
“Bekerja atau makan siang
dengan pacar barumu?.” Ucapan Elena penuh ia ucapakan.
Elena ingat dengan benar,
alasan Rendra yang membujuknya untuk meninggalkan Malviano saat itu. Kala itu
Rendra sangat marah dan juga kecewa pada Malviano karena disaat ia terbaring dirumah
sakit karena memperjuangkan perusahaan yang dicintai dari suaminya ini.
Akan tetapi tak sedetikpun
pria ini datang bahkan untuk sebuah panggilan telepon. Rendra yang sudah Elena
tenangkan dengan alasan ayahnya sibuk karena perusahaannya yang mengalami
kekacaukan malah mendapat sebuh foto sedang bersenang-senang bersama seorang
wanita.
“Pacar? Kau bahkan tahu
aku tak pernah berpacaran bahkan menikah dengan dirimupun aku tak berpacaran
terlebih dahulu.” Ucap Malviano dengan kerutan didahinya.
“Lalu apakah aku harus
mengatakan hari itu kau sedang bersenang-senang dengan seorang selingkuhan.”
Ucap Elena mencoba mengubah tata bahasanya.
“Sepertinya lagi-lagi kau
mengatakan hari itu aku sedang bersama dengan seorang wanita, sebenarnya siapa
yang kau maksud.” Ucap Malviano yang tak pernah berubah atau berpura-pura
mengerti ketika bahkan ia tak mengerti apa yang diucapkan oleh Elena.
“Kau bersama Harsha.”
“kapan aku bersamanya.”
“Kau ingin mengelak?
Rendra bahkan mempunyai bukti kau bersamanya sedang tertawa bersenang-senang.”
Ucap Elena yang sebenarnya tak yakin Rendra masih menyimpan foto tersebut.
“Aku tak ingat, sungguh
tapi kalau pun memang aku bersama Harsha yang kuingat kami hanya makan bersama
bersama beberapa klien. Kami tak pernah sekalian hanya berdua saja.” Jelas Malviano
yang masih berusaha mengingat-ingat hari dimana ia bersama Harsha.
“Lalu kalo kau hanya
makan, mengapa wanita itu mengirimkan foto kalian bahkan memakai teleponmu?.” Tanya
Elena yang tak habis pikir, inilah alasan terbesar Rendra merengek padanya,
bahkan Kenzo yang merupakan sahabat laki-laki itu membantu mereka untuk jauh
dari pria didepannya kini.
“Hari itu Harsha memang
memintaku berfoto bahkan memaksaku tersenyum untuk lebih meyakinkan seseorang
untuk memberikanku sebuah informasi.” Jawab Malviano yang sepertinya menyembunyikan
sesuatu.
“Sepenting apa informasi itu
sampai membuatmu melakukan segalanya demi hal itu.” Tantang Elena yang
sebenarnya sudah mendapatkan informasi ini dari Kenzo tentu saja, ia tak mungkinkan
memberi kesempatan Malviano hanya untuk melakukan hal yang sama.
“Kau tak perlu tau.” Ucap
Malviano yang menolak berbagi kesulitannya padanya.
“Kalau begitu jangan
salahkan aku, jika nantinya Rendra semakin membawa kami jauh darimu.” Ancam Elena
yang membuat Malviano kaget dibuatnya dan langsung terlihat dengan jelas bahwa ia
sangat ketakutan saat ini.
__ADS_1
“Kalian tega meninggalkanku
sendirian lagi.” Ucap Malviano setelah mengusap wajahnya dengan kasar.
“Kau yang memilih untuk tidak
melibatkan kami dalam kehidupanmu.” Ucap Elena tenang sebenarnya dalam hati ia
kaget orang setenang dan sekuat Malviano kini menunjukkan padanya berbagai
macam emosi.
“Bukan itu yang kumaksud.”
“Lalu?.” Tanya Elena memancing
Malviano mengutarakan apa yang ada dipikirannya, karena ia sangat ingin pria
yang sebenarnya masih menjadi suaminya ini berbagi segalanya padanya.
Cukup lama Malviano terdiam,
sepertinya ia mengalami perang batin dalam dirinya untuk memutuskan apakah ia
harus mengatakan apa yang terjadi pada Elena atau tidak. Dan juga ia harus memikirkan
konsekuensi apa yang akan dihadapinya setelah nantinya ia mengambil suatu keputusan
yang akan diambilnya.
“Harsha bersedia
membantuku, jika aku mengikuti apa yang ia mau.” Ucap Malviano setelah menghela
nafas panjang, sepertinya ia sudah memutuskan untuk memberitahukan pada Elena.
“Apakah harus Harsha?.” Tanya
Elena pelan, ia berusaha agar Malviano lebih percaya padanya.
