Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 9 Hari yang ...


__ADS_3

“Mom bisakah kita pulang sekarang?” ucap Rendra yang begitu takut saat menunggu namanya dipanggil untuk


pemeriksaan giginya.


“Lalu kita akan pulang kerumah dan tak akan pernah ke Aquarium selamanya.” Ucap Malviano


dengan begitu datarnya.


Mendengar hal itu membuat Rendra diam sepertinya anak itu sedang memikirkan apa yang


seharusnya dilakukannya, kepalanya yang kecil sepertinya dipakai terlalu keras


hanya untuk memutuskan untuk menemui dokter gigi atau merelakan tak akan pernah


mengunjungi Aquarium selamanya.


“Bukankah terakhir kita kemari dokter tak pernah menyuntik Rendra?” ucap Elena yang


berusaha menenangkan anaknya.


“Tapi Mom, bisa saja saat Rendra tak siap dokter akan menyuntik Rendra.” Protesnya.


“Kemarin dokter bahkan menyuntik Rendra lebih dari satu kali.” Ucap Malviano mengingatkan


betapa beraninya Rendra saat ia melakukan beberapa tes untuk mengambil darah


untuk tes DNA mereka.


Tapi mendengar ucapan Malviano, membuat Rendra kini menanggis sambil memeluk kaki


Elena. Elena sangat tahu bahwa hari itu Rendra menguatkan dirinya sendiri hanya


karena ia sangat ingin bersama ayah kandungnya, tapi mendengarkan lagi hal itu


sepertinya Malviano malah mengingatkan ingatan tentang jarum suntik yang selalu


ditakutinya.


Mendengar tangisan Rendra yang semakin keras membuat Malviano kebingungan, hal itu terlihat


jelas diwajahnya yang terlihat semakin panik. Kalau saja situasi ia harus


segera menenangkan Rendra sebelum giliran mereka untuk diperiksa dokter gigi,


Elena akan membiarkan situasi seperti ini lebih lama hanya untuk menikmati


wajah panik diwajah Malviano.


“Sayang, Mom janji dokter tak akan pernah menyuntik Rendra lagi jika Rendra selalu


menuruti kata-kata Mom.” Ucap Elena yang kini mengendong Rendra yang langsung


menyembunyikan kepalanya pada bahu Elena.


“…” Mendengar hal itu sedikit membuat tanggisan Rendra sedikit mereda.


“Bukankah setelah ini kita akan menemui Nemo?” ucap Elena mengingatkan tujuan mereka ke


Aquarium.


“Shark juga?” ucap Rendra yang sepertinya masih agak susah untuk menjawab.


“Naik Dolpin juga jika dokter berhasil mencabut gigi Rendra yang goyang.” Ucap Malviano


menjanjikan sesuatu yang tak pernah terpikirkan baik Rendra maupun Elena.


“Naik Dolpin?” ucap Rendra yang sepertinya sangat tertarik mendengar tawaran Malviano.


“Ya, kau tahu Dolpin kan?” ucap Malviano sepertinya masih meragukan kepintaran


anaknya.


Elena pun akan meragukan kepintaran Rendra jika saja ia tak pernah hidup dengannya


selama lima tahun ini, bahkan siapapun orangnya tak akan pernah mudah percaya


bahwa anak berusia lima tahun yang baru saja menganggis karena tidak mau

__ADS_1


bertemu dokter gigi ini mampu merentas sebuah perusahaan besar sendirian.


“Rendra pernah menonton mereka bersama Mom.” Ucap Rendra yang sepertinya tak ingin


bahwa Malviano melihatnya seperti seorang anak yang tidak tahu apa-apa.


“Benarkah?” ucap Malviano dan langsung diangguki Rendra dengan semangat melupakan tanggisan


yang beberapa detik yang lalu ia lakukan.


“Rendra ingin mencoba menaikinya?”


“Mau.” Ucap Rendra sambil tersenyum.


“Rendra yakin?”


“Sangat yakin.”


“Kalau begitu kita masuk cabut gigi dulu agar kita segera cepat untuk menaiki Dolpin.”


Ucap Malviano sepertinya berhasil membuat kesepakan dan langsung mengambil alih


tubuh Rendra pada pangkuan Elena untuk masuk ruang periksa dokter gigi.


Cukup mudah membujuk anak kecil sepintar apapun anak itu, meskipun Elena maupun Malviano


harus membuat penukaran yang cukup sulit agar Rendra menyetujui kemauan mereka.


Tapi dengan kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki oleh Malviano sepertinya tidak


akan sulit untuk mewujudkan keinginan Rendra.


Akhirnya setelah seharian penuh drama, antara takut menemui dokter gigi, lalu menghabiskan waktu berharga bersama kedua orang tuanya seperti kebanyakan keluar utuh lainnya, membuat Rendra kelelahan membuat Malviano membawa Elena dan juga Rendra kerumahnya yang letaknya tak jauh dari tempat


wisata Aquarium berada.


