
“Aku mengerti, sekarang kau temani Rendra disana dan tunggu aku akan memasak untuk kita,” Ucap Elena yang tak bisa lebih lama marah pada pria itu.
“Kau yakin tak ingin mendapat bantuan?”
“kau ingin kita berada didapur seharian?” tanya Elena.
“Kau benar, aku akan membuat dapur lebih buruk lagi,” Ucap Malviano yang kini tertunduk dengan lesu meninggalkan Elena sendirian.
Elena hanya membiarkan pria itu pergi dan melanjutkan pekerjaannya, ia sebenarnya tak bermaksud untuk menolak bantuan dari Malviano. Akan tetapi saat ini ia sudah sangat lapar dan ingin cepat memasak sesuatu untuk mengisi perutnya yang sejak tadi protes karena tak mendapatkan curry milik Rendra.
Mungkin lain kali Elena akan membiarkan malviano menemaninya bahkan ia mungkin harus mengajarkan pada pria itu cara memasak yang benar. Jadi jika pria itu tak lagi bersama dirinya ia mungkin akan bisa memasak tanpa membuat menghancurkan dapur.
Tapi sebenarnya pria itu tak harus belajar masak juga dengan keuangan yang dimilikinya makanan apapun pasti dapat dibelinya.
“Kau belum selesai?,” Ucap Hanz yang kini berjalan mendekat ke arah Elena.
“Aku minta maaf, aku harus membereskan ini dulu,” Ucap Elena yang masih sibuk memilah-milah apa saja yang harus dibuang atau dicuci.
“Aku tak tahu kalau rumah ini terkena gempa,” Tanya Hanz yang kini membantu Elena untuk mencuci barang-barang yang kotor.
“Tidurmu memang seperti kerbau jadi pantas saja kau tak bisa merasakannya,”
“Kau mengejek tidurku?,” ucap Hanz yang kini menghentikan aktifitasnya.
“Tidak itu kenyataan, lagi pula sebenarnya tidak ada gempa,” ucap Elena yang kini mengeluarkan bahan-bahan yang akan ia sulap menjadi makanan yang lezat.
“Sebagai permintaan maafmu padaku, aku ingin nasi goring tanpa wortel,”
“Kenapa juga aku harus meminta maaf?”
“Karena kau mengataiku kerbau,” terang Hanz sambil melanjutkan kembali aktifitas yang tadi tertunda.
“Dasar tidak tahu diri, haruskah kuperlihatkan cermin,” gumam Elena karena tak ingin Hanz tiba-tiba berhenti mengerjakan pekerjaannya karena ia marah dengan apa yang diucapkannya.
“Kau bilang sesuatu?” Hanz yang masih saja menyahut gumaman Elena.
“Tenang saja stock wortel habis, tak akan wortel dalam dua hari kedepan. Tapi jika kau sangat ingin aku akan membelinya setelah sarapan kita,” canda Elena yang sepertinya tak bisa menahan diri untuk menjahili Hanz terhadap ketidak sukaan pria itu terhadap wortel.
“Tidak terimakasih, aku akan mengabulkan apapun yang kau inginkan jika kau menghentikan membuatkan makanan untukku tanpa wortel didalamnya.” Jelas Hanz yang kini sudah selesai dan berlanjut membantu Elena dalam memotong bahan-bahan.
“Woooah kau sangat hebat,” ucap Elena ketika melihat keahlian Hanz dalam memotong bawang yang sangat kecil, bahkan ia sendiri tak akan bisa memotong bawang serapih itu.
“Aku kan punya sertifikat memasak,” terang Hanz dengan bangga.
__ADS_1
“Kau bisa memasak kalau begitu?”
“Tentu,”
“Jadi bisakah kali ini kau yang memasak?”
“Mengapa, aku sangat suka masakanmu,” jawab Hanz yang tak terima karena lagi-lagi ia kehilangan kesempatan dalam menyantap masakan Elena.
“Karena jika aku memaksakan memasak ketika aku sangat lapar seperti ini, biasanya rasanya tak akan seenak makanan normal pada umumnya, kau mengertikan maksud ucapanku?” jelas Elena sambil mendudukan diri disamping Hanz yang kini langsung mengambil alih tugasnya dalam memasak sarapan pagi ini.
Hanz terlihat cukup professional dibandingkan dengannya dalam memasak nasi goreng, Elena berada disana hanya untuk memberi arahan apa saja bahan yang dipakai tanpa harus menjelaskan lebih detail seperti sebanyak apa bahan yang digunakan, karena Hanz sepertinya cukup tahu mengunakan bahan-bahan dengan bijak.
