
Ketika Elena semakin mendekat,
kedua pria itu sontak berdiri menatap kepadanya, sementara Rendra yang berada digendongan
Elena malah menyembunyikan wajahnya dileher Elena. Seperti nya anak itu masih cukup
engan untuk bertemu dengan Malviano, tapi Elena terus mendekat kepada pria itu
dan menduduk diri berasama Rendra disebrang Malviano berdiri.
“Hanz bisakah kau meninggalkan
kami?.” Tanya Elena yang tertuju pada pria itu dan pria itu langsung pergi
kekamarnya setelah menganggukkan kepalanya.
Sementara Malviano kini duduk
kembali diposisinya semula, ia hanya diam menunggu sambil menatap pada Elena dan
Rendra. Elena bisa melihat jelas bahwa Malviano semakin cemas dan takut ketika
baik Elena dan Rendra tak juga memulai percakapan.
Mulutnya bergerak-gerak mungkin ia
ingin memulai percakapan lebih dulu akan tetapi tak ada satupun yang berhasil
keluar dari mulutnya, yang dilakukannya hanya menelan ludahnya. Melihat itu
Elena hanya bisa menghela nafas lelah, sebenarnya Elena ingin meninggalkan
Rendra bersama Malviano berdua. Akantetapi pelukkan Rendra padanya kini semakin
mengerat.
“Bukankah Rendra sudah berjanji
pada Mom.” Akhirnya Elena membujuk anaknya untuk berbicara pada Malviano
duluan.
“Mom..” bisik Rendra.
“Kau ingat jika ada seseorang
yang tak menepati janjinya?.” Ucap Elena mengingatkan apa yang dulu pernah ia
ajarkan tentang pentingnya menepati janji.
“Orang itu akan mendapatkan
sesuatu yang buruk dalam kehidupannya mendatang.” Jawab Rendra dan kini ia
berbalik kearah Malviano.
“Rendra.” Ucap Elena pelan menegur
anaknya yang hanya diam tak mengatakan apapun.
“Maaf Dad.” Ucap Rendra pelan.
“Kalau kau mengatakannya dengan
suara sepelan itu, bahkan Mom yang berada dibelakangmu tak cukup jelas
mendengar apa yang kau ucapkan.” Tegur Elena.
“Itu tak apa Elena, aku bisa
mendengarnya.” Ucap Malviano yang sepertinya cukup senang dengan apa yang diucapkan
oleh anaknya pada dirinya.
“Biarkan Rendra melakukannya
dengan benar.” Ucap Elena penuh ketegasan, ia tak ingin nantinya Rendra akan
terbiasa meminta maaf dengan cara yang seperti itu.
“Maafkan Rendra Dad, karena tadi
Rendra sudah tidak sopan pada Dad.” Ucap Rendra yang terdengar kini lebih tulus
dan juga denga suara yang lebih keras.
“Dad memaafkan Rendra, Terimakasih
__ADS_1
sudah mau berbicara lagi pada Da.” Ucap Malviano yang kini terlihat begitu lega
bahkan Elena bisa melihat matanya berkaca-kaca.
“Tapi Rendra masih belum
memaafkan Dad.” Ucap Rendra yang kini membelakangi ayahnya kembali.
Wajah Malviano kembali muram
mendengar pekataan Rendra padanya, sementara Elena hanya bisa tersenyum kecil
memberikan semangat pada pria itu agar tak menyerah untuk membujuk anaknya. Untunglah
pria itu bisa memahami apa yang sedang Elena coba katakana lewat matanya.
“Dad sebenarnya langsung mencari
Rendra dan Mom pada hari keberangkatan kalian kekota ini, Dad sepertinya
terlalu terlambat hingga kalian benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak
apapun yang bisa membantu Dad menemukan kalian.” Jelas Malviano. “Dad bahkan
sudah mencari diseluruh Terminal, Bandara, Dermaga, Hotel, Penginapan, Villa, rumah
sakit, bahkan Rumahduka.” Tambahnya dan perkataannya begitu tercekat ketika
mengucapkan kata-kata terakhirnya.
“kami pergi naik pesawat.” Ucap Elena
yang tak mengerti mengapa Malviano tak bisa menemukan mereka jika pria itu
mencari sampai ke Bandara.
“Apakah kalian mengunakan identitas
palsu?.” Tanya Malviano yang sebenarnya juga penasaran mengapa pihak bandara
tak menemukan nama Elena dan Rendra diseluruh data yang mereka miliki.