Tadi setelah selesai mencabut gigi susu Rendra, mereka langsung menuju ke tempat


Nemo, Shark dan juga Dolpin berada. Disana Rendra sangat antusias melihat


Elena, bahkan sesuai perjanjian, Rendra dan juga Malviano berhasil menaiki Dolpin


terlatih.


Malam sudah larut terlalu malam tapi kini Elena yang tak bisa tidur selain dirumahnya


sendiri, akhirnya membutuskan untuk menghampiri Rendra yang memiliki kamar


tidur yang sengaja disiapkan Malviano untuknya. Ketika Elena berada didepan


kamar Rendra, Malviano juga berada disana membuat mereka memutuskan untuk


saling berbincang tentang Rendra.


“Kau ingin melihat Rendra juga?” ucap Malviano


“Ya aku ingin memastikan ia tidak demam, ia tadi terlalu lama bermain air.” Ucap Elena


memberikan salah satu alasan ia berada disana.


“Ia terlalu bersemangat ketika bertemu dengan air.”


“Aku tak tahu..”


“Ingat pertama kali ia kerumah ini, hari itu ia berenang sangat lama hingga bibirnya


membiru.” Ucap Malviano yang sepertinya sangat senang menceritakan tentang


Rendra pada Elena.


“Selama apa ia berenang?” ucap Elena yang panik mendengar informasi yang baru saja disampaikan,


ia sangat hari itu Rendra pulang dalam gendongan Liam yang mengantarkannnya


dengan balutan selimut yang cukup tebal.


“Kami terlalu bersemangat, ia sangat cepat belajar bahkan aku berhasil melepaskannya

__ADS_1


berenang sendirian pada percobaan ketiga.” Ucap Malviano semakin membanggakan


apa yang telah dicapai oleh anak mereka.


Mendengar hal itu membuat Elena menyadari Malviano sepertinya keberadaan Rendra sangat disambut


bahkan sangat dibanggakan oleh pria sepertinya masih ingin membicarakan tentang


anak mereka.


“Maaf aku mengganggu waktu istirahatmu.” Tiba-tiba Malviano menyadari keadaan mereka


yang mengobrol didepan pintu kamar anak mereka dimalam yang semakin larut.


“Aku tidak keberatan.” Ucap Elena.


“Sebenarnya aku masih ingin membicarakan tentang Rendra, terutama ketika aku tak pernah ada


dikehidupannya.” Ucap Malviano yang kini berubah menjadi sendu.


“Maafkan aku.” Ucap Elena


“Mengapa kau minta maaf?”


“Aku tak pernah memberitahukan keadaan kami.”


“Justru aku sangat berterimakasih padamu, jika saja saat itu kau datang dengan perut


buncit.” Ucap Malviano tiba-tiba menghentikan ucapannya sebelum menambahkan.”Aku


pasti akan membuatmu menggugurkan anak itu dengan atau tanpa paksaan.” Akuinya.


Mendengar itu tentu saja tak membuat Elena kaget, jika saja Elena yang berada diposisi


Malviano ia juga pasti akan berpikir hal yang seperti itu. Tak akan ada satu


orangpun yang rela bertanggung jawab pada orang asing yang bahkan tak pernah ia


ketahui apa dan siapa kehidupan orang tersebut.


Daripada harus bertanggung jawab seumur hidup, lebih baik melenyapkan ikatan yang tak


pernah diinginkan oleh kedua belah pihak. Mendengar hal itupun semakin membuat


Elena semakin bangga pada dirinya sendiri yang memperjuangan kehidupan Rendra


seorang diri.


“Kau pasti menilai ku sangat kejam.” Ucap Malviano yang langsung mendapat tolakan


kepaala oleh Elena.


“Aku berhutang budi padamu seumur hidupku karena telah merawat Rendra seorang diri.”


“Tentu saja tidak, aku melakukan hal itu karena Rendra anakku juga.”


“Sekali lagi aku minta maaf dan terimakasih banyak.” Ucap Malviano yang sepertinya tak ingin


menggangu waktu istirahat Elena lebih lama lagi, ia mengucapkan kata-kata itu


sambil berjalan menjauhi karena Rendra.


Kepergian Malviano membuat Elena kembali kekamar yang ditempatinya dirumah ini dengan penuh


pemikiran baru, pemikiran betapa benarnya keputusan yang dulu diambilnya meskipun


saat itu terasa sangat berat baginya tapi meskipun ia mengulangi hari tersebut ia


akan pastikan bahwa keputusannya tak akan berubah.


Rendra memang berhak diperjuangkan apapun bentuk kesulitan yang dialaminya, meskipun


sekarang anak itu kini mempunyai pelindung lain selain dirinya. Tapi Elena akan


terus memastikan bahwa ia pun akan selalu bersama dan juga merawat Rendra sampai


anak itu bisa menghadapi dan menjalani kehidupannya kelak.

__ADS_1


__ADS_2