
Aku masih trauma dengan kejadian itu, setiap kali aku membayangkannya itu membuatku semakin takut. Sekarang aku harus menjalani terapi kepada dokter psikiater, aku berharap bisa sembuh dari gangguan kecemasan. Akhir-akhir ini semakin parah, ketika gangguan itu kambuh napas ku sesak, dadaku sakit, dan aku merasa seperti kakiku mati rasa.
Sekarang aku sedang melakukan terapi bersama dokter psikiater. Setelah selesai terapi aku bertanya banyak hal kepada dokter.
"Apa saya bisa sembuh dari gangguan ini?. Saya rasa gangguan ini memengaruhi aktivitas sehari-hari saya. Saya merasa sangat terganggu. " Tanyaku.
"Sebenarnya penyakit ini punya kemungkinan bisa sembuh, tetapi tidak bisa sembuh dengan sendirinya. Saya akan membantu Anda dalam menghadapi masalah ini, saya sudah banyak menangani anak muda yang mempunyai gangguan kecemasan. Kebanyakan dari mereka sudah pasrah dengan kehidupannya, dan juga kebanyakan gangguan ini muncul karena suatu kejadian, misalkan trauma, atau banyak hal lainnya yang membuat gangguan ini muncul. Bahkan tidak sedikit orang yang mengidap gangguan ini memilih untuk bunuh diri. Saya harap anda bisa tahan dengan semua ini, saya akan membantu Anda melawati masa-masa sulit ini. "Jawab Dokter Psikiater.
" Baiklah, Dok. Saya juga masih punya tujuan hidup. Saya tidak akan putus asa. Tapi ketika gangguan ini kambuh saya tidak bisa menanganinya, apa yang harus saya lakukan jika gangguan ini kambuh?. "Tanyaku.
" Saya punya resep obat pereda cemas, saya akan memberikan Anda resep obatnya. Mungkin ini bisa membantu untuk meredakan rasa cemas yang berlebihan. Nama obatnya adalah Antiansietas, tapi ini bisa meredakan dalam jangka waktu yang pendek. "Jawab Dokter Psikiater.
" Terima kasih, Dok. "
Kemudian aku pulang ke rumah, aku harus bertahan dengan ini semua. Sekarang hidupku di penuhi rasa penyesalan, aku menyesal kenapa waktu itu aku menerima ajakannya. Jika waktu itu aku tetap berada di kelas mungkin tidak akan terjadi hal yang seperti ini.
Sesampainya di rumah, aku duduk di ruang tamu, aku masih tidak percaya dengan keadaanku sekarang. Hidupku hancur oleh seorang laki-laki, kenapa aku harus percaya pada laki-laki. Laki-laki hanya bisa merusak.
__ADS_1
Saat aku sedang melamun tiba-tiba ada seseorang yang mengetok pintu, aku berjalan ke arah pintu dan membuka siapa yang datang, rupanya yang datang adalah Guru Pendamping di sekolahku dan seseorang yang menghancurkan hidupku, yaitu Randi.
"Alice, apa sekarang kamu sedang sibuk?. " Tanya Guru Pendamping Murid.
"Sekarang saya sedang tidak sibuk. Silahkan masuk, Pak. " Aku kemudian mengajak Pak Guru masuk dan Randi ikut masuk.
"Maaf, Alice. Saya kesini untuk mengecek keadaan kamu. Sekarang bagaimana?, kamu sudah baikan?. " Tanya Guru Pendamping.
"Saya habis pulang dari rumah sakit, tadi saya sudah melakukan terapi dengan dokter psikiater. " Jawabku.
"Ohh gitu, saya harap kamu bisa sembuh dari penyakit ini. Saya mewakili dari pihak sekolah akan membimbing kamu sampai kamu sembuh. "
"Justru kami merasa sangat bersalah dengan kejadian ini, Bapak harap kamu bisa Terima tawaran dari pihak sekolah. Dan bapak sudah pilihkan sekolah yang cocok untuk kamu, saya harap di sekolah itu kamu bisa melupakan semua yang terjadi. "
"Baiklah, kalau begitu saya Terima. Terima kasih... Dan juga kenapa Bapak membawa dia?. " Tanyaku, kemudian aku melihat ke arah Randi.
"Sebenarnya tujuan Bapak membawa Randi yaitu karena dia bilang mau membicarakan sesuatu dengan kamu. Dia merasa sangat bersalah dengan semua kejadian ini. "
__ADS_1
"Baiklah... Apa yang mau kamu bicarakan?. " Tanyaku.
"Sebenarnya aku mau meminta maaf padamu, aku merasa sangat bersalah telah melakukan hal seperti itu. Aku harap kamu bisa melupakannya. Jika ada sesuatu yang terjadi aku akan bertanggung jawab padamu. " Ucap Randi, kemudian dia menundukan kepalanya.
"Maaf?... Kamu hanya meminta maaf?... Kamu tau gak gimana perasaanku sekarang?!... Kamu sudah menghancurkan hidupku kamu hanya bilang maaf?!... Dan juga memangnya kejadian yang seperti ini bisa dilupakan semudah itu?!... Hidupku hancur karena kamu... kamu tau kan?!... Dan kejadian ini jika tersebar keluar, maka yang menanggung semuanya adalah korban... Kebanyakan korban disalahkan dengan alasan yang tidak logis, mereka menindas korban dengan berbagai alasan. Seperti pakaiannya yang mengundang atau karena perilakunya yang membuat laki-laki tergoda. Korban akan merasa sangat tertekan jika ada satu orang saja yang mengetahui ini, sedangkan pelaku hanya di hukum atau cuman didenda. Apa lagi kamu yang masih dibawah umur, pihak sekolah juga pasti bingung akan menghukum kamu seperti apa. "Aku berbicara sembari menangis, aku tidak bisa menahan air mataku. Air mataku mengalir begitu saja, aku sangat terpuruk.
" Tapi aku harap kamu bisa memaafkan ku, aku akan melakukan apapun agar kamu bisa memaafkan ku. "Ucap Randi.
" Haha... Memang mudah untuk memaafkan, tapi tidak semua orang benar-benar bisa memaafkan dengan semudah itu. Memang mulut bisa mengucapkannya dengan mudah, tapi hati tidak. Kejadian ini akan terus mengganjal di hati, dan pikiran. Aku memang tipe orang yang bisa memaafkan dengan mudah, tapi kejadian ini sudah membuat hidupku hancur, aku tidak bisa memaafkannya. Selamanya aku tidak bisa. "
"T-tapi. "
"Untuk sekarang aku muak melihat muka kamu, sekarang kamu pergi dari sini. Aku tidak mau melihat muka kamu lagi. "
"Randi, mungkin sekarang Alice belum bisa memaafkan kamu. Mendingan sekarang kita pulang. Alice butuh waktu sendiri. " Ucap Guru Pendamping Murid.
"Alice, nanti saya akan memberitahumu lebih lengkap tentang perpindahan sekolah kamu. Nanti saya dan Ibu Kepala Sekolah akan kesini untuk menginfokan lebih lanjut. Kami pamit, jaga dirimu baik-baik. "
__ADS_1
Kemudian mereka pergi meninggalkanku, aku masih belum bisa berhenti menangis. Aku rasa aku ingin membalaskan dendam ku pada bajing*n itu, tapi mungkin itu membuat masalah semakin membesarkan. Aku hanya bisa memendam dendam ku.