Hallo Dad

Hallo Dad
Bab 27


__ADS_3

“Bisakah kini kita membicarakan


masalah kita.”


Ucapan sederhana itu tiba-tiba


membuat ketakutan Elena kembali. “Sebaiknya kita berbicara diluar.”


“Lalu Rendra?.” Ucap Malviano


yang menyadari memang itu adalah pilihan tepat, mereka harus berbicara tanpa takut


tiba-tiba Rendra sadar dan mendengar percakapan mereka yang mungkin tak baik


untuk didengar oleh anak-anak.


Tapi mereka takut untuk meningalkan


Rendra sendirian, walaupun anak itu sedang tertidur karena pengaruh obat. Baik


Malviano dan Elena hanya bisa terdiam memikirkan apa yang harus mereka lakukan


saat ini. Pembicaraan mereka memang sangat penting mengingat banyak kesalah


pahaman dan juga terlalu lamanya waktu yang terbuang begitu saja.


“Hanz.” Ucap Elena yang tiba-tiba


mengingat pria itu tetapi ketika melihat Malviano ia malah mendapatkan


pelototan tajam.


“Haruskah?.” Tanya Malviano.


“Kau ada ide selain meminta


tolong padanya?.” Tanya Elena yang sudah kehabisan ide.


“Sebenarnya apa hubungan kalian?.”


Ucap Malviano yang sepertinya sudah sangat ingin menanyakan dari pertama kali


mereka bertemu kembali.


“Hubungan kami.” Ucap Elena yang


tak mengerti mengapa Mlaviano bertanya tentang hal itu.


“Sebaiknya kau hubungi dia saja


dulu, sepertinya kita memang perlu membahas tanpa terganggu oleh siapapun.” Ucap


Malviano setelah melirik Rendra yang sepertinya terganggu oleh suara mereka.


Elena pun langsung menghubungi Hanz,


dan untungnya pria itu menyanggupi untuk menemani Rendra selama ia berbicara


dengan Malviano. Setelah Kedatangan pria itu diruangan Rendra menginap, Malviano


langsung membawa Elena keluar dan mencari café yang ddekat dan tentu saja


nyaman untuk mereka mendiskusikan segalanya.


“Kau ingin pesan apa?.” Tanya


Malviano ketika baru saja duduk.


“Aku tak lapar.” Tolak Elena.


“Aku tahu kau bahkan belum sempat


sarapan.” Ucap Malviano setelah memesan makanan pada seorang pelayan.


“Kau tahu apa?.” Ucap Elena yang


entah mengapa kesal dengan ucapan Malviano yang mengatakan hal tersebut


seolah-olaj ia mengetahui segalanya.


“Jika kau lupa perutmu tadi sempat


berbunyi ketika kita berada didalam mobil.” Ucap Malviano.


Oh tidak.. Jadi Malviano


mendengar suara perutnya yang sudah berusaha ia sembunyikan dengan suara batuk


yang ia buat-buat. “Kau mendengarnya?.”

__ADS_1


“Jadi sekarang lebih baik kau


makan.” Ucap Malviano berbarengan dengan makanan pembuka yang dibawakan oleh


pelayan.


Elena tak bisa mengelak dan


langsung memakan makanan yang terlihat jelas dimatanya kini, ia sudah tak


peduuli bagaimana Malviano melihatnya yang makan dengan begitu lahap. Makanan


yang dipilihkan oleh Malviano tidak ada satupun yang tak ia sukai, sepertinya


Malviano sangat tau jenis-jenis makanan enak.


“Kau tidak makan?.” Ucap Elena


ketika menyadari Malviano belum sedikitpun memakan makanan yang tersedia didepannya.


“Sebenarnya tadinya aku berharap


dapat langsung memakan masakanmu kembali, tapi untuk saat ini sepertinya cukup makan


sambil melihatmu saja.” Ucap Malviano sambil menyuapkan makanan pertamanya.


Sebentar apakah Elena salah


dengar, apakah dihadapannya benar-benar Malviano atau ini semua hanya mimpi?. Karena


bagaimana mungkin seorang Malviano yang jarang sekali berbicara padanya selain


urusan Rendra, sekarang malah mengatakan seolah-olah ia berbicara pada kekasihnya.


“Ini enak sekali.” Ucap Elena


mencoba menyembunyikan rasa malu dan juga untuk menghentikan perasaan mengelikan


yang kini terjadi pada perutnya.


“Aku tau kau akan menyukainya.” Ucap


Malviano sambil tersenyum senang mendengar pilihannya disetujui olehnya.


“Jika aku benar, ini mengandung


wortel?.”


