
“Mom bisakah kita pulang sekarang?” ucap Rendra yang begitu takut saat menunggu namanya dipanggil untuk
pemeriksaan giginya.
“Lalu kita akan pulang kerumah dan tak akan pernah ke Aquarium selamanya.” Ucap Malviano
dengan begitu datarnya.
Mendengar hal itu membuat Rendra diam sepertinya anak itu sedang memikirkan apa yang
seharusnya dilakukannya, kepalanya yang kecil sepertinya dipakai terlalu keras
hanya untuk memutuskan untuk menemui dokter gigi atau merelakan tak akan pernah
mengunjungi Aquarium selamanya.
“Bukankah terakhir kita kemari dokter tak pernah menyuntik Rendra?” ucap Elena yang
berusaha menenangkan anaknya.
“Tapi Mom, bisa saja saat Rendra tak siap dokter akan menyuntik Rendra.” Protesnya.
“Kemarin dokter bahkan menyuntik Rendra lebih dari satu kali.” Ucap Malviano mengingatkan
betapa beraninya Rendra saat ia melakukan beberapa tes untuk mengambil darah
untuk tes DNA mereka.
Tapi mendengar ucapan Malviano, membuat Rendra kini menanggis sambil memeluk kaki
Elena. Elena sangat tahu bahwa hari itu Rendra menguatkan dirinya sendiri hanya
karena ia sangat ingin bersama ayah kandungnya, tapi mendengarkan lagi hal itu
sepertinya Malviano malah mengingatkan ingatan tentang jarum suntik yang selalu
ditakutinya.
Mendengar tangisan Rendra yang semakin keras membuat Malviano kebingungan, hal itu terlihat
jelas diwajahnya yang terlihat semakin panik. Kalau saja situasi ia harus
segera menenangkan Rendra sebelum giliran mereka untuk diperiksa dokter gigi,
Elena akan membiarkan situasi seperti ini lebih lama hanya untuk menikmati
wajah panik diwajah Malviano.
“Sayang, Mom janji dokter tak akan pernah menyuntik Rendra lagi jika Rendra selalu
menuruti kata-kata Mom.” Ucap Elena yang kini mengendong Rendra yang langsung
menyembunyikan kepalanya pada bahu Elena.
“…” Mendengar hal itu sedikit membuat tanggisan Rendra sedikit mereda.
“Bukankah setelah ini kita akan menemui Nemo?” ucap Elena mengingatkan tujuan mereka ke
Aquarium.
“Shark juga?” ucap Rendra yang sepertinya masih agak susah untuk menjawab.
“Naik Dolpin juga jika dokter berhasil mencabut gigi Rendra yang goyang.” Ucap Malviano
menjanjikan sesuatu yang tak pernah terpikirkan baik Rendra maupun Elena.
“Naik Dolpin?” ucap Rendra yang sepertinya sangat tertarik mendengar tawaran Malviano.
“Ya, kau tahu Dolpin kan?” ucap Malviano sepertinya masih meragukan kepintaran
anaknya.
Elena pun akan meragukan kepintaran Rendra jika saja ia tak pernah hidup dengannya
selama lima tahun ini, bahkan siapapun orangnya tak akan pernah mudah percaya
bahwa anak berusia lima tahun yang baru saja menganggis karena tidak mau
__ADS_1
bertemu dokter gigi ini mampu merentas sebuah perusahaan besar sendirian.
“Rendra pernah menonton mereka bersama Mom.” Ucap Rendra yang sepertinya tak ingin
bahwa Malviano melihatnya seperti seorang anak yang tidak tahu apa-apa.
“Benarkah?” ucap Malviano dan langsung diangguki Rendra dengan semangat melupakan tanggisan
yang beberapa detik yang lalu ia lakukan.
“Rendra ingin mencoba menaikinya?”
“Mau.” Ucap Rendra sambil tersenyum.
“Rendra yakin?”
“Sangat yakin.”
“Kalau begitu kita masuk cabut gigi dulu agar kita segera cepat untuk menaiki Dolpin.”
Ucap Malviano sepertinya berhasil membuat kesepakan dan langsung mengambil alih
tubuh Rendra pada pangkuan Elena untuk masuk ruang periksa dokter gigi.
Cukup mudah membujuk anak kecil sepintar apapun anak itu, meskipun Elena maupun Malviano
harus membuat penukaran yang cukup sulit agar Rendra menyetujui kemauan mereka.
Tapi dengan kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki oleh Malviano sepertinya tidak
akan sulit untuk mewujudkan keinginan Rendra.
Akhirnya setelah seharian penuh drama, antara takut menemui dokter gigi, lalu menghabiskan waktu berharga bersama kedua orang tuanya seperti kebanyakan keluar utuh lainnya, membuat Rendra kelelahan membuat Malviano membawa Elena dan juga Rendra kerumahnya yang letaknya tak jauh dari tempat
wisata Aquarium berada.
