
“Aku ingin memastikan kepalamu tidak
benjol.” Ucap Elena polos.
“Apa kau merasakan benjolan itu?”
ucap Malviano yang bertanya dengan wajah persis seperti Rendra yang sedang
bertanya pada Elena.
Lagi-lagi Elena harus diingatkan
bahwa Rendra adalah versi mini dari Malviano, Elena kini bisa melihat setampan
apa Rendra ketika ia dewasa nanti. Elena berharap nanti ia akan bisa melihat
dengan kedua matanya pertumbuhan Rendra setiap saat, dan yang paling ia nantikan
adalah perempuan mana yang beruntung mendampingi putranya yang hebat itu.
“Maukah kau duduk disana?.” Tunjuk
Elena pada sebuah sofa “Kau baik-baik saja?.” Tambahnya yang melihat Malviano
terdiam.
Elena memutuskan untuk memapah
tubuh besar Malviano untuk duduk pada sofa yang tadi ditunjuknya. Ia mendudukkan
Malviano dengan pelan dan bergegas mengambil kompresan yang terdapat Es batu didalamnya,
ia lalu kembali mendekat kepada Malviano dan meletakkan kompresan tersebut
kekepalanya tadi dipukulnya.
“Apakah masih sakit?” ucap Elena yang
kini sangat khawatir karena Malviano diam tak mengatakan apapun.
Ya Tuhan, haruskah Elena membawa
Malviano kerumah sakit? Lalu apakah nanti Malviano akan melaporkannya pada pihak
berwajib karena melakukan kekerasan dalam rumah tangga? Jika demikian bagaimana
nasib Rendra? Apakah nanti Kenzo bersedia membantunya? Tapi mungkinkah Kenzo
membantunya, karena sekarang ia lah yang membuat Malviano terluka.
“Aku sangat bahagia.” Ucap Malviano
setelah menatap Elena cukup lama.
“Kau berbicara apa?.” Ucap Elena
yang kini mempertanyakan kewarasan pria yang masih berstatus suaminya ini.
“Aku benar-benar sangat bahagia,
terimakasih Elena.” Ucap pria itu kini terlihat sangat terharu sambil menatap
Elena dengan lekat.
“Aku bingung.” Ucap Elena yang
tak yakin maksud ucapan malviano.
“Bolehkah aku memelukmu?” Tanya
Malviano.
Apakah ini permintaan terakhir? Itulah
yang Elena pikirkan saat ini saat ia masuk dalam dekapan Malviano sementara pria
itu kini mengelus kepalanya lembut. Elena memikirkan berapa lama waktu yang
akan ia habiskan dipenjara karena telah membunuh suaminya sendiri? Memikirkannya
membuat Elena membalas pelukan hangat Malviano.
“Kau tahu selain ibu Kenzo, itu
pun ketika aku masih kecil. Kau adalah orang pertama yang begitu khawatir
padaku dengan tulus.” Ucap Malviano yang kini menaruh kepalanya dileher Elena membuatnya
tiba-tiba merasakan perasahan yang sangat gelisah.
“Tentu saja aku khawatir bukankah
__ADS_1
karena aku kau terluka.” Jawab Elena berharap Malviano tak menyadari suaranya yang
terdengar bergetar.
“Terlepas dari alasan itu aku
sangat bahagia.” Balas Malviano yang masih kini malah bernafas dileher Elena.
“Jadi apakah kepalamu sudah membaik.”
Ucap Elena yang sangat ingin melepaskan diri dari pelukan pria ini, tak bisakah
pria ini bersikap seperti biasanya?.
“Tentu saja, rasanya sangat luar
biasa.” Ucapnya sambil terkekeh bahagia lagi-lagi membuat Elena semakin merinding
karena pria ini masih berbicara dilehernya.
“Syukur…”
“Dad.. Momm… ” terdengar teriakan
Rendra yang terdengar panik.
“Ya sayang…” balas Elena yang
berhasil melepaskan pelukan mereka karena baik dirinya dan malviano kini sangat
khawatir mengapa anak mereka mencari mereka dengan panik.
Malviano langsung berdiri dan
setengah berlari menuju Rendra berada, Elena pun yang tak ingin kalah juga
berjalan mengikuti Malviano yang ternyata masuk kekamar anak mereka. Ketiba tiba
ternyata Elena diperlihatkan oleh Rendra yang berkeringat dingin yang sekarang
sedang dipeluk oleh Malviano.
“Ada apa?” tanya Malviano yang
terlihat panik tapi masih cukup mengendalikan dirinya dengan bertanya dengan
lembut pada anak mereka.
ada disini.” Ucap Rendra sambil setengah merengek dipelukan Malviano.
