Happy Ending?

Happy Ending?
Belajar melupakan


__ADS_3

Aeris mulai bekerja sebagai sekretaris Boy. Dia harus berpanjang sabar karena ternyata Boy orang yang super duper unik. Kerja Boy sepanjang hari hanya main, ke cafe, lalu berenang. Boy hanya bekerja serius di malam hari, dan Aeris tidak perlu mengikutinya.


Seperti hari ini, Aeris malah menemani Boy belanja ke mall.


"Boy,, mau belanja apa lagi sih?" Omel Aeris karena sudah 3 jam mereka berjalan-jalan dalam mall. (Setelah beberapa hari bekerja, Boy meminta Aeris untuk tidak memanggilnya dengan, sebutan Pak.)


"Bukannya cewe biasanya suka ke mall?" Tanya Boy heran. Dia menatap sepatu warna kuning hitam di pajangan.


"Ya kalau punya uang sih seneng.."


"Haha.. Kalau begitu aku belikan kamu sepatu.. Pilih saja.."


"Aku ga mau sepatu." Aeris duduk di kursi sambil memukul2 betisnya yang terasa pegal.


"Ya udah, tas, baju, ponsel, make up.." ucap Boy tanpa titik koma.


"Hmm.."


"Gimana ini Ris?" Tanya Boy yang sudah menggunakan sepatu kuningnya.


"Norak."


"Oke, aku ambil ini."


Oh ya ampun.. Aeris hanya bisa menepuk jidatnya melihat tingkah bos nya. Boy sangat senang melihat wajah Aeris yang sedang kesal. Sementara itu Aeris sekali lagi harus menghela nafas panjang karena bekerja dengan Boy bagaikan makan gaji buta. Dan Aeris sampai risih dengan pandangan orang-orang karena Aeris bisa di bilang lebih mirip kekasih Boy daripada karyawannya.


Boy selesai membayar ke kasir dengan perasaan senang. Belanja dan bermain adalah obat stress baginya. Saat ini Boy membawa 2 paperbag.


"Ini untuk kamu." Boy menyerahkan satu paperbag untuk Aeris.


"Ngapain beli in bos?"


"Ganti penampilan kamu.. Supaya kamu cepet laku."


Aeris mengerucutkan bibirnya. Dia menerima pemberian Boy dengan terpaksa. Ini bukan pertama kali Boy memberikannya barang mahal. Kemarin Boy memberi Aeris tas dan jaket bermerk. Boy selalu bilang kalau jadi sekretarisnya harus cantik.


"Ayo kita makan.." ajak Boy sambil memainkan ponselnya.


"Boy.. Apa kamu ga punya pacar yang bisa kamu ajak untuk belanja dan makan?" Protes Aeris.


"Kalau kencan jam nya beda Ris..udah nih bener ga mau makan?"

__ADS_1


"Ya mau dong.. Udah jam 1 ini."


Boy tertawa penuh kemenangan. Aeris mengikuti dari belakang sambil membawa belanjaan yang dia dapatkan. Ya, setidaknya dengan bekerja, Aeris jadi punya kesibukan dan tidak memikirkan Reno.


Boy dan Aeris sudah menghabiskan dua porsi mie ayam. Rasa lelah Aeris sedikit terobati karena perutnya sudah kenyang.


"Boy, makasi ya.." ucap Aeris pada Boy yang kini sibuk memainkan ponselnya.


"Kamu sudah ribuan kali bicara itu Ris.. tolong ganti pakai kata yang lain." jawab Boy tanpa memandang Aeris.


"Oke, gomawo, mauliate, xie-xie.." Aeris menyebutkan beberapa ucapan Terima kasih dalam berbagai bahasa yang dia tau.


"Sama aja Nona.."'protes Boy.


"Ya, ketemu kamu itu bagaikan dapat jackpot. Jadi aku mau berterima kasih setiap hari."


"Kalau aku bawa kamu ke Reno, apa kamu masih akan berterima kasih?" kali ini Boy menghentikan permainannya. Ya, Boy memang berencana mempertemukan Aeris dengan Reno.


"Untuk apa Boy? Dia sudah menikah.. jika aku muncul itu hanya akan menambah beban pikiran Reno."


