Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 5 Pengertian?


__ADS_3

“Mom..” Rendra kembali merengek ketika Elena tak memberikan jawaban apapaun.


“Bukankah kau sudah mendapat ijin dari Dad?” ucap Malviano bersuara mendekati Rendra.


“Tapi Mom belum memberi ijin Dad.” ucap Rendra.


“Mulai saat ini jika Dad sudah memberi ijin berarti kau sudah dapat ijin.” Ucap


Malviano terdengar begitu marah hingga wajahnya yang berubah warna menjadi merah.


Rendra yang tak pernah melihat sisi Malviano yang seperti ini, membuatnya mendekati


Elena. Ia sepertinya ketakutan karena ia menarik baju Elena cukup kuat oleh tangan kecilnya.


Elena mengerti apa yang dirasakan anaknya itu, memang dia mengajarkan pada Rendra,


bahwa ia harus selalu meminta ijin kepadanya, jika ia ingin melakukan sesuatu hal karena


itu Riandra jadi terbiasa sampai bahkan yang melekat padanya sampai saat ini. Tapi sepertinya ia harus bisa merubahnya Karena keadaan sudah berubah dengan adanya


Malviano yang merupakan ayah kandungnya.


Malviano harusnya tak terlalu meributkan hal itu sampai memarahi Rendra langsung,


menginggat pertemuan mereka belum genap satu bulan. Elena semakin dilema apakah


sanggup ia membagi Rendra pada Malviano yang sebelumnya tak pernah diberikan


tanggung jawab mengurus seorang anak.


“Rendra sayang, apa yang dikatakan Dad benar bukankah kini kau mempunyai seorang


daddy?” ucap Elena mencoba memberi pengertian.


Elena harus menyoba memberi contoh yang baik dalam berbicara pada anak kecil, apalagi


anaknya termasuk anak yang cukup pintar hal yang terpenting yang harus


ditanamkan dalam benak mereka hanyalah bahwa Ayah dan ibunya menyayangi mereka


walaupun mereka berbuat salah sebesar apapun.


“Rendra sekarang sudah punya Daddy.” Ulang Rendra sambil menatap sedikit takut pada


Malviano.


Melihat Rendra yang ketakutan pada Malviano membuat pria itu sedikit tersentak,


sepertinya pria itu sadar apa yang diperbuatnya tadi menghilangkan kepercayaan


Rendra padanya. Wajahnya yang tadinya memerah kini sudah kembali seperti biasa


malah hampir berwarna pias mungkin pria itu takut Rendra tak menerima


kehadirannya kembali.


“Dad tidak marah pada Rendra, tapi Dad hanya ingin mengatakan mulai hari ini dan


seterusnya, Rendra boleh melakukan hal apapun jika sudah dapat ijin dari Dad


tanpa harus meminta ijin kembali pada Mom.” Ucap Elena menjelaskan apa yang


mungkin Malviano ingin katakana, walaupun jika memang Malviano bermaksud lain.


“Rendra tak menyukai Daddy?” tiba-tiba Malviano bertanya dengan nada yang terdengar


sedih ditelinga Elena maupun Rendra akan tetapi sedikit berbeda dipendengaran


Liam yang kini menunjukkan bahwa ia sedang terkejut dengan apa yang telah didengarnya.


“Rendra sangat menyukai Daddy.” Balas Rendra yang kini berjalan mendekati Malviano untuk memeluknya, walaupun pelukannya hanya bisa kepada kedua kaki pria itu


melihat perbedaan tinggi badan mereka yang cukup berbeda.


“Kalau begitu apakah Rendra mau berjanji akan mendengarkan apa yang Daddy katakana


mulai hari ini?” ucap Malviano dengan nada yang terdengar masih sedih sambil


melepaskan pelukan Rendra agar ia dapat duduk agar mereka lebih mudah dalam


berkomunikasi dengan menatap langsung pada mata Rendra.


“Rendra janji.” Ucap Rendra yang mengepalkan tangan kanannya berada didada kini ketika


mengucapkannya.


Mendengar hal itu cukup membuat Elena cukup hangat, karena sepertinya Malviano mengerti


maksud apa yang dikatakan Elena pada Rendra. Malviano dan Rendra harus cukup


banyak belajar satu sama lain jika mereka ingin terus bersama sebagai ayah dan


anak.


“Jadi apakah saya harus menyiapkan baju renang untuk kalian?” ucap Liam yang kini


sepertinya akan beranjak pergi mengambil apa yang dikatakannya.


