Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 44


__ADS_3

Kuliah yang diberikan Rendra


tentang pisang tak cukup sampai situ saja, ketika Malviano meminum jusnya


dengan terpaksa Rendra kembali mengatakan manfaat lain dari pisang. Tak ada


yang bisa mereka lakukan jika Rendra sudah memulai lagi penjelasan tentang pisang.


“Aku tak tahu Rendra bisa


secerewet ini,” bisik Hanz pada Elena.


“Aku juga baru mengetahui hari ini,”


balas Elena yang juga berbisik.


“Sepertinya ia terobsesi dengan pisang,”


ucap Sandra yang juga mendekat untuk ikut berbisik.


“Kalian tak tahu berada banyak


yang ia makan dalam seminggu, jika aku punya lahan kurasa aku harus menanamnya,”


ucap Elena sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Elena sangat ingat pertama kali


Rendra diperkenalkan pada buah pisang, kala itu bayi Rendra baru saja belajar


untuk makan sesuatu selain ASI. Setelah hari itu bayi Rendra selalu menanggis jika


ia tak mendapatkan makanan pisang.


Pernah suatu hari Elena kebinggungan


tak bisa mendapatkan buah pisang karena  kebetulan juga stok ditukang sayur keliling habis terjual karena ada


seseorang yang memborongnya. Hingga Elena harus berangkat membawa bayi yang


menangis keras hanya untuk membeli buah pisang disebuah supermarket yang cukup


jauh jaraknya.


“Haruskah kubelikan ia segunung


buah pisang,” gumam Sandra pada dirinya sendiri, akan tetapi karena suara


Sandra yang tak bisa kecil menghasilkan gumamnya pun terdengar jelas oleh semua


orang.


“Benarkah tante?” tanya Rendra


yang terdengar bahagia akan ucapan Sandra.


“Kau suka?” tanya Sandra penuh


semangat karena melihat Rendra begitu senang dengan apa yang ditawarkannya.


“Tentu, tapi..,” ucap Rendra semangat


tapi diakhir kalimatnya ia tiba-tiba merasa sedih.


“Kenapa sayang,” tanya orang-orang


dewasa yang berada disana secara serempak.


Hingga membuat semuanya saling


melemparkan tatapan satu sama lain, sepertinya semua orang dewasa yang berada diruang


itu, tak ada yang satu pun yang tidak menyayangi Rendra. Membuat Elena sangat


terharu, melihat kenyataan anaknya begitu disayangi oleh semua orang.


“Ulang tahun Rendra kan sudah sebulan


yang lalu,” cicit Rendra sambil memainkan bajunya.


“Masih ada tahun depankan,” ucap


Elena menenangkan anaknya itu.


“Tidak bisakah kita membuat hari ini


ulang tahun Rendra,” tawar Rendra dengan nada yang sangat mengemaskan.


“Om Hanz akan membelikanmu

__ADS_1


sekarang juga kalau perlu setoko-tokonya,” ucap Hanz yang sepertinya termakan


kelucuan Rendra.


“Dad akan membelikan kalau perlu


sekarang juga, ladang pisang jadi jika Rendra ingin mereka bisa mengirim buah itu


setiap saat,” tambah Malviano.


“Kalian benar-benar berlebihan,


sayang kau harus memakan buah yang lainnya juga,” ucap Elena memperingati dengan


tegas karena tak ingin anaknya hanya akan memakan buah pisang saja.


karena walaupun suatu makanan mempunyai


manfaat yang sangat bagus bagi tubuh kita, akan tetapi jika makan itu dikonsumsi


secara berlebihan maka bukan manfaat yang didapatkan oleh tubuh, malah yang


terjadi adalah badan kita mendapatkan suatu penyakit karena kekurangan zat lain


yang dibutuhkan oleh tubuh kita.


“Tapi Mom Rendra sangat suka pisang,”


ucap Rendra kembali murung, setelah beberapa saat lalu begitu bahagia karena


ucapan Hanz dan ayahnya.


“Mom bukan melarangmu memakan pisang,


tapi Mom ingin kau menyeimbangkan semua makanan yang akan kau makan. Rendra ingatkan


apa yang dikatakan oleh dokter?” ucap Elena yang harus mengingatkan hari dimana


Rendra harus masuk rumah sakit karena terlalu berlebihan mengkonsumsi buah itu.


“Rendra janji akan memakan semuanya,


dan ini juga berlaku untukmu,” ucap Elena pada Malviano karena ia ingin pria


dewasa yang telah menjadi ayah Rendra itu memberi contoh yang baik.


