
“Bisakah kini kita membicarakan
masalah kita.”
Ucapan sederhana itu tiba-tiba
membuat ketakutan Elena kembali. “Sebaiknya kita berbicara diluar.”
“Lalu Rendra?.” Ucap Malviano
yang menyadari memang itu adalah pilihan tepat, mereka harus berbicara tanpa takut
tiba-tiba Rendra sadar dan mendengar percakapan mereka yang mungkin tak baik
untuk didengar oleh anak-anak.
Tapi mereka takut untuk meningalkan
Rendra sendirian, walaupun anak itu sedang tertidur karena pengaruh obat. Baik
Malviano dan Elena hanya bisa terdiam memikirkan apa yang harus mereka lakukan
saat ini. Pembicaraan mereka memang sangat penting mengingat banyak kesalah
pahaman dan juga terlalu lamanya waktu yang terbuang begitu saja.
“Hanz.” Ucap Elena yang tiba-tiba
mengingat pria itu tetapi ketika melihat Malviano ia malah mendapatkan
pelototan tajam.
“Haruskah?.” Tanya Malviano.
“Kau ada ide selain meminta
tolong padanya?.” Tanya Elena yang sudah kehabisan ide.
“Sebenarnya apa hubungan kalian?.”
Ucap Malviano yang sepertinya sudah sangat ingin menanyakan dari pertama kali
mereka bertemu kembali.
“Hubungan kami.” Ucap Elena yang
tak mengerti mengapa Mlaviano bertanya tentang hal itu.
“Sebaiknya kau hubungi dia saja
dulu, sepertinya kita memang perlu membahas tanpa terganggu oleh siapapun.” Ucap
Malviano setelah melirik Rendra yang sepertinya terganggu oleh suara mereka.
Elena pun langsung menghubungi Hanz,
dan untungnya pria itu menyanggupi untuk menemani Rendra selama ia berbicara
dengan Malviano. Setelah Kedatangan pria itu diruangan Rendra menginap, Malviano
langsung membawa Elena keluar dan mencari café yang ddekat dan tentu saja
nyaman untuk mereka mendiskusikan segalanya.
“Kau ingin pesan apa?.” Tanya
Malviano ketika baru saja duduk.
“Aku tak lapar.” Tolak Elena.
“Aku tahu kau bahkan belum sempat
sarapan.” Ucap Malviano setelah memesan makanan pada seorang pelayan.
“Kau tahu apa?.” Ucap Elena yang
entah mengapa kesal dengan ucapan Malviano yang mengatakan hal tersebut
seolah-olaj ia mengetahui segalanya.
“Jika kau lupa perutmu tadi sempat
berbunyi ketika kita berada didalam mobil.” Ucap Malviano.
Oh tidak.. Jadi Malviano
mendengar suara perutnya yang sudah berusaha ia sembunyikan dengan suara batuk
yang ia buat-buat. “Kau mendengarnya?.”
__ADS_1
“Jadi sekarang lebih baik kau
makan.” Ucap Malviano berbarengan dengan makanan pembuka yang dibawakan oleh
pelayan.
Elena tak bisa mengelak dan
langsung memakan makanan yang terlihat jelas dimatanya kini, ia sudah tak
peduuli bagaimana Malviano melihatnya yang makan dengan begitu lahap. Makanan
yang dipilihkan oleh Malviano tidak ada satupun yang tak ia sukai, sepertinya
Malviano sangat tau jenis-jenis makanan enak.
“Kau tidak makan?.” Ucap Elena
ketika menyadari Malviano belum sedikitpun memakan makanan yang tersedia didepannya.
“Sebenarnya tadinya aku berharap
dapat langsung memakan masakanmu kembali, tapi untuk saat ini sepertinya cukup makan
sambil melihatmu saja.” Ucap Malviano sambil menyuapkan makanan pertamanya.
Sebentar apakah Elena salah
dengar, apakah dihadapannya benar-benar Malviano atau ini semua hanya mimpi?. Karena
bagaimana mungkin seorang Malviano yang jarang sekali berbicara padanya selain
urusan Rendra, sekarang malah mengatakan seolah-olah ia berbicara pada kekasihnya.
“Ini enak sekali.” Ucap Elena
mencoba menyembunyikan rasa malu dan juga untuk menghentikan perasaan mengelikan
yang kini terjadi pada perutnya.
“Aku tau kau akan menyukainya.” Ucap
Malviano sambil tersenyum senang mendengar pilihannya disetujui olehnya.
“Jika aku benar, ini mengandung
wortel?.”
“Carrot? Wortel bukan.” Elena
memastikan dan hanya diangguki oleh Malviano. “Apakah susah untuk membuatnya.” Gumam
Elena yang berjanji akan mencari resepnya setelah ini.
