Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 56


__ADS_3

Mengoda Malviano ternyata membuat Elena lupa bahwa mereka harus siap-siap karena ia telah berjanji pada Rendra bahwa pagi ini mereka akan sarapan diluar.


Kali ini bukan hanya disuguhkan Malviano yang merajuk tapi Rendrapun membuat wajah yang sama persis seperti ayahnya karena menunggu Elena dan Malviano bersiap untuk siap pergi keluar rumah.


“Sayang kau ingin sarapan apa?” tanya Elena yang kini pusing sendiri menentukan dimana mereka akan sarapan pagi ini.


“Pizza,” jawab Rendra pendek dengan wajah menekuk membuat pipi yang masih bulatnya ingin sekali Elena gigit jika tidak lupa bahwa anaknya sedang merajuk padanya.


“Kau yakin ingin sarapan itu pagi ini?” tanya Malviano pelan yang tidak ingin anaknya memakan sesuatu yang tak sehat dipagi hari ini.


“Pilih saja yang diatasnya penuh dengan sayuran,” jawab Rendra yang sepertinya tidak akan menyerah untuk memakan pizza dipagi hari ini.


“Mom tak yakin tempat itu sudah buka, bukankah terlalu pagi untuk memakan sesuatu yang berat seperti pizza!” ucap Elena mencoba mengalihkan Rendra dari menu sarapan yang kurang cocok dimakan dipagi hari.


“Dad!” ucap Rendra yang kini terlihat merayu Malviano untuk mengabulkan keingginannya.


Bagi Elena sangat jarang Rendra menunjukkan perubahan wajah seperti ini, anaknya bagai Malviano versi mini yang sangat jarang mengeluarkan emosinya jika tak terlalu dekat atau nyaman dengan sekitarnya.


Pertama melihat Malvianopun Elena sudah menduga bahwa pria yang datang menghampirinya adalah ayah kandung dari putranya yang selama itu ia tak tahu siapa dan seperti apa wajahnya.


“Apapun yang kau inginkan,” ucap Malviano yang membuat Elena ingin meledak karena tak percaya bahwa suaminya telah menghiyanati dirinya karena kini ia tentu saja gagal membujuk Rendra untuk mendapatkan sarapan yang lebih sehat.


Malviano benar-benar membawa mereka kesebuah restoran itali yang seharusnya belum buka, tapi seperti pengalaman pertama Elena pergi makan diluar bersama Malviano, restoran manapun yang akan datanginya pasti akan selalu terbuka kapanpun ia mau.


“Sudah lama kita tak pulang, tidak kah kau, rindu dengan bubur ayam!” cicit Elena yang kini merasa jengkel pada anaknya sendiri.


“Kalian duduk saja dulu di sana ya,” perintah Malviano yang menunjukkan tempat duduk yang berada di pojok.


Restauran ini mempunyai penataan tempat yang begitu indah, lihat saja lantai yang transparant memudahkan mereka melihat ikan-ikan yang sedang berenang indah di bawah tempat mereka duduk.

__ADS_1


“Mom lihat ikan yang itu,” ucap Rendra yang sepertinya sangat antusias melihat hewan kesukaannya melintas di bawah kaki mereka.


Ketidak sukaan Rendra untuk memakan segala jenis makanan laut mungkin dikarenakan ia sangat menyukai hewan-hewan tersebut untuk dilihat dan dipelihara jika Elena menyetujuinya.


Akan tetapi karena rumah yang dipunyai Elena dulu cukup kecil untuk menyimpan sebuah aquarium, apalagi dulu ia disibukkan dengan tumpukkan buku-buku, hal itu mengharuskan Rendra untuk menerima keputusan Elena yang tak memungkinan ia memelihara hewan-hewan laut.


“Apakah Rendra boleh mempunyai mereka dirumah sekarang?” tanya Rendra yang tiba-tiba menanyakan hal tersebut.


“Kau masih tidak menyerah ya?”


“Tentu Mom, bukankah mereka sangat lucu, lihat mereka sepertinya sedang bertengkar,” ucap Rendra yang antusias sambil menunjukkan apa yang dimaksud olehnya.


Sementara Elena karena rumah yang menjadi tempat tinggal mereka kini bukanlah miliknya pribadi, atau mungkin rumah yang kini ditempatinya adalah tempat tinggal sementara.


