Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 48


__ADS_3

Elena langsung menuju kamar


Malviano dengan kedua tangan yang penuh dengan makanan, ia kini binggung


sekarang bagaimana cara ia bisa masuk. Kalo mengetuk ia kesusahan karena kedua


tangannya yang penuh sedangkan jika ia berteriak ia tak yakin pria itu akan menjawab.


“Bolehkah aku masuk?” ucap Elena


yang memutuskan untuk berbicara dari balik pintu.


“Aku ingin tidur kembali,” jawab


Malviano dari dalam kamar.


“Bisakah kau makan dulu, aku


sudah susah payah memasak dan kini membawa kesini,” ucap Elena kembali membujuk


orang yang didalam sana.


“Letakkan saja didepan sana,”


lagi-lagi Malviano hanya menjawab dari dalam kamar.


“Jika dalam hitungan tiga kau


tidak membukakan pintu ini, aku bersumpah ini hari terakhir kita saling


berbicara lagi,” ancam Elena yang tak terima Malviano bersikap seperti ini


bahkan membiarkannya berdiri memegang makanan untuknya hanya untuk diperlakukan


seperti ini.


Dari dalam terdengar suara


langkah yang terburu-buru untuk membuka pintu, dan disinilah Malviano yang


terlihat panik membukaan pintu untuk Elena. Elena langsung masuk kedalam


melewati Malviano yang mengikutinya dari belakang dalam diam, ketika Elena


sudah menyimpan makanan yang berada dikedua tangannya ia langsung mendudukan


dirinya diatas ranjang yang tadi malam ia tiduri.


“Makanlah!”


Mendengar perintah Elena yang singkat


membuat Malviano mau tidak mau melakukan apa yang diperintahkan oleh istrinya


tersebut, apalagi jika istrinya kembali mengancam dengan sesuatu yang sangat


luar biasa. Ia pun memakan makanan yang dibawakan oleh istrinya dengan cepat,


hingga ia lupa merasakan makanan yang biasanya terasa sangat enak dimulutnya.


“Begitukan lebih baik, ini


obatmu,” ucap Elena setelah melihat Malviano selesai dengan sarapannya, ia


langsung memberikan obat yang sama dengan yang tadi malam dikonsumsi oleh


suaminya itu.


“Terimakasih,” ucap Malviano yang


langsung meminum obat itu sama seperti kebiasaannya, yaitu menutup matanya.


“Bisakah kau ubah kebiasaan


jelekmu itu?”


“MMmm?”


“Kebiasaanmu ketika meminum


obat?”


“Mengapa?” ucap Malviano yang tau


Elena sudah tak marah padanya.


“Bukankah kau semalam yang


mengatakan kebiasaan yang anehmu itulah yang telah membawamu pada malam itu?”


ucap Elena yang tak bisa mengatakan hal yang memalukan malam itu secara lebih

__ADS_1


jelas.


“Sudahku bilang aku tak menyesal


karena kebiasaanku itu aku jadi memiliki kalian saat ini,” jelas Malviano yang


kini terlihat lebih riang.


“Bagaimana jika suatu saat hal


itu terulang kembali?” ucap Elena yang tiba-tiba membayangkan Malviano akan


melakukan hal yang sama pada perempuan lain hanya karena kebiasaan buruknya


meminum obat sambil menutup matanya.


Siapa yang tahukan ada wanita


lain lagi yang tahu kebiasaan buruk Malviano lalu memanfaatkan hal itu demi


dirinya pribadi. Walaupun semua orang tahu Malviano sudah berstatus sebagai seorang


suaminya tapi dengan wajah yang rupawan bahkan kekayaan yang bisa menghidupi


mungkin sampai beberapa keturunanmu, wanita yang pendek akalnya mungkin akan


memakai banyak cara hanya untuk menjadi istri kedua bahkan pacar gelapnya.


“Kau sedang membayangkan aku akan


melakukan hal itu lagi hanya karena seseorang memberikan sebuah obat padaku?”


tanya malviano yang kini terdengar geli sendiri mendengar pertanyaan Elena


padanya.


“Jangan bilang, sebelum hal itu


terjadi padaku kau bahkan melakukan hal itu juga dengan yang lain?” pekik


Elena.


“Hei…Hei… tahan pikiran negatifmu


itu,” ucap Mlaviano yang kini mendudukkan dirinya disebelah Elena.


