
Pagi itu Aeris hampir pingsan. Dia melihat layar ponselnya berkali-kali. Bu Meri wa kalau Aeris bisa bekerja kembali dan masalah kemarin hanya kesalahpahaman. Tiffany sangat gembira. Dia loncat kegirangan di ranjang Aeris sambil joged-joged. Semalam dia menginap di rumah Aeris karena dia ingin menemani sohibnya yang sedih.
“Jadi, apa Reno yang bilang?” Tanya Tiffany kemudian. Aeris menangkat bahunya. Dia masih tidak percaya dengan hal ini. Dia bisa kembali bekerja besok. Kalaupun Reno yang bilang, itu memang sudah seharusnya. Dia yang mengaku sudah meyebarkan video itu.
“Lo makasih dong sama Reno.” Pinta Tiffany kemudian. Dia akhirnya turun dari ranjang karena sudah kecapean.
“Ya kan memang dia yang salah.” Kata Aeris cuek.
“Idih,, jarang-jarang Bu Meri mau mengubah keputusannya. Entah Reno memohon dengan cara apa.”
Tiffany betul juga. Bu Meri bukan orang yang mudah. Dia tegas. Dia juga ga ingin nama perusahaannya rusak karena kesalahan-kesalahan seperti kemarin. Meskipun Aeris tidak bersalah, tapi Bu Meri sudah mengambil keputusan. Biasanya dia gengsi untuk menarik orang yang sudah keluar dari EO nya. Tapi kali ini bahkan Bu Meri juga meminta maaf. Sehebat apa Reno itu? Kemarin saja dia hanya datang naik motor. Ini jauh dari bayangan Aeris. Manager di perusahaan manapun kalau mereka pergi, minimal mereka akan naik mobil Avanza. Aeris mengenyahkan pikirannya. Dia tidak ingin memikirkan hal yang bukan menjadi bagiannya.
Tiffany merebut ponsel milik Aeris. Dia segera mencari kontak Reno, dan mengetikan sesuatu.
__ADS_1
“Gila lo.” Aeris berusaha merebut ponselnya dari Tiffany. Tapi terlambat. Saat mendapatkannya, Tiffany sudah mengirimkan pesan ke Reno.
‘Makasi ya Reno,, aku udah kerja kembali. Nanti siang bisa kita makan bareng?’
Aeris hampir kena serangan jantung. Apalagi saat pesannya berubah jadi centang biru. Sepertinya dia harus menangis setiap hari.
‘Boleh. Mau di mana?’ Balas Reno singkat.
Tiffany tertawa senang. Dia tidak peduli kalau Aeris menatapnya dengan tatapan yang membunuh.
“Halah,,, makan aja neng... Lo tinggal pilih mana yang lo suka, habis itu udah deh, pulang.” Kata Tiffany enteng. Dia tau Aeris tidak bisa banyak bergaul dengan pria. Dia itu tidak akan bicara banyak sama pria yang tidak benar-benar akrab sama dia. Tiffany sengaja lakukan ini supaya Aeris bisa mengucapkan terima kasih sama Reno. Lagipula kemarin Aeris juga terlihat sudah akrab dengan Reno.
Aeris mengetikan balasan dengan terpaksa.
__ADS_1
‘Terserah Kamu aja mau di mana.’
Otak Aeris bekerja terlalu keras akhir-akhir ini. Dia merasa harus pergi ke dokter karena syarafnya bisa putus menghadapi goncangan-goncangan dalam hidup.
‘Di resto westlake ya.. jam 12.’
Westlake? Restoran mahal. Aeris menghela nafas panjang.
“Ooo,, romantis juga ya..” canda Tiffany.
“Romantis dari hongkong. Gimana ini,, gue yang harus traktir dia.” Aeris merengek seperti anak kecil. Dia seumur hidup tidak pernah makan di restoran-restoran mewah. Selain tidak mampu, dia juga kurang nyaman dengan pengunjung-pengunjung di sana. Rata-rata mereka sosialita atau anak-anak gaul yang fashionable, sedangkan Aeris, kalau pergi dia hanya pakai kaos dan celana jeans.
“Udah sana siap-siap. Dandan yang cantik. Siapa tau Reno jadi suka.”
__ADS_1
“Tiiiiifaaaaaniiiiii.” Teriak Aeris gemas. Sohibnya memang jail to the max. Kalau ada naruto, pasti dia sudah minta supaya Tiffany di pindahkan ke luar pulau.