Tadi setelah selesai mencabut gigi susu Rendra, mereka langsung menuju ke tempat
Nemo, Shark dan juga Dolpin berada. Disana Rendra sangat antusias melihat
Elena, bahkan sesuai perjanjian, Rendra dan juga Malviano berhasil menaiki Dolpin
terlatih.
Malam sudah larut terlalu malam tapi kini Elena yang tak bisa tidur selain dirumahnya
sendiri, akhirnya membutuskan untuk menghampiri Rendra yang memiliki kamar
tidur yang sengaja disiapkan Malviano untuknya. Ketika Elena berada didepan
kamar Rendra, Malviano juga berada disana membuat mereka memutuskan untuk
saling berbincang tentang Rendra.
“Kau ingin melihat Rendra juga?” ucap Malviano
“Ya aku ingin memastikan ia tidak demam, ia tadi terlalu lama bermain air.” Ucap Elena
memberikan salah satu alasan ia berada disana.
“Ia terlalu bersemangat ketika bertemu dengan air.”
“Aku tak tahu..”
“Ingat pertama kali ia kerumah ini, hari itu ia berenang sangat lama hingga bibirnya
membiru.” Ucap Malviano yang sepertinya sangat senang menceritakan tentang
Rendra pada Elena.
“Selama apa ia berenang?” ucap Elena yang panik mendengar informasi yang baru saja disampaikan,
ia sangat hari itu Rendra pulang dalam gendongan Liam yang mengantarkannnya
dengan balutan selimut yang cukup tebal.
“Kami terlalu bersemangat, ia sangat cepat belajar bahkan aku berhasil melepaskannya
__ADS_1
berenang sendirian pada percobaan ketiga.” Ucap Malviano semakin membanggakan
apa yang telah dicapai oleh anak mereka.
Mendengar hal itu membuat Elena menyadari Malviano sepertinya keberadaan Rendra sangat disambut
bahkan sangat dibanggakan oleh pria sepertinya masih ingin membicarakan tentang
anak mereka.
“Maaf aku mengganggu waktu istirahatmu.” Tiba-tiba Malviano menyadari keadaan mereka
yang mengobrol didepan pintu kamar anak mereka dimalam yang semakin larut.
“Aku tidak keberatan.” Ucap Elena.
“Sebenarnya aku masih ingin membicarakan tentang Rendra, terutama ketika aku tak pernah ada
dikehidupannya.” Ucap Malviano yang kini berubah menjadi sendu.
“Maafkan aku.” Ucap Elena
“Mengapa kau minta maaf?”
“Aku tak pernah memberitahukan keadaan kami.”
“Justru aku sangat berterimakasih padamu, jika saja saat itu kau datang dengan perut
buncit.” Ucap Malviano tiba-tiba menghentikan ucapannya sebelum menambahkan.”Aku
pasti akan membuatmu menggugurkan anak itu dengan atau tanpa paksaan.” Akuinya.
Mendengar itu tentu saja tak membuat Elena kaget, jika saja Elena yang berada diposisi
Malviano ia juga pasti akan berpikir hal yang seperti itu. Tak akan ada satu
orangpun yang rela bertanggung jawab pada orang asing yang bahkan tak pernah ia
ketahui apa dan siapa kehidupan orang tersebut.
Daripada harus bertanggung jawab seumur hidup, lebih baik melenyapkan ikatan yang tak
pernah diinginkan oleh kedua belah pihak. Mendengar hal itupun semakin membuat
Elena semakin bangga pada dirinya sendiri yang memperjuangan kehidupan Rendra
seorang diri.
“Kau pasti menilai ku sangat kejam.” Ucap Malviano yang langsung mendapat tolakan
kepaala oleh Elena.
“Aku berhutang budi padamu seumur hidupku karena telah merawat Rendra seorang diri.”
“Tentu saja tidak, aku melakukan hal itu karena Rendra anakku juga.”
“Sekali lagi aku minta maaf dan terimakasih banyak.” Ucap Malviano yang sepertinya tak ingin
menggangu waktu istirahat Elena lebih lama lagi, ia mengucapkan kata-kata itu
sambil berjalan menjauhi karena Rendra.
Kepergian Malviano membuat Elena kembali kekamar yang ditempatinya dirumah ini dengan penuh
pemikiran baru, pemikiran betapa benarnya keputusan yang dulu diambilnya meskipun
saat itu terasa sangat berat baginya tapi meskipun ia mengulangi hari tersebut ia
akan pastikan bahwa keputusannya tak akan berubah.
Rendra memang berhak diperjuangkan apapun bentuk kesulitan yang dialaminya, meskipun
sekarang anak itu kini mempunyai pelindung lain selain dirinya. Tapi Elena akan
terus memastikan bahwa ia pun akan selalu bersama dan juga merawat Rendra sampai
anak itu bisa menghadapi dan menjalani kehidupannya kelak.
__ADS_1