Karena walaupun Malviano tadi malam mengatakan dengan jelas bahwa mereka kini benar-benar menjadi sepasang suami istri yang sebetulnya. Akan tetapi semua yang dimiliki oleh Malviano tetap saja bukan miliknya.


“Ada apa?” tanya Malviano yang langsung duduk disamping Elena saat ini.


“Kau dari mana?” tanya Elena yang penasaran mengapa Malviano langsung meninggalkan mereka cukup lama.


“Aku penasaran dengan perkembangan kasus Kenzo,” bisik Malviano pada Elena karena menurutnya lebih aman kalau anak mereka tak mengetahui urusan yang mungkin berbahaya baginya.


Mendengar itu Elena langsung merasa khawatir yang sangat banyak, karena jika sampai Malviano berbicara seperti itu bisa dikatakan kecelakaan Kenzo merupakan bentuk kesengajaan seseorang.


Walaupun sangat penasaran akan hal yang baru saja disampaikan oleh Malviano, tapi ia harus bisa menahan rasa penasarannya karena ia juga setuju bahwa anak mereka tak harus tahu tentang masalah orang dewasa yang rumit.


“Dad bolehkah Rendra memelihara ikan dirumah?” tanya Rendra yang kini terlihat semakin mirip anak seusianyai


“Dad tidak tahu ternyata kau sangat menyukai hewan laut,” jawab Malviano yang kaget akan permintaan anaknya yang tak biasa.

__ADS_1


“Kau lupa, dulu kita bahkan tak bisa pulang karena dia tak ingin beranjak dari kolam hiu,” ucap Elena yang mengingatkan kembali ingatan pertama dan terakhir kali mereka pergi bersama-sama.


“Maaf,”


“Jadi apakah Rendra boleh mempunyai mereka?” tanya Rendra yang tak mempersalahkan ingatan ayahnya, yang lebih penting baginya kini ia diperbolehkan memiliki tempat untuk memelihara hewan kesukaannya.


Dulu Elena ingat Rendra bahkan pernah bercerita bahwa jika ia sudah dewasa nanti, ia akan membuat rumahnya dipenuhi oleh ikan-ikan berenang dengan bebas pada dinding rumahnya.


Kala itu Elena langsung tertawa terbahak-bahak, karena bagaimana mungkin Rendra memikirkan hal yang seperti itu. Karena bukan hanya masalah tentang keuangan mereka yang kala itu bisa dikatakan tidak mungkin tapi juga karena alasan-alasan lain yang menurutnya benar-benar tidak mungkin bagi mereka.


“Apakah Rendra boleh punya?” tanya Malviano pada Elena yang membuatnya binggung mengapa pria itu bertanya padanya.


“Mom,” kini giliran Rendra kembali merengek padanya.


“Mom tak yakin Dad punya tempat untuk menyimpan mereka,” ucap Elena yang ragu karena baik Rendra dan Malviano yang salah satunya menatap penuh harap sementara yang lainya ia tak yakin harus mengatakan keputusan apa.


“Dad ....”


“Itu bisa diatur sayang, jika kau mengijinkannya kita bisa menghancurkan beberapa ruangan itu membuat itu,”


Mendengar itu Elena tak yakin lagi harus mengatakan apa sekarang, apakah Malviano sengaja memberikannya pilihan karena suaminya itu meminta ijin padanya.


Atau karena ia tak enak menolak permintaan anak mereka? Jadi Malviano berasikap seperti ini agar Elena dapat membujuk anak mereka karena keinginan yang tak biasa ini.


“Rendra janji jika Mom mengijinkannya kali ini Rendra akan bersedia masuk sekolah seperti teman-teman yang lain.” janji Rendra yang harus memutuskan sesuatu hal yang tak disukainya yaitu belajar akan sesuatu yang sudah dikuasai olehnya.


Menurutnya hal itu membuang-buang waktunya saja, enam sampai delapan jam yang ia gunakan untuk belajar biasanya ia pergunakan untuk membuat sebuah sistem bagi game yang menurut Om Hanz akan diluncurkan bulan depan.


Tapi demi ikan-ikan ia harus merelakan waktu enam jam itu untuk duduk manis mendengarkan ibu guru atau teman-temannya yang lain menemaninya belajar.

__ADS_1


__ADS_2