Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 39


__ADS_3

“Aku ingin memastikan kepalamu tidak


benjol.” Ucap Elena polos.


“Apa kau merasakan benjolan itu?”


ucap Malviano yang bertanya dengan wajah persis seperti Rendra yang sedang


bertanya pada Elena.


Lagi-lagi Elena harus diingatkan


bahwa Rendra adalah versi mini dari Malviano, Elena kini bisa melihat setampan


apa Rendra ketika ia dewasa nanti. Elena berharap nanti ia akan bisa melihat


dengan kedua matanya pertumbuhan Rendra setiap saat, dan yang paling ia nantikan


adalah perempuan mana yang beruntung mendampingi putranya yang hebat itu.


“Maukah kau duduk disana?.” Tunjuk


Elena pada sebuah sofa “Kau baik-baik saja?.” Tambahnya yang melihat Malviano


terdiam.


Elena memutuskan untuk memapah


tubuh besar Malviano untuk duduk pada sofa yang tadi ditunjuknya. Ia mendudukkan


Malviano dengan pelan dan bergegas mengambil kompresan yang terdapat Es batu didalamnya,


ia lalu kembali mendekat kepada Malviano dan meletakkan kompresan tersebut


kekepalanya tadi dipukulnya.


“Apakah masih sakit?” ucap Elena yang


kini sangat khawatir karena Malviano diam tak mengatakan apapun.


Ya Tuhan, haruskah Elena membawa


Malviano kerumah sakit? Lalu apakah nanti Malviano akan melaporkannya pada pihak


berwajib karena melakukan kekerasan dalam rumah tangga? Jika demikian bagaimana


nasib Rendra? Apakah nanti Kenzo bersedia membantunya? Tapi mungkinkah Kenzo


membantunya, karena sekarang ia lah yang membuat Malviano terluka.


“Aku sangat bahagia.” Ucap Malviano


setelah menatap Elena cukup lama.


“Kau berbicara apa?.” Ucap Elena


yang kini mempertanyakan kewarasan pria yang masih berstatus suaminya ini.


“Aku benar-benar sangat bahagia,


terimakasih Elena.” Ucap pria itu kini terlihat sangat terharu sambil menatap


Elena dengan lekat.


“Aku bingung.” Ucap Elena yang


tak yakin maksud ucapan malviano.


“Bolehkah aku memelukmu?” Tanya


Malviano.


Apakah ini permintaan terakhir? Itulah


yang Elena pikirkan saat ini saat ia masuk dalam dekapan Malviano sementara pria


itu kini mengelus kepalanya lembut. Elena memikirkan berapa lama waktu yang


akan ia habiskan dipenjara karena telah membunuh suaminya sendiri? Memikirkannya


membuat Elena membalas pelukan hangat Malviano.


“Kau tahu selain ibu Kenzo, itu


pun ketika aku masih kecil. Kau adalah orang pertama yang begitu khawatir


padaku dengan tulus.” Ucap Malviano yang kini menaruh kepalanya dileher Elena membuatnya


tiba-tiba merasakan perasahan yang sangat gelisah.


“Tentu saja aku khawatir bukankah

__ADS_1


karena aku kau terluka.” Jawab Elena berharap Malviano tak menyadari suaranya yang


terdengar bergetar.


“Terlepas dari alasan itu aku


sangat bahagia.” Balas Malviano yang masih kini malah bernafas dileher Elena.


“Jadi apakah kepalamu sudah membaik.”


Ucap Elena yang sangat ingin melepaskan diri dari pelukan pria ini, tak bisakah


pria ini bersikap seperti biasanya?.


“Tentu saja, rasanya sangat luar


biasa.” Ucapnya sambil terkekeh bahagia lagi-lagi membuat Elena semakin merinding


karena pria ini masih berbicara dilehernya.


“Syukur…”


“Dad.. Momm… ” terdengar teriakan


Rendra yang terdengar panik.


“Ya sayang…” balas Elena yang


berhasil melepaskan pelukan mereka karena baik dirinya dan malviano kini sangat


khawatir mengapa anak mereka mencari mereka dengan panik.


Malviano langsung berdiri dan


setengah berlari menuju Rendra berada, Elena pun yang tak ingin kalah juga


berjalan mengikuti Malviano yang ternyata masuk kekamar anak mereka. Ketiba tiba


ternyata Elena diperlihatkan oleh Rendra yang berkeringat dingin yang sekarang


sedang dipeluk oleh Malviano.


“Ada apa?” tanya Malviano yang


terlihat panik tapi masih cukup mengendalikan dirinya dengan bertanya dengan


lembut pada anak mereka.


ada disini.” Ucap Rendra sambil setengah merengek dipelukan Malviano.


