
Bab 15
“Aku tak salah orang ternyata?” ucap Rosa yang berpura kaget sambil melihat dengan
matanya yang seperti memerhatikan tiap jengkal apa saja yang berada pada tubuh
Elena.
“Aku tak pernah tahu kau ada berada disini, bahkan diNegara ini?” Balas Elena yang
malah bertanya balik.
“Bagaimana kau tahu jika kau sibuk kabur dari keluarga yang kau miliki. Melihat apa yang
kau gunakan dan dari apa yang kau beli, sepertinya kau terlihat malah seperti
membuang keluargamu.” Ucap Rosa sesuai dengan dugaan Elena
“Aku tak pergi dari ibu jika yang kau maksud adalah keluargaku, hanya saja ibu
terlalu sibuk mengurus anaknya yang lain.” Ucap Elena.
Sebenarnya Elena adalah anak satu-satunya yang dimiliki oleh ibunya, ibunya adalah orang
tua tunggal setelah kematian Ayahnya karena suatu penyakit yang belum ada
obatnya saat itu. Elena dan ibunya yang ditinggal sang kepala keluarga tanpa
uang yang mencukupi kebutuhan mereka harus menumpang hidup pada adik kandung
dari sang ayah.
Paman John adalah orang yang cukup baik hingga bersedia menampung mereka yang terputus hubungan keluarga pada mereka ketika ayah Elena sudah meninggal. Tapi dengan kebaikan hati dan juga karena ia
termasuk orang yang cukup berada dia memberikan tempat tinggal, sekolah bagi
Elena bahkan kebutuhan makan bagi mereka.
Hal itulah yang membuat ibu Elena merasa tidak nyaman, karena kebaikan hati adik
dari Almarhum suaminya. ibu Elena yang tak mempunyai keterampilan dalam
menghasilkan uang hanya bisa membantu apapun yang bisa dilakukannya pada
keluarga tersebut, bahkan ia rela merawat Rosa lebih dari ia merawat Elena.
Dulu jika ada pertemuan orang tua yang waktunya berbarengan antara sekolah Elena
maupun sekolah Rosa yang berbeda tempat, ibu Elena rela meluangkan waktunya
hanya untuk Rosa karena kedua orang tua Rosa yang disibukkan oleh pekerjaan
mereka. Hal itu membuat Elena terpaksa menghadiri acara sekolah itu diantara
puluhan orang tua murid yang memang seharusnya berada disana.
Bahkan yang paling menyedihkan saat dulu ketika Rosa sakit, ibunya bahkan rela merawat
Rosa hampir dua puluh empat jam sampai menelantarkannya yang belum makan
seharian. Saat itu Elena ingat ia masih berusia dua belas tahun, kala itu hari
sudah sangat larut malam perutnya yang keroncongan karena belum ada yang masuk
kedalam mulutnya masih harus menahan rasa lapar tersebut karena ibunya bahkan
lupa memberikan uang saku untuk membeli apapun untuk bisa dimakannya.
“Kau benar ketika aku baru saja pulang ia bahkan menanggis terharu karena sudah lama
tak berjumpa denganku, ia bahkan tak sekalipun membahasmu yang ternyata sudah
pergi meninggalkannya selama lima tahun ini.” Ucapnya yang terdengar semakin
__ADS_1
menusuk perasaan Elena yang harus menahan rasa rindunya selama lima tahun ini,
tetapi yang dirindukan oleh ibu kandungnya adalah orang lain.
“Benarkah kalau begitu?” ucap Elena berusaha terlihat baik-baik saja.
“Ya, ia bahkan langsung memasak semua makanan kesukaanku hari itu juga.” Ucapnya
semakin mendramatisir.
Siapapun orangnya yang berada diposisi Elena pasti merasakan rasa yang sangat sakit
mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Rosa. Elena hampir saja menangi
jika Rosa semakin menyombongan apa yang telah ibunya perbuat hanya untuknya.
Tetapi hal itu tidak sempat terjadi karena tiba-tiba saja ponsel Elena
berbunyi.
“Maaf.” Ucap Elena sambil mengangkat teleponnya dan sedikit menjauh dari Rosa untuk
menutupi apa yang akan dibicarakan oleh seseorang yang menghubunginya.
“Momm..” terdengar suara Rendra ketika Elena menerima panggilan tersebut.
“Ya.” Ucap Elena yang masih berusaha untuk menutupi kehidupannya saat ini, meskipun
hal itu tak akan berjalan lama karena ia kini sudah menikahi Malviano yang
mempunyai beberapa pengaruh yang hebat.
Tetapi melihat respon Rosa terhadap dirinya yang tidak terlalu berlebihan dalam
memojokkannya. Membuat Elena yakin Rosa masih belum tahu kehidupan yang sedang
dijalani Elena kini bahkan alasan utama mengapa ia kabur dari ibu kandungnya.