“Maaf seharusnya Dad tak meninggalkanmu
setidaknya sampai kau terbangun.” Ucap Malviano yang kini mengendong Rendra dan
berjalan ke ruang makan.
Elena lagi-lagi hanya bisa mengikuti
mereka dalam diam dibelakang mereka. Ia hanya memperhatikan apa yang dilakukan
dan dikatakan Malviano pada Rendra dalam diamnya. Ternyata malviano membawakan Rendra
dan membawa segelas coklat dan sesuatu yang berada disebuah piring.
“Makan lah, tadi Dad meninggalkanmu
karena ingin membuat ini.” Ucap Malviano menaruh makanan yang sepertinya adalah
sepiring Curry, salah satu makanan kesukaan rendra.
“Benarkah Dad membuat ini?.” Tanya
Rendra yang sepertinya tak mempercayai bahwa ayahnya lah yang memasak masakan
kesukaannya khusus untuk hanya untuknya.
“Kau bisa tanyakan langsung pada
Mom, ia bahkan belum sempat memasak apapun karena Dad yang sejak tadi
menggunakan dapurnya.” Ucap Malviano.
“Benarkah Mom?.” Tanya Rendra
yang kini berbicara pada Elena yang sejak tadi tak dihiraukan keberadaannya
oleh anak itu.
“Ya Mom belum memasak apapun.”
Akui Elena yang merasa tugasnya telah diambl alih oleh Malviano, ia
__ADS_1
bertanya-tanya berapa banyak pria itu memasak curry karena sepertinya ia juga ingin
mencoba masakan suaminya itu.
“Ini hanya milik Rendra.” Ucap anak
itu sambil menutupi makanannya dari pandangan Elena, sepertinya anak itu
menyadari keinginan Elena untuk mencicipi masakan Malviano.
“Ya tentu itu hanya untuk Rendra,
sekarang dimakan ya.” Ucap Malviano yang kini menyodorkan sebuah sendok pada
anak mereka.
Mendengar itu Elena hanya bisa
mengendus sebal pada kedua pria itu yang lagi-lagi melupakan keberadaan dirinya.
Elena hanya bisa merasa senang sekaligus sedih saat melihat interaksi Malviano
dan Rendra yang terlihat begitu manis, melupakan fakta bahwa mereka baru saja
berbaikan.
“Kau mau kemana?.” Tanya Malviano
yang melihat Elena beranjak akan pergi.
“Membuat sarapanku dan juga Hanz
tentu saja, karena sepertinya kau hanya membuat satu porsi.” Ucap Elena sambil
mengangkat kedua bahunya yang tak menyebutkan akan membuatkan Malviano juga
karena ia kesal pria itupun tak memberikan jatah curry untuknya dan langsung
berjalan menuju dapur tanpa mendengarkan pembelaan Malviano.
Saat tiba disana ia dikagetkan
dengan keadaan dapurnya yang begitu berantakkan, sebenarnya apa yang sudah dilakukan
Malviano pada dapurnya. Pria itu hanya membuat satu porsi curry, tapi lihatlah
didepan matanya dapurnya terlihat sepertinya telah terjadi sebuah perang atau
bahkan telah terjadi bencana alam.
“Astaga.” Ucap Elena yang kini
bersiap dengan memakai sarung tangan dan juga sebuah celemek untuk melindunginya
dalam membersihkan kekacauan didapurnya yang berharga.
“Sebenarnya aku akan membersihkannya
tepat sebelum kau memukulku tadi.” Ucap Malviano yang ternyata menyusul Elena
ke dapur.
“Ya aku tau, jadi duduklah manis
disana temani anak yang pelit itu untuk menghabiskan sarapannya.” Ucap Elena
yang tersinggung karena anaknya tak ingin berbagi dengannya.
“Aku tadinya akan membuat beberapa
porsi untuk kita, tapi hasil pertama dan kedua kubuang karna aku salah
memasukkan beberapa bumbu didalamnya.” Ucap Malviano yang mengakui bahwa ia
telah gagal beberapa kali membuat masakan kesukaan anak mereka yang sebenarnya
sangat mudah.
“Jadi karena itu juga kau membuat
dapurku seperti ini.” Ucap Elena sambil memulai untuk mencuci benda-benda yang
tadi digunakan oleh Malviano dalam membuat curry untuk Rendra.
“Ya.”
“Aku mengerti, sekarang kau temani
Rendra disana dan tunggu aku akan memasak untuk kita.” Ucap Elena yang tak bisa
lebih lama marah pada pria itu.
__ADS_1