika begini,” ucap Elena yang tak tega
Sandra diperlakukan seperti itu, walaupun ia sendirilah yang telah memulai
mengancam Sandra, sehingga membuat semua orang kini momojokkan seperti ini.
“Tapi aku benar-benar menginginkan
Rendra menjadi suamiku, ngomong-omong Malviano apakah kau mempunyai kembaran,
kakak, adik ataupun saudara. Jika ada bisakah kau kenalkan aku padanya,” ucap
Sandra dengan nada seolah-olah ia adalah perempuan yang lemah lembut sehingga
Elena yang tau akan sikapnya menjadi mual ketika Sandra menunjukkan sisi seperti
ini.
“Kau sepertinya seorang manik
wajah seperti Rendra ya?” tanya Hanz yang kini menunjukkan wajah tak percaya
ada perempuan yang tidak tahu malu.
“Diamlah kau, kau tidak tahu bagaimana
sesempurnanya Rendra bukan?” ucap Sandra yang benar-benar jatuh cinta dengan
Rendra.
“Aku tahu, Rendra memang luar biasanya,”
ucap Hanz yang sepertinya ikut-ikutan memuja anak dari Elena dan Malviano.
“Bisakah kau jawab pertanyaanku
tadi?” desak Sandra pada Malviano yang terdiam seolah-olah ia telah berubah
menjadi sebuah patung yang sudah berada diruangan itu.
“Kau baik-baik saja?” tanya Elena
yang peka perubahan sikap Malviano.
“Dad baik-baik saja?” tanya
Rendra yang juga memperhatikan ayahnya setelah Elena mendengar ucapan ibunya.
__ADS_1
“Aku… baik-baik saja,” jawab Malviano.