
Elena langsung menuju kamar
Malviano dengan kedua tangan yang penuh dengan makanan, ia kini binggung
sekarang bagaimana cara ia bisa masuk. Kalo mengetuk ia kesusahan karena kedua
tangannya yang penuh sedangkan jika ia berteriak ia tak yakin pria itu akan menjawab.
“Bolehkah aku masuk?” ucap Elena
yang memutuskan untuk berbicara dari balik pintu.
“Aku ingin tidur kembali,” jawab
Malviano dari dalam kamar.
“Bisakah kau makan dulu, aku
sudah susah payah memasak dan kini membawa kesini,” ucap Elena kembali membujuk
orang yang didalam sana.
“Letakkan saja didepan sana,”
lagi-lagi Malviano hanya menjawab dari dalam kamar.
“Jika dalam hitungan tiga kau
tidak membukakan pintu ini, aku bersumpah ini hari terakhir kita saling
berbicara lagi,” ancam Elena yang tak terima Malviano bersikap seperti ini
bahkan membiarkannya berdiri memegang makanan untuknya hanya untuk diperlakukan
seperti ini.
Dari dalam terdengar suara
langkah yang terburu-buru untuk membuka pintu, dan disinilah Malviano yang
terlihat panik membukaan pintu untuk Elena. Elena langsung masuk kedalam
melewati Malviano yang mengikutinya dari belakang dalam diam, ketika Elena
sudah menyimpan makanan yang berada dikedua tangannya ia langsung mendudukan
dirinya diatas ranjang yang tadi malam ia tiduri.
“Makanlah!”
Mendengar perintah Elena yang singkat
membuat Malviano mau tidak mau melakukan apa yang diperintahkan oleh istrinya
tersebut, apalagi jika istrinya kembali mengancam dengan sesuatu yang sangat
luar biasa. Ia pun memakan makanan yang dibawakan oleh istrinya dengan cepat,
hingga ia lupa merasakan makanan yang biasanya terasa sangat enak dimulutnya.
“Begitukan lebih baik, ini
obatmu,” ucap Elena setelah melihat Malviano selesai dengan sarapannya, ia
langsung memberikan obat yang sama dengan yang tadi malam dikonsumsi oleh
suaminya itu.
“Terimakasih,” ucap Malviano yang
langsung meminum obat itu sama seperti kebiasaannya, yaitu menutup matanya.
“Bisakah kau ubah kebiasaan
jelekmu itu?”
“MMmm?”
“Kebiasaanmu ketika meminum
obat?”
“Mengapa?” ucap Malviano yang tau
Elena sudah tak marah padanya.
“Bukankah kau semalam yang
mengatakan kebiasaan yang anehmu itulah yang telah membawamu pada malam itu?”
ucap Elena yang tak bisa mengatakan hal yang memalukan malam itu secara lebih
__ADS_1
jelas.
“Sudahku bilang aku tak menyesal
karena kebiasaanku itu aku jadi memiliki kalian saat ini,” jelas Malviano yang
kini terlihat lebih riang.
“Bagaimana jika suatu saat hal
itu terulang kembali?” ucap Elena yang tiba-tiba membayangkan Malviano akan
melakukan hal yang sama pada perempuan lain hanya karena kebiasaan buruknya
meminum obat sambil menutup matanya.
Siapa yang tahukan ada wanita
lain lagi yang tahu kebiasaan buruk Malviano lalu memanfaatkan hal itu demi
dirinya pribadi. Walaupun semua orang tahu Malviano sudah berstatus sebagai seorang
suaminya tapi dengan wajah yang rupawan bahkan kekayaan yang bisa menghidupi
mungkin sampai beberapa keturunanmu, wanita yang pendek akalnya mungkin akan
memakai banyak cara hanya untuk menjadi istri kedua bahkan pacar gelapnya.
“Kau sedang membayangkan aku akan
melakukan hal itu lagi hanya karena seseorang memberikan sebuah obat padaku?”
tanya malviano yang kini terdengar geli sendiri mendengar pertanyaan Elena
padanya.
“Jangan bilang, sebelum hal itu
terjadi padaku kau bahkan melakukan hal itu juga dengan yang lain?” pekik
Elena.
“Hei…Hei… tahan pikiran negatifmu
itu,” ucap Mlaviano yang kini mendudukkan dirinya disebelah Elena.