“Ya hanya ia yang tahu
dan memiliki akses untukku agar lebih dekat dengan orang tersebut.” Jawab Malviano.
“Bukankah kau juga
mempunyai kekuasaan?.” Lagi-lagi Elena bertanya penuh kehati-hatian.
“Jika aku bisa tak mungkin
menantang Elena untuk lebih mendebatnya dalam keputusan yang sudah diambilnya.
Tentu saja mendengar hal itu
Elena semakin merasa kecil bahkan orang seperti Malvianopun tak cukup mampu
untuk menghadapi masalahnya. Lalu kini pria itu pun sepertinya tak ingin berbagi
dengannya, apakah sebenarnya yang bisa Elena harapkan dalam keadaan yang seperti
ini.
“Lalu jika Harsha memang
begitu berarti, mengapa kau bahkan mencari keberadaan kami?.” Tanya Elena putus
asa.
“Karena kalian adalah
keluarga bagiku.” Ucap Malviano singkat.
Mendengar hal itu sontak
membuat Elena tertawa dengan lepas, ia tertawa kerasa tanpa tahu apakah dia
tertawa bahagia atau tertawa karena begitu sedih. Cukup lama Elena tertawa
tanpa tahu apakah Malviano akan menganggapnya gila ataupun hal yang lebih buruk
dari hal itu.
“Maaf.” Ucap Elena seketika
menghentikan tawanya.
“Kau baik-baik saja?.” Ucap
Malviano terheran-heran menatap Elena begitu lekat.
“Bolehkah aku bertanya
sekarang.” Ucap Elena kembali memasang wajah penuh keseriusan.
“Tentu.” Ucap Malviano
yang masih tak yakin apakah Elena dalam keadaan yang baik-baik saja saat ini.
__ADS_1
“Menurutmu apa itu definisi
sebuah keluarga?.”tanya Elena singkat.
“Keluarga bagiku…” ucapan
Malviano langsung terhenti.
“Ya, arti keluarga bagimu.”
Tanya ulang Elena.
“Aku, kau dan Rendra….” Ucap
Malviano semakin tak yakin sedang berbicara apa.
“Kita memang sudah menikah,
kau ayahnya, dan aku ibunya lalu kita mempunyai seorang anak yang bernama Rendra.
Apakah menurutmu yang seperti itu sebuah keluarga?.” Pancing Elena.
“Ya…” ucap Malviano yang
cukup terkejut mendengar perkataan Elena.
“Kau yakin tak ingin
menambahkan sesuatu?.”
“Kau tahu Elena, aku
sudah tak mempunyai sebuah keluarga sejak seusia Rendra menemukanku.” Ucap Malviano
mencoba meminta pengertian Elena bahwa ia tak cukup yakin apa itu arti dari
sebuah keluarga.
“Aku tahu itu, tapi aku
juga harus yakin apakah kau benar-benar menginginkan kami sebagai sebuah
keluarga?.” Jawab Elena yang malah berganti menjadi sebuah pertanyaan.
“Mengapa kau malah
menanyakan hal itu?.” Ucap Malviano kembali tak mengerti apa yang sedang Elena ingin
utarakan padanya.
“Aku hanya tak ingin
Rendra mengalami hal yang sama.” Jelas Elena lagi-lagi ia memulainya denagn helaan
nafas panjang, yang mendakan betapa frustasinya ia ketika menjelaskan pada Malviano.
“Rendra?”
“Kau hanya menganggap kami...”
ucap Elena yang binggung harus mengutarakan maksudnya seperti apa. “Lebih
jelasnya kau hanya memerlukan bantuan Rendra.” Ya itu kata yang tepat yang
harus Elena utarakan pada Malviano.
Mungkin perkataan itu
sangat menyinggung baik baginya ataupun bagi Malviano. Baginya adalah karena ia
ingat dengan jelas Malviano hanya akan baik pada mereka jika Rendra berhasil
memuaskan dahaga Malviano dalam hal kesuksesan perusahaan.
Sedangkan bagi Malviano
adalah perkataan Elena mungkin akan menyentil hatinya sebagai ayah dari anaknya
itu. Bayangkan saja usia Rendra tak lebih dari Lima tahu saat itu, akan tetapi
mengapa Malviano begitu bergantung pada anaknya itu.
“A…Aku… tak pernah
mengangap kalian seperti itu.” Bela Malviano yang sebelumnya masih kaget dan
mencerna baik-baik apa yang dimaksud oleh perkataan Elena.
“Lalu? Apakah bisa kau
jelaskan padaku? Mengapa kau bahkan repot-repot harus mencari keberadaan kami?.”
Ucap Elena yang sudah merasa putus asa akan nasib keluarga ini
“Kalian… Bagiku…” ucap
Malviano terpotong-potong.
__ADS_1