“Tentu saja kami tidak.” Ucap Elena
yang ingat karena ia sendirilah yang memberikan pada petugas data-data yang diperlukan
“Kau yakin.” Ucap Malviano yang
terlihat ragu dengan perkataan Elena.
“Mom bukan pembohong.” Ucap Rendra
yang terdengar marah akan ucapan ayahnya.
“Tentu saja Dad tidak menuduh Mom
seperti itu, hanya saja Dad ingin tahu apakah Mommu mengingat sesuatu yang
berbeda.” Ucap Malviano yang begitu terbata-bata karena kaget dengan kemarahan
anaknya.
“Tak semua perusahan memberikan
data penumpang mereka, meski sedang terdesak oleh kekuasaan orang lain.” Ucap Rendra
yang kini berbicara menghadap langsung pada Malviano.
“Jadi mereka berbohong.” Ucap
Malviano yang mengerti mengapa sangat sulit dalam mencari keberadaan istri dan
anaknya.
“Bukan berbohong tetapi melindungi,
mereka melindungi keselamatan penumpang mereka.” Ucap Rendra kembali.
“Jadi karena itulah mengapa Dad
sangat lama dalam menemukan kalian.” Ucap Malviano yang kini terlihat lega ketika
mengatakan kebenaran dari alasannya yang tak cukup cepat dalam menemukan
keluarganya.
“Dad benar-benar mencari kami?.” Ucap
__ADS_1
Rendra yang kini terlihat ragu apakah harus mempercayai ayahnya atau tidak.
“Kalau kau tak percaya kau boleh
tanya Om Liam atau Om Kenzo.” Ucap Malviano yang kini terlihat bersemangat kembali
karena Rendra berbicara langsung padanya.
“Dimana mereka?.” Ucap Elena
pura-pura tak mengertahui apapun.
“Liam… aku… meninggalkannya
karena urusan perusahaan, sedangkan Kenzo… ia… ia sepertinya ia juga marah
padaku.” Ucap Malviano menjelaskan keadaannya yang berusaha menemukan
keluarganya sendirian tanpa bantu siapapun.
Elena sebenarnya sudah mengetahui
hal ini dari Kenzo, bahwa Kenzo dan Liam membiarkan Malviano berusaha sendiri
agar pria itu tau betapa sulitnya mencari sesuatu yang telah ia lalaikan. Yang nantinya
ia mungkin akan menghargai dan menjaga keluarganya dengan lebih baik.
Rendra kini turun dari pangkuan Elena
dan mendekat pada Malviano yang beberapa detik menatapnya kemudian merentangkan
tangannya. Melihat ia Rendra langsung masuk dalam pelukan Malviano yang kini
telah menangis bahagia karena anaknya sepertinya sudah memaafkan dirinya.
“Dad.” Ucap Rendra yang sepertinya
juga menangis didalam pelukan Maviano.
“Anak Dad yang paling sayangi.” Ucap
Malviano yang juga mengatakan hal itu dalam tangisan harunya.
Akhirnya baik Malviano dan Rendra
mereka kini sudah memaafkan satu sama lain, yang membuat Elena begitu lega,
mungkin hubungannya dan Malviano akan berakhir kapan saja dan mereka bebas
menjadi orang asing. Akantetapi ia tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi pada
hubungan ayah dan anak terutama itu adalah anaknya sendiri.
“Jadi kalian sudah memaafkan Dad?.”tanya
Malviano yang sepertinya ingin mendengar bahwa ia benar-benar sudah dimaafkan.
“Tentu, tapi dengan satu syarat.”
Ucap Rendra yang kini melihat langsung kedua mata ayahnya.
“Apapun akan Dad lakukan.” Ucap Malviano
yang terlihat begitu yakin tak peduli sesudah apa persyaratan yang akan diucapkan
oleh anaknya.
“Rendra tak ingin lagi bekerja
seperti saat itu.” Ucap Rendra dengan begitu yakin.
Meskipun terlihat kaget akan
perkataan anaknya tapi Malviano hanya bisa mengganggukan kepalanya tertanda ia
setuju dengan persyarat yang dibuat oleh anaknya. Ia tak akan pernah lagi
membuat anaknya jatuh sakit kembali karena keinginannya yang begitu egois akan
kelangsungan hidup perusahaannya.
“Janji kelingking.” Ucap Rendra
yang menyodorkan kelingkingnya yang kecil.
Melihat itu baik Malviano dan Elena
__ADS_1
kembali menyadari bahwa anaknya masihlah berusia enam tahun.