Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 28


__ADS_3

“Bekerja atau makan siang


dengan pacar barumu?.” Ucapan Elena penuh ia ucapakan.


Elena ingat dengan benar,


alasan Rendra yang membujuknya untuk meninggalkan Malviano saat itu. Kala itu


Rendra sangat marah dan juga kecewa pada Malviano karena disaat ia terbaring dirumah


sakit karena memperjuangkan perusahaan yang dicintai dari suaminya ini.


Akan tetapi tak sedetikpun


pria ini datang bahkan untuk sebuah panggilan telepon. Rendra yang sudah Elena


tenangkan dengan alasan ayahnya sibuk karena perusahaannya yang mengalami


kekacaukan malah mendapat sebuh foto sedang bersenang-senang bersama seorang


wanita.


“Pacar? Kau bahkan tahu


aku tak pernah berpacaran bahkan menikah dengan dirimupun aku tak berpacaran


terlebih dahulu.” Ucap Malviano dengan kerutan didahinya.


“Lalu apakah aku harus


mengatakan hari itu kau sedang bersenang-senang dengan seorang selingkuhan.”


Ucap Elena mencoba mengubah tata bahasanya.


“Sepertinya lagi-lagi kau


mengatakan hari itu aku sedang bersama dengan seorang wanita, sebenarnya siapa


yang kau maksud.” Ucap Malviano yang tak pernah berubah atau berpura-pura


mengerti ketika bahkan ia tak mengerti apa yang diucapkan oleh Elena.


“Kau bersama Harsha.”


“kapan aku bersamanya.”


“Kau ingin mengelak?


Rendra bahkan mempunyai bukti kau bersamanya sedang tertawa bersenang-senang.”


Ucap Elena yang sebenarnya tak yakin Rendra masih menyimpan foto tersebut.


“Aku tak ingat, sungguh


tapi kalau pun memang aku bersama Harsha yang kuingat kami hanya makan bersama


bersama beberapa klien. Kami tak pernah sekalian hanya berdua saja.” Jelas Malviano


yang masih berusaha mengingat-ingat hari dimana ia bersama Harsha.


“Lalu kalo kau hanya


makan, mengapa wanita itu mengirimkan foto kalian bahkan memakai teleponmu?.” Tanya


Elena yang tak habis pikir, inilah alasan terbesar Rendra merengek padanya,


bahkan Kenzo yang merupakan sahabat laki-laki itu membantu mereka untuk jauh


dari pria didepannya kini.


“Hari itu Harsha memang


memintaku berfoto bahkan memaksaku tersenyum untuk lebih meyakinkan seseorang


untuk memberikanku sebuah informasi.” Jawab Malviano yang sepertinya menyembunyikan


sesuatu.


“Sepenting apa informasi itu


sampai membuatmu melakukan segalanya demi hal itu.” Tantang Elena yang


sebenarnya sudah mendapatkan informasi ini dari Kenzo tentu saja, ia tak mungkinkan


memberi kesempatan Malviano hanya untuk melakukan hal yang sama.


“Kau tak perlu tau.” Ucap


Malviano yang menolak berbagi kesulitannya padanya.


“Kalau begitu jangan


salahkan aku, jika nantinya Rendra semakin membawa kami jauh darimu.” Ancam Elena


yang membuat Malviano kaget dibuatnya dan langsung terlihat dengan jelas bahwa ia


sangat ketakutan saat ini.

__ADS_1


“Kalian tega meninggalkanku


sendirian lagi.” Ucap Malviano setelah mengusap wajahnya dengan kasar.


“Kau yang memilih untuk tidak


melibatkan kami dalam kehidupanmu.” Ucap Elena tenang sebenarnya dalam hati ia


kaget orang setenang dan sekuat Malviano kini menunjukkan padanya berbagai


macam emosi.


“Bukan itu yang kumaksud.”


“Lalu?.” Tanya Elena memancing


Malviano mengutarakan apa yang ada dipikirannya, karena ia sangat ingin pria


yang sebenarnya masih menjadi suaminya ini berbagi segalanya padanya.


Cukup lama Malviano terdiam,


sepertinya ia mengalami perang batin dalam dirinya untuk memutuskan apakah ia


harus mengatakan apa yang terjadi pada Elena atau tidak. Dan juga ia harus memikirkan


konsekuensi apa yang akan dihadapinya setelah nantinya ia mengambil suatu keputusan


yang akan diambilnya.


“Harsha bersedia


membantuku, jika aku mengikuti apa yang ia mau.” Ucap Malviano setelah menghela


nafas panjang, sepertinya ia sudah memutuskan untuk memberitahukan pada Elena.


“Apakah harus Harsha?.” Tanya


Elena pelan, ia berusaha agar Malviano lebih percaya padanya.