“Sepertinya aku tahu dari mana sifat


menyetujui perkataan hanz padanya.


****


Ketika mengobrol bersama membuat


waktu secara cepat berlalu, walaupun mereka hanya mengatakan apapun dengan acak


dan bahkan beberapa dari percakapan mereka terdengar begitu konyol, akan tetapi


semua itu membuat semua orang senang higga membuat mereka tak merasakan waktu


yang kini sudah mulai gelap.


“Tante Sandra mengapa tidak menginap saja?”


rengek Rendra karena Sandra pamit akan pulang ke hotel tempatnya menginap dinegara


ini.


“Bagaimana jika Rendra saja yang


menginap disana?” tawar Sandra.


“Jangan macam-macam pada anak kecil,


atau aku akan laporkan kepihak KOMNAS anask,” tegur Elena yang tak setuju


Sandra akan membawa anaknya untuk menginap disebuah hotel.


“Ayolah Elena kami hanya menginap


disana,” balas Sandra sambil memutarkan kedua matanya.


“Memangnya apa yang salah dengan


ucapannya hingga kau membawa-bawa KOMNAS anak?” tanya Malviano dan Hanz yang


juga menangguk menyetujui pertanyaan pria itu.


“Ia mungkin akan memakan Rendra disana,”

__ADS_1


jawab Elena singkat.


“kalau begitu kau harusnya


langsung menghubungi polisi saja bukan KOMNAS anak,” sela Hanz yang tak mengerti


perkataan Elena dan langsung menjauhkan Rendra dari Sandra.”


“Astaga,” ucap Sandra yang kini


memijat kepalanya pusing dengan sikap berlebihan orang-orang ini padanya.


“Maksudku ia akan memakan Rendra


karena rasa cintanya yang terlalu berlebihan,” jelas Elena yang tak suka bahwa ia


dikira salah mengatakan lembaga untuk melaporkan suatu kasus.


“Maksudmu ia pedofil,” teriak


Malviano yang langsung menyembunyikan Rendra dibelakangnya.


“Mom mertua dan Dad Mertua aku


tak mungkin berbuat senekad itu, aku janji jika Rendra belum meminta aku tak


mungkin memaksanya,” ucap Sandra yang sekalian saja mengikuti apa yang sedang


Elena mainkan.


“Astaga ternyata kau seorang


pedofil,” ucap Hanz yang hampir saja memukul Sandra jika ia tak ingat Sandra


adalah seorang wanita.


“Elena…” rengek Sandra yang tak


terima semua orang kini memojokkannya.


“Makanya jika berbicara itu diperhatikan!


aku kan jadi terbawa oleh ucapanmu jika begini,” ucap Elena yang tak tega


Sandra diperlakukan seperti itu, walaupun ia sendirilah yang telah memulai


mengancam Sandra, sehingga membuat semua orang kini momojokkan seperti ini.


“Tapi aku benar-benar menginginkan


Rendra menjadi suamiku, ngomong-omong Malviano apakah kau mempunyai kembaran,


kakak, adik ataupun saudara. Jika ada bisakah kau kenalkan aku padanya,” ucap


Sandra dengan nada seolah-olah ia adalah perempuan yang lemah lembut sehingga


Elena yang tau akan sikapnya menjadi mual ketika Sandra menunjukkan sisi seperti


ini.


“Kau sepertinya seorang manik


wajah seperti Rendra ya?” tanya Hanz yang kini menunjukkan wajah tak percaya


ada perempuan yang tidak tahu malu.


“Diamlah kau, kau tidak tahu bagaimana


sesempurnanya Rendra bukan?” ucap Sandra yang benar-benar jatuh cinta dengan


Rendra.


“Aku tahu, Rendra memang luar biasanya,”


ucap Hanz yang sepertinya ikut-ikutan memuja anak dari Elena dan Malviano.


“Bisakah kau jawab pertanyaanku


tadi?” desak Sandra pada Malviano yang terdiam seolah-olah ia telah berubah


menjadi sebuah patung yang sudah berada diruangan itu.


“Kau baik-baik saja?” tanya Elena


yang peka perubahan sikap Malviano.


“Dad baik-baik saja?” tanya


Rendra yang juga memperhatikan ayahnya setelah Elena mendengar ucapan ibunya.

__ADS_1


“Aku… baik-baik saja,” jawab Malviano.


__ADS_2