“Apakah Rendra mempunyai saudara
menjelaskan pada wanita lain mengapa hanya ia yang dinikahi oleh laki-laki
didepannya kini.
"Dengarkan aku Elena,” ucap
Malviano “Jangan menyela,” lanjutnya dengan memegang kedua tangan Elena dan
menatapnya dengan pandang yang membuat siapapun wanita yang berada diposisinya
akan jatuh meleleh karena pandangannya itu begitu sesuatu.
“Aku..” ucap Elena yang tak bisa
lagi berkata apapun selain mendengarkan apa yang akan dijelaskan oleh suaminya
didepannya kini.
“Aku bersumpah itu adalah pertama
dan terakhir aku teledor karena menerima obat dari sembarangan orang, hanya ada
Rendra satu-satu anak yang kupunya didunia ini itupun akan berubah jika kau
bersedia membuatnya lagi,” ucap Maliano yang langsung terhenti karena pukulan
Elena.
“Rasakan,” ucap Elena yang
berhenti memukul karena melihat Maliano yang terlihat kesakitan akibat
pukulannya yang bertubi-tubi.
“Kenapa kau memukulku bukankah
benar Rendra tak akan menjadi satu-satu anakku?”
“Aku mengerti,” ucap Elena yang
langsung paham perkataan Malviano yang bukan memintanya untuk membuat adik
untuk Rendra, tapi pria itu mengatakan akan membuat anak lain.
__ADS_1
“Jadi kau benar-benar bersedia?”
ucap Malviano yang langsung antusias mendengar ucapan Elena yang sepertinya
sudah menyetujui ucapannya.
Apakah ia harus sebahagia itu ya,
hanya karena ia mendapatkan ijin untuk membuat anak-anak lain dengan wanita
lainnya.
Lalu mengapa ia harus sedih
melihat kebahagian yang terpancar dimata Malviano saat ini.
“Elena aku tak menyangka kau akan
menyetujui hal ini secepat ini?” ucap Malviano yang terdengar kagum atas
keberanian Elena dalam membuat keputusan.
Ya mungkin tak akan ada istri
lain yang dengan bodoh membiarkan suaminya untuk memiliki seorang anak dari
wanita lain selain istrinya sendiri. Tapikan status Elena bukanlah seorang
istri sebagaimana tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri, jadi apapun
yang Malviano inginkan ia tak berhak untuk menolaknya bukan?
“Kupikir aku akan kehilangan
kalian jika aku meminta hal sejauh ini,” jelas Malviano yang kini malah memeluk
Elena dengan erat.
Apa-apan ini? Haruskah Malviano
berbuat hal sejauh ini pada Elena yang kini merasa hatinya semakin
tercabik-cabik hanya karena kebahagian suami yang mungkin akan melepaskan
statusnya jika ia sudah mendapatkan seorang istri yang jauh lebih layak
dibading dirinya ini.
“Seharusnya sejak kemarin aku
berbicara hal ini, sehingga aku bisa membicarakan kepindahan kalian kembali ke
negara asal kita,”
“Apa maksudmu?” tanya Elena yang
langsung melepaskan pelukan mereka.
“Aku akan menyiapkan segalanya
agar secepatnya kita kembali kesana,” jelas Malviao yang tak menangkap
pertanyaan Elena.
“Mengapa kau harus menyiapkan
segalanya?”
“Tentu saja agar lebih cepat,
lebih baik bukan? Aku juga tak mungkin membiarkan kau yang mengurus hal itu,
kau mungkin akan berakhir dikantor kedutaan jika aku membiarkanmu mengurusnya,”
canda Malviano.
“Aku tahu hal itu, tapi untuk apa
aku harus pulang hanya untuk melihatmu menikahi wanita lain? Bukankah akan lebih
baik bagi kami untuk melanjutkan kehidupan kami dinegara ini? Kami tak akan
terusik oleh celaan masyarakat pada kami hanya karena kami telah masuk kedalam
kehidupanmu walau hanya sebentar, dan bahkan nantinya mereka akan membuat suatu
penyataan yang tidak-tidak jika kau terlihat tidak akur dengan keluargamu yang
baru hanya karena keberadaan kami disana,” jelas Elena panjang lebar tak membiarkan
Malviano memotong ucapannya walaupun pria itu sepertinya terlihat sangat marah
__ADS_1
karena Elena tak membiarkan pria itu bicara selama Elena menjelaskan kekhawatirannya.