“Rendra mau ganti didepan kolam atau ikut bersama paman Liam?” tanya Malviano.


“Ikut.” Ucap Rendra melirik Malviano untuk meminta ijin, ketika mendapat anggukkan setuju dari Malviano ia langsung berlari menghampiri Liam yang kini sudah berjalan pergi,


“Jadi” ucap Malviano yang sepertinya tak tahu apa yang harus dibicarakan lagi pada


ketika menyadari hanya ia dan Elena yang tinggal diruangan.


“Bolehkah aku meminta satu hal padamu sebelum aku pergi?” ucap Elena.


“..” tak ada jawaban dari Malviano yang membuat Elena semakin yakin bahwa pria


didepannya kini sangat hati-hati padanya.


“Sebagai ibu yang merawatnya seorang diri, aku hanya ingin kau menyayanginya seperti kau


menyayangi dirimu sendiri. Aku tahu kau ayah kandungnya, tapi seperti halnya


kau berhati-hati padaku, aku juga merasakan hal itu. Aku takut Rendra…” ucap


Elena.


Elena mencoba berbicara dengan Malviano apa yang diresahkan olehnya saat ini, ia tak


peduli jika Malviano semakin membencinya, lagi pula ia tak merasa adanya


kesempatan bagi mereka untuk bersama baik itu dalam kontek roman ataupun


persahabatan.


Kali ini Elena ingin memastikan bahwa Rendra akan mendapatkan kasih sayang dari seorang


ayah mulai detik ini, dengan cara yang benar. Ia tak ingin Malviano


memperlakukan putra kelak dengan cara yang kasar hanya karena Rendra yang tak


terbiasa dengan kehadiran Malviano.

__ADS_1


Meskipun memang benar Rendra sendirilah yang telah menemukan ayah kandungnya sendiri,


yang menunjukkan bahwa Rendra sangat menginginkan kehadiran Malviano. Tapi tak hal


itu tak menutup kemungkinan bahwa kelak anak itu akan sulit memahami keadaan


mereka kini karena usianya yang masih muda.


“Bisakah aku menghubungimu kapan saja?” ucap Malviano yang terdengar seperti malu-malu


ketika mengatakannya.


Sementara Elena hanya bisa menatap Malviano tanpa ingin menjawab dari sebuah pertanyaan


yang begitu tiba-tiba, Elena hanya bisa melihat tingkah laku Malviano yang


setelah mengatakan itu hanya bisa mengaruk belakang kepalanya sambil


menundukkan kepalanya.


“Mungkin nanti aku akan memerlukannya untuk bertanya segala hal tentang Rendra.”


Jelasnya pelan.


“Tentu..tentu saja…. Kau bisa menghubungiku kapan saja.” Jawab Elena terbata-bata.


Memangnya apa yang Elena harapkan, apakah tadi ia mengharapkan adanya sebuah ajakan yang


menjurus kepada sebuah hubungan yang lebih dekat. Tadi sempat Elena memikirkan


kata yang tepat untuk menolak permintaan tersebut, mengingat bahwa mereka baru


saja bertemu.


Bukan tanpa sebab Elena memikirkan hal tersebut, ia mendapatkan ide itu ketika


melihat tingkah laku Malviano yang akan membuat siapapun akan merasakan hal


yang juga ia rasakan. Ucapan dan tingkah laku Malviano tadi, bagaikan ajakan


untuk memulai sebuah hubungan yang mungkin lebih dekat, lebih tepatnya seperti


seorang pria yang ingin menyatakan bahwa pria itu ingin mendekatimu.


“Terimakasih, maaf sebelumnya aku mungkin menyinggungmu.” Jelas Malviano.


“Aku mengerti, jika aku berada diposisimu aku juga kan berkata seperti itu.” Ucap Elena begitu


mengerti apa yang ingin diucapkan oleh Malviano.


Elena sepertinya sudah salah sangka sebelumnya, mungkin Malviano cukup mampu untuk


menjadi ayah yang sempurna bagi Rendra. Pertemuan mereka yang tak biasa dan


juga keadaan mereka mungkin membuat segala sesuatu menjadi seperti ini, ia


harusnya lebih bersyukur karena pria didepannya menerima Rendra dengan baik.


“Aku harus belajar lebih banyak tentang Rendra padamu.”


“Tentu kau bisa tanyakan apa saja.”