“Bisakah Mom jemput Rendra sekarang?” ucap Rendra.
“Terimakasih Mom.” Ucap Rendra langsung menutup panggilan telepon mereka.
Elena tiba-tiba merasa ada yang tidak beres dengan anaknya, tidak biasanya ia
menghubungi hanya untuk menjemputnya pulang. Elena harus secepatnya menemui
anaknya, ia langsung saja berlari meninggalkan Rosa yang masih setia menunggunya
menerima panggilan telepon bahkan iapun meninggalkan belanjaan yang sudah ia
pilih untuk dibelinya.
***
“Sayang.” Ucap Elena yang baru saja sampai didalam ruangan yang terdapat di gedung perusahaan ZRO.
“Mom..”
Mendengar suara Elena membuat Rendra langsung berlari memeluknya, anaknya terlihat sangat
kelelahan karena tak biasanya ia langsung memeluk Elena setelah ia mengenal
Malviano. Elena langsung mengecek kening Rendra untuk mengukur suhu badan yang
untunglah bukan karena alasan sakit, suhunya keningnya terasa normal untuk
ukuran orang yang sehat.
“Kenapa sayang?” ucap Elena yang mengendong Rendra untuk membawa anaknya pulang.
Rendra hanya mengelengkan kepalanya membuat Elena semakin binggung, ditambah diruangan
ini tak ada siapapun yang bersama anaknya. Biasanya Malviano menyuruh siapun
__ADS_1
untuk menjaga anaknya, tapi baik Malviano, bahkan Liam tak ada satu pun
kehidupan yang berada diruang itu.
Elena pun hanya bisa membawa Rendra pulang kerumah untuk saat ini dengan rasa
penasaran yang tinggi, tapi ia menahan diri agar tak bertanya pada Rendra saat
ini. Anaknya sepertinya memang butuh waktu untuk kepala kecilnya untuk
menceritakan apa yang terjadi pada dirinya.
Sesampainya dirumah Malviano yang kini bisa dibilang rumahnya juga, ia langsung membawa
Rendra kekamarnya yang sudah tertidur nyenyak ketika perjalanan pulang. Elena
tadi memutuskan pulang mengunakan taksi karena meskipun Malviano memberikannya
sebuah mobil untuknya tapi karena ia belum bisa mengendarainya benda itu malah
tergeletak begitu saja disudut rumah ini.
“Rendra..” terdengar teriakan Malviano dari arah pintu depan rumah yang membuat Elena yang
baru saja keluar dari kamar Rendra langsung berjalan tergesa-gesa menghampiri
sosok yang kini bisa dikatakan suaminya.
“Rendra tertidur.” Ucap Elena membuat gestur tangan yang menyuruh Malviano untuk tak
terlalu berisik.
“Bagaimana ia bisa pulang?” ucap Malviano yang kini terlihat lega, sepertinya mungkin ia
panik tidak menemukan anaknya diperusahaannya.
“Aku menjemputnya, ia tadi menghubungiku.” Jelas Elena.
“Kukira..” ucap Malviano yang kini merosot menjatuhkan tubuhnya pada sofa terdekat yang
berada didekatnya.
“Maaf aku langsung membawanya pulang tanpa menghubungimu.” Jelas Elena yang tak tega
membuat ayah dari anaknya itu terlihat sangat kalut seperti saat ini.
“Ya tak seharusnya ia memintamu untuk menjemputnya ketika situasi semakin serius
diperusahaan.” Ucap Malviano yang kini terdengar sangat menyalahkan apa yang
sudah Elena perbuat.
“Aku minta maaf…” ucap Elena yang sebenarnya tak mengerti maksud dari perkataan
Malviano tentang situasi diperusahaan.
Apakah mungkin perusahaan Malviano sedang dilanda suatu masalah dan tiba-tiba anaknya
menghilang membuat suami didepannya kini semakin frustasi? Jika benar
seharusnya tadi Elena menghubunginya ataupun Liam sebelum memutuskan membawa
Rendra pulang bersamanya.
“Kau membawa orang sepenting Rendra ketika kami sangat membutuhkannya.” Ucap
Malviano yang kini melonggarkan dasinya dan menatap Elena sinis.
Kata-kata itu membuat Elena mengerutkan dahinya tanda ia tak mengerti apa yang sebenarnya
terjadi pada Malviano dan perusahaanya yang membuat keberadaan Rendra sangat dibutuhkan
disana? Sebenarnya mengapa Rendra yang merupakan seorang anak yang masih berusia
__ADS_1
lima tahun begitu pentingnya untuk berada diperusahaan sebesar perusahaan Malviano?.