“Carrot? Wortel bukan.” Elena


memastikan dan hanya diangguki oleh Malviano. “Apakah susah untuk membuatnya.” Gumam


Elena yang berjanji akan mencari resepnya setelah ini.


“Kau ingin belajar?.” Tanya Malviano


yang tiba-tiba kelabakan mendengar hal tersebut.


Ingatan Elena kembali pada hari-hari


mereka masih bersama, kala itu mereka pergi kesebuah restoran karena hari itu Elena


belum sempat menyediakan makan malam karena hari itu ia menemani Rendra seharian


diperusahaan Malviano. Kala itu Elena begumam hal yang sama, yang entah mengapa


Malviano selalu saja dapat mendengar ucapannya.


Kala itu Elena mengiyakan bahwa ia


sangat ingin membuat makanan seenak yang dimakan direstoran tersebut. Keesokkan


harinya Malviano membawa chef restoran tersebut kerumah mereka, khusus untuk


mengajari Elena cara membuat makanan yang mereka makan direstoran kala itu.


“Tidak, aku akan belajar dari internet


saja.” Tolak Elena secara langsung.


Elena tentu saja langsung menolak


hal itu, ia memikirkan bagaimana nasibnya nanti jika ia harus belajar memasak


sebuah masakan yang ia bahkan tak dapat mengerti apa yang dijelaskan oleh chef


restoran ini. Lagi-lagi kendala bahasalah yang dicemaskan oleh Elena.


“Kau yakin?.” Tanya Malviano.

__ADS_1


“Tentu, didalam internet sekarang


sudah banyak orang-orang yang membagikan resep mereka secara jelas. Beberapa


dari mereka bahkan membuat langkah-langkah dalam bentuk video untuk memudahkan


kita meniru masakan mereka.” Jelas Elena yang tak ingin Malviano tetap nekad


menjalankan rencananya untuk membuat Elena langsung belajar memasak langsung


dari chef yang bekerja direstoran ini.


“Baiklah aku mengerti, tapi jika


kau berubah pikiran kumohon katakan saja langsung padaku.” Ucap Malviano.


Sepertinya Malviano kini terlihat


seperti ingin sekali Elena melibatkan apapun urusan yang terjadi padanya. Hal itu


membuat Elena sedikitnya berharap semoga saja ini adalah awal dari terjadinya


sebuah keluarga yang benar-benat utuh, sebuah keluarga yang benar-benar sebuah


keluarga.


“Bolehkah aku bertanya?.” Ucap Elena


yang memutuskan untuk bertanya terlebih dahulu.


“Tentu saja.”


“Darimana kau mengetahui aku


berada dinegara ini.” Ucap Elena yang sepertinya harus mengajukan pertanyaan itu


yang paling utama, meskipun ia sudah tahu sebelumnya dari Kenzo bahwa Malviano


sudah menemukan keberadaannya tapi mengapa secepat ini mereka dapat bertemu?.


“Aku mengerahkan semua detective


untuk mencari kalian, tentu saja.” Jelas Malviano.


“Benarkah?.” Ucap Elena yang kini


mensyukuri bahwa pilihan tepat untuk meminta bantuan Kenzo jika mereka


benar-benar ingin pergi dari kehidupan Malviano, jika mereka pergi hanya


mengandalkan usahanya saja. Dapat dipastikan kurang dari satu jam Malvian dapat


menemukan keberadaan mereka dengan mudah.


“Ya biasa mereka dapat menemukan


apa yang kucari tak lebih dari satu minggu tapi entah mengapa kali ini kalian


menghilang bagaikan ditelan bumi hampir berbulan-bulan. Hal itu sempat


membuatku berpikir kalian mungkin menghilang ke keluar angkasa.” Jelas Malviano


mengeluarkan semua kecemasannya selama ini yang dapat Elena lihat dari


ucapannya yang begitu terburu-buru dan penuh penyesalan.


“Keluar angka.” Mendengar hal itu


membuat Elena sangat senang, walaupun hanya sebuah khayalan sepertinya akan


sangat menyenangkan memikirkannya.


“Satu hari setelah kepergian kalian


aku langsung menyuruh orang-orang untuk mencari dari semua keberangkatan


kereta, kapal laut bahkan beberapa penerbangan akan tetapi tak ada satupun data


tentang kedatangan kalian.”


“Kau baru menyadari kepergian kami


setelah satu hari kemudian?.” Tanya Elena yang tiba-tiba tersinggung mendengar


penyataan Malviano.


“Ya satu hari, hari itu aku pergi


keperusahaan untuk bekerja tentu saja.” Ucap Malviano singkat.

__ADS_1


“Bekerja atau makan siang dengan


pacar barumu?.” Ucapan Elena penuh ia ucapakan dengan penuh penekanan.


__ADS_2