“Maaf seharusnya Dad tak meninggalkanmu


setidaknya sampai kau terbangun.” Ucap Malviano yang kini mengendong Rendra dan


berjalan ke ruang makan.


Elena lagi-lagi hanya bisa mengikuti


mereka dalam diam dibelakang mereka. Ia hanya memperhatikan apa yang dilakukan


dan dikatakan Malviano pada Rendra dalam diamnya. Ternyata malviano membawakan Rendra


dan membawa segelas coklat dan sesuatu yang berada disebuah piring.


“Makan lah, tadi Dad meninggalkanmu


karena ingin membuat ini.” Ucap Malviano menaruh makanan yang sepertinya adalah


sepiring Curry, salah satu makanan kesukaan rendra.


“Benarkah Dad membuat ini?.” Tanya


Rendra yang sepertinya tak mempercayai bahwa ayahnya lah yang memasak masakan


kesukaannya khusus untuk hanya untuknya.


“Kau bisa tanyakan langsung pada


Mom, ia bahkan belum sempat memasak apapun karena Dad yang sejak tadi


menggunakan dapurnya.” Ucap Malviano.


“Benarkah Mom?.” Tanya Rendra


yang kini berbicara pada Elena yang sejak tadi tak dihiraukan keberadaannya


oleh anak itu.


“Ya Mom belum memasak apapun.”


Akui Elena yang merasa tugasnya telah diambl alih oleh Malviano, ia

__ADS_1


bertanya-tanya berapa banyak pria itu memasak curry karena sepertinya ia juga ingin


mencoba masakan suaminya itu.


“Ini hanya milik Rendra.” Ucap anak


itu sambil menutupi makanannya dari pandangan Elena, sepertinya anak itu


menyadari keinginan Elena untuk mencicipi masakan Malviano.


“Ya tentu itu hanya untuk Rendra,


sekarang dimakan ya.” Ucap Malviano yang kini menyodorkan sebuah sendok pada


anak mereka.


Mendengar itu Elena hanya bisa


mengendus sebal pada kedua pria itu yang lagi-lagi melupakan keberadaan dirinya.


Elena hanya bisa merasa senang sekaligus sedih saat melihat interaksi Malviano


dan Rendra yang terlihat begitu manis, melupakan fakta bahwa mereka baru saja


berbaikan.


“Kau mau kemana?.” Tanya Malviano


yang melihat Elena beranjak akan pergi.


“Membuat sarapanku dan juga Hanz


tentu saja, karena sepertinya kau hanya membuat satu porsi.” Ucap Elena sambil


mengangkat kedua bahunya yang tak menyebutkan akan membuatkan Malviano juga


karena ia kesal pria itupun tak memberikan jatah curry untuknya dan langsung


berjalan menuju dapur tanpa mendengarkan pembelaan Malviano.


Saat tiba disana ia dikagetkan


dengan keadaan dapurnya yang begitu berantakkan, sebenarnya apa yang sudah dilakukan


Malviano pada dapurnya. Pria itu hanya membuat satu porsi curry, tapi lihatlah


didepan matanya dapurnya terlihat sepertinya telah terjadi sebuah perang atau


bahkan telah terjadi bencana alam.


“Astaga.” Ucap Elena yang kini


bersiap dengan memakai sarung tangan dan juga sebuah celemek untuk melindunginya


dalam membersihkan kekacauan didapurnya yang berharga.


“Sebenarnya aku akan membersihkannya


tepat sebelum kau memukulku tadi.” Ucap Malviano yang ternyata menyusul Elena


ke dapur.


“Ya aku tau, jadi duduklah manis


disana temani anak yang pelit itu untuk menghabiskan sarapannya.” Ucap Elena


yang tersinggung karena anaknya tak ingin berbagi dengannya.


“Aku tadinya akan membuat beberapa


porsi untuk kita, tapi hasil pertama dan kedua kubuang karna aku salah


memasukkan beberapa bumbu didalamnya.” Ucap Malviano yang mengakui bahwa ia


telah gagal beberapa kali membuat masakan kesukaan anak mereka yang sebenarnya


sangat mudah.


“Jadi karena itu juga kau membuat


dapurku seperti ini.” Ucap Elena sambil memulai untuk mencuci benda-benda yang


tadi digunakan oleh Malviano dalam membuat curry untuk Rendra.


“Ya.”


“Aku mengerti, sekarang kau temani


Rendra disana dan tunggu aku akan memasak untuk kita.” Ucap Elena yang tak bisa


lebih lama marah pada pria itu.

__ADS_1


__ADS_2