“Aku hampir menyusulmu ketika Rendra sudah selesai menghabiskan sarapannya,” Ucap Malviano ketika melihat Elena mendekat membawa semangkuk nasi goreng ditangannya yang langsung diambil alih untuk diletakkan diatas meja.
“Rendra mana?” tanya Elena yang tak melihat keberadaan anak mereka.
“Mandi, ia mengatakan sudah cukup sehat untuk mandi sendiri,” jelas Malviano yang kini menyendokkan nasi goreng ke sebuah piring didepannya lalu diberikan untuk Elena.
“Terimakasih,” Ucap Elena yang langsung memakan nasi goreng buatan Hanz tanpa menunggu pria itu yang masih saja berada didapur karena ingin membuat satu makanan yang juga diinginkannya.
“Ini sangat enak Elena,” ucap Malviano ketika ia selesai menguyah nasi goreng suapan pertamanya.
“Terimakasih pujiannya,” balas Hanz yang kini mendekat kearah mereka sambil membawa pancake ice cream ditangannya.
“Mengapa kau menerima ucapan terimakasihku?” ucap Malviano yang hanya bisa menanyakan hal itu dan menyimpan protesnya yang lain untuk sementara.
“Tentu karena kau memuji masakan buatanku,” ucap Hanz yang kini tersenyum senang walau mulutnya penuh dengan nasi goreng yang baru saja masuk kedalam mulutnya.
“Elena,” ucap Malviano yang tak percaya perkataan pria itu dan meminta Elena untuk mengatakan kebenarannya.
“Iya ini masakan Hanz,” jawab Elena yang kini kedua matanya berbinar menatap pancake didepannya.
“Kau ingin memakan itu sekarang?” tanya Hanz yang langsung diangguki semangat oleh Elena.
Elena tak mungkin melewatkan memakan ice cream apalagi makanan itu kini berada didepannya. Katakanlah ia layaknya anak kecil yang selalu ingin memakan benda yang manis luar biasa itu, jika Rendra tahu perbuatannya ini.
Elena yakin anak itu pasti akan menganggap Elena temannya bukan lagi ibu dari anak itu karena melihat kelakukaan Elena yang berbeda saat dihadapkan dengan sebuah ice cream.
“Aku tak tahu kau sangat suka ice cream, hingga membuat wajah semanis ini,” ucap Malviano yang terpesona melihat wajah Elena yang sangat mengemaskan.
“Memangnya apa yang kau tahu tentang Elena?” sindir Hanz yang tak akan melewatkan kesempatan untuk menjatuhkan Malviano jika mendapatkan kesempatan emas seperti saat ini.
“Tentu saja aku tahu, Elena adalah istriku,” balas Malviano yang kini terlihat membanggakan status yang disandangnya.
__ADS_1
“Baiklah, biarku kutantang kau menjawab pertanyaana tentang istrimu ini.”
“Siapa takut,” Malviano jelas menerima tantangan Hanz.
“Tinggi badan?”
“158,” jawab Malviano dengan cepat, sementara Elena kaget jawabannya yang benar.
“Berat badan?”
“48,”
“Ukuran sepatu?” Hanz kembali menanyakan sesuatu yang sederhana tetapi bagi sebagian besar tak pernah bisa terjawab oleh pasangan mereka.
“36 kg,”
“Ukuran Baju?”
“S,”
“Celana?”
“28 cm,” jawab Malviano yang semakin bangga akan jawabannya yang benar.
“Baiklah yang satu ini aku yakin kau tak akan bisa menjawabnya,” tantang Hanz yang tersenyum penuh dengan ejakan.
“Taruhan,”
“Kau yakin?” tanya Hanz mencoba menantang Malviano untuk masuk kedalam jebakkannya.
“Tentu,” balas Malviano yang yakin mengetahui segala tentang Elena.
“Termasuk bekerjasama dalam proyek yang dulu kau tolak?”
“Setuju,”
“Baiklah dengarkan baik-baik,” ucap Hanz yang menunda-nunda dalam mengucapkan pertanyaannya.
“Cepatlah,” ucap Malviano yang tak sabar akan pertanyaan yang akan dilontarkan hanz tentang Elena.
“Berapakah… ukuran.. ****** ***** Elena?”
“Apa!?”
__ADS_1