“Dan juga aku berterimakasih padamu.”


“Berterimakasih?”


“Ya terimakasih karena kau telah melahirkan dan merawatnya dengan baik.”


Ucapan Malviano terdengar begitu tulus. Membuat Elena merasa begitu dihargai dengan


apa yang memang seharusnya ia lakukan. Entah apa  yang memang telah menjadi tangung jawabnya tapi mendengar ucapan terimakasih dari mulut orang lain membuatnya begitu terharu hingga membuatnya seperti ingin menangis.


ingin membuatnya mempermalukan dirinya sendiri ketika nantinya ia menjadi terlalu berharap akan adanya hubungan antara dirinya dan Malviano.


Sikap Malviano yang menjadi lemah lembut seperti ini bisa saja membuat orang salah


paham. Contohnya ia begitu saja menerima anak yang sudah dikandung oleh seorang


perempuan yang tidak diketahui sebelumnya.


Dengan kekayaan dan ketampanan yang dimiliki Malviano, seharusnya tak sulit bagi pria


itu untuk bisa menyingkirkan keberadaan mereka dengan cepat. Apalagi Malviano


tidak mempunyai orang tua, yang mungkin akan menentang keputusan yang diambilnya.


“Kau tak ikut berenang bersama kami?” tawar Malviano.


“Aku tak bisa berenang.” Elena mengakui, dan juga ia tak ingin semakin berharap pada


Malviano yang mungkin hanya memperlakukannya secara biasa.


“Aku bisa mengajarimu.”


“Oh ayolah, jangan katakana hal itu.” Batin Elena menjerit yang tak mungkin


diucapkan dengan keras karena ia akan sangup mengatakan alasannya “Maaf hari


ini aku ada janji, sebaiknya aku bergegas pulang.” Dan hanya kebohongan itu


yang bisa ia katakana sebagai gantinya.


“Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan mengambil kunci mobil..”


“Tidak perlu.” Ucap Elena cukup keras ketika menyadari ucapan Malviano yang sepertinya


kan mengantarkannya pulang.


Teriakan Elena yang tiba-tiba dan cukup keras membuat Malviano membuatnya terdiam dan


membuat suasana diantara mereka berubah menjadi canggung kembali.


“Maaf, maksudku, kau tidak usah repot-repot, lagi pula jika kau mengantarku pulang,


Rendra…” ucap Elena yang mencoba menjelaskan tanpa menyinggung Malviano lebih


jauh.


“Kau benar, kau ingin menemuinya sepertinya mereka terlalu asik didalam sana.”


Rendra memang terlalu lama pergi dengan Liam hanya untuk menganti pakaian mereka,


sepertinya bukan hanya ganti baju yang mereka lakukan. Mungkin saja didalam


sana Rendra sedang asik menjelajah rumah ayahnya atau mungkin Liam yang malah


menawarkan.


“Jika kau tak keberatan, aku lebih suka kau memanggil kemari? Aku ingin mengatakan sesuatu


sebelum meninggalkannya.” Ucap Elena pelan.


“Tentu tunggu sebentar.” Ucapnya sambil pergi.


Bukan maksud Elena untuk memerintah Malviano, tapi ia yang tak ingin mengetahui

__ADS_1


perbedaan besar antara mereka yang mungkin akan membuat Rendra nantinya akan lebih


nyaman berada dirumah ini. Melihat dari ukuran ruang tamu yang berukuran


sebesar rumahnya lah yang menjadi landasan pemikiran Elena.


“Mom… Mom akan pulang.” Ucap Rendra sambil berteriak menghampiri Elena.


“Ya.” Ucap Elena kini berjongkok untuk menyetarakan tinggi badan mereka.


“Kalau begitu tunggu sebentar Rendra ganti baju lagi.”


“Bukan kah kau ingin berenang?”


“Tapi Mom akan pulang..”


“Bukankah disini ada Dad?”


“Tapi..”


“Kau tak ingin menghabiskan waktu bersama Dad.” Ucap Malviano yang kini sudah ada


dibelakang mereka.


“Bukan begitu Dad, tapi Mom..”


“Sayang, Tante Sandra menunggu dirumah.” Ucap Elena mencoba membuat alasan yang mungkin


diterima oleh Rendra, karena anak itu sudah tahu alasan Elena jika sudah


mengucapkana Tante Sandra.


“Bukankah Tante Sandra baru datang Besok lusa untuk buku baru.”