Boy terdiam. Sejak pertama bertemu Aeris dia sudah berusaha untuk memberitahu gadis itu jika Reno tidak menikah dengan Ericka. Tapi kali ini Boy memutuskan untuk tetap diam.


Sementara itu, Reno semakin terlihat mengerikan. Dia sudah resmi menjadi penerus keluarga Tan dan dia sudah melakukan hal yang seharusnya sudah lama dia lakukan. Membasmi parasit dalam keluarga dan perusahaannya. Reno sungguh tanpa ampun. Dia menjadi seperti seorang Juna. Reno jadi tidak pernah pulang ke rumah dan banyak menghabiskan waktu di kantor.


"Lo udah dapet informasi?" Tanya Reno saat Sam meneleponnya.


"Tidak ada Ren.. Aku cuma mau ajak kamu makan."


"Lupakan." Reno menutup teleponnya.


Semakin lama Reno semakin frustasi. Dia menatap layar ponsel nya. Fotonya bersama Aeris menggunakan jaket couple waktu di Singapore.


"Kamu di mana Ae? Miss you so much." Reno mengelus ponsel nya seolah Aeris berada di situ.


Dia berpikir siapa lagi yang bisa membantunya mencari Aeris. Tim tidak mau membantu Reno karena kejadian lalu dimana Tim jadi tumbal.


Tiffany... Tiba-tiba Reno teringat Tiff. Tapi wanita itu juga menghilang entah ke mana. Tapi mencari Tiff tidak sesulit mencari Aeris. Dia pasti bisa menemukan Aeris.


"Halo Tim.."


"Apalagi Ren.." Kata Tim malas.

__ADS_1


"Hanya ingin tanya kabar saja Tim." Bohong Reno.


Tim tertawa di ujung sana. "Ren.. Aku sibuk sekarang..banyak sekali yang harus aku urus."


"Oke, aku juga ga akan lama dan basa basi. Gimana kabar Tiffany?" Pancing Reno.


"Ya baik.. Dia kerja sama aku sekarang." Sahut Tim. Tanpa sadar, Tim sudah memberikan informasi yang Reno butuhkan.


"Bagus lah.. Jadi kamu selalu bisa dekat dengan dia." Reno mematikan teleponnya seolah memang dia hanya menanyakan kabar saja.


Bagus. Aku hanya perlu suruh orang untuk ikuti Tim, batin Reno.


Reno kemudian menyuruh beberapa anak buahnya untuk membawa Tiffany kalau ada kesempatan.


Sebentar lagi kita akan bertemu Ae. Seukir senyum muncul di bibirnya.


***


Malamnya..


Reno sudah menemukan keberadaan Tiffany. Dia bersiap menuju hotel yang diberitahu oleh anak buahnya. Mereka sudah mendapatkan Tiffany dan membawanya ke ruang suite. Tapi, baru saja menyalakan mobilnya, Reno mendapat telepon kalau Tiffany kabur.


'Argh' dia memukul setir dengan keras. Di detik berikutnya, Reno merasakan penyakitnya kembali kambuh. Ya, penyakit Reno sering kambuh belakangan ini. Kesehatannya juga semakin buruk.


"Rick, kamu bisa ke kantor?" Reno lagi -lagi melupakan obatnya dan harus menelepon Ericka.


"Ya,, tunggu 5 menit.. kebetulan aku sedang di luar."


5 menit kemudian Ericka sudah sampai di kantor Reno. Dia dengan mudah menemukan Reno karena hanya ada satu mobil di tempat parkir.


Seperti biasa, Ericka kembali menjadi dokter pribadi Reno, dan selalu menolong nya tepat waktu.


"Kamu masih memikirkan Aeris?" tanya Reno begitu dia tenang.


"Tentu saja."


"Reno, kamu ga bisa mengubah keputusan orang lain. Aeris memilih pergi, jadi kamu hargai keputusan dia. Waktu terus berputar Ren.. kamu ga bisa seperti ini terus." saran Ericka.


Sebagai dokter psikiatri, Ericka jelas saja bisa mengendalikan perasaannya. Dia sudah melupaka n kejadian di mana Reno telah membuatnya malu. Tapi berbeda dengan Reno. Dia selalu mempunyai trauma kehilangan orang yang dia sayang.


"Apakah aku memang harus melupakan Aeris?" Tanya nya pada diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2