Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 35


__ADS_3

Ketika Elena semakin mendekat,


kedua pria itu sontak berdiri menatap kepadanya, sementara Rendra yang berada digendongan


Elena malah menyembunyikan wajahnya dileher Elena. Seperti nya anak itu masih cukup


engan untuk bertemu dengan Malviano, tapi Elena terus mendekat kepada pria itu


dan menduduk diri berasama Rendra disebrang Malviano berdiri.


“Hanz bisakah kau meninggalkan


kami?.” Tanya Elena yang tertuju pada pria itu dan pria itu langsung pergi


kekamarnya setelah menganggukkan kepalanya.


Sementara Malviano kini duduk


kembali diposisinya semula, ia hanya diam menunggu sambil menatap pada Elena dan


Rendra. Elena bisa melihat jelas bahwa Malviano semakin cemas dan takut ketika


baik Elena dan Rendra tak juga memulai percakapan.


Mulutnya bergerak-gerak mungkin ia


ingin memulai percakapan lebih dulu akan tetapi tak ada satupun yang berhasil


keluar dari mulutnya, yang dilakukannya hanya menelan ludahnya. Melihat itu


Elena hanya bisa menghela nafas lelah, sebenarnya Elena ingin meninggalkan


Rendra bersama Malviano berdua. Akantetapi pelukkan Rendra padanya kini semakin


mengerat.


“Bukankah Rendra sudah berjanji


pada Mom.” Akhirnya Elena membujuk anaknya untuk berbicara pada Malviano


duluan.


“Mom..” bisik Rendra.


“Kau ingat jika ada seseorang


yang tak menepati janjinya?.” Ucap Elena mengingatkan apa yang dulu pernah ia


ajarkan tentang pentingnya menepati janji.


“Orang itu akan mendapatkan


sesuatu yang buruk dalam kehidupannya mendatang.” Jawab Rendra dan kini ia


berbalik kearah Malviano.


“Rendra.” Ucap Elena pelan menegur


anaknya yang hanya diam tak mengatakan apapun.


“Maaf Dad.” Ucap Rendra pelan.


“Kalau kau mengatakannya dengan


suara sepelan itu, bahkan Mom yang berada dibelakangmu tak cukup jelas


mendengar apa yang kau ucapkan.” Tegur Elena.


“Itu tak apa Elena, aku bisa


mendengarnya.” Ucap Malviano yang sepertinya cukup senang dengan apa yang diucapkan


oleh anaknya pada dirinya.


“Biarkan Rendra melakukannya


dengan benar.” Ucap Elena penuh ketegasan, ia tak ingin nantinya Rendra akan


terbiasa meminta maaf dengan cara yang seperti itu.


“Maafkan Rendra Dad, karena tadi


Rendra sudah tidak sopan pada Dad.” Ucap Rendra yang terdengar kini lebih tulus


dan juga denga suara yang lebih keras.


“Dad memaafkan Rendra, Terimakasih

__ADS_1


sudah mau berbicara lagi pada Da.” Ucap Malviano yang kini terlihat begitu lega


bahkan Elena bisa melihat matanya berkaca-kaca.


“Tapi Rendra masih belum


memaafkan Dad.” Ucap Rendra yang kini membelakangi ayahnya kembali.


Wajah Malviano kembali muram


mendengar pekataan Rendra padanya, sementara Elena hanya bisa tersenyum kecil


memberikan semangat pada pria itu agar tak menyerah untuk membujuk anaknya. Untunglah


pria itu bisa memahami apa yang sedang Elena coba katakana lewat matanya.


“Dad sebenarnya langsung mencari


Rendra dan Mom pada hari keberangkatan kalian kekota ini, Dad sepertinya


terlalu terlambat hingga kalian benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak


apapun yang bisa membantu Dad menemukan kalian.” Jelas Malviano. “Dad bahkan


sudah mencari diseluruh Terminal, Bandara, Dermaga, Hotel, Penginapan, Villa, rumah


sakit, bahkan Rumahduka.” Tambahnya dan perkataannya begitu tercekat ketika


mengucapkan kata-kata terakhirnya.


“kami pergi naik pesawat.” Ucap Elena


yang tak mengerti mengapa Malviano tak bisa menemukan mereka jika pria itu


mencari sampai ke Bandara.


“Apakah kalian mengunakan identitas


palsu?.” Tanya Malviano yang sebenarnya juga penasaran mengapa pihak bandara


tak menemukan nama Elena dan Rendra diseluruh data yang mereka miliki.