“Kau ingin belajar?.” Tanya Malviano
yang tiba-tiba kelabakan mendengar hal tersebut.
Ingatan Elena kembali pada hari-hari
mereka masih bersama, kala itu mereka pergi kesebuah restoran karena hari itu Elena
belum sempat menyediakan makan malam karena hari itu ia menemani Rendra seharian
diperusahaan Malviano. Kala itu Elena begumam hal yang sama, yang entah mengapa
Malviano selalu saja dapat mendengar ucapannya.
Kala itu Elena mengiyakan bahwa ia
sangat ingin membuat makanan seenak yang dimakan direstoran tersebut. Keesokkan
harinya Malviano membawa chef restoran tersebut kerumah mereka, khusus untuk
mengajari Elena cara membuat makanan yang mereka makan direstoran kala itu.
“Tidak, aku akan belajar dari internet
saja.” Tolak Elena secara langsung.
Elena tentu saja langsung menolak
hal itu, ia memikirkan bagaimana nasibnya nanti jika ia harus belajar memasak
sebuah masakan yang ia bahkan tak dapat mengerti apa yang dijelaskan oleh chef
restoran ini. Lagi-lagi kendala bahasalah yang dicemaskan oleh Elena.
“Kau yakin?.” Tanya Malviano.
__ADS_1
“Tentu, didalam internet sekarang
sudah banyak orang-orang yang membagikan resep mereka secara jelas. Beberapa
dari mereka bahkan membuat langkah-langkah dalam bentuk video untuk memudahkan
kita meniru masakan mereka.” Jelas Elena yang tak ingin Malviano tetap nekad
menjalankan rencananya untuk membuat Elena langsung belajar memasak langsung
dari chef yang bekerja direstoran ini.
“Baiklah aku mengerti, tapi jika
kau berubah pikiran kumohon katakan saja langsung padaku.” Ucap Malviano.
Sepertinya Malviano kini terlihat
seperti ingin sekali Elena melibatkan apapun urusan yang terjadi padanya. Hal itu
membuat Elena sedikitnya berharap semoga saja ini adalah awal dari terjadinya
sebuah keluarga yang benar-benat utuh, sebuah keluarga yang benar-benar sebuah
keluarga.
“Bolehkah aku bertanya?.” Ucap Elena
yang memutuskan untuk bertanya terlebih dahulu.
“Tentu saja.”
“Darimana kau mengetahui aku
berada dinegara ini.” Ucap Elena yang sepertinya harus mengajukan pertanyaan itu
yang paling utama, meskipun ia sudah tahu sebelumnya dari Kenzo bahwa Malviano
sudah menemukan keberadaannya tapi mengapa secepat ini mereka dapat bertemu?.
“Aku mengerahkan semua detective
untuk mencari kalian, tentu saja.” Jelas Malviano.
“Benarkah?.” Ucap Elena yang kini
mensyukuri bahwa pilihan tepat untuk meminta bantuan Kenzo jika mereka
benar-benar ingin pergi dari kehidupan Malviano, jika mereka pergi hanya
mengandalkan usahanya saja. Dapat dipastikan kurang dari satu jam Malvian dapat
menemukan keberadaan mereka dengan mudah.
“Ya biasa mereka dapat menemukan
apa yang kucari tak lebih dari satu minggu tapi entah mengapa kali ini kalian
menghilang bagaikan ditelan bumi hampir berbulan-bulan. Hal itu sempat
membuatku berpikir kalian mungkin menghilang ke keluar angkasa.” Jelas Malviano
mengeluarkan semua kecemasannya selama ini yang dapat Elena lihat dari
ucapannya yang begitu terburu-buru dan penuh penyesalan.
“Keluar angka.” Mendengar hal itu
membuat Elena sangat senang, walaupun hanya sebuah khayalan sepertinya akan
sangat menyenangkan memikirkannya.
“Satu hari setelah kepergian kalian
aku langsung menyuruh orang-orang untuk mencari dari semua keberangkatan
kereta, kapal laut bahkan beberapa penerbangan akan tetapi tak ada satupun data
tentang kedatangan kalian.”
“Kau baru menyadari kepergian kami
setelah satu hari kemudian?.” Tanya Elena yang tiba-tiba tersinggung mendengar
penyataan Malviano.
“Ya satu hari, hari itu aku pergi
keperusahaan untuk bekerja tentu saja.” Ucap Malviano singkat.
__ADS_1
“Bekerja atau makan siang dengan
pacar barumu?.” Ucapan Elena penuh ia ucapakan dengan penuh penekanan.