Elena merutuki otak Riandra yang begitu ingat jadwal kedatangan Sandra yang memang


belum waktunya. Disaat yang seperti ini Elena sangat berharap bahwa anaknya tak


terlalu pintar, memang aneh ada seorang ibu yang berharap anaknya kurang


pintar. Tapi disaat yang seperti ini Elena sangat berharap hal itu terjadi.


“Tante Sandra tadi menelpon bahwa ia ingin Mom melihat-melihat dulu buku yang nantinya


akan Mom ambil.” Alasan yang luar biasa yang keluar dari mulut Elena, yang


biasanya jarang terjadi.


“Benarkah?”


“Kau tak perlu khawatir jika nanti Rendra rindu Mom, kau bilang saja pada Dad atau Om


Liam untuk mengantarkanmu atau menelpon Mom.”


“Tapi kau tak akan merasakan hal itu jika kau sudah melihat kolam renang dirumah ini.”


Bujuk Malviano yang kini mendekati Rendra sambil mengulurkan kedua tangannya.


Melihat kedua tangan yang terulur terbuka membuat Rendra langsung mendekati dan masuk


kedalam gendongan Malviano. Elena bisa melihat bahwa Rendra sangat menginginkan


hal itu sejak lama, dan ketika hal itu terjadi sepertinya anak itu tak akan


melewatkan kesempatan itu walaupun Elena akan meninggalkannya.


“Kalau begitu Mom sudah bisa pulang sekarang?” tanya Elena.


“Ya.” Ucap Rendra dengan raut sedih.


“Berjanjilah Rendra tak akan merepotkan Dad dan Om Liam selama tak ada Mom.” Ucap Elena yang


mendekati Rendra yang berada digendongan Malviano.


“Rendra janji Mom.”


“Anak pintar, kalau begitu Mom pamit.” Ucap Elena sambil mengacak-acak rambut Rendra.


“Kau bisa percayakan padaku.” Ucap Malviano yang sepertinya melihat kecemasaan Elena yang


tak juga beranjak dari posisinya walaupun sudah berpamitan pada anak mereka.


Elena yang mendengarnya langsung tersentak menyadari apa yang dilakukannya terlihat


jelas oleh Malviano. Elena melihat Malviano yang kini tersenyum menyakinkannya


bahwa ia bisa dipercaya untuk merawat Rendra, walaupun sebenarnya ia hanya akan


menghabiskan waktu berdua hanya beberapa jam kedepan.


“Aku akan menghubungimu kalau ada sesuatu hal terjadi padanya.” Ucap Malviano yang


sepertinya harus mengatakan dengan lantang agar Elena bisa pergi dengan tenang.


“Kau berjanji?”


“Ya.”


“Aku akan langsung kemari jika hal itu terjadi.”


“Kau tau aku bahkan tak akan membiarkan hal itu pada anakkukan.” Ucap Malviano yang


kini  sepertinya cukup tersinggung dengan


perkataan Elena.


“Baik lah kalau begitu aku pamit, jaga dia untukku.”


Dengan hati yang berat Elena terpaksa harus pulang sendiri, meninggalkan Rendra bersama Malviano ayah


kandungnya. Orang-orang akan mengangapnya lucu melihat keengganannya yang


terlalu berlebihan saat ini, tapi kau mungkin juga akan merasakan hal yang sama


jika kau berada diposisinya saat ini,


Rasanya Elena tak ingin langsung pulang, apalagi kini ia akan sendirian dirumah, dan


itu akan membuatnya semakin memikirkan hal-hal yang tidak-tidak. Entah sudah


keberapa ratus helaan nafas berat yang keluar dari mulutnya keluar terdengar


begitu putus asa bagi mereka yang mendengarnya.


Elena kini telah berada dibangku kosong yang berada disebuah taman yang sepertinya


kini sedang dipenuhi sekumpulan keluarga yang sedang menikmati kebersamaan


mereka. Kondisi bangku yang kosong mungkin karena tempatnya yang tak terlalu


popular dengan keberadaan tikar yang mereka pakai saat ini.


Orang-orang mungkin lebih nyaman berada duduk ataupun rebahan diatas tikar, bercanda riang


bersama keluarga mereka atau bersama pasangan mereka ditemani bekal yang

__ADS_1


sebelumnya mereka siapkan penuh cinta. Melihat mereka semua membuat Elena


semakin merasa hidupnya semakin miris.


__ADS_2