“Ya hanya ia yang tahu


dan memiliki akses untukku agar lebih dekat dengan orang tersebut.” Jawab Malviano.


“Bukankah kau juga


mempunyai kekuasaan?.” Lagi-lagi Elena bertanya penuh kehati-hatian.


“Jika aku bisa tak mungkin


menantang Elena untuk lebih mendebatnya dalam keputusan yang sudah diambilnya.


Tentu saja mendengar hal itu


Elena semakin merasa kecil bahkan orang seperti Malvianopun tak cukup mampu


untuk menghadapi masalahnya. Lalu kini pria itu pun sepertinya tak ingin berbagi


dengannya, apakah sebenarnya yang bisa Elena harapkan dalam keadaan yang seperti


ini.


“Lalu jika Harsha memang


begitu berarti, mengapa kau bahkan mencari keberadaan kami?.” Tanya Elena putus


asa.


“Karena kalian adalah


keluarga bagiku.” Ucap Malviano singkat.


Mendengar hal itu sontak


membuat Elena tertawa dengan lepas, ia tertawa kerasa tanpa tahu apakah dia


tertawa bahagia atau tertawa karena begitu sedih. Cukup lama Elena tertawa


tanpa tahu apakah Malviano akan menganggapnya gila ataupun hal yang lebih buruk


dari hal itu.


“Maaf.” Ucap Elena seketika


menghentikan tawanya.


“Kau baik-baik saja?.” Ucap


Malviano terheran-heran menatap Elena begitu lekat.


“Bolehkah aku bertanya


sekarang.” Ucap Elena kembali memasang wajah penuh keseriusan.


“Tentu.” Ucap Malviano


yang masih tak yakin apakah Elena dalam keadaan yang baik-baik saja saat ini.

__ADS_1


“Menurutmu apa itu definisi


sebuah keluarga?.”tanya Elena singkat.


“Keluarga bagiku…” ucapan


Malviano langsung terhenti.


“Ya, arti keluarga bagimu.”


Tanya ulang Elena.


“Aku, kau dan Rendra….” Ucap


Malviano semakin tak yakin sedang berbicara apa.


“Kita memang sudah menikah,


kau ayahnya, dan aku ibunya lalu kita mempunyai seorang anak yang bernama Rendra.


Apakah menurutmu yang seperti itu sebuah keluarga?.” Pancing Elena.


“Ya…” ucap Malviano yang


cukup terkejut mendengar perkataan Elena.


“Kau yakin tak ingin


menambahkan sesuatu?.”


“Kau tahu Elena, aku


sudah tak mempunyai sebuah keluarga sejak seusia Rendra menemukanku.” Ucap Malviano


mencoba meminta pengertian Elena bahwa ia tak cukup yakin apa itu arti dari


sebuah keluarga.


“Aku tahu itu, tapi aku


juga harus yakin apakah kau benar-benar menginginkan kami sebagai sebuah


keluarga?.” Jawab Elena yang malah berganti menjadi sebuah pertanyaan.


“Mengapa kau malah


menanyakan hal itu?.” Ucap Malviano kembali tak mengerti apa yang sedang Elena ingin


utarakan padanya.


“Aku hanya tak ingin


Rendra mengalami hal yang sama.” Jelas Elena lagi-lagi ia memulainya denagn helaan


nafas panjang, yang mendakan betapa frustasinya ia ketika menjelaskan pada Malviano.


“Rendra?”


“Kau hanya menganggap kami...”


ucap Elena yang binggung harus mengutarakan maksudnya seperti apa. “Lebih


jelasnya kau hanya memerlukan bantuan Rendra.” Ya itu kata yang tepat yang


harus Elena utarakan pada Malviano.


Mungkin perkataan itu


sangat menyinggung baik baginya ataupun bagi Malviano. Baginya adalah karena ia


ingat dengan jelas Malviano hanya akan baik pada mereka jika Rendra berhasil


memuaskan dahaga Malviano dalam hal kesuksesan perusahaan.


Sedangkan bagi Malviano


adalah perkataan Elena mungkin akan menyentil hatinya sebagai ayah dari anaknya


itu. Bayangkan saja usia Rendra tak lebih dari Lima tahu saat itu, akan tetapi


mengapa Malviano begitu bergantung pada anaknya itu.


“A…Aku… tak pernah


mengangap kalian seperti itu.” Bela Malviano yang sebelumnya masih kaget dan


mencerna baik-baik apa yang dimaksud oleh perkataan Elena.


“Lalu? Apakah bisa kau


jelaskan padaku? Mengapa kau bahkan repot-repot harus mencari keberadaan kami?.”


Ucap Elena yang sudah merasa putus asa akan nasib keluarga ini


“Kalian… Bagiku…” ucap


Malviano terpotong-potong.

__ADS_1


__ADS_2