“Apakah Rendra mempunyai saudara


menjelaskan pada wanita lain mengapa hanya ia yang dinikahi oleh laki-laki


didepannya kini.


"Dengarkan aku Elena,” ucap


Malviano “Jangan menyela,” lanjutnya dengan memegang kedua tangan Elena dan


menatapnya dengan pandang yang membuat siapapun wanita yang berada diposisinya


akan jatuh meleleh karena pandangannya itu begitu sesuatu.


“Aku..” ucap Elena yang tak bisa


lagi berkata apapun selain mendengarkan apa yang akan dijelaskan oleh suaminya


didepannya kini.


“Aku bersumpah itu adalah pertama


dan terakhir aku teledor karena menerima obat dari sembarangan orang, hanya ada


Rendra satu-satu anak yang kupunya didunia ini itupun akan berubah jika kau


bersedia membuatnya lagi,” ucap Maliano yang langsung terhenti karena pukulan


Elena.


“Rasakan,” ucap Elena yang


berhenti memukul karena melihat Maliano yang terlihat kesakitan akibat


pukulannya yang bertubi-tubi.


“Kenapa kau memukulku bukankah


benar Rendra tak akan menjadi satu-satu anakku?”


“Aku mengerti,” ucap Elena yang


langsung paham perkataan Malviano yang bukan memintanya untuk membuat adik


untuk Rendra, tapi pria itu mengatakan akan membuat anak lain.

__ADS_1


“Jadi kau benar-benar bersedia?”


ucap Malviano yang langsung antusias mendengar ucapan Elena yang sepertinya


sudah menyetujui ucapannya.


Apakah ia harus sebahagia itu ya,


hanya karena ia mendapatkan ijin untuk membuat anak-anak lain dengan wanita


lainnya.


Lalu mengapa ia harus sedih


melihat kebahagian yang terpancar dimata Malviano saat ini.


“Elena aku tak menyangka kau akan


menyetujui hal ini secepat ini?” ucap Malviano yang terdengar kagum atas


keberanian Elena dalam membuat keputusan.


Ya mungkin tak akan ada istri


lain yang dengan bodoh membiarkan suaminya untuk memiliki seorang anak dari


wanita lain selain istrinya sendiri. Tapikan status Elena bukanlah seorang


istri sebagaimana tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri, jadi apapun


yang Malviano inginkan ia tak berhak untuk menolaknya bukan?


“Kupikir aku akan kehilangan


kalian jika aku meminta hal sejauh ini,” jelas Malviano yang kini malah memeluk


Elena dengan erat.


Apa-apan ini? Haruskah Malviano


berbuat hal sejauh ini pada Elena yang kini merasa hatinya semakin


tercabik-cabik hanya karena kebahagian suami yang mungkin akan melepaskan


statusnya jika ia sudah mendapatkan seorang istri yang jauh lebih layak


dibading dirinya ini.


“Seharusnya sejak kemarin aku


berbicara hal ini, sehingga aku bisa membicarakan kepindahan kalian kembali ke


negara asal kita,”


“Apa maksudmu?” tanya Elena yang


langsung melepaskan pelukan mereka.


“Aku akan menyiapkan segalanya


agar secepatnya kita kembali kesana,” jelas Malviao yang tak menangkap


pertanyaan Elena.


“Mengapa kau harus menyiapkan


segalanya?”


“Tentu saja agar lebih cepat,


lebih baik bukan? Aku juga tak mungkin membiarkan kau yang mengurus hal itu,


kau mungkin akan berakhir dikantor kedutaan jika aku membiarkanmu mengurusnya,”


canda Malviano.


“Aku tahu hal itu, tapi untuk apa


aku harus pulang hanya untuk melihatmu menikahi wanita lain? Bukankah akan lebih


baik bagi kami untuk melanjutkan kehidupan kami dinegara ini? Kami tak akan


terusik oleh celaan masyarakat pada kami hanya karena kami telah masuk kedalam


kehidupanmu walau hanya sebentar, dan bahkan nantinya mereka akan membuat suatu


penyataan yang tidak-tidak jika kau terlihat tidak akur dengan keluargamu yang


baru hanya karena keberadaan kami disana,” jelas Elena panjang lebar tak membiarkan


Malviano memotong ucapannya walaupun pria itu sepertinya terlihat sangat marah

__ADS_1


karena Elena tak membiarkan pria itu bicara selama Elena menjelaskan kekhawatirannya.


__ADS_2