“Tentu saja kami tidak.” Ucap Elena


yang ingat karena ia sendirilah yang memberikan pada petugas data-data yang diperlukan


“Kau yakin.” Ucap Malviano yang


terlihat ragu dengan perkataan Elena.


“Mom bukan pembohong.” Ucap Rendra


yang terdengar marah akan ucapan ayahnya.


“Tentu saja Dad tidak menuduh Mom


seperti itu, hanya saja Dad ingin tahu apakah Mommu mengingat sesuatu yang


berbeda.” Ucap Malviano yang begitu terbata-bata karena kaget dengan kemarahan


anaknya.


“Tak semua perusahan memberikan


data penumpang mereka, meski sedang terdesak oleh kekuasaan orang lain.” Ucap Rendra


yang kini berbicara menghadap langsung pada Malviano.


“Jadi mereka berbohong.” Ucap


Malviano yang mengerti mengapa sangat sulit dalam mencari keberadaan istri dan


anaknya.


“Bukan berbohong tetapi melindungi,


mereka melindungi keselamatan penumpang mereka.” Ucap Rendra kembali.


“Jadi karena itulah mengapa Dad


sangat lama dalam menemukan kalian.” Ucap Malviano yang kini terlihat lega ketika


mengatakan kebenaran dari alasannya yang tak cukup cepat dalam menemukan


keluarganya.


“Dad benar-benar mencari kami?.” Ucap

__ADS_1


Rendra yang kini terlihat ragu apakah harus mempercayai ayahnya atau tidak.


“Kalau kau tak percaya kau boleh


tanya Om Liam atau Om Kenzo.” Ucap Malviano yang kini terlihat bersemangat kembali


karena Rendra berbicara langsung padanya.


“Dimana mereka?.” Ucap Elena


pura-pura tak mengertahui apapun.


“Liam… aku… meninggalkannya


karena urusan perusahaan, sedangkan Kenzo… ia… ia sepertinya ia juga marah


padaku.” Ucap Malviano menjelaskan keadaannya yang berusaha menemukan


keluarganya sendirian tanpa bantu siapapun.


Elena sebenarnya sudah mengetahui


hal ini dari Kenzo, bahwa Kenzo dan Liam membiarkan Malviano berusaha sendiri


agar pria itu tau betapa sulitnya mencari sesuatu yang telah ia lalaikan. Yang nantinya


ia mungkin akan menghargai dan menjaga keluarganya dengan lebih baik.


Rendra kini turun dari pangkuan Elena


dan mendekat pada Malviano yang beberapa detik menatapnya kemudian merentangkan


tangannya. Melihat ia Rendra langsung masuk dalam pelukan Malviano yang kini


telah menangis bahagia karena anaknya sepertinya sudah memaafkan dirinya.


“Dad.” Ucap Rendra yang sepertinya


juga menangis didalam pelukan Maviano.


“Anak Dad yang paling sayangi.” Ucap


Malviano yang juga mengatakan hal itu dalam tangisan harunya.


Akhirnya baik Malviano dan Rendra


mereka kini sudah memaafkan satu sama lain, yang membuat Elena begitu lega,


mungkin hubungannya dan Malviano akan berakhir kapan saja dan mereka bebas


menjadi orang asing. Akantetapi ia tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi pada


hubungan ayah dan anak terutama itu adalah anaknya sendiri.


“Jadi kalian sudah memaafkan Dad?.”tanya


Malviano yang sepertinya ingin mendengar bahwa ia benar-benar sudah dimaafkan.


“Tentu, tapi dengan satu syarat.”


Ucap Rendra yang kini melihat langsung kedua mata ayahnya.


“Apapun akan Dad lakukan.” Ucap Malviano


yang terlihat begitu yakin tak peduli sesudah apa persyaratan yang akan diucapkan


oleh anaknya.


“Rendra tak ingin lagi bekerja


seperti saat itu.” Ucap Rendra dengan begitu yakin.


Meskipun terlihat kaget akan


perkataan anaknya tapi Malviano hanya bisa mengganggukan kepalanya tertanda ia


setuju dengan persyarat yang dibuat oleh anaknya. Ia tak akan pernah lagi


membuat anaknya jatuh sakit kembali karena keinginannya yang begitu egois akan


kelangsungan hidup perusahaannya.


“Janji kelingking.” Ucap Rendra


yang menyodorkan kelingkingnya yang kecil.


Melihat itu baik Malviano dan Elena

__ADS_1


kembali menyadari bahwa anaknya masihlah berusia enam tahun.


__ADS_2